Setiap kali memasuki bulan Agustus, atmosfer di berbagai daerah seketika berubah riuh dengan berbagai persiapan administratif maupun seremonial kenegaraan. Di tingkat RT, RW, desa, hingga kelurahan, mulai sibuk dibentuk Panitia Hari Besar Nasional (PHBN). Karang taruna dan pengurus warga dikerahkan untuk menyusun daftar agenda guna memeriahkan hari yang konon disebut sebagai hari kemerdekaan atau hari terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Lantas, bagaimana kita selaku pengemban dakwah ideologis—terutama yang sudah lama mengkaji arah pergerakan politik Islam (siyasah)—harus menempatkan diri dan mengambil sikap di tengah riuhnya agenda-agenda tersebut?
Sebagai pejuang ideologis yang memiliki jangkauan berpikir cemerlang (al-fikru al-mustanir), kita wajib memahami batasan syariat yang sangat tegas dalam menyikapi paham nasionalisme di ruang publik. Hukum asal nasionalisme dalam Islam adalah perkara yang batil karena termasuk dalam kategori ikatan kesukuan atau fanatisme golongan ('ashabiyah).
Oleh karena itu, rambu utamanya sangat jelas: selama sebuah agenda kenegaraan atau perlombaan di dalamnya memuat ajakan formal, doktrin, atau ritual 'ashabiyah yang mengagungkan paham kebangsaan di atas akidah, maka kita secara hukum syara' tidak boleh menghadiri undangan tersebut!
Menakar Mudarat dan Fleksibilitas Sosial Tanpa Kompromi Akidah
Lamun urang nolak undangan eta, tingal heula kondisina (Kalau kita menolak undangan tersebut, lihat dahulu kondisinya). Selama penolakan kita itu aman, wajar, dan tidak mendatangkan bahaya yang mengancam nyawa (fardhu al-ilja’), maka kita wajib absen dari agenda ritual nasionalisme tersebut. Kecuali, jika ada faktor keterpaksaan ekstrem yang melingkupinya. Namun, jika ketidakhadiran kita tidak menimbulkan friksi atau tidak sampai membuat keadaan cecel bocel (rusak/retak) dalam hubungan bertetangga, maka memisahkan diri dari seremoni batil adalah keharusan.
Meskipun demikian, dalam ranah sosial murni yang sifatnya umum, kita tetap bisa ikut bersyukur dan menikmati momentum kemasyarakatan yang berjalan secara natural tanpa muatan syirik ideologis.
Salahseorang aktivis pejuang ideologis sekaligus beliau juga adalah seorang amil dikampung tempat tinggalnya, beliau berbagi pengalaman pribadi selama menjadi seorang Amil. Pada momentum Agustus tahun kemarin, penulis sempat menyadari ada beberapa tokoh masyarakat setempat yang diam-diam penasaran dan menaruh curiga, "Si Amil arèk moal ngahormat bendera?" (Si Amil mau tidak menghormati bendera?). Kebetulan, karena posisi pak Amol tersebut ditokohkan oleh warga, pak Amil sering diundang menghadiri upacara resmi dan ditempatkan di podium utama bersama jajaran tamu VIP.
Di sinilah letak kecerdasan siyasah diuji: posisi kita sebagai tamu VIP justru menguntungkan karena kita hanya duduk formal sebagai penonton di podium tanpa pernah diwajibkan untuk berdiri memimpin atau melakukan ritus penghormatan fisik terhadap simbol-simbol tersebut.
Dalam membedah masalah ini, cara pandang kita wajib bertumpu secara jernih pada dua dimensi yang saling beririsan:
- Dimensi Keyakinan dalam Beragama (Akidah/Hadharah).
- Dimensi Sosial Kemasyarakatan (Ukhuwah/Muamalah).
Kita harus ekstra hati-hati dan tidak boleh serampangan melakukan generalisasi (gebyah-uyah). Kita wajib memilah dengan jeli, mana perkara yang masuk dalam kategori hadharah (manifestasi pemikiran kufur) dan mana yang murni masuk dalam cakupan interaksi sosial kemasyarakatan.
Kalau agenda PHBN itu cuma sebatas kerja bakti bebersih kampung, mengecat gapura, atau membersihkan saluran air, ya kita ikutan saja secara aktif! Jangan perkara sosial semacam itu disangkutpautkan dengan dalil thaghut lalu kita menarik diri dari warga.
Kecuali, jika agenda tersebut sudah menyangkut pada perkara keyakinan, pemujaan lambang, simbol, atau ritual pengorbanan yang bisa mencederai kemurnian akidah Islam. Jika itu yang terjadi, maka lebih baik kita tidak ikut serta.
Strategi Dakwah yang Elegan: Bukan Otot, Tapi Siyasah Pemikiran
Meskipun kita menarik diri dari agenda hadharah, posisi kita sebagai pengemban dakwah menuntut kita untuk tetap bersikap santun, komunikatif, dan sejuk di hadapan warga. Jika harus memberikan argumentasi atau alasan ketidakhadiran, sampaikanlah dengan cara yang elegan, cerdas, dan diplomatis. Jangan ujug-ujug (tiba-tiba) datang ke depan muka ketua RT lalu menghardik mereka dengan stempel, "Kalian semua thaghut! Ini perbuatan jahiliyah!" Bukan begitu caranya!
Masyarakat awam itu harus didakwahi dengan cara yang makruf, bertahap, dan menyentuh kesadaran berpikirnya, ulah digeneralisir! Cara bersikap kita harus elegan. Sebab, kalau kita bertindak kaku tanpa perhitungan, ujug-ujug urang dimusuhan ku batur (tiba-tiba kita dimusuhi oleh orang lain), maka yang rugi adalah kelangsungan aktivitas dakwah kita sendiri di masa depan karena pintu kontak pemikiran otomatis akan tertutup rapat.
Strategi taktisnya mudah: jika ada agenda makan-makan atau acara ngaliwet bareng warga setelah kerja bakti selesai, ya kita ikut nimbrung! Makan bareng, mengobrol santai di pos ronda, lalu di sanalah kesempatan kita untuk memasukkan tsaqofah Islam secara halus.
Fakta fitnah agama yang paling nyata terjadi hari ini adalah: kita yang siang malam berjuang menguras energi demi menegakkan syariat Islam secara kaffah justru kerap distempel negatif oleh opini publik sebagai kelompok yang tidak nasionalis, anti-NKRI, dan tidak tahu terima kasih pada negara. Padahal, di dalam akidah Islam yang lurus, eksistensi konsep nasionalisme sekat bangsa itulah yang justru wajib dipertanyakan keabsahan hukumnya!
Mencintai negeri tempat kita tinggal (hubbul wathan) yang murni itu adalah dengan cara menyayangi rakyatnya, meneruskan estafet perjuangannya, meluruskan kiblat hukumnya yang bengkok, serta mengupayakan dengan sungguh-sungguh agar umat di negeri ini bisa bangkit dari keterpurukan global saat ini.
Membongkar Kerusakan Kaum Nasionalis Sekuler
Ironisnya, orang-orang yang hari ini berteriak paling lantang mengaku paling nasionalis justru menjadi aktor utama yang merusak akidah, menggadaikan kekayaan alam, dan menghancurkan moral bangsa ini! Kaum nasionalis sekuler itu secara sistemik memaksa kita untuk ikut menyimpang dari rel akidah Islam. Mereka mendikte umat agar memaklumi sistem hukum kufur dan memaksa rakyat untuk memilih para pemimpin zalim yang sejak awal sudah berkomitmen tidak akan pernah mau menegakkan syariat Islam di muka bumi.
Di tengah impitan sistemik ini, kita sebagai pengemban dakwah harus pintar-pintar membela agama Allah, bukan sekadar sibuk membela ego diri sendiri atau kepentingan kelompok. Pondasi ketauhidan di dalam dada kita wajib diperkokoh agar tidak goyah oleh iming-iming materi maupun gertakan sistem.
Maka dari itu, kesimpulannya adalah kita boleh dan sangat wajib memiliki semangat yang menyala-nyala untuk mendakwahkan penegakan syariat Islam secara kaffah. Namun ingat, semangat yang membara itu wajib dibimbing oleh pemikiran yang matang (tsaqofah), ulah pake otot, ulah pake emosi!
Ketika kita terjun melebur ke medan dakwah di tengah-tengah masyarakat, kita sudah tahu dan paham mana batasan yang masuk ranah hadharah (tidak ada kompromi sama sekali) dan mana yang masuk ranah muamalah kemasyarakatan. Perkara-perkara mubah yang ada di tengah warga justru harus bisa kita konversikan menjadi ushlub (sarana taktis) dakwah yang efektif guna menarik simpati dan mencerdaskan umat. Jangan pakai otot, tetapi mainkan dengan siyasah pemikiran yang cemerlang!
PENUTUP
Bergeraklah di tengah umat dengan penuh hikmah dan keagungan akhlak ideologis. Jangan biarkan sekat-sekat hari besar nasional mengisolasi dirimu dari interaksi sosial, melainkan jadikan setiap momentum berkumpulnya warga sebagai jembatan emas untuk menyebarkan risalah tauhid dan menyadarkan mereka akan bobroknya sistem Kapitalisme.
Tetaplah istikamah berdiri tegak di atas garis perjuangan ini tanpa ada keraguan sedikit pun, karena janji kepastian pertolongan Allah SWT adalah sebuah keniscayaan yang mutlak bagi hamba-hamba-Nya yang mukhlis:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
"Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (TQS Muhammad: 7).
Allahu Akbar!
Wallahu a'lam bishowab [].




Posting Komentar untuk "MENYIKAPI NASIONALISME DI AGENDA-AGENDA KENEGARAAN"