🍃SHALAT YANG KHUSYU AKAN MELAHIRKAN PERADABAN YANG MULIA - KAJIAN MASJID AL ISLAH / PC MUHAMMADIYAH MANGUNJAYA☕


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Segala puji serta rasa syukur yang mendalam senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Swt., Zat Yang Maha Membolak-balikkan hati manusia. Atas limpahan taufik dan hidayah-Nya, kita kembali dipertemukan dan dihimpunkan dalam majelis ilmu yang insya Allah dipenuhi kemuliaan ini pada malam Ahad. Sungguh sebuah nikmat yang luar biasa, di mana pada waktu malam minggu seperti saat ini, umumnya orang-orang—terutama para remaja dan pemuda—lebih memilih menghabiskan waktu untuk nongkrong di alun-alun, menghamburkan materi dalam kesia-siaan, atau bahkan terjebak dalam aktivitas maksiat seperti pacaran. Sebaliknya, langkah kaki antum semua bapak & ibu baik yang masih remaja maupun yang sudah sepuh justru diringankan menuju masjid ini demi mereguk tsaqafah Islam. Semoga kehadiran kita di sini dicatat sebagai amal kebaikan yang berat timbangannya, serta menjadi saksi yang menyelamatkan kelak di hadapan pengadilan-Nya.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada uswah hasanah kita, Nabi Muhammad saw., kepada keluarga beliau, para sahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in, dan mudah-mudahan sampai kepada kita semua selaku umatnya. Yaitu umat yang senantiasa istiqamah melakukan ittiba’ (mengikuti) setiap apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. sesuai dengan sunnah-sunnahnya. Baik dalam konteks ibadah ritual (mahdhah) maupun di luar ibadah mahdhah, seperti dalam interaksi politik, sosial, dan muamalah kehidupan sehari-hari. Semoga kelak kita semua diakui secara sah sebagai umat beliau di yaumil akhir, mendapatkan syafaatul 'uzhma darinya, dan dikumpulkan bersama di dalam jannah-Nya. Amin ya Rabbal 'alamin.
Esensi dari sebuah majelis dakwah adalah mencerahkan pemikiran umat agar terbebas dari belenggu kedangkalan berpikir yang terjadi di zaman yang serba sekuler & liberal saat ini. Alhamdulillah, pengajian bulanan rutinan yang diselenggarakan oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Ishlah / Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Mangunjaya, Kabupaten Pangandaran ini dapat kembali berjalan dengan lancar, meskipun sebelumnya sempat mengalami masa "mogok" atau vakum. Atas kehendak dan pertolongan Allah Swt simpul dakwah ini kembali dihidupkan. Pada kesempatan malam ini, kajian diisi oleh pemateri yang luar biasa, yaitu Ustadz dr. Erwin dari Padaherang. Beliau merupakan seorang dokter medis yang aktif melayani pasien di garis depan, namun di sisi lain, beliau juga seorang dai muda yang bergerak aktif dalam organisasi Muhammadiyah. Dengan gaya penyampaian materi yang khas, dinamis, dan menyentuh pola pikir anak muda, kehadiran beliau diharapkan mampu memicu kebangkitan taraf berpikir umat di tengah kondisi keterpurukan zaman saat ini.


Resep Makro dari Sang Pencipta: Menatap Makna Sabar dan Shalat

Dalam menempuh kehidupan di dunia yang dipenuhi oleh benturan kepentingan dan ujian sistemik, manusia sering kali sibuk mencari jalan keluar operasional ke sana kemari. Kalau dalam dunia periklanan, ada jargon yang sangat populer di tengah masyarakat awam: "Apa pun makanannya, minumnya teh botol Sosro.". Nah jika di dalam Al-Qur'an, Allah Swt. sebenarnya telah memberikan satu resep makro yang sangat luar biasa dan valid untuk menyelesaikan segala bentuk problematika kehidupan manusia, baik dalam skala individu maupun dalam skala peradaban umat.
Resep agung tersebut dituangkan oleh Allah Swt melalui firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 45. Manusia diperintahkan untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai sarana utama dalam memohon pertolongan guna menghadapi beratnya beban kehidupan dunia dan akhirat.
Allah Swt menegaskan prinsip dasar penolong kehidupan tersebut:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu. (TQS Al-Baqarah: 45)
Berdasarkan penjelasan tafsir Mutnu Ibni Hayyan, perintah meminta tolong melalui sabar dan shalat ini mencakup kebaikan urusan dunia sekaligus akhirat. Menurut sebagian ulama tafsir terkemuka, seperti Imam Mujahid dan Imam Al-Qurthuby, makna sabar (ash-shobri) pada dimensi pertama diartikan sebagai ibadah puasa, karena puasa melatih manusia menahan diri secara total. Hal ini dikuatkan oleh hadits Rasulullah saw bahwa puasa adalah setengah dari kesabaran.
Sementara itu, pendapat kedua yang dipegang oleh mayoritas ulama dan dipertegas oleh perkataan Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu menyatakan bahwa sabar terbagi dua: sabar saat menerima musibah itu baik, namun sabar dalam menahan diri dari perbuatan-perbuatan maksiat jauh lebih baik dan lebih utama. Menahan diri dari kemaksiatan sistemik di bawah kepungan aturan sekuler saat ini memerlukan energi kesabaran yang luar biasa. Imam Ahmad juga meriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa nabi Muhammad saw apabila menghadapi suatu perkara atau urusan yang berat dan menyulitkan, beliau akan segera mendirikan shalat untuk mencari solusi dari Allah Swt.


Analisis Bahasa: Hakikat Kata "Innaha" dan Karakter Al-Khashi'in

Secara kaidah bahasa Arab (balaghah), terdapat pembahasan menarik mengenai kata “Innaha” (dan sesungguhnya hal itu) pada ayat di atas. Ke mana arah kata ganti (dhamir) "Ha" pada kata tersebut merujuk? Karena "Ha" merupakan kata ganti untuk subjek perempuan (muannats), sebagian ulama seperti Ibnu Jahur dan Imam Mujahid berpandangan bahwa dhamir tersebut kembali secara khusus kepada kata “As-Sholah” (shalat), karena kata shalat berakhiran ta marbuthah yang menandakan muannats.
Namun, sebagian ulama lain memiliki pandangan yang lebih luas dan mendalam. Mereka menyatakan bahwa dhamir "Ha" tersebut merujuk kepada seluruh rangkaian wasiat atau resep yang disebutkan sebelumnya, yaitu gabungan antara sabar dan shalat. Kasus kebahasaan seperti ini dapat kita temukan analoginya dalam surat Al-Qashash ayat 80, pada kalimat “Wala yulaqqaha”, di mana dhamir "Ha" di sana merujuk pada frasa “Ats-Tsawab” (pahala) meskipun secara tekstual kata tsawab bukan muannats. Ini membuktikan bahwa beban untuk menjalankan sabar dan shalat secara kesatuan memang dirasakan sangat berat (kabiratun), kecuali bagi golongan orang-orang yang memiliki sifat Al-Khashi'in.
Lantas, siapakah yang dimaksud dengan Al-Khashi'in? Secara etimologi, kata khashi'u, khusyu' memiliki makna tunduk, merendahkan diri, atau menaruh rasa takut yang mendalam. Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang percaya secara penuh pada Al-Kitab (Al-Qur'an) tanpa ada keraguan sikit pun. Imam Mujahid berpandangan bahwa mereka adalah orang-orang yang benar-benar beriman secara ideologis, sedangkan Abul Aliyah mendefinisikannya sebagai orang-orang yang benar-benar takut kepada Allah Swt. dalam setiap langkah kakinya. Dari sini lahir sebuah pertanyaan mendasar: Apakah khusyu itu hanya sebatas keadaan transisional manusia ketika mereka sedang berdiri di dalam shalat saja? Atau sebenarnya khusyu itu adalah sebuah kondisi kesadaran menyeluruh (idrakus shilah billah) yang harus melekat dalam seluruh waktu hidup manusia?


Redefinisi Khusyu Berdasarkan Al-Qur'an: Menembus Batas Ruang Shalat

Jika kita meneliti redaksi dan definisi khusyu yang diturunkan langsung berdasarkan teks Al-Qur'an, kita akan menemukan kesimpulan bahwa khusyu adalah sebuah mindset hidup. Pada ayat berikutnya, yaitu surat Al-Baqarah ayat 46, Allah Swt memberikan definisi yang sangat gamblang mengenai siapa orang yang khusyu tersebut:
الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
(Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (TQS Al-Baqarah: 46)
Kata yadzunnuna di sini bermakna keyakinan yang kuat atau prasangka yang pasti. Pertanyaannya, apakah kesadaran bahwa kita akan bertemu dengan Allah Swt dan akan kembali kepada-Nya itu hanya wajib dihadirkan sewaktu kita sedang shalat saja? Tentu saja tidak! Kesadaran radikal (mengakar) ini wajib menyertai manusia ketika ia sedang beraktivitas di ruang publik agar jalannya kehidupan tetap terikat pada aturan syara'.
Definisi kedua mengenai khusyu dapat kita bedah dalam surat Al-Anbiya ayat 90. Allah Swt. berfirman mengenai karakter para hamba-Nya yang saleh:
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh pengharapan dan kecemasan. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami. (TQS Al-Anbiya': 90)
Ayat ini mempertegas bahwa ruang lingkup khusyu adalah lapangan kehidupan yang luas. Memang betul, di dalam surat Al-Mu'minun ayat 2 disebutkan secara spesifik: “Alladzina hum fi shalatihim khashi'un” (yaitu orang-orang yang khusyu dalam shalatnya). Dalam konteks ayat tersebut, shalat yang didirikan memang harus berkualitas dan khusyu. Namun, ayat-ayat lain memberikan bukti sekunder yang sangat kokoh bahwa khusyu di dalam shalat tidak akan pernah bisa terwujud dengan sempurna apabila di luar shalat kehidupan manusia masih diatur oleh sekulerisme yang abai terhadap aturan Allah Swt.


Ancaman Bagi Orang-Orang yang "Sahun": Shalatnya Kaum Munafik

Kebalikan dari orang yang khusyu dalam shalat dan hidupnya adalah orang-orang yang diidentikkan dengan istilah Sahun. Di dalam surat Al-Ma'un, Allah Swt memberikan ancaman yang sangat keras dengan kalimat “Fawaylul lil mushollin, alladzina hum 'an sholatihim sahun” (Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai terhadap shalatnya). Menurut interpretasi Sahabat Ibnu Abbas, kata sahun diartikan sebagai tindakan melalaikan atau menunda-nunda waktu shalat hingga keluar dari batasan yang telah ditetapkan syariat.
Namun, Imam Atha' memberikan penjelasan yang lebih menukik: sahun adalah kondisi di mana seseorang tidak menghiraukan rukun, syarat, serta tidak menghadirkan kekhusyukan di dalam shalatnya. Mereka mendirikan shalat secara fisik, tetapi jiwanya kosong dari idrakus shilah billah (kesadaran hubungan dengan Allah). Dalam dua kitab shahih (Muttafaq 'Alaih), Rasulullah saw. memberikan penegasan yang sangat keras hingga mengulanginya sebanyak tiga kali mengenai model shalat yang dilakukan secara tergesa-gesa:
تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ، يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا، لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا
Itulah shalatnya orang munafik, ia duduk menunggu matahari sampai jika matahari telah berada di antara dua tanduk setan, ia berdiri lalu mematok (shalat) empat rakaat seperti burung mematuk makanan, ia tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya kecuali sedikit saja. (HR Muslim No. 622)
Karakter shalat kaum munafik yang sekuler ini juga diabadikan oleh Allah Swt dalam surat An-Nisa ayat 142. Disebutkan bahwa apabila mereka berdiri untuk mendirikan shalat, mereka mendirikannya dengan malas-malasan, penuh dengan riya karena hanya ingin dilihat oleh manusia, dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali. Inilah cerminan dari manusia yang memisahkan kesadaran spiritual dari aktivitas fisiknya. Bagi orang-orang yang khusyu dalam kehidupannya, shalat dan sabar itu tidak akan terasa berat. Sebaliknya, shalat yang khusyu secara otomatis akan menjelma menjadi benteng yang mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar (tanha 'anil fahsya-i wal munkar). Wong shalatnya saja tidak khusyu, maka jangan heran jika kehidupan publiknya hancur, korupsi merajalela, dan kemaksiatan dilegalkan seperti yang saat ini terjadi.


Khazanah Fikih Basmalah: Mengurai Akar Perbedaan dari Zaman Sahabat

Beralih pada pembahasan surat Al-Fatihah. Sebagai surat pertama di dalam Al-Qur'an, penempatan kalimat Bakmallah atau Bismillahirrahmanirrahim telah memicu perdebatan hukum yang panjang di kalangan para fukaha. Ada yang memulai dari bismillah, ada pula yang memulai langsung dari Alhamdulillahirobbil alamin. Secara historis, kalimat Bismillahirrahmanirrahim sebenarnya diwahyukan dan diturutkan dalam surat An-Naml, yaitu ketika burung Hud-hud membawa surat dari Nabi Sulaiman as. untuk Ratu Bilqis yang saat itu masih menyembah matahari. Ketika surat tersebut dibuka, barulah tertulis kalimat Innahu min Sulaimana wa innahu bismillahirrahmanirrahim.
Berdasarkan riwayat dari Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu dalam hadits Abu Dawud, pada masa awal turunnya Al-Qur'an, nabi tidak pernah mengetahui batas pemisah antar-surat. Wahyu turun secara bertahap, ayat per ayat, sehingga nabi tidak tahu di mana batas akhir surat Al-Baqarah atau surat An-Naml, sampai akhirnya ditukurkanlah kalimat Bismillahirrahmanirrahim sebagai pemisah resmi. Dari fakta inilah kemudian lahir dua pendapat dominan di kalangan fukaha:
Pertama, pendapat bahwa bismillah termasuk dalam ayat surat Al-Fatihah serta surat-surat lainnya, kecuali surat At-Taubah (Al-Bara'ah). Pandangan ini bersandar pada hadits Shahih Ibnu Khuzaimah dari Ummu Salamah, yang digagas oleh para sahabat besar seperti Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Zubair, dan Abu Hurairah. Di tingkat tabi'in, pendapat ini dipegang oleh Imam Atha', Zailudin, Zubair, Mahmud, dan Az-Zuhri, yang kemudian menjadi mazhab resmi yang dipegang teguh oleh Imam Syafi'i, Imam Ahmad bin Hambal, serta Abdullah bin Mubarak.
Kedua, pendapat dari Imam Abu Hanifah dan Imam Malik yang menyatakan bahwa bismillah tidak termasuk dalam ayat surat Al-Fatihah. Meskipun ada murid-murid Imam Syafi'i yang mencoba merumuskan pandangan penengah, namun argumennya dinilai daif (lemah).
Perselisihan ini telah eksis sejak zaman para sahabat dan melahirkan cabang-cabang hukum (furu'iyyah) lainnya. Sahabat seperti Ibnu Abbas, Abu Hurairah, bahkan Muawiyah selalu membaca basmalah secara keras (jahr) saat shalat. Di sisi lain, Imam Malik dan Abu Hanifah memilih membaca basmalah secara lirih (sirr) atau langsung memulai shalat dengan hamdalah, bersandar pada hadits Shahih Muslim dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha yang menyatakan bahwa Rasulullah saw membuka shalatnya dengan bacaan Alhamdulillahirabbil 'alamin, serta dikuatkan oleh hadits Anas bin Malik. Poin pentingnya, seluruh perbedaan ini memiliki dasar hukum (istinbath dalil) yang sangat kuat. Oleh karena itu, amaliyah shalat ini tidak boleh diklaim secara sepihak sebagai milik ormas A atau ormas B. Rasulullah saw sendiri membiarkan kedua cara tersebut, yang berarti kedua-duanya benar secara syariat. Jangan saling mendiskreditkan masalah khilafiyah yang sudah selesai, sementara tantangan riil umat di depan mata—seperti gurita korupsi struktural—justru diabaikan.


Makna Ar-Rahman dan Ar-Rahim: Bantahan Terhadap Logika Semu "Kode 19"

Di dalam lafaz basmalah, terdapat dua asmaulhusna yang sangat agung, yaitu Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Ditinjau dari aspek linguistik kuno, sebagian ulama menyebutkan bahwa kata Ar-Rahman diserap dari bahasa Ibrani yang bermakna sifat kasih sayang Allah Swt yang bersifat umum bagi seluruh makhluk-Nya di dunia (baik muslim maupun kafir) dan di akhirat. Sedangkan kata Ar-Rahim murni berasal dari bahasa Arab yang bermakna sifat penyayang Allah Swt. yang khusus diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman kelak di akhirat. Namun, menurut Imam Ibnu Katsir, berdebat kusir mengenai asal-usul bahasa ini secara berlebihan tidak memiliki kegunaan yang besar bagi peningkatan ketakwaan.
Hal yang justru harus diwaspadai hari ini adalah maraknya konten di media sosial yang mencoba mengaitkan fadhilah basmalah dengan teori kecocokan matematis, seperti "Teori Kode 19". Banyak konten mengeklaim bahwa karena huruf basmalah berjumlah 19, maka seluruh sistem alam semesta ini bergerak berdasarkan kode biner 19 yang presisi. Logika ini digunakan untuk membuktikan bahwa peradaban manusia sejak zaman Nabi Adam dan Nabi Nuh as. sebenarnya sudah sangat canggih, sementara peradaban manusia hari ini justru semakin melemah.
Namun, secara akidah, logika matematis yang dipaksakan ini tanpa disadari dapat melemahkan keimanan kita. Narasi tersebut menggiring opini seolah-olah Allah Swt. menciptakan hukum alam yang mengikat diri-Nya sendiri dalam keteraturan angka tersebut. Ini adalah pemikiran yang keliru. Kaidah akidah Islam menegaskan bahwa hukum atau sunnatullah itu hanya berlaku bagi makhluk, sama sekali tidak berlaku bagi Allah Swt. Allah Swt. tidak pernah dan tidak akan pernah bisa tersentuh atau dibatasi oleh hukum mana pun. Pemikiran yang mendewakan keteraturan logis angka-angka ini berbahaya karena dapat mengikis keyakinan bahwa Allah Swt. Maha Kuasa atas segala sesuatu tanpa terikat oleh rumus matematika buatan manusia.
Allah Swt menegaskan kemutlakan kekuasaan-Nya di atas segala hukum material:
إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (TQS Al-Baqarah: 20)


Penutup

Sebagai penutup, mari kita tanamkan sebuah kesadaran ruhiyah yang mendalam mengenai pentingnya mengawali setiap aktivitas dengan menyebut nama Allah Swt. Rasulullah saw mengingatkan dalam sabdanya bahwa setiap perkara mulia yang tidak diawali dengan bacaan basmalah, maka amalan tersebut akan terputus (abtar), yakni kehilangan nilai berkah di sisi-Nya. Kesadaran untuk membaca basmalah bukan sekadar pemanis di lisan, melainkan sebuah proklamasi ketundukan bahwa kita bisa melangkah, bisa berpikir, dan bisa mengemban dakwah ini semata-mata murni karena pertolongan Allah Swt (lillah).
Ketika kesadaran idrakus shilah billah ini telah merasuk ke dalam dada, maka shalat yang kita dirikan akan melahirkan buah kekhusyukan yang nyata bukan hanya didalam masjid tapi juga ketika di luar masjid. Manusia yang hidupnya dibimbing oleh esensi basmalah tidak akan pernah sudi berkompromi dengan kemaksiatan; ia tidak akan mau memakan harta riba, menolak menjadi kacung sistem kapitalisme, dan akan selalu menyandarkan segala aspek kehidupannya hanya kepada aturan Allah Swt dan senantiasa ittiba' mengikuti setiap apa yang Rasul contohkan.
Wallahu a'lam bishowab. []


Posting Komentar untuk "🍃SHALAT YANG KHUSYU AKAN MELAHIRKAN PERADABAN YANG MULIA - KAJIAN MASJID AL ISLAH / PC MUHAMMADIYAH MANGUNJAYA☕"