Senin, ٧ Dzulqa'dah ١٤٤٦ H / 5 Mei 2025 M
🗓️Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT)
Saat pagi hari itu di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, saya berjalan pelan menyusuri gang di belakang masjid. Suasana masih sejuk, sunyi khas pagi hari, sesekali terdengar suara ayam berkokok atau orang menyapu halaman. Saya memasuki sebuah gang yang membawa saya ke sebuah kampung bersejarah: Kauman.
Kampung Kauman bukan kampung biasa. Dalam bahasa Jawa, "Kauman" berarti Kampung Beriman, yang sejak dulu dikenal sebagai tempat tinggal para santri, tokoh agama, dan abdi dalem Kraton Yogyakarta. Lebih dari itu, kampung ini juga menjadi saksi sejarah lahirnya gerakan Muhammadiyah pada tahun 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan. Maka tak heran jika kampung ini dijuluki “Kampung Muhammadiyah.”
Dahulu, ketika KH. Ahmad Dahlan berdakwah di Kauman, beliau sempat mendapat penolakan dari sebagian masyarakat karena visi dakwahnya yang ingin memurnikan ajaran Islam dari takhayul, bid'ah, dan khurafat (TBC). Namun berkat kesabaran dan keteguhan beliau beserta para pengikutnya, kampung ini akhirnya menjadi basis kuat gerakan Muhammadiyah hingga sekarang. Meskipun begitu, nuansa budaya Jawa yang kental tetap terasa karena kedekatannya dengan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, sehingga tercipta percampuran menarik antara Islam modernis ala Muhammadiyah dan Islam tradisionalis ala Kraton—suatu harmoni yang unik dan indah.
Saat memasuki area pemakaman di belakang Masjid Gedhe Kauman, terdapat sejumlah makam keluarga dan tokoh-tokoh penting, termasuk makam Nyai Achmad Dahlan (juga dikenal sebagai Nyai Siti Walidah atau Nyai Aisyiyah). Beliau adalah istri dari KH. Ahmad Dahlan, dan dikenal sebagai pendiri gerakan Aisyiyah, organisasi perempuan Islam pertama yang bergerak di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial. Perannya dalam mendampingi perjuangan suaminya sangat besar. Sosoknya menjadi teladan dalam dakwah perempuan, kesetiaan, dan pengabdian terhadap agama.
Menariknya, KH. Ahmad Dahlan tidak dimakamkan di Kauman, melainkan di Karangkajen, di komplek pemakaman pahlawan bersama tokoh-tokoh besar lainnya.
Hal lain yang membuat ziarah ke makam Nyai Achmad Dahlan berbeda dari makam-makam lainnya adalah kekhidmatan dan kesederhanaannya. Tidak ada orang berlama-lama di depan makam. Tidak ada amalan-amalan yang berlebihan seperti menyebar bunga, membaca surat Yasin, atau meminta berkah. Mengapa demikian? Karena memang dalam tarjih Muhammadiyah, ziarah kubur dianjurkan sebagai pengingat kematian, bukan untuk ngalap berkah atau pengkultusan.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا، فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الْآخِرَةَ
"Dulu aku melarang kalian untuk ziarah kubur, sekarang ziarahlah kalian ke kubur, karena itu dapat mengingatkan kalian pada akhirat."
(HR. Muslim)
Ziarah bukan untuk meminta pertolongan pada mayit, apalagi ngalap berkah dari makam, karena itu adalah bentuk kesyirikan. Bahkan Allah menegaskan:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ دُعِيَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ
"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyeru selain Allah, yang (sesembahan itu) tidak akan memperkenankan (doanya) sampai hari kiamat dan mereka terhadap seruan itu lalai."
(QS. Al-Ahqaf: 5)
Ziarah yang berlebihan dapat memicu pengkultusan terhadap makam, dan ini bertentangan dengan tujuan utama ziarah dalam Islam.
---
Hikmah dan Harapan
Ziarah ke makam Nyai Achmad Dahlan memberi pelajaran mendalam bahwa perjuangan membela Islam tidak hanya milik para ulama laki-laki, tapi juga kaum perempuan. Nyai Dahlan adalah contoh nyata perempuan tangguh yang berdakwah dengan lembut namun tegas dalam prinsip. Mari kita ambil semangat perjuangan beliau untuk menegakkan ajaran Islam yang murni.
Seperti yang dikatakan Nyai Dahlan saat memberikan semangat pada KH. Ahmad Dahlan:
> “Jika kita menolong agama Allah, maka Allah akan menolong kita dan meneguhkan kedudukan kita.”
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian."
(QS. Muhammad: 7)
---
Mari terus fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan terus merawat warisan perjuangan para pendahulu kita. Jangan pernah merasa lelah dalam berdakwah, karena kemenangan hakiki adalah ketika kita mampu menjaga kemurnian Islam di tengah gelombang zaman.
Takbir! Allahu Akbar!

Posting Komentar untuk "Suatu Hal yang Menarik Saat Berkunjung ke Makam Nyai Achmad Dahlan (Istri KH. Ahmad Dahlan – Pendiri Muhammadiyah) Belakang Masjid Kraton"