KAWASAN ISLAM YANG HARUSNYA JADI BASIS ISLAM, TAPI SEKULERISME TELAH MEMBUAT UMAT MAKIN TENGGELAM‼️


Sering kali masyarakat awam, termasuk kalangan birokrat dan pemangku kebijakan saat ini, begitu mudah memaklumi bahkan bangga dengan diselenggarakannya berbagai agenda hiburan massal tanpa memikirkan dampak sistemik dan kesucian esensinya. Salah satu contoh nyata yang baru saja terjadi adalah beredarnya pamflet resmi agenda balap motor "MR Open Road Race Championship 2026" yang dijadwalkan berlangsung pada hari ini Sabtu dan Minggu (Ahad) besok, tanggal 4 - 5 Juli 2026. Hal yang sangat memprihatinkan dan menghentak kesadaran ideologis kita adalah tempat diselenggarakannya acara tersebut, yaitu di Sirkuit NP Islamic Center Ciamis. Ini bukan pertama kali terjadi namun sudah berulang kali demikian.

Islamic Center, yang secara hakikat dan namanya dirancang sebagai pusat peradaban Islam, tempat syiar ilmu, dan harusnya menjadi tempat menanamkan syariat Islam kaffah, serta pusat pembinaan ruhiyah umat, eh justru diobral dan dialihfungsikan menjadi sirkuit balap motor demi kepentingan tontonan sekuler sekaligus mencari keuntungan sebagai sumber pendapatan daerah, karena diketahui itu bayar untuk masuknya itu! Jadi yang mau nonton ditarik tiket, jelas ini asas manfaat mindset kapitalis! Penyelenggaraan road race di kawasan Islamic Center ini merupakan salah satu bukti nyata betapa pragmatisnya pengelolaan ruang publik di bawah cengkeraman sistem kapitalisme saat ini. Selama mendatangkan perputaran materi, uang pendaftaran, dan sponsor, kesucian serta fungsi utama kawasan religius dengan mudahnya dikorbankan demi syahwat hiburan massal.

Sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan telah sukses mengaburkan fungsi orisinal dari institusi dan simbol-simbol Islam. Kawasan yang harusnya steril dari kemaksiatan dan dipenuhi oleh atmosfer zikrullah, kini justru sengaja diubah menjadi pusat kebisingan knalpot, ajang campur baur pria-wanita (ikhtilath), dan lalainya manusia dari mengingat kewajiban syariat. Dan ini sudah dianggap wajar, lumrah bahkan biasa. Wong tiap acara pernikahan saja tidak infishol (terpisah), masih ada ikhtilath campur baur gituh. Inilah potret buram ketika aturan yang diterapkan salah, maka pemanfaatan ruang publik pun akan ikut salah dan ngawur.

Gusti Allah Swt mengkritik keras orang-orang yang menjadikan agama dan fasilitasnya hanya sebagai sendau gurau dan tempat main-main:

وَذَرِ الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا دِيْنَهُمْ لَعِبًا وَّلَهْوًا وَّغَرَّتْهُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا

Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan sendau gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. (TQS Al-An'am: 70)


------------------------------

Kapitalisasi Simbol Agama: Komoditas Pendapatan Daerah Berkedok Islami

Kritik keras ini harus diarahkan secara tajam pada pengelolaan Islamic Center yang ada di Ciamis ini, yang seharusnya sakral dan agamis, namun kini murni berwajah kapitalistis. Fenomena miris ini sebenarnya tentu tidak hanya terjadi di Ciamis saja, melainkan hampir di kebanyakan kota atau daerah di seluruh negeri ini pasti bernasib sama. Pusat-pusat kegiatan Islam yang dibangun dengan uang & tenaga rakyat sering kali beralih fungsi menjadi ladang bisnis penarik retribusi dan tiket masuk demi menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Ketika urusan materi duniawi sudah menjadi panglima, nilai-nilai maknawi dan kesucian tempat ibadah langsung dikesampingkan. Pemerintah daerah bertindak layaknya korporasi yang menyewakan aset tanpa peduli apakah acara yang digelar menabrak batas-batas syariat atau tidak. Pemuda-pemuda kita tidak lagi dididik di Islamic Center untuk mengkaji tsaqafah Islam, melainkan digiring untuk membeli tiket, menonton bisingnya knalpot, dan menghabiskan waktu dalam kesia-siaan.

Inilah cara kerja ideologi kapitalisme sekuler dalam merusak fondasi berpikir umat. Simbol-simbol Islam dipertahankan secara fisik hanya sebagai kedok pencitraan, namun nilai-nilai sekuler ditiupkan secara masif ke dalamnya. Umat sengaja dijauhkan dari pemahaman bahwa seluruh jengkal tanah di kawasan tersebut harusnya menjadi saksi ditegakkannya hukum-hukum Allah Swt., bukan saksi dari perputaran uang modal yang melalaikan.


------------------------------

Normalisasi Kemaksiatan dan Pembiaran Syariat di Ruang Publik

Dampak paling mengerikan dari sekulerisasi kawasan Islamic Center ini adalah lahirnya normalisasi kemaksiatan di tengah masyarakat. Saat ini, fenomena perempuan membuka aurat di kawasan IC sudah dianggap hal yang lumrah dan biasa saja, tidak ada lagi rasa risih atau bersalah. Kawasan yang berlabel Islam ini justru berubah menjadi pusat berbagai penyakit masyarakat. Allohu Robbi ya Allah!, sungguh ironis, di tempat ini pula kita dengan mudah menemukan warung remang-remang, aktivitas mabuk-mabukan, sejoli pacaran bebas, hingga berbagai kemaksiatan segala rupa ada dan tumbuh subur tanpa ada tindakan hukum yang tegas!

Kerusakan ini semakin diperparah oleh sikap masyarakat bahkan tokoh agama setempat di kawasan IC ini sendiri yang ikut-ikutan sekuler. Ketika kemungkaran nyata terpampang di depan mata, sering kali muncul anggapan egois dan apatis: "Udah wè masing-masing aja, amaluna amalukum (bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu)." Narasi agama sengaja dipelintir untuk membenarkan sikap abai dan tidak peduli terhadap lingkungan struktural.

Ini adalah bukti nyata bahwa virus sekulerisme telah berhasil mematikan fungsi amar makruf nahi mungkar di tengah umat sekalipun dikawasan yang harusnya jadi basis Islam itu sendiri!!!. Tokoh agama yang harusnya menjadi benteng pertahanan akidah justru terbius oleh pemahaman bahwa agama hanya urusan privat di dalam masjid, sementara kemaksiatan di halaman atau luar masjid dianggap sebagai hak asasi masing-masing individu. Akibatnya, masyarakat dibiarkan rusak secara kolektif di bawah kepungan aturan yang batil.

Gusti Allah Swt. melaknat kaum terdahulu yang membiarkan kemaksiatan merajalela tanpa ada upaya untuk mengubahnya:

كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (TQS Al-Ma'idah: 79)


------------------------------

Kegagalan Moderasi Beragama dalam Menjaga Kepribadian Umat

Mengapa arus kerusakan moral ini begitu masif menghantam institusi Islam? Karena saat ini umat sedang dicengkeram oleh proyek besar bertajuk "moderasi beragama" yang dipromosikan oleh sistem sekuler demokrasi. Moderasi ini mendidik umat untuk menjadi toleran terhadap kemaksiatan dan berkompromi dengan sistem kapitalisme. Mahasiswa, santri dan pemuda Islam dialihkan fokusnya; mereka dilarang berpikir kritis secara ideologis terhadap kebijakan penguasa, tetapi difasilitasi seluas-luasnya untuk menikmati hiburan massal berkedok olahraga (road race).

Kurikulum pendidikan sekuler hari ini terbukti gagal total dalam membentuk manusia yang berkepribadian Islam (syakhshiyah islamiyah). Alih-alih melahirkan generasi mustanir—pemikir cemerlang yang sadar akan tanggung jawab kepemimpinan umat—sistem saat ini justru mencetak generasi yang dangkal pikirannya (al-fikr as-safih). Mereka dibuat abai terhadap fakta bahwa SDA negeri ini dikeruk asing, sementara mereka sendiri sibuk hura-hura di atas aspal Islamic Center.

Selama pemikiran umat masih tersandera oleh mindset sekuler, maka tempat sestrategis apa pun tidak akan pernah memancarkan kemuliaan Islam. Umat akan terus tenggelam dalam kebodohan sistemik, di mana maksiat dianggap seni, hiburan dianggap prestasi, dan perjuangan menegakkan syariat justru dicurigai sebagai radikalisme.


------------------------------

Urgensi Penerapan Syariat Kaffah Melalui Institusi Khilafah

Persoalan rusaknya kawasan Islamic Center ini sama sekali tidak akan bisa diselesaikan secara parsial atau individu per individu. Ini bukan sekadar perkara "oknum" pengunjung yang nakal atau "oknum" RW yang tidak amanah, melainkan ini adalah persoalan sistemik di mana aturan yang diterapkan dari pusat kekuasaan memang sudah salah! Ketika akidahnya sekuler, maka buah peraturan yang dihasilkan pasti akan memproduksi beragam masalah sosial dan ekonomi yang tiada hentinya.

Oleh karena itu, tugas utama para syabab pengemban dakwah adalah melakukan aktivitas pembinaan (tatsqif) dan membangun opini umum (tafa'ul ma'al ummah) secara masif untuk menyadarkan umat. Kita harus pahamkan kepada masyarakat Ciamis dan seluruhnya bahwa perubahan hakiki hanya akan terwujud apabila kita mencopot sistem demokrasi sekuler ini hingga ke akar-akarnya.

Kesejahteraan dan kesucian ruang publik hanya bisa dikembalikan ketika institusi Daulah Khilafah Islamiyah telah tegak kembali di muka bumi. Di bawah naungan Khilafah, seluruh ruang publik akan diatur dengan syariat Islam secara kaffah; ekonomi bebas riba, pengelolaan SDA untuk kesejahteraan rakyat tanpa perlu memeras lewat pajak, penjagaan ketat terhadap moralitas publik, serta sterilisasi kawasan ibadah dari segala bentuk kemaksiatan dan komersialisasi murahan.

Kewajiban menegakkan syariat Islam secara total dalam institusi negara adalah perintah yang mutlak, kalau menolak maka bisa jatuh pada:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ... الظَّالِمُونَ ... الْفَاسِقُونَ

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir... zalim... fasik. (TQS Al-Ma'idah: 44, 45, 47)


------------------------------

Penutup

Pamflet tarikan tiket road race dan menjamurnya warung remang-remang di sekitaran Islamic Center Ciamis adalah potret telanjang dari kegagalan sistem sekuler dalam menjaga martabat Islam. Kawasan yang harusnya menjadi basis perjuangan Islam kini justru tenggelam dalam arus kapitalisasi hiburan. Sudah saatnya kita menyudahi sikap masa bodoh dengan dalih "urusan masing-masing". Mari kita satukan visi, rapatkan barisan, dan tingkatkan taraf berpikir kita menjadi pemikir cemerlang (mustanir). Dukung dan ikutlah dalam saf perjuangan dakwah politik ini demi mengembalikan kehidupan Islam yang mulia di bawah naungan syariat Allah Swt secara kaffah.

Wallahu a'lam bishowab. []

Allohu Akbar !

------------------------------

Informasi Penerbitan:

Buletin Dakwah Subuh — Sabtu Pahing, 19 Muharram 1448 H / 4 Juli 2026 M

Ditulis oleh: Aldy al-Jawi (Aktivis ☕) — Syabab Ciamis

Diselaraskan berdasarkan Ketetapan Resmi Kalender Islam Global Tunggal

------------------------------


Posting Komentar untuk "KAWASAN ISLAM YANG HARUSNYA JADI BASIS ISLAM, TAPI SEKULERISME TELAH MEMBUAT UMAT MAKIN TENGGELAM‼️"