Benarkah Kita Sudah Merdeka?

 

Ahad, 23 Shafar 1447 H / 17 Agustus 2025 M
🗓️Kalender Hijriah Global Tunggal

Kata “merdeka” sering dielu-elukan sebagai simbol kebebasan bangsa. Namun, apakah benar kita sudah merdeka secara hakiki? Sesungguhnya, merdeka bukan sekadar lepas dari penjajahan fisik manusia, tetapi merdeka adalah ketika kita hanya tunduk kepada Allah ﷻ semata, bukan kepada hawa nafsu, bukan kepada hukum buatan manusia, dan bukan pula kepada sistem sekuler-kapitalis.


Hakikat merdeka adalah keluar dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan kepada Sang Pencipta. Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits qudsi:


> قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: يَا عِبَادِي، كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ...

“Allah ‘azza wa jalla berfirman: Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian petunjuk...”

(HR. Muslim)




Hari ini, memang benar Indonesia sudah merdeka secara fisik dari penjajah Belanda dan Jepang. Namun, secara moral, politik, dan ekonomi, bangsa ini masih terjajah. Kita menyaksikan rusaknya akhlak generasi muda karena arus liberalisme, hancurnya politik karena dominasi kepentingan elit, dan tercekiknya ekonomi rakyat akibat kapitalisme ribawi.


Kejayaan Khilafah sebagai Perbandingan


Bandingkan dengan sejarah panjang umat Islam. Selama lebih dari 1200 tahun tegaknya Khilafah Islamiyah, kasus-kasus besar yang sampai ke pengadilan hanya sekitar 200 kasus saja. Itu pun dalam rentang waktu berabad-abad, bukan setiap hari seperti yang kita dengar sekarang. Mengapa? Karena hukum Allah diterapkan secara nyata, sehingga orang takut melakukan kejahatan, dan masyarakat hidup dalam naungan keadilan.


Allah ﷻ berfirman:


> وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.”

(QS. Al-Maidah: 44)




Ayat ini menegaskan bahwa keadilan hanya bisa ditegakkan bila hukum Allah ﷻ dijadikan satu-satunya rujukan.


Dakwah: Kewajiban Individu, Masyarakat, dan Negara


Islam menegaskan bahwa dakwah bukan hanya kewajiban pribadi, tapi juga kewajiban kolektif. Rasulullah ﷺ bersabda:


> مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”

(HR. Muslim)




Artinya, kewajiban berdakwah menuntut adanya peran individu, masyarakat, bahkan negara untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Bila negara abai, maka kerusakan masyarakat pasti tidak bisa dibendung.


Rusaknya Negara, Berawal dari Rusaknya Ulama


Kerusakan masyarakat terjadi karena negara yang rusak. Sementara negara rusak karena ulama yang seharusnya menjadi pelita umat justru lebih mencintai harta dan kedudukan. Padahal, Nabi ﷺ telah mengingatkan:


> إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari hamba-hamba-Nya, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga jika tidak tersisa seorang ulama pun, manusia akan mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.”

(HR. Bukhari dan Muslim)




Ketika ulama sudah larut dalam cinta dunia, maka umat kehilangan bimbingan sejati. Dari sinilah muncul penguasa zalim, masyarakat rusak, dan hukum Allah diabaikan.



---


Hikmah & Harapan


Dari sini kita bisa melihat dengan jelas, bahwa kemerdekaan hakiki hanya akan tercapai bila bangsa ini kembali tunduk pada syariat Allah secara kaffah. Bukan cukup dengan merdeka fisik, sementara moral, politik, dan ekonomi masih dijajah oleh sistem sekuler-kapitalis.


Tragedi kehancuran moral bangsa, bobroknya politik, dan krisis ekonomi hanya bisa diakhiri dengan penerapan hukum Allah di bawah kepemimpinan yang adil, yaitu Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.


Mari kita bersama berdoa agar Allah ﷻ menolong umat ini, membangkitkan ulama-ulama yang berani berkata benar, dan menghadirkan kembali kepemimpinan Islam yang menegakkan keadilan sejati.


وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Takbir! ALLAHU AKBAR!


Posting Komentar untuk "Benarkah Kita Sudah Merdeka? "