SESEORANG CENDERUNG AKAN BERBUAT SESUAI DENGAN APA YANG DIPAHAMINYA


Tingkah laku dan perbuatan setiap manusia dalam mengarungi kehidupan ini sesungguhnya tidak pernah berdiri sendiri. Ada sebuah hukum kausalitas pemikiran yang pasti: bahwa seseorang cenderung akan berbuat sesuai dengan apa yang dipahaminya. Sejauh mana pemahaman tersebut muncul, itulah yang akan menjadi nakhoda bagi seluruh tindakan fisik yang dihasilkannya. Kaidah mendasar ini berlaku universal bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali; mulai dari kalangan pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, santri, guru, dosen, ustadz, kiai, bahkan hingga sekelas ulama sekalipun. Kualitas perbuatan seseorang berbanding lurus dengan kualitas isi kepalanya.
Sebagai contoh konkret, mari kita analisis fenomena gerakan mahasiswa kontemporer. Kenapa setiap kali mahasiswa turun ke jalan melakukan demonstrasi sebagai wujud unjuk rasa atas ketidakadilan penguasa saat ini, gerakan mereka sering kali mandul dan sama sekali tidak menyentuh akar masalah? Jawabannya kembali pada kaidah di atas: karena hal itu sangat tergantung pada pemahaman yang ada di dalam benak mereka saat ini. Mayoritas mahasiswa dan kaum intelektual saat ini sedang mengalami degradasi berpikir yang cukup parah. Pemikiran mereka cenderung berada pada level yang rendah (al-fikr al-muntahat) atau sekadar berpikir dangkal (al-fikr as-safih). Mereka adalah produk dari kurikulum sekuler kapitalistik yang didesain untuk mencetak "robot-robot industri" yang pragmatis.
Orientasi kuliah kaum akademisi telah dipersempit secara sistemik hanya sebatas bagaimana cara mendapatkan nilai indeks prestasi yang bagus, lulus cepat, dan segera terserap oleh pasar kerja demi menumpuk materi duniawi. Akibatnya, mereka kehilangan kepekaan sosial-politik yang murni. Mereka menjadi buta dan tidak lagi mampu melihat bahwa penderitaan, kemiskinan, serta kezaliman yang menimpa umat hari ini merupakan buah langsung dari penerapan sistem sekuler yang batil. Ketika demo, mereka hanya menuntut pergantian personil jabatan atau penurunan harga komoditas secara parsial, tanpa pernah menuntut perombakan total terhadap sistem hukum buatan manusia yang memproduksi kezaliman tersebut.



Hegemoni Gelar Akademik: Membedah Keterbatasan Seorang Profesor

Melihat fenomena kedangkalan berpikir kaum intelektual tersebut, mari kita bedah satu realitas sosial yang sering kali membuat mata masyarakat awam menjadi silau. Di panggung peradaban hari ini, gelar "Profesor" diagungkan sebagai kasta tertinggi dan puncak sakral dalam dunia intelektual. Masyarakat secara taklid berasumsi bahwa jika seseorang sudah menyandang gelar profesor, maka jalan pemikirannya pasti menjadi yang paling cerdas, paling benar, dan tidak mungkin terjerumus ke dalam kekeliruan.
Namun, benarkah asumsi demikian jika ditimbang dalam kacamata Islam yang ideologis? Tentu kita harus berani membandingkannya secara jernih dan objektif. Seorang profesor meraih gelar akademiknya karena ia memiliki keahlian yang sangat mendalam pada satu bidang disiplin ilmu yang sangat spesifik dan sempit. Celakanya, sistem pendidikan sekuler yang eksis hari ini mendidik para akademisi untuk berpikir secara parsial—mereka hanya terpaku pada gejala-gejala yang nampak di permukaan saja.
Para profesor ini mungkin sangat hebat dan jenius dalam menganalisis tumpukan data statistik, namun mereka sering kali gagap, lumpuh, bahkan buta total ketika diminta melihat akar masalah utama (problem sistemik) yang sedang mencekik kehidupan umat. Lebih miris lagi, di bawah kepungan sistem kapitalisme saat ini, tidak sedikit profesor yang justru melacurkan intelektualitasnya demi menjadi pelayan kepentingan penguasa dan pemilik modal. Mereka menghamba pada pendanaan riset dari para oligarki, atau sibuk menghabiskan waktu di balik meja untuk mencocok-cocokkan aturan agama agar selaras dengan kemauan Barat melalui proyek besar moderasi beragama misalnya.


Al-Fikr Al-Mustanir: Kejeniusan Hakiki yang Menembus Batas Dunia Akhirat

Di atas level kecerdasan linier seorang profesor, Islam mengenalkan sebuah taraf berpikir yang jauh lebih tinggi, orisinal, dan jenius, yaitu Al-Fikr Al-Mustanir (Berpikir Cemerlang). Orang yang berhasil menaikkan taraf berpikirnya hingga mencapai derajat ini disebut sebagai seorang Mustanir. Seorang mustanir adalah sosok pemikir ideologis sejati yang akalnya tidak akan pernah bisa ditipu oleh hegemoni media, tren opini sesaat, ataupun terjebak dalam sikap taklid buta mengekor pemikiran asing.
Ketika melihat kondisi dunia hari ini yang rusak dan berantakan, seorang Profesor mungkin hanya akan sibuk meneliti dampak penurunan ekonomi atau merumuskan regulasi tambal sulam. Namun, seorang Mustanir akan berpikir secara radikal—dalam arti yang sebenar-benarnya, yaitu berpikir secara mendalam hingga menemukan akar rumput dari sebuah persoalan. Seorang mustanir akan langsung mengarahkan telunjuknya ke hulu masalah dan berkata dengan tegas: "Dunia ini amburadul dan dipenuhi ketidakwarasan karena hukum-hukum Allah Swt. telah dicampakkan dari ruang publik, dan umat dipaksa tunduk pada aturan sistem sekuler-kapitalistik!"
Kecerdasan seorang mustanir lahir karena ia mampu mengaitkan setiap realitas fakta material yang ia indra dengan keimanannya kepada sang Khaliq, Allah Swt. Ia sadar betul bahwa akal manusia itu memiliki keterbatasan ruang, waktu, dan kapasitas. Akal manusia tidak akan pernah memiliki kemampuan untuk merumuskan aturan hidup yang adil, stabil, dan universal tanpa adanya bimbingan wahyu dari Sang Pencipta alam semesta.


Ujung Kecerdasan Mustanir adalah Ketundukan Mutlak Terhadap Syariat

Jika orang-orang filsafat liberal menggunakan akal pikiran mereka secara kebablasan, ngawur, dan berakhir pada kesesatan berpikir (menggugat teks-teks ayat suci agama), maka seorang Mustanir justru menunjukkan arah yang sebaliknya. Semakin tajam dan mendalam akal seorang mustanir bekerja, maka pemikiran tersebut justru akan membimbing jiwanya untuk sampai pada satu kesimpulan mutlak, yaitu mengambil sikap: Sami'na wa Atha'na (Kami mendengar dan kami taat) terhadap seluruh syariat Allah Swt tanpa ada keraguan sedikit pun.
Seorang mustanir memahami secara jernih bahwa hukum-hukum Allah Swt. tidak akan pernah mungkin bisa diterapkan secara sempurna dan kaffah di muka bumi apabila tidak ada institusi kekuasaan politik yang sah dan berwibawa sebagai tameng pelindungnya. Institusi politik penegak syariat tersebut tidak lain adalah Daulah Khilafah Islamiyah. Oleh karena itu, seorang mustanir tidak akan pernah sudi menghabiskan potensi intelektualnya hanya demi mencari popularitas panggung, mengejar jabatan duniawi, atau menumpuk materi-materi murahan. Seorang mustanir akan mewakafkan seluruh hidupnya dengan menjadikan aktivitas dakwah politik-ideologis sebagai poros utama kehidupannya.
Allah Swt berfirman mengenai kewajiban kaum beriman untuk tunduk total pada aturan-Nya:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (TQS An-Nisa': 65)


Kaidah Kebangkitan: Mengubah Mafahim Guna Mengubah Tingkah Laku

Jika kita membedah bagian pembuka (fakrah pertama) dalam kitab monumental Nizhamul Islam karya Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani, dijelaskan secara gamblang mengenai hukum dasar kebangkitan sebuah peradaban manusia. Beliau menegaskan bahwa bangkitnya manusia itu sangat tergantung pada pemikirannya tentang kehidupan, alam semesta, dan manusia, serta tentang hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia (Allah Swt sebagai Pencipta) dan sesuatu yang ada sesudah kehidupan dunia (Hari Akhirat).
Agar manusia mampu bangkit dari keterpurukan, maka harus ada sebuah perubahan yang bersifat mendasar, menyeluruh, dan radikal terhadap pemikiran manusia dewasa ini, untuk kemudian digantikan dengan pemikiran Islam yang murni. Mengapa harus pemikiran yang diubah terlebih dahulu? Sebab, pemikiran itulah yang memiliki fungsi vital untuk membentuk dan memperkuat mafahim (persepsi atau pemahaman) seseorang terhadap segala sesuatu yang ada di dunia ini.
Manusia, secara fitrah sosiologis, akan selalu mengatur dan menyelaraskan seluruh tingkah laku serta perbuatannya dalam kehidupan ini sesuai dengan mafahim yang bersemayam di dalam dadanya. Jika mafahim-nya tentang kehidupan adalah sekuler (menganggap dunia hanya untuk bersenang-senang tanpa keterikatan syariat), maka perbuatan yang lahir adalah kemaksiatan, korupsi, dan normalisasi riba. Namun, jika mafahim-nya telah dicerdaskan oleh Islam kaffah, maka perbuatannya akan selalu terikat dengan hukum syara' juga akan menjelma menjadi ketaatan dan perjuangan politik untuk menerapkan hukum Allah.


Penutup

Kesimpulannya, gelar "Profesor" hanyalah sebuah identitas akademik di atas lembaran kertas yang batas kekuasaannya mentok di ruang-ruang kelas universitas. Sedangkan Mustanir adalah identitas agung seorang pejuang ideologis yang ketajaman kecerdasannya mampu menembus batas dunia hingga ke liang lahat menuju akhirat. Perubahan umat tidak akan pernah lahir dari rahim kurikulum sekuler yang mandul. Oleh karena itu, jangan pernah kita merasa minder atau kecil hati di hadapan para intelektual sekuler yang silau dengan gelar-gelar Barat.
Tugas kita hari ini adalah menaikkan taraf berpikir diri kita dan umat menuju taraf berpikir cemerlang (mustanir). Mari kita campakkan pemahaman sekuler yang merusak, bongkar kebatilan sistem demokrasi-kapitalisme hari ini, dan ikutlah terlibat aktif dalam saf perjuangan dakwah untuk mengembalikan seluruh sendi kehidupan umat di bawah naungan syariat Islam secara kaffah.
Wallahu a'lam bishowab. []

Posting Komentar untuk "SESEORANG CENDERUNG AKAN BERBUAT SESUAI DENGAN APA YANG DIPAHAMINYA"