KETIKA MASYARAKAT BANYAK YANG SADAR DENGAN KEADAAN.....


Hari demi hari, riak kesadaran di tengah masyarakat lapis bawah kini mulai nampak ke permukaan. Banyak orang yang perlahan-lahan mulai tersadar bahwa keadaan hidup saat ini sedang dikepung oleh kebobrokan multidimensi. Impitan ekonomi kian nyata dirasakan; mulai dari meroketnya harga-harga kebutuhan pokok, sembako yang melambung tinggi, hingga biaya modal usaha yang ikut melonjak tajam. Konsekuensi logisnya, para pedagang kecil di pasar dan trotoar terpaksa harus ikut menaikkan harga jual dagangan mereka agar bisa bertahan hidup. Kesulitan beruntun ini tidak lain merupakan imbas langsung dari pelaksanaan program pemerintah yang dipaksakan, seperti gonjang-ganjing dana program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga kebijakan naiknya harga BBM Pertamax yang secara otomatis memicu efek domino ke berbagai sektor kehidupan publik.

Penderitaan rakyat semakin diperparah dengan lahirnya kebijakan-kebijakan baru yang penuh kontroversi, salah satunya adalah program Koperasi Desa Merah Putih. Meskipun program ini digadang-gadang oleh pemerintah sebagai solusi bagus untuk menampung pelaku UMKM di tingkat desa, namun dalam praktiknya justru menampilkan kengawuran sistemik yang luar biasa. Bagaimana tidak ngawur, calon manajer koperasi yang seharusnya dilatih secara profesional di bidang manajemen keuangan dan ekonomi mikro, eh malah disuruh ikut latihan ala militer. Akibatnya sangat fatal, kemarin publik dikagetkan dengan kabar tewasnya beberapa calon manajer koperasi saat mengikuti pelatihan fisik tersebut.

Belum lagi jika dibedah secara makro, keberadaan jaringan koperasi desa ini ditengarai kuat sengaja didesain untuk menyaingi gurita bisnis Indomaret dan Alfamart, namun dalam prosesnya justru ikut menggilas dan mematikan warung-warung kecil milik rakyat jelata. Semua kekacauan ini dibungkus rapi dalam lingkaran pengelolaan yang korup. Bayangkan saja, program sekelas MBG yang baru seumur jagung saja kemarin sudah terbukti dikorupsi secara berjamaah oleh para oknum birokrat. Ini adalah bukti telanjang bahwa kebatilan struktural di negeri ini sudah berada pada stadium akhir.



Jebakan Figurisasi: Ketika Rakyat Masih Buta Terhadap Akar Masalah

Meskipun saat ini jemaah dan masyarakat umum sudah mulai melek terhadap kebobrokan keadaan, namun sayang seribu sayang, mayoritas dari mereka belum menemukan solusi hakiki mengenai langkah apa yang kudu ditempuh. Sebagian besar masyarakat kita masih terjebak pada pola pikir yang dangkal (al-fikr as-safih), di mana fokus mereka hanya melulu tertuju pada figur atau sosok orang yang sedang duduk di kursi jabatan. Mereka sibuk mengkritik personil, gemar gonta-ganti figur pemimpin lewat jalur pemilu, namun mata mereka buta untuk melihat sistem apa yang dipakai oleh figur tersebut untuk mengatur negara. Umat masih tersandera dalam ilusi bahwa pemimpin yang "baik" akan otomatis membawa perubahan, tanpa memedulikan konstitusi hukum yang digunakannya.

Kemarin, saat saya (penulis) sedang ngobrol santai seraya ngopi bersama salah seorang warga masyarakat, beliau tiba-tiba melontarkan pernyataan yang cukup menggelitik: "Harusnya njenengan aja yang jadi presidennya, Mas Al." Mendengar ucapan spontan tersebut, saya langsung menjawab dengan tegas: "Ish, mimpi aja nggak!"

Lantas saya sampaikan sebuah hujah politik untuk membuka kotak berpikir beliau, "Njenengan inget gak ucapan Prof. Mahfud MD?" Beliau secara terbuka di ruang publik pernah membuat testimoni jujur yang berbunyi: "Malaikat pun bisa berubah menjadi setan ketika masuk pada lingkaran sistem demokrasi sekarang." Statemen jujur dari seorang mantan pejabat tinggi negara tersebut kini terbukti kebenarannya secara mutlak di hadapan kita semua. Dalam kacamata ideologis, kutipan ini menjadi dalil sosiologis yang sangat kuat bahwa kebobrokan negeri ini bukan sekadar urusan moralitas individu penguasa, melainkan urusan kebusukan sistem hukumnya.



Ilusi Kesalehan Individu di Dalam Labirin Demokrasi Sekuler

Kita harus pahamkan kepada umat dengan setajam-tajamnya, bahwa mau sesaleh apa pun seseorang, mau se-alim apa pun kepribadian individu tersebut, tatkala ia memutuskan untuk masuk dan menceburkan diri ke dalam sistem sekuler-demokrasi yang secara asas sudah salah, maka otomatis ia tidak akan mampu memperbaiki keadaan. Jangankan merubah keadaan menjadi lebih shaleh, yang ada justru individu tersebut yang akan dipaksa ikut menjadi salah dan larut dalam ritme permainan batil demokrasi! Sistem demokrasi dirancang untuk mengunyah idealisme dan memuntahkannya dalam bentuk kompromi politik demi syahwat kekuasaan kapitalistik.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena demokrasi memosisikan manusia sebagai pembuat hukum yang mutlak, mengambil alih hak prerogatif Allah Swt dalam menetapkan aturan hidup. Ketika aturan main yang disepakati bersumber dari rahim sekulerisme—yaitu memisahkan agama dari urusan negara—maka output kebijakan yang dilahirkannya pasti akan memproduksi kesempitan hidup (ma'isyatan dhanka), korupsi, dan legalisasi kemaksiatan. Mengharapkan lahirnya keadilan dari rahim demokrasi-sekuler sama saja seperti berharap memanen buah kurma yang manis dari pohon berduri yang beracun. Sungguh mustahil!

Allah Swt telah memberikan peringatan yang sangat keras mengenai nasib suatu bangsa yang enggan menjadikan wahyu sebagai pilar hukumnya:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim (TQS Al-Ma'idah: 45)



Urgensi Didikan Mustanir: Mengarahkan Kesadaran Menuju Solusi Hakiki

Kesadaran masyarakat yang mulai melek terhadap keadaan hari ini wajib ditangkap secara cepat oleh para syabab pengemban dakwah ideologis. Ini adalah momentum politik yang sangat berharga. Kita tidak boleh membiarkan kemarahan dan kekecewaan rakyat terhadap mahalnya sembako dan korupsi MBG ini dikanalisasi kembali ke dalam jalur demokrasi melalui janji-janji manis paslon dalam pemilu berikutnya. Itu namanya keluar dari lubang buaya masuk ke dalam mulut harimau; umat hanya akan terus ditipu berulang kali lewat bagi-bagi amplop serangan fajar.

Tugas kita adalah menaikkan taraf berpikir masyarakat melalui proses didikan (tatsqif) yang intensif agar mereka bermutasi menjadi seorang Mustanir—pemikir cemerlang yang memiliki ketajaman analisis ideologis. Seorang mustanir tidak akan lagi terjebak pada dikotomi figur, melainkan langsung fokus menuntut pergantian sistem secara mendasar dan menyeluruh (inkilabiyyan). Umat harus dicerdaskan pemikirannya bahwa solusi hakiki dari seluruh sengkarut ini hanyalah dengan mencopot sistem demokrasi-kapitalisme hingga ke akar-akarnya, untuk kemudian digantikan dengan penerapan syariat Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dan hal itu mustahil terwujud tanpa adanya institusi politik penegak syariat yang sah, yaitu Daulah Khilafah Islamiyah.



Penutup

Meleknya masyarakat terhadap kebobrokan rezim sekuler saat ini harus segera diarahkan pada pemahaman sistemik, bukan sekadar kekecewaan figuris. Malaikat pun akan berubah menjadi setan jika nekat bermain di dalam sistem demokrasi yang batil, karena aturan yang salah akan selalu memaksa individu di dalamnya berbuat salah. Mari kita manfaatkan momentum ini untuk terus membina umat dengan ekstra kesabaran melalui media selembaran buletin subuh ini. Satukan pemikiran, perasaan, dan undang-undang umat hanya di bawah naungan kalimat tauhid, demi menyongsong kembalinya kehidupan Islam yang agung dan penuh berkah.

Wallahu a'lam bishowab. []


Informasi Penerbitan:
Buletin Dakwah Ideologis — Edisi Rabu Legi, 23 Muharram 1448 H / 8 Juli 2026 M
Dirangkum oleh: Aldy al-Jawi (Aktivis ☕) — Syabab Ciamis
Diselaraskan berdasarkan Ketetapan Resmi Kalender Islam Global Tunggal

Posting Komentar untuk "KETIKA MASYARAKAT BANYAK YANG SADAR DENGAN KEADAAN....."