SAKDULUR SAKLAWASÈ



 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


Ditulis oleh: Aldy al-Jawi (mas AL) | Aktivis Dakwah Ideologis
Senin Kliwon, 13 Shafar 1448 H / 27 Juli 2026 M (Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal)




Menjalin kedekatan dengan masyarakat di mana pun kita berpijak merupakan langkah awal yang krusial dalam aktivitas perjuangan. Dakwah tidak akan pernah bisa berjalan efektif jika para pengembannya memilih untuk mengisolasi diri atau bersikap individualis, alias hanya mementingkan kesalehan pribadi. Seorang pejuang ideologis dituntut untuk senantiasa melakukan kontak pemikiran, berkunjung, dan bersilaturahmi dengan rekan-rekan serta masyarakat tanpa memandang sekat suku, ras, maupun latar belakang budaya. Melalui interaksi yang intens, kita dapat mendengar langsung keluh kesah, curahan hati, hingga problem kehidupan yang sedang mereka hadapi sehari-hari.
Proses mendengar dan memahami realitas umat ini menjadi jembatan emosional yang sangat penting. Setelah kedekatan dan kepercayaan itu terbangun kuat, maka akan tiba masanya bagi kita untuk melakukan eksekusi dakwah yang sesungguhnya. Eksekusi yang dimaksud adalah memasukkan ide dan pemahaman Islam yang sahih, yakni urgensi penerapan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh) dalam setiap aspek kehidupan. Kita harus mengikis paradigma keliru yang menganggap Islam hanyalah sebatas ajaran ritual spiritual seperti salat, puasa, dan zikir semata.
Sesungguhnya Islam adalah sebuah ideologi (ideology/mabda') yang mengatur segala macam urusan manusia, dari masalah yang paling sepele hingga urusan yang paling serius. Islam mengatur tata cara dari mulai bangun tidur hingga bangun negara. Namun sayangnya, narasi sekuler telah berhasil mempersempit cara pandang umat. Akibat memahami Islam sebatas ritual, banyak kaum Muslim yang terjebak dalam sekulerisme (fashlud-din ‘anil-hayah), yaitu memisahkan agama dari kehidupan praktis. Realitasnya sangat jelas: di dalam masjid mereka begitu patuh menutup aurat, namun begitu keluar dari pintu masjid, aturan itu seketika ditanggalkan.
Fenomena ini sering dijumpai di tengah masyarakat. Di kalangan ikhwan (pria), tidak sedikit yang terbiasa memakai celana kolor pendek di ruang publik hingga paha mereka yang merupakan batas aurat syar'i terlihat jelas. Begitu pula di kalangan akhwat (wanita), realitasnya jauh lebih memprihatinkan; mereka mampu menutup aurat dengan sempurna saat berada di dalam rumah ibadah, namun bertolak belakang saat berada di luar. Menghadapi realitas ini, seorang pengemban dakwah tidak boleh bersikap reaktif dengan langsung menjustifikasi mereka sebagai ahli maksiat, sesat, apalagi sampai mengkafirkannya. Bisa jadi, mereka berbuat demikian semata-mata karena belum paham, sebab maklumat (tsaqofah) yang mereka miliki barulah sebatas itu. Di sinilah letak urgensi dakwah yang harus disampaikan dengan penuh kesabaran, keikhlasan, dan kelapangan dada.

Merajut Ukhuwah di Tanah Perantauan

Berbicara mengenai interaksi di tengah masyarakat, saya selaku penulis tulisan ini jadi teringat dengan pengalaman pribadi saya selama mengemban amanah dakwah. Sebagai seorang pemuda asli dari suku Jawa kental kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, saya dibesarkan dalam lingkungan budaya Banyumasan yang terkenal dengan logat bahasanya yang medok ala ngapak. Namun, sejak tahun 2022 yang lalu, takdir membawa saya untuk merantau ke Ciamis, Jawa Barat, demi menempuh bangku kuliah. Alhamdulillah, di tahun 2026 ini saya sudah berada di fase akhir dan hampir menyelesaikan studi.
Ciamis—dan wilayah Priangan pada umumnya—merupakan daerah yang didominasi oleh kebudayaan dan suku Sunda. Pada awal kedatangan, tentu saja saya diperhadapkan dengan begitu banyak perbedaan, mulai dari perbedaan logat bicara, struktur bahasa komunikasi, hingga adat kebiasaan sehari-hari. Bagi orang asing, perbedaan ini bisa menjadi sekat, tetapi bagi seorang pengemban dakwah, pluralitas tersebut justru menjadi peluang untuk merekatkan ukhuwah Islamiyah. Perbedaan kultur sama sekali tidak menghalangi saya untuk membaur dan melebur bersama warga sekitar.
Yoo alhamdulillah, menginjak tahun 2026 ini, hubungan saya dengan masyarakat sekitar sudah layaknya saudara kandung sendiri, sakdulur saklawasè. Bahkan dalam beberapa kesempatan, saya sempat ditokohkan dan diberi kepercayaan oleh warga untuk mengimami salat berjamaah di masjid, hingga memimpin acara yasinan dan tahlilan. Secara latar belakang lingkungan dan pendidikan, saya sebenarnya tumbuh di lingkungan Muhammadiyah yang secara fikih tidak mengamalkan ritual tahlilan karena memandangnya sebagai perkara bid'ah. Namun, dalam menyikapi hal ini, pendekatan dakwah yang saya gunakan adalah pendekatan yang toleran, tidak kaku, dan tidak ekstrem sebagaimana kelompok Salafi Wahabi yang cenderung keras menolak.

Fleksibilitas Fikih dan Strategi Dakwah di Tengah Umat

Dalam pandangan saya pribadi, perkara tahlilan, yasinan berjamaah, maupun qunut subuh adalah ranah khilafiyah atau furu’iyah (cabang agama) yang sejak zaman dahulu telah menjadi perdebatan para ulama muktabar. Selama suatu perkara masih memiliki sandaran ijtihad, maka tidak ada kewajiban bagi kita untuk bersikap kaku. Oleh karena itu, saya tidak keberatan sama sekali ketika diminta ikut serta, bahkan memimpin acara tahlilan tersebut. Ada tiga alasan mendasar di balik sikap ini: pertama, untuk menjalin kedekatan psikologis dan sosial dengan masyarakat; kedua, sebagai bentuk menunaikan amanah dan kepercayaan yang diberikan warga; ketiga, untuk menghindari sikap kaku yang justru bisa menjauhkan umat dari dakwah.
Menariknya, momentum sebelum memulai ritual tahlil tersebut selalu saya manfaatkan dengan optimal. Sebelum membaca zikir, saya terbiasa memberikan sedikit tsaqofah atau kultum mengenai Islam kaffah. Di sanalah kesempatan emas bagi saya untuk menyisipkan pemikiran Islam secara halus namun ideologis. Tak jarang pula, setelah acara selesai, shahibul hajat (tuan rumah) memberikan saya amplop berisi uang dan sebungkus rokok. Padahal saya pribadi bukanlah seorang perokok. Yo alhamdulillah, pemberian itu tetap saya tompo (terima) dengan baik demi menghormati pemberian mereka, meskipun sejak awal saya sama sekali tidak pernah mengharapkan, apalagi menetapkan tarif tertentu.
Poin penting yang ingin saya garis bawahi di sini adalah bagaimana cara kita membangun kedekatan dengan masyarakat. Ushlub/sarananya tentu tidak melulu harus lewat jalur tahlilan. Kita bisa aktif dalam kegiatan gotong royong warga, konsisten salat berjamaah di masjid, ikut kerja bakti, hingga sekadar ikut mengobrol dan nongkrong bersama bapak-bapak di pos ronda. Inilah salah satu metode dakwah struktural-kultural yang dicontohkan oleh Baginda Nabi SAW, yang dalam istilah dakwah disebut sebagai tafa’ul ma’al ummah (berinteraksi dan melebur di tengah-tengah umat). Seorang pejuang tidak boleh eksklusif. Kita harus mengajak umat secara keseluruhan untuk bersama-sama menuju hijrah ideologis.

Metode Sahih Perjuangan Rasulullah SAW

Dakwah ideologis yang kami jalankan ini murni mengadopsi metode (thariqah) yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Perjuangan ini sama sekali tidak pernah menggunakan jalan kekerasan, intimidasi, ataupun angkat senjata, sebagaimana yang sering difitnahkan oleh para misionaris barat dan kelompok kapitalis sekuler. Tahapan dakwah Rasulullah SAW sangat sistematis dan jelas, meliputi tiga fase utama:
  1. Tatsqif (Pembinaan dan Perkaderan): Membina individu-individu Muslim agar memiliki pola pikir (aqliyyah) dan pola sikap (nafsiyyah) Islam yang kokoh.
  2. Tafa’ul ma’al Ummah (Berinteraksi dengan Umat): Melebur bersama masyarakat, melakukan perang pemikiran (shira’ul fikri) melawan ide-ide rusak, serta membongkar konspirasi politik (kifahus-siyasi) yang merugikan umat.
  3. Thalabun-Nushrah (Mencari Dukungan): Menggalang dukungan dari pemilik kekuatan (tokoh, militer, ahli quwwah) demi mengamankan penerapan syariat Islam secara institusional.
Melalui interaksi yang tulus dan tanpa kekerasan inilah, sekat-sekat suku antara Jawa dan Sunda cair seketika. Kita dipersatukan oleh ikatan yang jauh lebih tinggi dari sekadar ikatan nasionalisme ataupun kesukuan, yaitu ikatan akidah Islamiyah. Hubungan persaudaraan ini sejalan dengan apa yang ditegaskan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur'an:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damai-kanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (TQS Al-Hujurat: 10).
Allah SWT juga menciptakan manusia dengan latar belakang yang beragam bukan untuk saling membenci, melainkan untuk saling mengenal dan bersinergi dalam ketaatan, sebagaimana firman-Nya:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (TQS Al-Hujurat: 13).
Persaudaraan ini juga dipertegas oleh Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa seorang Muslim tidak boleh menelantarkan Muslim lainnya. Beliau bersabda:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ
"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, ia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh menyerahkannya (kepada musuh)." (HR Bukhari nomor 2442).
Lebih dari itu, ikatan ukhuwah antar sesama kaum beriman digambarkan seperti sebuah bangunan yang kokoh dan satu kesatuan tubuh yang saling merasakan sakit. Rasulullah SAW bersabda:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
"Seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagikan satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain." (HR Muslim nomor 2585).

PENUTUP

Sekarang, mari kita merenung bersama. Jika hari ini umat Islam masih saja sibuk menghabiskan energi untuk memperdebatkan hal-hal sepele yang sifatnya furu’iyah dan mengedepankan ego kelompok, maka mau sampai kapan umat ini bisa bersatu? Mau sampai kapan umat ini bisa bangkit dari keterpurukan? Nggih toh?
Kenyataannya, ketika sesama Muslim saling berselisih, bertengkar, dan mudah diadu domba, para musuh Islam dari kalangan misionaris, orientalis, hingga imperialis global justru bertepuk tangan kegirangan. Mereka sangat senang melihat potensi besar umat ini hancur dari dalam akibat ego sektarian. Sudah saatnya kita menyatukan persepsi, melebur di tengah umat dengan penuh hikmah, dan memfokuskan perjuangan pada agenda besar: merajut kembali ukhuwah global demi tegaknya institusi Daulah Khilafah Islamiyah yang akan menerapkan syariat Allah secara totalitas di muka bumi ini, sehingga keberkahan akan benar-benar terasa untuk seluruh makhluk. Itulah Islam rohmatan lil 'alamin.
Allohu Akbar! 
Wallahu a'lam bishowab [].



Posting Komentar untuk "SAKDULUR SAKLAWASÈ"