Seperti kita tahu, Rumah Sakit Islam Al Ihsan bukan sekadar bangunan pelayanan kesehatan. Ia adalah buah karya umat, doa para ulama, dan manifestasi visi Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Didirikan pada 15 Januari 1993, dengan peletakan batu pertama pada 17 Ramadhan 1414 H, hari turunnya Al-Qur'an — tentu bukan sembarangan.
Nama "Al Ihsan" berasal dari maqam tertinggi dalam Islam.
Rasulullah ﷺ menjelaskan dalam Hadits Jibril bahwa ihsan adalah:
> "أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك"
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
(HR. Muslim)
---
❌ Namun Hari Ini: Nama Itu akan Dihapus
Datanglah seorang pejabat bernama kang Dedy Mulyadi alias KDM, lalu mengganti nama Rumah Sakit Al Ihsan menjadi RSUD Welas Asih, hanya karena alasan agar “lebih Sunda”.
🎭 Alasan klasik dari mereka yang alergi simbol Arab, tapi gemar memakai simbol Islam saat Pemilu.
---
💔 Yang Bangun Ulama, Yang Menghapus Politisi
🔹 Rumah sakit ini bukan proyek negara,
🔹 Bukan dana BUMN,
🔹 Bukan hibah asing,
Tapi hasil perjuangan enam tokoh umat melalui Yayasan Al Ihsan:
1. H. M. Ukman Sutaryan
2. H.M.A. Sampoerna
3. H. Agus Muhyidin
4. K.H. R. Totoh Abdul Fatal
5. K.H. Ahmad Syahid
6. H.M. Soleh, MM
Tujuannya mulia:
🩺 Agar rakyat kecil bisa sehat dan bermartabat.
---
🧠 Bukan Soal Nama, Ini Soal Pola!
Kita sudah lihat pola seperti ini dalam sejarah dunia Islam.
⚠️ Perubahan nama hanyalah permulaan dari proyek penghapusan identitas Islam.
Seperti yang terjadi di Turki era Mustafa Kemal Atatürk:
Adzan diubah jadi Bahasa Turki:
> “Allahu Akbar” → “Tanrı Uludur”
Kalimat suci seperti حي على الفلاح diganti:
> “Haydi kurtuluşa”
Masjid diawasi polisi, muadzin ditangkap jika tetap beradzan dalam bahasa Arab.
Generasi baru buta huruf terhadap Qur’an, karena huruf Arab dihapus dari kurikulum.
---
🔁 Dan Sekarang? Di Indonesia, Pola Itu Kembali Terulang
Dari penggantian salam “Assalamu’alaikum” menjadi “Sampurasun”
Hingga penggantian nama RS Islam menjadi versi “lebih lokal” — semua dalam satu narasi:
> Islam dianggap asing, Arab dianggap bukan budaya kita.
Padahal jika semua yang berbau Arab mau dihapus:
Ganti “Hakim” jadi “Nu Ngajugjug Kaadilan”
“Jenazah” jadi “Kamar Bangkai”
“Sidang” jadi “Rembug-rembug Balad”
Dan hapus juga kata Zakat, Adzan, Ujian, Muadzin, semua itu dari bahasa Arab!
---
💡 Sunda & Islam Tidak Pernah Bertentangan!
🌾 Sunda itu pesantren.
🌾 Sunda itu penghasil penghafal Al-Qur’an.
🌾 Sunda itu Ajengan Sukapura.
🌾 Sunda itu penjaga aqidah.
Justru dari tanah Sunda lahir ribuan santri, qari, hafidz, dai, dan ulama besar.
Jangan benturkan Sunda dengan Islam, karena Islamlah yang mengangkat derajat budaya ini.
---
❗ Siapa yang Diuntungkan? Siapa yang Dilayani?
🔍 Jika hari ini simbol Islam satu per satu dihapus…
🔍 Jika nama yang didoakan ulama bisa diganti dalam semalam…
🔍 Maka jangan salahkan rakyat kalau mulai bertanya:
> “Sebenarnya siapa yang sedang berkuasa?
Dan sedang melayani siapa?”
---
🕊️ Hikmah & Harapan
Semoga kita semua sadar bahwa proyek penghapusan simbol Islam bukanlah hal remeh.
Ia bagian dari perang panjang: perang identitas dan ideologi.
Mari kita jaga warisan para ulama dan tokoh umat.
Kita jaga rumah-rumah amal umat dari tangan-tangan yang ingin menghapus sejarahnya.
Dan mari lawan sekularisme yang terus menyusup diam-diam!
---
Wallahu a'lam bish-shawab.
TAKBIR! ALLAHU AKBAR!

Posting Komentar untuk "Islamophobia gaya baru berkedok budaya lokal🤔"