Jum'at, ٢٧ Syawwal 1446 H / 25 April 2025 M
🗓️Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT)
Yogyakarta—kota budaya, kota pelajar, kota perjuangan. Tapi tahukah kita bahwa sebelum dikenal dengan berbagai julukan itu, Jogja adalah kota Tauhid?
Simbol paling ikonik kota ini adalah Tugu Golong Gilig, yang dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755. Tugu ini memiliki tinggi 22 meter dan menjadi lambang Tauhid, yakni penyatuan antara hamba dan Sang Khalik, antara pemimpin dan rakyat, antara langit dan bumi, antara niat dan amal. Bentuknya menggambarkan "golong" dan "gilig"—kesatuan antara dasar dan pucuk, dari bawah hingga atas, semuanya bertauhid kepada Allah.
Namun sayang, gempa bumi tahun 1867 menghancurkan tugu tersebut. Dan pada tahun 1889, dibangunlah kembali tugu baru dengan tinggi 18 meter yang kita kenal sekarang sebagai Tugu Pal Putih. Tapi tugu ini sudah berbeda makna. Dari analisis beberapa pemerhati sejarah dan simbol, di tugu baru ini terdapat bintang berbucu enam yang mirip simbol Freemason atau Yahudi, yang tidak lagi mencerminkan semangat tauhid seperti sebelumnya.
Hal ini bisa jadi bukan kebetulan. Karena pada masa itu, Khilafah Turki Utsmani tengah mengalami kemunduran drastis. Tahun 1889 adalah masa-masa menjelang keruntuhan yang terjadi di tahun 1924. Kelemahan umat Islam saat itu tidak hanya dalam bidang militer, tapi juga pemikiran, akidah, dan pendidikan. Kolonialis Belanda dengan cerdiknya masuk ke dalam tatanan masyarakat, menyebarkan tahayul, bid’ah, dan khurafat (TBC) yang menjauhkan umat dari Al-Qur’an dan sunnah.
Bahkan, banyak masyarakat Jawa yang berpindah agama karena merasa Islam tidak lagi mewakili kemajuan dan ilmu pengetahuan. Islam dijauhkan dari akal dan ilmu, dijadikan agama mistik yang menyeramkan. Inilah bentuk propaganda dan penjajahan pemikiran dari musuh-musuh Islam.
Namun, di tengah kemunduran itu, lahirlah cahaya dari Yogyakarta. Seorang ulama muda, KH. Ahmad Dahlan, bangkit menghidupkan kembali semangat tauhid dan pembaruan Islam. Beliau tidak tinggal diam menyaksikan kerusakan akidah umat. Pada tahun 1912, beliau mendirikan Muhammadiyah—sebuah gerakan tajdid yang mengajak umat Islam kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah yang murni, meninggalkan bid’ah dan khurafat.
Gerakan ini tidak berjalan sendiri. Sri Sultan Hamengkubuwono VII, penguasa Kraton saat itu, mendukung perjuangan KH. Ahmad Dahlan. Karena Jogja saat itu memang dikenal sebagai perwakilan Khilafah di Tanah Jawa, maka semangat pembaruan ini tidaklah asing bagi para pemimpinnya. Bahkan, lambang Keraton Yogyakarta pun memiliki kemiripan dengan logo Khilafah Utsmaniyah, memperlihatkan hubungan erat antara kerajaan dan Islam.
Tauhid adalah fondasi peradaban. Ketika masyarakat bertauhid, maka mereka akan bangkit, bersatu, dan maju. Tapi ketika mereka lalai dari tauhid, maka kekuatan umat hancur, dijajah, dan disesatkan.
Allah berfirman:
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian."
(QS. Muhammad: 7)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)




Posting Komentar untuk "Jogja Kota Tauhid‼️☝️"