Disini untuk Disana

 (Refleksi Ngopsai Bareng Kang Ridwan - Citutut, Cijeungjing, Ciamis)

Sabtu, ٢١ Syawwal ١٤٤٦ H / 19 April 2025 M
🗓️Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT)

Di malam yang sejuk di Jum’at malam Sabtu, 21 Syawal 1446 H, para pemuda berkumpul bukan untuk main game, bukan buat nongkrong kosong tak bermakna, tapi buat “Ngopsai” alias ngopi santai—sebuah forum obrolan ringan tapi penuh makna, di rumahnya Kang Rahmat, Citutut, Dewasari, Cijeungjing, Ciamis. Kang Ridwan jadi pemantik diskusi dengan tema yang sederhana tapi dalam maknanya: “Disini untuk Disana.”


Apa sih maksudnya?

Yup, hidup di sini—dunia—sebenarnya bukan tempat tinggal selamanya. Kita cuma mampir sebentar buat nabung amal sebagai bekal ke sana, yaitu akhirat. Dunia ini kayak terminal sementara, bukan tujuan utama. Ibarat orang dari Ciamis mau ke Jakarta, ya gak asal berangkat. Harus siapin bensin, bekal, uang, rute, dan kondisi fisik. Gak beda jauh dengan hidup ini. Kita harus punya “GPS akhirat”.


Kang Ridwan juga ngingetin dengan dalil yang Allah turunkan dalam Al-Qur’an:


> "اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ..."


“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kalian serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak-anak…”

(QS. Al-Hadid: 20)




Dunia ini gak lebih dari game simulasi. Seru sih, tapi ujung-ujungnya semua akan log out juga. Yang bikin beda adalah: skor amalnya! Kalau nilainya bagus, nanti di akhirat bisa “naik level” ke surga. Tapi kalau cuma kejar skin (eh, maksudnya kemewahan dunia), ya tamat dengan tragis.


Makanya, hidup ini kudu serius tapi santai. Serius nyiapin bekal amal, tapi dikemas dengan santai, hangat, dan bersahabat. Seperti acara Ngopsai ini. Diisi oleh pemuda-pemuda tangguh—walau masih jomblo, tapi semangatnya udah calon penghuni surga.



---


Hikmah & Harapan


Kegiatan seperti ini mungkin terlihat sederhana, tapi sebenarnya bisa jadi benih kebangkitan peradaban Islam. Kenapa? Karena pemuda adalah mesin penggerak sejarah. Kalau pemuda sadar tujuan hidupnya, paham arah langkahnya, dan punya komunitas yang sehat, maka itu tanda umat akan bangkit!


Dan buat kamu Gen-Z yang mungkin ngerasa berat buat istiqomah… jangan menyerah! Godaan akhir zaman itu gila-gilaan, tapi Allah itu Maha Penyayang. Selangkah kamu dekati Allah, Allah bakal datang seribu langkah. Yuk kita bentuk barisan pemuda tangguh yang gak takut dibilang "beragama", tapi juga tetap asyik dan terbuka.


Dan ingat, ngaji itu gak harus disebut “pengajian.” Kadang cukup ajak:

“Bro, ngopi dulu yok!”

Tapi ternyata bukan cuma kopi yang mengalir, tapi juga hikmah dan iman.



---


Semoga ngopsai ini jadi ladang pahala, jadi langkah awal perubahan, dan jadi sumbu semangat buat kita semua untuk nyiapin bekal pulang ke kampung abadi. Aamiin!


Takbir!

Allahu Akbar!

Posting Komentar untuk "Disini untuk Disana"