Hidup Itu Pilihan: Fujur atau Taqwa?

 

Selasa (malem Rabu) 2 Dzulqa'dah 1446 H / 29 April 2025 M
๐Ÿ—“️Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT)

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan nikmat, terutama nikmat ilmu dan hidayah. Pada hari yang penuh berkah ini, kita diberikan kesempatan menghadiri majelis ilmu yang semoga membawa perubahan dalam hidup kita, bukan hanya sekadar hadir tapi juga menghadirkan impact dalam bentuk amal nyata. Karena sejatinya, orang yang datang ke majelis ilmu harus membawa perubahan dalam hidupnya. Jangan sampai rajin datang ke pengajian, tapi masih enggan menjalankan sunnah seperti shalat tahajud atau dhuha.


Ustadz Dadan Abdul Aziz yang kebetulan sebagai pengisi acara pada kajian BAPERAN yang rutin digelar setiap sepekan sskali pada hari Selasa sore jam 16.00 s/d 17.15 WIB di Masjid Al-Gani Imbanagara Ciamis, mengawali pembahasan dengan menyampaikan tafsir QS. Asy-Syams ayat 7-9:


ูˆَู†َูْุณٍ ูˆَู…َุง ุณَูˆَّุงู‡َุง۝ ูَุฃَู„ْู‡َู…َู‡َุง ูُุฌُูˆุฑَู‡َุง ูˆَุชَู‚ْูˆَู‰ٰู‡َุง۝ ู‚َุฏْ ุฃَูْู„َุญَ ู…َู† ุฒَูƒَّู‰ٰู‡َุง


"Demi jiwa dan penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan (fujur) dan ketakwaan (taqwa). Sungguh beruntung orang yang menyucikannya." (QS. Asy-Syams: 7-9)


Setiap manusia selalu dihadapkan pada dua kecenderungan: kejahatan dan kebaikan. Fujur adalah kecenderungan kepada maksiat, dan taqwa adalah kecenderungan kepada ketaatan. Dalam kehidupan, kita tidak mungkin selalu taat seperti malaikat, karena kita manusia. Tapi kita juga tidak boleh terus-menerus dalam maksiat seperti iblis.


Iblis adalah makhluk dari golongan jin, bukan malaikat, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Kahfi ayat 50:


ูˆَุฅِุฐْ ู‚ُู„ْู†َุง ู„ِู„ْู…َู„َุงุฆِูƒَุฉِ ุงุณْุฌُุฏُูˆุง ู„ِุขุฏَู…َ ูَุณَุฌَุฏُูˆุง ุฅِู„َّุง ุฅِุจْู„ِูŠุณَ ูƒَุงู†َ ู…ِู†َ ุงู„ْุฌِู†ِّ ูَูَุณَู‚َ ุนَู†ْ ุฃَู…ْุฑِ ุฑَุจِّู‡ِ


"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah kamu kepada Adam,' maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya."


Iblis, sebelumnya adalah jin yang sangat taat dan beribadah bersama para malaikat selama ribuan tahun. Namun ujian datang saat Allah menciptakan Nabi Adam dan memerintahkan seluruh malaikat dan jin untuk sujud menghormatinya. Iblis menolak dan sejak saat itu berubah menjadi makhluk yang terlaknat.


Tafsir QS. Al-Mutaffifin ayat 14:


ูƒَู„َّุง ุจَู„ْ ุฑَุงู†َ ุนَู„َู‰ٰ ู‚ُู„ُูˆุจِู‡ِู… ู…َّุง ูƒَุงู†ُูˆุง ูŠَูƒْุณِุจُูˆู†َ


"Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka."


Inilah akibat dari seringnya bermaksiat dan mengabaikan seruan kebaikan—hati menjadi keras. Maka ketika datang ke majelis ilmu, jangan hanya jadi pendengar, tapi jadikan itu sebagai bahan evaluasi dan dorongan perubahan.


Kemudian, beliau menekankan pentingnya hubungan antara iman dan amal sholeh, yang selalu disandingkan dalam Al-Qur’an:


ูˆَุงู„ْุนَุตْุฑِ ۝ ุฅِู†َّ ุงู„ْุฅِู†ุณَุงู†َ ู„َูِูŠ ุฎُุณْุฑٍ ۝ ุฅِู„َّุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ูˆَุนَู…ِู„ُูˆุง ุงู„ุตَّุงู„ِุญَุงุชِ


"Demi masa. Sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih..." (QS. Al-‘Ashr: 1-3)


Jangan sampai kita termasuk orang yang merasa beriman tapi tak ada amal yang mengikutinya. Karena kelak di akhirat, ada dua golongan dari orang yang beriman: yang langsung masuk surga, dan yang masuk neraka dahulu karena amalnya belum cukup menutupi dosa-dosanya.



---


Hikmah & Harapan


Renungan ini membawa kita pada satu kesimpulan bahwa dalam hidup ini selalu ada dua pilihan: fujur atau taqwa. Maka beruntunglah orang yang mau terus menyucikan diri meskipun terkadang tergelincir dalam maksiat.


Allah SWT berfirman:


ูَุฃَู…َّุง ู…َู† ุทَุบَู‰ٰ ۝ ูˆَุขุซَุฑَ ุงู„ْุญَูŠَุงุฉَ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ۝ ูَุฅِู†َّ ุงู„ْุฌَุญِูŠู…َ ู‡ِูŠَ ุงู„ْู…َุฃْูˆَู‰ٰ


"Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya." (QS. An-Nazi’at: 37-39)


Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu menjaga hati, menambah amal sholeh, dan terus menyucikan jiwa dengan takwa. Semoga Allah senantiasa menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang teguh di jalan kebaikan, hingga kelak tergolong sebagai orang yang aflaha man zakkaha — orang yang beruntung karena berhasil menyucikan jiwanya.


Wallahu a’lam bishshawab.


Posting Komentar untuk "Hidup Itu Pilihan: Fujur atau Taqwa?"