Kebodohan dan ketidakpahaman yang sistemik tengah mencengkeram benak mayoritas umat hari ini. Di satu sisi, masyarakat memang sudah mulai resah, jenuh, dan jengkel dengan karut-marut kondisi sosial-politik saat ini. Namun ironisnya, mereka gagal melihat akar masalahnya. Hakikatnya, fenomena kerusakan yang bertubi-tubi ini adalah wajah asli dari sistem Demokrasi. Sebuah sistem kufur yang lahir dari asas kebebasan (Liberalisme) dan berakar pada akidah Sekulerisme (fashluddin ’anil hayah), yaitu memisahkan agama dari kehidupan praktis.
Sekulerisme-Demokrasi ini bersumber dari ideologi Kapitalisme (Ar-Ra’simaliyah, yang secara bahasa berarti "kepala harta/modal"). Karena asasnya adalah modal, maka satu-satunya tolak ukur perbuatan dalam sistem ini adalah asas manfaat materi, bukan ridho Allah SWT! Akibatnya, dalam sistem Kapitalisme hari ini, halal dan haram tidak lagi dipedulikan. Selama sebuah kebijakan atau aktivitas itu mendatangkan keuntungan logistik dan cuan yang melimpah, maka akan langsung digaskeun tanpa beban moral.
Wajah asli kebobrokan ini sudah terpampang nyata di hadapan kita. Lahirlah koruptor-koruptor kakap yang merampok hak rakyat tanpa rasa malu, sebab mereka telah bebas dari keterikatan terhadap hukum syara'. Memang, dalam ideologi Kapitalisme ini, agama masih diterima dan keberadaan Sang Pencipta masih diakui. Namun, peran agama tersebut diamputasi dan dibatasi sekadar di tempat ibadah ritual saja, misal di dalam masjid. Begitu keluar dari pintu masjid? Yo bebas sak karepe dewek! (Bebas terserah kehendak sendiri!).
Ilusi Sirkus Demokrasi dan Kedangkalan Pola Pikir Figuritas
Masyarakat sebagian besar sebenarnya sadar dan mengeluh dengan keadaan yang serbasulit ini. Namun sayang seribu sayang, mereka masih diselimuti kebodohan dan keawaman yang akut. Pola pikir mereka mandek dan hanya mentok pada level figur atau orangnya saja. Jangankan orang awam, wong sekelas kalangan intelektual, mahasiswa, hingga akademisi saja masih banyak yang memiliki pola pikir yang sangat rendah dan sempit! Ini adalah fakta empiris yang terpampang nyata di tengah kita, dan tulisan ini dibuat bukan dalam rangka menyinggung secara personal, apalagi melakukan teror-teroran. Sorry ye! Di dalam aktivitas dakwah ideologis yang kami jalankan, kami tidak mengenal metode teror atau kekerasan fisik sedikit pun. Jalan kami adalah mencerdaskan umat melalui perang pemikiran (shira'ul fikri).
Kenapa umat harus dicerdaskan? Karena kami bergerak atas dasar rasa peduli dan cinta yang mendalam kepada umat ini! Kami bukanlah orang-orang egois yang hanya memikirkan keselamatan diri sendiri atau kelompok kami semata. Siapa pun mereka—baik rakyat jelata maupun penguasa—harus disadarkan! Tujuan utama dari kesadaran ini tidak lain adalah agar kehidupan Islam (isti’naful hayatil Islamiyyah) bisa kembali berlanjut melalui ditegakkannya kembali institusi global Islam yang bernama Khilafah Islamiyah. Sebuah institusi pelindung umat yang telah seabad lebih runtuh pasca-kejatuhannya pada tahun 1924 M / 1342 H silam akibat konspirasi keji yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Attaturk—la’natullah ‘alaihi.
Lihatlah bagaimana akhir hidup si penghancur Khilafah tersebut; makamnya di Turki sana bahkan tidak bisa dikubur langsung masuk ke dalam perut bumi, melainkan hanya bisa ditutup beton semen di atas permukaan tanah. Ini menjadi bukti tekstual dan visual bahwa barang siapa saja yang berani menghancurkan dan mencampakkan syariat Islam, pasti akan diazab secara tunai di dunia dan jasadnya pun ditolak oleh bumi, sekaligus mengundang murka Allah SWT.
Perlu ditegaskan kembali, institusi Khilafah memang bukanlah tujuan akhir dari keimanan, melainkan sebuah wadah, alat, dan mahkota kewajiban (tajul furudh) agar seluruh hukum syariat Islam yang telah Allah tetapkan di dalam Al-Qur'an dan diperjelas melalui Sunah Nabi Muhammad SAW bisa diterapkan secara totalitas (kaffah).
Terutama untuk mengimplementasikan dimensi hukum yang ketiga, yaitu hablum minannas (hubungan manusia dengan manusia lainnya). Dimensi ketiga inilah yang justru porsi pembahasannya paling banyak dan luas di dalam kitab-kitab fikih Islam, meliputi urusan muamalah, sistem ekonomi, sistem pendidikan, tata politik dalam negeri, haluan politik luar negeri, hingga sistem persanksian ('uqubat).
Ketika ada warga negara yang melanggar syariat, hukum syara' telah menetapkan sanksi yang tegas dan berefek jera: pencuri wajib dipotong tangannya, pezina yang belum menikah dicambuk dan yang sudah menikah (mushon) dirajam hingga mati, pembunuh dijatuhi hukuman qishash, hingga perintah jihad menegakkan kalimatullah (kutiba 'alaikumul qital). Semua hukum preventif dan kuratif ini hanya bisa diterapkan ketika Khilafah sudah tegak berdiri! Selama institusi itu belum ada, maka demi Allah, hukum-hukum tersebut tidak akan pernah bisa dilaksanakan. Tidak bisa dieksekusi oleh individu, tidak bisa oleh kelompok/ormas, bahkan seorang presiden atau Raja Arab Saudi sekalipun tidak akan mampu menerapkannya! Penegakannya mutlak harus di bawah komando seorang Khalifah yang memimpin institusi Khilafah Islamiyah yang berlaku secara global tanpa tersekat oleh batas-batas nasionalisme semu.
Namun apa nyatanya? Masyarakat hari ini bodoh dan awam! Cara berpikir mereka tidak sampai pada taraf ideologis substantif tersebut. Pola pikir mereka mandek dan terjebak pada figuritas individu. Seolah-olah kalau orangnya diganti, kalau presidennya diganti, maka rakyat otomatis akan langsung sejahtera. Rakyat lolobana (mayoritas) terjebak dalam sirkus pemujaan figur tokoh politik kapitalis. Muncul jargon-jargon emosional bernada taklid seperti memuja tokoh dengan sebutan "bapak aing", "anak abah", "pria solo", dan fanatisme buta lainnya. Banyak orang lebih fokus pada personifikasi tokoh ketimbang mengkritisi sistem apa yang sedang diterapkan oleh tokoh tersebut!
Cara pandang yang mendepak sistem dan mendewakan figur semacam itu adalah cerminan nyata dari cara pandang yang bodoh dan pola pikir yang rendah (al-fikru as-safih)! Mengganti figur penguasa (Ganti Orang) terbukti secara historis tidak akan pernah cukup dan selalu berujung pada siklus kekecewaan yang berulang dari rezim ke rezim. Solusi tunggal yang jelas dan mutlak adalah Mengganti Sistem Hukum Negara secara Totalitas!
Mari kita buat sebuah tamsil (analogi) sederhana agar kaum awam bisa berpikir jernih: Presiden itu ibarat sopir, sedangkan Sistem itu ibarat mobilnya. Pertanyaannya, sistem yang sekarang sedang berjalan di negeri ini sistem apa? Pasti mayoritas dari kita akan menjawab: Demokrasi. Heeh, ari Demokrasi teh asalna timana!? (Nah, Demokrasi itu asalnya dari mana?!). Demokrasi itu sistem rongsokan produk peradaban Barat yang sekuler!
Maka, tidak akan pernah cukup jika kita hanya sibuk mengganti orangnya (sopirnya) tetapi tetap mempertahankan sistemnya (mobilnya). Ibarat sebuah mobil yang mesinnya sudah hancur, mogok, dan bodol, lalu Anda hayoh saja hanya sibuk mengganti sopirnya berulang kali. Senajan (walaupun) sopir yang dipilih itu pinter, bergelar tinggi, dan jago menyetir, kalau kondisi mobilnya sudah butut dan rusak parah, maka perjalanan akan tetap berakhir dengan kegagalan total alias kecelakaan!
Pengkhianatan Kaum Intelektual dan Fenomena "Imarotus Sufaha"
Ironisnya, jangankan rakyat biasa, sekelas master hingga profesor—yang menduduki kasta tertinggi kalangan intelektual—pun banyak yang tidak paham sampai ke akar ideologis ini. Oh, atau jangan-jangan mereka sebenarnya paham, tetapi dengan sengaja menutup mata dan menyembunyikan kebenaran? Opsi kedua ini tampaknya lebih presisi. Mereka sengaja menutup diri karena memiliki keterikatan kepentingan (interest) politik dan ekonomi dengan penguasa yang menguntungkan posisi mereka. Akhirnya, mereka kembali lagi pada kaidah dasar ideologi Kapitalis, yaitu asas manfaat materi demi kesenangan duniawi yang fana.
Padahal, tindakan menolak dan mencampakkan hukum-hukum yang telah Allah menetapkan memiliki konsekuensi teologis yang sangat ngeri dan berbahaya di akhirat. Allah SWT telah membagi para penolak hukum-Nya ke dalam tiga kategori ekstrem: bisa jatuh pada predikat zalim, fasik, bahkan sampai pada level kafir! Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur'an:
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
"Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (TQS Al-Ma'idah: 44).
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
"Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim." (TQS Al-Ma'idah: 45).
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
"Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik." (TQS Al-Ma'idah: 47).
Sangat disayangkan dan teramat miris melihat fakta kebodohan yang masif ini. Di dalam kajian kitab Tafsir Jalalain semalam yang diasuh oleh Kiai Abdul Rosyad (yang akrab disapa Pak Osad), beliau membedah realitas zaman ini dengan merujuk pada khazanah pemikiran kitab Ahkamus Sulthaniyyah. Pak Osad menjelaskan sebuah nubuat dari Rasulullah SAW mengenai akan datangnya suatu zaman di mana umat akan dipimpin oleh para penguasa yang menerapkan hukum, tetapi tidak mengikuti petunjuk syariat Islam.
Zaman ini ditandai dengan munculnya fenomena Imarotus Sufaha (Pamarentahan anu bodo, teu make dalil / Pemerintahan bodoh yang tidak menggunakan dalil hukum Allah sebagai pijakan regulasi). Standar hidup yang mereka gunakan adalah standar Jahiliyah modern, di mana kompas utama dalam menata undang-undang dan kebijakan publik bukanlah Al-Qur'an dan Sunah, melainkan hawa nafsu dan syahwat politik golongan. Mungkin hari ini ada sebagian orang yang rajin membaca Al-Qur'an, bahkan sampai menghafalnya, namun sayang hafalannya hanya mentok di tenggorokan tanpa pernah sampai pada taraf penerapan hukumnya di tengah kehidupan negara. Itulah potret buram realitas umat saat ini.
Fitnah Khilafiyah dan Keteguhan Dakwah Berdasarkan Al-Qur'an
Anehnya, ketika ada sekelompok pengemban dakwah ideologis yang merasa miris dan bergerak untuk mencerdaskan umat dari kebodohan sistemik ini, mereka justru dicap dengan stempel negatif sebagai kelompok "teroris" atau "radikal". Padahal, para pengemban dakwah ini adalah orang-orang yang berpikir jernih menggunakan akal sehat, yang ingin mengajak umat agar keluar dari kebodohan dan kembali pada solusi hakiki, yaitu syariat Islam kaffah.
Lebih menggelikan lagi, ada segelintir orang awam yang karena dengki, dengan mudahnya menuduh aktivitas dakwah terbuka ini sebagai perbuatan "riya". Mereka melontarkan tuduhan dengan narasi keliru: "Riya itu kan artinya kelompok yang selalu merasa benar sendiri, merasa paling benar!"
Astagfirullah, ini adalah bukti nyata betapa hancurnya pemahaman bahasa dan fikih di tengah umat. Jangankan paham peta pemikiran politik, definisi istilah dasar seperti "riya" saja mereka tidak paham! Di dalam hukum syara', riya itu artinya sum'ah atau pamer, yaitu suatu aktivitas ibadah mahdhah yang sengaja diperlihatkan dan dipamerkan kepada manusia dengan tujuan ingin dipuji oleh orang lain, seperti memamerkan salat atau sedekahnya. Riya itu adalah perkara niat yang letaknya di dalam hati, yang tidak ada satu pun makhluk yang mengetahuinya kecuali Allah SWT sang Maha Pencipta.
Lantas, bagaimana mungkin aktivitas dakwah menyampaikan kebenaran hukum Allah dituduh sebagai riya? Dakwah itu hukum asalnya memang wajib diperlihatkan, ditampilkan, dan diserukan secara lantang di ruang publik agar umat mendengar dan paham! Terkait urusan niat dan tujuan akhir, itu adalah urusan mutlak antara sang pendakwah dengan Allah SWT, tugas kita sebagai manusia hanyalah menilai apa yang nampak secara lahiriah (nahkumu bizh-zhawahir). Dari kedangkalan argumen kritikus dakwah tersebut, kita sudah bisa mengukur kadar kebodohan cara pandang mereka.
Kebodohan tersebut semakin paripurna ketika mereka mencoba mengait-ngaitkan aktivitas dakwah intelektual-ideologis ini dengan aksi terorisme fisik, atau menyamakannya dengan tokoh Amrozi dalam kasus bom Bali terdahulu tanpa bukti yang sohih. Padahal, dari segi fondasi pemikiran (fikrah) maupun metode perjuangan (thariqah), jalan dakwah kami jelas bertolak belakang dan berbeda seratus delapan puluh derajat dengan aksi-aksi pengeboman tersebut!
Konsekuensi Sistemik Ideologi Kapitalisme Sekuler
Ya, itulah realitas pahit yang harus kita hadapi. Maka, sabar aja! Karena sejak dahulu kala polanya memang sudah seperti itu, dan ini sekaligus menjadi bukti nyata akan kebenaran isi Al-Qur'an. Al-Qur'an sudah memprediksikan skenario penolakan ini, dan sekarang terbukti secara empiris di lapangan. Yang berubah dari masa ke masa hanyalah zamannya dan orang-orangnya, tetapi terkait tabiat, perilaku, dan respons penolakan terhadap hukum Allah akan tetap sama persis sebagaimana yang digambarkan di dalam Al-Qur'an.
Ideologi Kapitalisme Sekuler yang sampai detik ini diterapkan secara paksa di negeri-negeri kaum Muslimin—termasuk di negeri kita tercinta Indonesia—telah terbukti secara valid tidak hanya melahirkan kesengsaraan fisik, kemiskinan struktural, dan kelaparan massal. Lebih merusak dari itu, sistem kufur ini juga berpengaruh sangat besar dalam mendegradasi pola pikir masyarakat kita saat ini.
Banyak masyarakat menjadi bodoh, awam, dan acuh tak acuh terhadap agamanya sendiri. Fenomena kebodohan massal ini semata-mata memang sudah dirancang dan disetting oleh sistem Kapitalisme Sekuler agar umat Islam kehilangan jati diri ideologisnya! Kebodohan ini bukan terjadi karena atas dasar individunya yang salah dari lahir.
Oleh karena itu, kita tidak bisa serta-merta menyalahkan atau langsung menghakimi individu masyarakat tersebut. Bisa jadi, mereka berbuat demikian hanya karena mereka belum paham dan belum tersentuh oleh maklumat Islam yang sahih.
Maka dari itu... sabarlah! Tetaplah terus konsisten dan penuh semangat dalam menjalankan aktivitas dakwah ideologis yang sepi peminat ini. Tidak menjadi masalah bagaimanapun respons publik saat ini, karena urusan hasil akhir dan kemenangan adalah mutlak hak prerogatif Allah SWT. Kita sebagai pengemban dakwah akan tetap memanen pahala yang berlimpah di sisi-Nya, senajan (walaupun) di jalanan dakwah ini kita dikatai habis-habisan, dicaci-maki, dipojokkan, hingga difitnah dengan keji sebagai kelompok radikal.
Dakwahkan terus kebenaran ini tanpa henti! Perjuangkan terus syariat Islam secara kaffah! Tidak ada satu pun hal yang mustahil bagi Allah SWT. Ketika saatnya pertolongan-Nya (nashrullah) tiba, yo pasti akan tiba seketika dan tidak akan ada satu pun kekuatan tirani di dunia ini yang mampu membendungnya.
PENUTUP
Mari kita satukan visi perjuangan dakwah politik kita untuk mencerdaskan umat. Tinggalkan ilusi sirkus demokrasi yang menipu, dan buang jauh-jengah fanatisme figur yang semu. Mari berjuang bersama menegakkan kembali Khilafah Islamiyah yang berjalan di atas manhaj kenabian (Khilafah 'ala Minhajin Nubuwwah), yang akan menerapkan seluruh hukum Allah secara kaffah tanpa celah. Hanya dengan jalan inilah, rahmat, keadilan, dan keberkahan-Nya akan kembali memayungi bumi Nusantara dan seluruh belahan dunia.
Bagi para pengemban dakwah ideologis, jangan pernah berkecil hati, jangan mengeluh, dan jangan biarkan rasa baper melemahkan azam perjuanganmu. Teruslah kuat, karena pertolongan Allah SWT sudah semakin dekat! Sukses yang kita kejar bukanlah sekadar sukses egois untuk diri kita sendiri, melainkan sukses besar untuk menyelamatkan dunia dari kegelapan sekulerisme dan meraih puncak kebahagiaan di akhirat, yaitu ridho Allah SWT serta surga-Nya yang penuh kenikmatan tiada tara.
Allah SWT memberikan kepastian pertolongan bagi siapa saja yang kokoh berdiri di jalan-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (TQS Muhammad: 7).
Allahu Akbar!
Wallahu a'lam bishowab [].





Posting Komentar untuk "KENAPA BANYAK UMAT SAAT INI DISELIMUTI KEBODOHAN, KEAWAMAN BAHKAN POLA PIKIRNYA RENDAH & SEMPIT⁉️"