بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Ditulis oleh: Aldy al-Jawi | Aktivis Islam Ideologis
Kamis mlm Jum'at Wagē, 17 Shafar 1448 H / 30 Juli 2026 M (Kalender Islam Global Tunggal)
Alhamdulillah, segala puji serta syukur yang mendalam senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, Zat Yang Maha Membolak-balikkan hati manusia, atas segala limpahan rahmat, hidayah, dan taufik-Nya. Atas karunia-Nya yang tak terhingga, kita kembali diberikan kesempatan dan kekuatan untuk berkumpul, ngariyung, dan bersilaturahmi dalam agenda kajian rutinan setiap malam Jumat, yaitu Kajian OBSESI (Obrolan Seputar Islam). Malam ini, majelis kita digelar di tempat yang santai dan penuh keakraban, yaitu di kedai seblak andalan Mang Yayan.
Semoga setiap langkah kaki kita menuju majelis ini dinilai sebagai amal saleh, penggugur dosa, dan dicatat sebagai pahala yang berlipat ganda di sisi-Nya, serta menjadi wasilah agar kelak kita dikumpulkan bersama di surga-Nya. Aamiin ya Allah ya rabbal alamin.
Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada uswatun hasanah kita, Baginda Rasulullah Muhammad SAW, sang pembawa risalah kebenaran yang revolusioner. Semoga selawat ini juga tercurah kepada keluarga beliau, para sahabat, para tabiin, tabiut tabiin, hingga sampai kepada kita semua selaku umatnya yang terus berupaya istikamah dalam menjaga garis perjuangan dan menyebarkan syariat Islam yang kaffah. Semoga selawat yang kita lantunkan ini mewujud menjadi atsar (jejak ketaatan) yang kokoh, sehingga di yaumil akhir kelak kita diakui sebagai umat beliau dan berhak mendapatkan syafaatul 'uzhma. Aamiin ya Allah ya robbal alamin.
Kajian OBSESI malam ini sejatinya merupakan jadwal dari Guru kita, Pak Kiai Abdul Rosyad (yang akrab disapa Pak Osad). Namun, karena beliau mendadak berhalangan hadir, posisi mubaligh malam ini akhirnya dibadalkan (digantikan) oleh Kang Yugi Mogey. "Ieu mah murid pang bangorna yang sedang menggantikan gurunya," seloroh Kang Yugi Mogey di awal kajian yang langsung disambut tawa hangat para jemaah. Meski dibadalkan, suasana kajian tetap berjalan penuh khidmat. Kang Yugi mengingatkan bahwa berkumpul di majelis ilmu adalah momen paling membahagiakan, karena setiap doa dan urusan kita saat ini sedang diaminkan secara langsung oleh para malaikat yang mengepakkan sayapnya menaungi majelis. Oleh karena itu, mari kita optimalkan momen ini untuk berdoa dan menyerap ilmu dengan optimal.
Pada kesempatan malam ini, Kang Yugi dengan berani membedah sebuah materi berbobot karya Ust. Yahya Abdurahman. Materi ini merupakan bahasan yang sangat sensitif, krusial, dan teramat jarang berani dibahas oleh ustaz-ustaz atau penceramah lain pada umumnya, yaitu mengenai "ULAMA SÛ' (ULAMA JAHAT)".
Secara konsep dasar, ulama adalah warasatul ambiya (pewaris para nabi). Kedudukan mereka di dalam Islam berada pada posisi yang sangat mulia karena dianugerahi kelebihan berupa ilmu syariat. Hari ini, kuantitas ulama di Indonesia sangatlah banyak. Kang Yugi menegaskan bahwa pembahasan materi ini sama sekali tidak bertujuan untuk memprovokasi, menyebarkan kebencian, ataupun melakukan pembunuhan karakter terhadap personal tertentu. Kami sengaja tidak akan menyebutkan nama atau sosok siapa pun.
Tujuan utama kajian ini adalah sebagai edukasi politik Islam agar umat mampu mengenali secara objektif karakteristik dan ciri-ciri dari ulama sû' yang menyimpang dari keteladanan Nabi SAW. Mengapa kita wajib mengenalinya? Agar umat memiliki benteng pemikiran (himayah) dan tidak salah dalam melangkah serta mengambil rujukan dalam beragama.
Makna Ulama Sû': Ilmu Tanpa Amal, Kesempitan yang Berubah Jadi Bahaya
Secara etimologi atau bahasa, istilah ini terdiri dari dua kata:
- 'Ulama' merupakan bentuk plural (jamak) dari kata 'alim, yang bermakna orang yang memiliki pengetahuan mendalam atau ahli ilmu.
- Sû' merupakan bentuk mashdar dari kalimat sa'a-yasu'u, yang berarti jelek, buruk, atau jahat.
Maka, secara istilah, al-'ulama' as-sû' bermakna orang berilmu yang memiliki perangai buruk dan jahat. Keberadaan mereka di tengah-tengah umat merupakan sebuah petaka besar, karena ilmu yang mereka miliki tidak diamalkan, melainkan dijadikan alat pemuas nafsu. Rasulullah SAW telah memberikan peringatan yang sangat keras mengenai eksistensi kelompok ini dalam sabdanya:
أَلَا إِنَّ شَرَّ الشَّرِّ شِرَارُ الْعُلَمَاءِ وَإِنَّ خَيْرَ الْخَيْرِ خِيَارُ الْعُلَمَاءِ
"Ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama, dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama." (HR ad-Darimi nomor 381).
Eksistensi dan peran ulama merupakan indikator utama dan kompas penentu arah baik atau buruknya suatu masyarakat. Jika ulamanya lurus, maka masyarakat akan terbimbing menuju ketakwaan. Namun, jika ulamanya rusak, maka masyarakatna ge bakal melu rusak (masyarakatnya pun akan ikut rusak). Tabiin terkemuka, Said bin Jubair, ketika ditanya oleh para sahabat mengenai apa yang menjadi tanda-tanda kehancuran dan kebinasaan suatu umat, beliau menjawab dengan tegas: "Jika ulama mereka telah rusak."
Dalam khazanah Islam, Abu Muslim al-Khaulani membagi tipologi ulama ke dalam tiga macam berdasarkan pemanfaatan ilmunya:
- Ulama yang Hidup Bersama Ilmunya: Ia mengamalkan ilmunya untuk dirinya sendiri, dan orang lain pun turut merasakan limpahan manfaat dari ilmu yang ia sebarkan tersebut. Ini adalah potret ulama ideal.
- Ulama yang Hidup Sendiri dalam Ilmunya: Ia mengamalkan ilmunya secara personal, namun tidak ada satu pun orang lain di sekitarnya yang ikut hidup dan mengambil manfaat bersama ilmu tersebut. Manfaat ilmunya mandek dan terbatas untuk dirinya sendiri.
- Ulama yang Ilmunya Menjadi Bencana: Orang lain secara masif mengambil dan hidup bersama ilmu yang ia sampaikan, tetapi ilmu tersebut justru berbalik menjadi sumber bencana, malapetaka, dan kehancuran bagi dirinya sendiri di hadapan Allah karena ia mengkhianati apa yang ia ucapkan.
Tiga Golongan Ulama dan Ciri Utama Ulama Sû'
Lebih terperinci lagi, Imam ad-Darimi di dalam kitab Sunan-nya mengklasifikasikan ulama ke dalam tiga golongan besar:
Golongan ketiga inilah—yaitu Al-'Alim Al-Fajir—yang menempati posisi sebagai ulama sû'. Ciri utama dan paling mendasar dari ulama sû' adalah memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya. Definisi ini dipertegas oleh Imam Asy-Syathibi di dalam kitab Al-Muwafaqat:
"Ulama sû' adalah ulama yang tidak beramal sesuai dengan apa yang ia ketahui." (al-Muwafaqat, 5/76).
Ilmu yang mereka miliki hanya sekadar hiasan bibir dan komoditas wacana, tidak pernah dijadikan sebagai penuntun utama dalam setiap ayunan langkah kakinya. Mereka tahu sebuah perkara itu hukumnya wajib, tetapi ditinggalkan; mereka tahu suatu sistem itu batil dan haram, tetapi justru didukung.
Senada dengan hal tersebut, Syekh Islam Ibnu Taimiyah memberikan ulasan yang menohok: "Inilah kondisi nyata dari orang yang tidak beramal sesuai dengan tuntunan ilmunya, tetapi ia justru memilih untuk mengikuti hawa nafsunya. Itulah hakikat kesesatan yang hakiki."
Catatan ini ditulis oleh Ibnu Taimiyah setelah beliau mengutip ayat Al-Qur'an mengenai kisah orang yang telah mengenal kebenaran secara gamblang, namun memilih untuk berpaling dan mencampakkannya demi kesenangan duniawi yang fana:
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ * وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ۚ
"Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya juga." (TQS Al-A'raf: 175-176).
Allah SWT menyamakan kedudukan ulama yang menyembunyikan ilmu dan menuruti hawa nafsu ini seperti seekor anjing. Sebuah perumpamaan yang sangat hina bagi manusia yang dianugerahi akal dan ilmu syariat.
Ulama Salathin: Stempel Kezaliman Penguasa
Salah satu manifestasi paling nyata dari ulama sû' di era modern hari ini adalah berkembang biaknya fenomena Ulama Salathin (Ulama Penjilat Penguasa). Mereka adalah orang-orang alim yang rela melacurkan ilmunya demi menjadi stempel pembenaran bagi setiap kebijakan zalim penguasa sekuler. Rasulullah SAW memberikan peringatan keras:
وَقَدْ كَانَ نَاسٌ مِنْ عُلَمَاءِ السُّوءِ يَتَّخِذُونَ هَذَا الْعِلْمَ تِجَارَةً يَتَجَهَّزُونَ بِهَا مِنْ أَمْرَاءِ زَمَانِهِمْ رِزْقًا لِأَنْفُسِهِم| لَا أَرَاجِعَ لَهُمْ تِجَارَتَهُمْ
"Dan sesungguhnya akan ada manusia dari kalangan ulama sû' yang menjadikan ilmu ini sebagai barang dagangan, yang mereka jual kepada para penguasa zaman mereka demi meraup rezeki (keuntungan materi) bagi diri mereka sendiri. Allah tidak akan pernah memberikan keberkahan pada perniagaan mereka." (HR al-Hakim).
Imam adz-Dzahabi menguraikan secara tajam bahwa karakteristik utama dari ulama sû' atau ulama salathin ini meliputi tiga tindakan khianat:
- Mempercantik kezaliman: Mereka sibuk mencari dalil pembenaran untuk menutupi kezaliman, kesewenang-wenangan, dan ketidakadilan yang dilakukan oleh penguasa terhadap rakyat.
- Memutarbalikkan kebatilan: Mereka mengemas perkara yang batil, haram, dan bertentangan dengan syariat agar nampak seolah-olah sebagai sebuah kebenaran dan kemaslahatan di mata publik demi menyenangkan hati penguasa.
- Diam seribu bahasa: Mereka memilih bungkam dan menutup mata di hadapan kemungkaran penguasa, padahal mereka memiliki kemampuan, otoritas, dan ilmu untuk menjelaskan kebenaran hukum Allah yang sesungguhnya.
Tindakan ini merupakan bentuk pengkhianatan terbesar terhadap amanah ilmu. Ulama seharusnya menjadi pelindung umat, bukan sekrup pemutar roda kezaliman penguasa kapitalis. Rasulullah SAW bersabda:
الْعُلَمَاءُ أُمَنَاءُ الرُّسُلِ مَا لَمْ يُخَالِطُوا السُّلْطَانَ وَيَدْخُلُوا الدُّنْيَا فَإِذَا خَالِطُوا السُّلْطَانَ وَدخلوا الدُّنْيَا فَقَدْ خَانُوا الرُّسُلَ فَاحْذَرُوهُمْ
"Ulama adalah pemegang amanah para rasul, selama mereka tidak bergaul rapat dengan penguasa dan tidak asyik mencari dunia. Jika mereka telah bergaul rapat dengan penguasa dan asyik mengejar dunia, maka sesungguhnya mereka telah mengkhianati para rasul; karena itu, waspadalah terhadap mereka dan jauhilah mereka." (HR al-Hakim).
Sebuah catatan teologis yang teramat penting untuk digarisbawahi: yang dimaksud dalam hadis ini bukanlah ulama mukhlis yang mendatangi istana penguasa dalam rangka melaksanakan aktivitas politik Islam, yaitu ber-amar makruf nahi mungkar, mengoreksi kebijakan (muhasabah lil hukkam), serta menyampaikan kebenaran syariat secara lantang tanpa rasa takut. Melainkan, yang dilaknat adalah mereka yang sengaja mendekat ke lingkaran kekuasaan demi mengejar setoran logistik, jabatan, status sosial, dan gemerlap fasilitas duniawi.
Akar Kerusakan, Tipu Daya Setan, dan Kehilangan Wibawa
Apa yang sebenarnya menjadi akar penyebab keluarnya ilmu dari dalam hati para ulama tersebut? Dialog historis antara Khalifah Umar bin Khaththab ra. dengan Ka'ab al-Ahbar memberikan jawaban yang sangat mengakar.
Umar ra. bertanya kepada Ka'ab: "Apa hal yang bisa mengeluarkan ilmu dari dalam hati para ulama?" Ka'ab menjawab dengan satu kata yang menukik: "Ketamakan."
Keluarnya ilmu dari dalam hati di sini bukan berarti sang ulama mengalami amnesia atau lupa terhadap hafalan ayat dan hadisnya secara tekstual. Melainkan, hilangnya pengaruh, ruh, dan berkah dari ilmu tersebut dalam kehidupan nyata. Ilmu itu tidak lagi dijadikan sebagai kompas dan tuntunan hidup, melainkan habis digilas oleh ketamakan syahwat duniawi. Rasulullah SAW menegaskan ancaman bagi para memperalat agama ini:
مَنْ أَكَلَ بِعِلْمِهِ طُعْمَةَ اللهِ حَجَبَهُ اللهُ حُجَّتَهُ وَكَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ
"Barangsiapa yang makan (mencari kekayaan) dengan memperalat ilmunya, maka Allah akan membutakan hujahnya, dan neraka jauh lebih layak baginya." (HR Abu Nu'aim dan ad-Dailami).
Imam As-Suyuthi membongkar bagaimana halus dan sistematisnya tipu daya setan dalam menggelincirkan para ahli ilmu ini. Setan akan mendandani keburukan, keserakan, and kemaksiatan di hadapan ulama dengan kemasan-kemasan yang nampak islami, hingga tanpa sadar menyeret mereka masuk ke dalam jurang kemurkaan Allah SWT. Mereka memakan dunia dengan memanfaatkan topeng agama, memperalat ayat untuk menumpuk harta, serta dengan tega ikut memakan harta wakaf, memotong hak anak yatim, dan merampas hak orang-orang miskin melalui fatwa-fatwa pesanan mereka.
Lebih lanjut, Imam Al-Minawi di dalam kitab Faydh al-Qadir merinci empat tanda mencolok dari ulama sû' yang telah tergelincir dalam tipu daya setan:
- Menjadikan ilmunya sebagai instrumen utama untuk mengejar kenikmatan dunia, gengsi sosial, popularitas, dan kedudukan strategis.
- Memperindah citra penguasa lalim yang gemar menzalimi manusia dan menindas hak-hak rakyat kecil.
- Sangat gampang, murah, dan instan dalam mengeluarkan fatwa-fatwa kontroversial yang menguntungkan kepentingan politik pragmatis penguasa.
- Goresan pena dan lisan mereka selalu memproduksi kebohongan, manipulasi dalil, dan kedustaan di ruang publik.
Ciri psikologis lain yang melekat pada ulama sû' adalah hilangnya wibawa kejujuran hati, yang ditandai dengan ketidakberanian mereka untuk berkata "tidak tahu". Mereka memiliki sifat sombong, angkuh, dan gengsi yang luar biasa untuk mengakui keterbatasan ilmunya di hadapan manusia. Padahal, para sahabat Nabi SAW terdahulu sangat berhati-hati dalam berfatwa.
Sebagai contoh, sahabat Ibnu Umar ra. suatu ketika pernah ditanya oleh seseorang mengenai suatu perkara hukum, lalu beliau dengan tawaduk menjawab: "Aku tidak tahu." Setelah si penanya pergi, Ibnu Umar menimpali dengan kalimat bergetar: "Apakah engkau ingin menjadikan punggung-punggung kami ini sebagai jembatan bagi kalian menuju ke dalam neraka Jahanam?" Ulama sû' telah menghapus kata "tidak tahu" dari kamus mereka, sehingga mereka berani memutus perkara tanpa dasar ilmu demi menjaga reputasi dunianya.
Tujuh Tingkatan Ulama Sû' dan Peringatan Imam Al-Ghazali
Sahabat Mu'adz bin Jabal ra. memformulasikan karakteristik ulama sû' ke dalam tujuh tingkatan yang sangat spesifik dan menukik:
- Tingkat 1: Bersikap sangat kasar, kaku, dan keras saat mengingatkan orang lain, namun egonya melambung tinggi dan murka saat dirinya diingatkan.
- Tingkat 2: Menjadikan otoritas ilmunya semata-mata sebagai alat taktis untuk mendapatkan pemberian, upah, dan fasilitas dari penguasa.
- Tingkat 3: Bersikap bakhil terhadap ilmu; sengaja menahan, menyembunyikan, dan tidak mau menyampaikan kebenaran hukum syarak kepada umat karena takut kehilangan zona nyaman.
- Tingkat 4: Sengaja memilih-milih topik pembicaraan atau materi ceramah yang hanya bertujuan untuk menarik simpati, pujian, dan rida dari orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi.
- Tingkat 5: Sengaja mencampuri, mengadopsi, dan meniru pola perkataan serta pemikiran kaum Nasrani dan Yahudi (konsep-konsep sekuler Barat) hanya demi memperbanyak retorika bicara dan terlihat intelektual.
- Tingkat 6: Dengan tingkat kepedean yang tinggi berani mengangkat dirinya sebagai mufti (pemberi fatwa) di tengah masyarakat, padahal dirinya tidak memiliki kapasitas, keahlian, dan prasyarat keilmuan yang sepatutnya.
- Tingkat 7: Menjadikan ilmu yang dimilikinya sekadar sebagai alat kebanggaan, kesombongan, dan kepuasan intelektual semata dalam forum perdebatan.
Ketujuh tingkatan ulama sû' di atas secara linier digambarkan akan menempati tujuh tingkatan neraka yang mengerikan; satu tingkatan neraka didedikasikan untuk setiap satu wajah kebusukan ulama sû'. Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali memberikan alarm peringatan yang sangat keras di dalam kitabnya:
"Hati-hatilah kalian terhadap tipu daya busuk dari para ulama sû'. Sungguh, dampak keburukan dan kerusakan yang mereka timpakan bagi eksistensi agama ini jauh lebih dahsyat dan lebih buruk daripada tipu daya setan itu sendiri. Sebab, melalui lisan dan pembenaran merekalah, setan mampu dengan sangat mudah menanggalkan nilai-nilai agama dari dalam hati kaum Mukmin secara sistemik." [1]
PENUTUP
Ketika Baginda Rasulullah SAW ditanya oleh para sahabat mengenai siapakah sejahat-jahatnya makhluk yang ada di muka bumi, beliau tidak langsung menunjuk pada para pelaku kriminal jalanan ataupun para kemaksiatan kasat mata. Beliau justru tertunduk lalu melangitkan doa khauf: "Ya Allah, berilah ampunan," sebanyak tiga kali berulang-ulang.
Setelah itu, beliau SAW memberikan ketegasan sabda yang menggetarkan jiwa: "Mereka adalah ulama sû'."
Sungguh, eksistensi ulama jahat di akhir zaman ini adalah racun pemikiran yang siap menjegal dakwah Islam kaffah dengan memanipulasi nash syariat. Oleh karena itu, wahai para pemuda dan pengemban dakwah ideologis, kokohkan benteng ketakwaan dan keteguhan berpikirmu. Jangan pernah berkecil hati, jangan goyah, dan jangan baper ketika dakwahmu diserang oleh fatwa-fatwa pesanan kaum oportunis.
Teruslah konsisten mencerdaskan umat dan membongkar kebatilan sistem sekuler ini di majelis-majelis ilmu, sembari senantiasa melantunkan doa perlindungan: Na'ûdzu billâh min syarr al-'ulamâ' as-sû' (Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan ulama sû'). Janji pertolongan Allah SWT adalah sebuah keniscayaan yang mutlak bagi hamba-hamba-Nya yang setia:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
"Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (TQS Muhammad: 7).
Allahu Akbar!
Wallahu a'lam bish-shawab [].
Disarikan dari tulisan Ustadz Yahya Abdurrahman, 4 November 2017

Posting Komentar untuk "ULAMA SÛ' (Ulama Jahat) - KAJIAN OBSESI (OBROLAN SEPUTAR ISLAM)"