✨Sakdulur Saklawase🤝

 

Kamis, ٢٦ Syawwal ١٤٤٦ H / 24 April 2025 M
🗓️Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT)

Manusia diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai makhluk sosial—artinya tak bisa hidup sendiri. Dalam kesehariannya, manusia pasti akan berinteraksi, berkumpul, membentuk relasi, bahkan membangun komunitas atau kelompok.


Kelompok ini terbentuk karena berbagai kesamaan:


Kesamaan hobi: seperti kelompok mancing, musik, fotografi, nge-vlog, otomotif, dan lainnya.


Kesamaan profesi: misalnya sesama guru, dosen, pedagang, petani, nelayan, dan lain-lain.


Kesamaan status: sama-sama mahasiswa, alumni sekolah, atau tetangga satu kampung.


Kesamaan visi dan ideologi: seperti organisasi, LSM, partai, dan komunitas pemuda.


Kesamaan kewarganegaraan: seperti ikatan nasionalisme, satu bangsa, satu tanah air.



Semua bentuk kelompok ini sah-sah saja. Bahkan Islam tidak melarang manusia berkumpul dan saling tolong-menolong dalam hal duniawi. Namun seringkali kebanyakan orang beranggapan bahwa ikatan-ikatan yang sifatnya duniawi ini adalah ikatan yang paling mengikat, padahal......


Ikatan Duniawi Bersifat Sementara dan Rapuh


Ikatan duniawi itu lemah dan sementara. Hobi bisa berubah, profesi bisa berpindah, bahkan sesama warga negara bisa bertikai. Teman yang dulunya akrab bisa menjadi lawan karena beda pilihan, beda minat, beda jalan hidup.


Contohnya:


Sahabat ngonten bareng bisa pecah gara-gara monetisasi.


Teman kerja bisa renggang karena persaingan.


Saudara sebangsa bisa saling hujat karena beda pilihan politik.



Kenapa bisa begitu? Karena dasar dari ikatan tadi adalah urusan dunia, bukan akidah. Maka, saat ada gangguan, kepentingan, atau perselisihan, ikatan itu pun mudah runtuh.


Ikatan yang Abadi: Ukhuwah Islamiyah


Ikatan yang hakiki dan abadi hanyalah ikatan keimanan. Inilah yang disebut sebagai “Ukhuwah Islamiyah” — persaudaraan karena sama-sama beriman dan tunduk kepada Allah.


Allah Ta’ala berfirman:


> إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.”

(QS. Al-Hujurat: 10)




Dalam tafsir Ibnu Katsir, makna “ikhwah” di sini adalah saudara seiman, bukan hanya saudara sedarah. Karena keimanan itulah yang menyatukan hati, melebihi kedekatan darah sekalipun.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


> الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يُسْلِمُهُ

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzhaliminya dan tidak membiarkannya (terlantar).”

(HR. Bukhari dan Muslim)




Ikatan Islamiyah Melampaui Segalanya


Ukhuwah Islamiyah tidak mengenal:


Beda warna kulit


Beda bahasa dan logat


Beda suku dan budaya


Beda asal daerah



Contoh nyata bisa kita lihat pada zaman para sahabat Nabi: ada Bilal dari Habsyi (Ethiopia), Salman dari Persia, Suhaib dari Romawi, dan para sahabat Anshar & Muhajirin dari Makkah dan Madinah. Namun mereka bersatu dalam satu kalimat:


> لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ




Itulah ikatan yang melintasi dunia dan akan terus kekal hingga di akhirat kelak.


Ikatan Dunia Berakhir di Dunia


Allah berfirman:


> الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu (kiamat) sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.”

(QS. Az-Zukhruf: 67)




Teman-teman yang dulu tertawa bersama, nongkrong bareng, main bareng — bisa jadi musuh satu sama lain di akhirat, jika tidak dibangun atas dasar takwa.


Harapan dan Motivasi


Maka yuk sumonggo kita semua tanamkan bahwa:


Dulur sejati bukan karena se-hobi atau se-tongkrongan.


Dulur sejati adalah yang sama-sama mengajak pada kebaikan dan taat pada Allah.


Sakdulur saklawase itu bukan karena dunia, tapi karena iman.



Karena hanya ikatan karena Allah yang akan bertahan sampai surga.

Selebihnya hanya kenangan yang tertinggal di dunia fana ini.


Wallahu a'lam bissowab

Posting Komentar untuk "✨Sakdulur Saklawase🤝"