Tak terasa, bulan Ramadhan telah pergi meninggalkan kita. Kini, kita telah berada di bulan Syawal, merayakan Idul Fitri dengan penuh suka cita. Namun, di balik kebahagiaan yang kita rasakan, ada saudara-saudara kita di Palestina yang justru mengalami penderitaan yang tiada henti. Hari Raya Idul Fitri yang seharusnya menjadi hari kemenangan bagi umat Islam malah berubah menjadi hari penuh duka akibat serangan brutal Zionis Israel laknatullah yang terus membombardir Gaza.
Umat Islam di berbagai penjuru dunia bisa merayakan lebaran dengan keluarga, berkumpul dalam suasana damai. Namun, di Palestina, rumah-rumah hancur, suara takbir bercampur dengan suara ledakan bom, tangis kehilangan sanak saudara menggantikan gelak tawa kemenangan. Bagaimana mungkin kita bisa sepenuhnya berbahagia, sementara saudara kita di sana terus tertindas?
Ketiadaan Kepemimpinan Islam yang Tunggal dan Global
Salah satu sebab utama penderitaan ini adalah tidak adanya kepemimpinan Islam yang tunggal dan global. Umat Islam kini tersekat oleh nasionalisme, sibuk dengan kepentingan politik masing-masing. Padahal, Islam tidak mengenal batas negara, sebab semua Muslim adalah saudara. Rasulullah ﷺ bersabda:
المسلمِ أَخُو المسلمِ لا يَظْلِمُهُ وَلا يُسْلِمُهُ
"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, ia tidak menzaliminya dan tidak menyerahkannya kepada musuhnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun kenyataannya, banyak pemimpin negeri-negeri Muslim yang justru berkompromi dengan musuh Islam, diam melihat kebiadaban yang terjadi di Palestina, bahkan ada yang terang-terangan mendukung penjajahan atas saudara kita di sana. Dimana persatuan Islam? Dimana ukhuwah Islamiyah yang selalu kita gembar-gemborkan?
Allah juga berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai..." (QS. Ali 'Imran: 103)
Tapi lihatlah kondisi umat Islam hari ini, tercerai-berai, lebih mencintai nasionalisme dibanding persatuan Islam.
Kemenangan Sejati Bukan di Bawah Sistem Kapitalisme-Sekuler
Sistem kapitalisme-sekuler yang mendominasi dunia saat ini hanya membuat umat Islam semakin lemah, dipermainkan oleh musuh-musuhnya. Idul Fitri seharusnya menjadi simbol kemenangan sejati, bukan hanya kemenangan menahan lapar dan dahaga selama Ramadhan, tetapi juga kemenangan dalam membebaskan umat dari segala bentuk penjajahan dan kedzaliman.
Tanpa kepemimpinan Islam yang menyatukan umat, tanpa khilafah yang membela kaum Muslimin, maka penderitaan saudara-saudara kita di Palestina, Suriah, Rohingya, dan belahan dunia lainnya akan terus berlanjut. Kemenangan sejati bukan sekadar pesta pora setelah Ramadhan, tapi ketika umat Islam kembali bersatu di bawah syariat Islam yang tegak secara kaffah.
Semoga Idul Fitri tahun ini menjadi lebaran terakhir di bawah sistem kapitalisme-sekuler yang hanya mendatangkan kehancuran bagi umat. Semoga Allah segera menolong kaum Muslimin, memberikan kemenangan sejati, dan mengizinkan kita melihat kebangkitan Islam dalam waktu dekat.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Aamiin. Wallahu a'lam bisshawab.

Posting Komentar untuk "Idul Fitri, Tak Sepenuhnya Membuat Kita Bahagia..."