Sebuah analogi luhur dan menggelitik disampaikan oleh Kyai Abdul Rosyad, atau yang akrab disapa Pak Osad, saat ngaji rutin Tafsir Jalalain dan Syarah Al-Mu'awanah semalam (Rabu malam Kamis) di Madrasah/Diniyah An-Nasihin, Dusun Depok, Desa Sukajadi, Kecamatan Sadananya, Ciamis. Di hadapan para akang dan mas-mas jamaah ikhwan, beliau menceritakan sebuah kisah ilustrasi tentang sebuah kapal terbang (pesawat) yang mengambil rute penerbangan resmi dari Jakarta menuju tujuan akhir ke London, Inggris.
Tiba-tiba, di tengah perjalanan udara, ada beberapa penumpang yang berteriak panik karena mereka sejatinya berniat pergi ke Mekkah, Arab Saudi, untuk menunaikan ibadah. Begitu pesawat terbang tinggi melintasi benua, si penumpang kebingungan bagaimana cara turun karena wilayah Mekkah ternyata sudah terlewat jauh di belakang. Secara otomatis, suka atau tidak suka, para penumpang tersebut ikut terbawa terbang menuju London.
Ketika para penumpang ini memprotes dan menyalahkan nahkoda, sang pilot dengan santai menjawab: "Naha maneh nyalahkeun urang? Kan memang urang mah ditugaskeun jeung diarahkeunna ka London, lain ka Mekkah!" Akhirnya, para penumpang tersebut hanya bisa menangis dan menyesal seumur hidup di dalam kabin karena mereka telah melakukan kesalahan fatal: teu apal numpak kapal—alias asal naik kendaraan tanpa mencari tahu ke mana arah tujuan akhir kompas kemudi pesawat tersebut dijalankan.
Tamparan Bagi Kaum Taklid Buta Terhadap Sistem Jahiliah Modern
Kisah humor sarat makna dari Pak Osad ini sebenarnya merupakan sebuah sindiran ideologis yang sangat tajam bagi mayoritas kaum muslimin hari ini. Banyak umat Islam saat ini yang terjangkit penyakit taklid buta (ikut-ikutan tanpa dalil) dan bersikap ridho di dalam gerbong sistem kufur/jahiliah yang sedang berjalan saat ini. Alih-alih sistem demokrasi sekuler ini sejalan dengan syariat Islam, faktanya ia justru bergerak menjauh 180 derajat menuju arah yang berlawanan!
Di tengah-tengah masyarakat, kita sering sekali mendengar celetukan apatis yang berbunyi: "Udah, kita sebagai rakyat kecil gak usah pusing-pusing mikirin urusan negara atau politik. Nanti juga para pejabat dan penguasa itu akan mempertanggungjawabkan sendiri perbuatan mereka di akhirat." Ini adalah sebuah fatalisme dan kedangkalan berpikir yang sangat nyata! Orang-orang yang memiliki mindset seperti ini mengira bahwa dengan berdiam diri dan pasrah total, mereka akan selamat dari murka Allah Swt.
Padahal, jika kita diam dan enggan melakukan aktivitas amar makruf nahi munkar untuk merubah arah sistem yang salah ini, kelak di akhirat kita semua—termasuk mereka yang rajin shalat ritual—akan ikut terkena imbas dosanya! Persis seperti kisah teu apal numpak kapal tadi. Penguasanya memang masuk neraka karena menzalimi rakyat dan mencampakkan syariat, tetapi penumpangnya (rakyat yang diam) juga ikut tersesat dan terbawa ke tempat yang salah karena membiarkan diri mereka diatur oleh hukum selain hukum Allah Swt. Jangan lagi ada anggapan egois "udah we masing-masing aja!" Penguasa hancur, kita yang diam pun ikut lebur!
Allah Swt memberikan peringatan yang sangat presisi mengenai malapetaka kolektif yang akan menimpa suatu kaum akibat mendiamkan kezaliman sistemik:
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (TQS Al-Anfal: 25)
Gugatan Terhadap Doktrin "Ketaatan Buta" Kepada Ulil Amri Sekuler
Sikap pasrah dan masa bodoh yang melanda umat hari ini terjadi karena fondasi dasar pemikiran Islam mereka belum terbangun secara politik (can kabangun dasar pikiranna). Pemahaman agama mereka dipenjara oleh narasi sekuler yang memelintir makna "ketaatan kepada ulil amri". Mereka dipaksa ridho terhadap kezaliman ekonomi, mahalnya sembako, korupsi program MBG, hingga legalisasi maksiat struktural dengan dalih menjaga stabilitas. Mereka mengira kesalehan itu cukup dengan mengurung diri di dalam masjid, rajin wirid, dan menjaga ibadah fardiyah saja, sementara urusan kemungkaran di luar masjid mereka abaikan.
Ini adalah racun pemikiran yang sangat berbahaya! Di dalam lembaran Kitab Suci Al-Qur'an, terdapat begitu banyak perintah Allah Swt yang berstatus hukum wajib, namun sampai detik ini sama sekali belum bisa dilaksanakan oleh umat. Mengapa? Contohnya adalah perintah penegakan hukum qishash (kutiba 'alaykumul qishash), hukum potong tangan bagi pencuri, hingga sistem ekonomi bebas riba.
Semua kewajiban besar tersebut mustahil bisa ditegakkan secara fardiyah (individu per individu) atau oleh sekadar organisasi kemasyarakatan. Undang-undang tersebut hanya bisa dieksekusi oleh sebuah kelompok manusia yang memegang institusi kekuasaan politik yang sah, yaitu seorang Sultan, Imam, atau Khalifah! Oleh karena itu, di sinilah letak urgennya kudu adanya perjuangan politik yang nyata untuk merebut kembali arah kemudi umat, bukan malah pasrah ku kaayaan (pasrah pada keadaan) di bawah kendali sistem kapitalisme Barat yang merusak.
Rasulullah saw memberikan batasan yang sangat tegas bahwa tidak ada kewajiban taat kepada pemimpin dalam urusan yang menabrak syariat Allah Swt:
لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
Tidak ada ketaatan dalam maksiat (kepada Allah), sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang makruf. (HR Bukhari No. 7257 & Muslim No. 1840)
Menghadirkan Kesadaran Mustanir: Menuntut Pergantian Kemudi Negara
Berdasarkan realitas penerbangan sistem yang salah arah ini, menjadi kewajiban yang sangat krusial bagi seluruh pengemban dakwah untuk mencerdaskan kotak berpikir umat. Kita harus menaikkan taraf berpikir masyarakat dari yang awalnya dangkal (al-fikr as-safih) menjadi taraf berpikir yang cemerlang (al-fikr al-mustanir) agar menjelma menjadi seorang Mustanir. Seorang mustanir tidak akan mau lagi disuruh diam atau diajak naik ke dalam "kapal pesawat" demokrasi yang rutenya sudah jelas menuju arah sekulerisme.
Seorang mustanir akan menyadari secara ideologis bahwa jika pesawat negara ini rutenya adalah demokrasi sekuler, maka siapa pun figur pilot yang memimpin—mau sesoleh apa pun pribadinya secara personal—output tujuannya akan tetap mendarat di kubangan kebatilan. Solusi tunggalnya bukan sekadar mengganti sosok pilot lewat pemilu lima tahunan, melainkan merubah haluan rute penerbangan dan mengganti mesin kapalnya secara totalitas (inkilabiyyan) dengan institusi Daulah Khilafah Islamiyah. Hanya di bawah naungan Khilafah, kompas kemudi negara akan diputar haluannya menuju ridho Allah Swt dengan menerapkan syariat Islam secara menyeluruh tanpa setengah-setengah.
Penutup
Kisah teu apal numpak kapal dari Pak Osad semalam wajib menjadi tamparan keras bagi keimanan kita. Menjadi jemaah yang hanya fokus pada ibadah ritual pribadi seraya mendiamkan kezaliman sistemik berjalan adalah bentuk kelalaian akidah yang mengerikan di akhirat kelak. Kita tidak bisa lepas tangan begitu saja, karena diamnya kita terhadap dicampakkannya syariat akan menyeret kita ke dalam gerbong hukuman yang sama. Mari kita buang jauh-jauh sikap pasrah ku kaayaan, lipat lengan baju, dan ikutlah terlibat aktif dalam saf perjuangan dakwah politik ini untuk menyadarkan umat. Didik masyarakat dengan ekstra kesabaran agar mereka turun dari gerbong sekuler dan bersama-sama berjuang mengembalikan kemuliaan peradaban Islam yang agung.
Wallahu a'lam bishowab. []
Informasi Penerbitan:
Buletin Dakwah Ideologis — Edisi Kamis Pahing, 24 Muharram 1448 H / 9 Juli 2026 M
Dirangkum dumasar Catatan Ngaji: Madrasah An-Nasihin, Dsn. Depok, Ds. Sukajadi, Sadananya, Ciamis
Diselaraskan berdasarkan Ketetapan Resmi Kalender Islam Global Tunggal



Posting Komentar untuk "TEU APAL NUMPAK KAPAL"