PERLU KESABARAN UNTUK MERUBAH PEMIKIRAN & TIDAK BISA DADAKAN PERLU DIDIKAN


Melihat kondisi umat Islam saat ini, pemandangan yang tersaji di hadapan kita sebenarnya sangat memprihatinkan dan bikin elus dada. Mirisss! Umat berada dalam kubang keterpurukan, kemaksiatan dilegalkan, kemungkaran merajalela, dan yang paling parah adalah kebodohan massal di tengah-tengah masyarakat. Anehnya, kebodohan dan ketidaktahuan umat terhadap agamanya sendiri ini bukanlah fenomena kebetulan, melainkan sesuatu yang bersifat struktural. Ini seperti sudah dirancang secara sistemik oleh musuh-musuh Islam melalui berbagai cara termasuk salahsatunya melalui kurikulum sekuler agar umat tetap berada dalam kondisi lemah dan tidak melek politik Islam.
Di sisi lain, kalau kita perhatikan, hari ini spanduk pengajian ada di mana-mana. Majelis taklim, tablig akbar, hingga acara santunan tahunan digelar secara masif di setiap kelurahan dan pelosok desa. Namun sayang seribu sayang, menjamurnya acara tersebut ternyata tidak menyentuh kesadaran ideologis umat! Materi yang dibahas sering kali itu-itu lagi, monoton, dan tidak pernah menyentuh akar masalah.
Bahkan, tak jarang kita menemukan panggung pengajian yang isinya didominasi oleh guyonan garing, dongengan pengantar tidur, dan candaan seputar urusan domestik rumah tangga yang tidak mendidik. Panggung dakwah yang harusnya sakral untuk mencerdaskan umat, justru sengaja dicanalisasi menjadi sarana hiburan massal demi menyenangkan perasaan jemaah agar mereka pulang dengan hati yang tenang, tanpa merasa berdosa atas kemaksiatan sistemik yang sedang terjadi di luar masjid.


Kritik Atas Klaim Murahan Garansi Surga Tanpa Ujian Perjuangan

Fenomena dakwah yang meninabobokan ini nampak jelas ketika ada oknum penceramah yang dengan begitu mudah dan bangganya membagikan "tiket garansi" masuk surga kepada jemaah. Hanya karena jemaah rutin hadir duduk di majelis atau sukses mengumpulkan donasi santunan anak yatim setahun sekali, mereka langsung diklaim secara husnudzon mutlak sebagai calon pasti penghuni surga (ahli suwargo). Jemaah pulang dengan rasa percaya diri yang tinggi, merasa posisinya sudah sangat aman seperti layaknya berada di dalam istana, hanya karena sudah mengusap kepala anak yatim.
Ini adalah pembodohan berkedok agama! Bagaimana mungkin seseorang begitu yakin dan bangga akan masuk surga, sementara di dalam pengajian tersebut sama sekali tidak pernah dibahas dosa besar investasi bodong, bahaya gurita riba yang mencekik rakyat, hingga rusaknya penerapan sistem kapitalisme sekuler yang saat ini mendominasi di negeri-negeri kaum muslimin termasuk Indonesia?
Umat dibuat lupa bahwa surga itu mahal harganya dan membutuhkan pembuktian keimanan lewat ujian perjuangan yang berat. Apakah mereka mengira dengan modal sedekah tahunan saja sudah cukup, sementara mereka memilih cuek, abai, dan menutup mata terhadap dicampakkannya hukum-hukum Allah Swt dari ruang publik? Mengklaim diri bakal masuk surga tanpa mau terlibat dalam aktivitas amar makruf nahi munkar untuk mengoreksi kebijakan sistem yang batil adalah sebuah ilusi yang nyata.
Allah Swt membantah keras klaim instan orang-orang yang merasa bisa masuk surga tanpa melewati ujian penegakan agama:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. (TQS Ali 'Imran: 142)


Kekeliruan Pragmatisme Dakwah: Sedekah Tidak Bisa Menghapus Dosa Sistemik

Memuliakan anak yatim dan memberi makan fakir miskin adalah perintah syariat yang sangat mulia, tidak ada yang mengingkari hal itu. Namun, menjadikan aktivitas sosial tersebut sebagai satu-satunya tolok ukur kesalehan dan kebangkitan umat adalah sebuah kekeliruan fatal yang diproduksi oleh corak berpikir pragmatis. Umat harus paham, pahala sedekah pribadi tidak akan pernah bisa menghapus dosa kolektif akibat diterapkannya undang-undang kufur buatan manusia di negeri ini!
Ketika sistem ekonomi kapitalisme dibiarkan mencengkeram negara, ia akan terus memproduksi kemiskinan struktural baru setiap harinya. Sebanyak apa pun uang santunan yang dikumpulkan oleh lembaga sosial masyarakat, jumlahnya tidak akan pernah mampu mengejar kecepatan sistem kapitalis dalam memiskinkan rakyat cilik lewat penarikan berbagai macam pajak dan iuran sepihak.
Selama panggung-panggung pengajian hanya fokus memoles gejala di permukaan (menyantuni korban miskin) tanpa berani membongkar pabrik pembuat kemiskinan itu sendiri (sistem sekuler), maka umat Islam akan terus berada dalam posisi terbawah. Dakwah tidak boleh mandek pada urusan santunan yang menenangkan perasaan sesaat, melainkan harus ditujukan untuk merombak total struktur pemikiran masyarakat agar selaras dengan aturan Islam kaffah.


Merubah Pemikiran Memerlukan Ekstra Kesabaran dan Didikan

Di sinilah letak tugas berat sekaligus pekerjaan rumah (PR) terbesar bagi para syabab pengemban dakwah ideologis. Merubah pemikiran manusia yang sudah berpuluh-puluh tahun dicekoki oleh doktrin sekulerisme itu tidak bisa dilakukan secara dadakan atau instan, melainkan memerlukan proses didikan (tatsqif) yang mendalam, berkesinambungan, dan membutuhkan stok kesabaran yang ekstra luas! Kita harus siap menghadapi penolakan, cibiran, bahkan sikap apatis dari umat yang sudah terlanjur nyaman dengan pengajian bertema guyonan.
Namun, pengemban dakwah tidak boleh menyerah atau futur. Di balik beratnya medan perjuangan politik dan pemikiran (shira'ul fikri) ini, Allah Swt telah menyediakan ganjaran pahala yang tidak main-main. Merubah mafahim (persepsi) umat agar mereka sadar akan wajibnya kabeungkeut (terikat) pada hukum syariat dalam seluruh aspek kehidupan adalah aktivitas para nabi dan rasul.
Proses didikan ini harus dilakukan lewat pembinaan halaqah secara intensif untuk mencetak individu-individu mustanir—pemikir cemerlang yang menjadikan dakwah sebagai poros hidupnya. Hanya lewat didikan ideologis yang sabar inilah, opini umum yang merindukan diterapkannya syariat Islam secara kaffah akan terbentuk di tengah masyarakat.
Allah Swt memberikan motivasi agung mengenai besarnya pahala bagi orang-orang yang sabar dalam menyeru manusia ke jalan kebenaran:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (TQS Az-Zumar: 10)


Penutup

Keterpurukan umat hari ini tidak akan pernah selesai jika mimbar-mimbar dakwah hanya dijadikan tempat dongengan dan kompromi terhadap sistem yang merusak. Mengaku bangga jadi calon ahli surga tetapi diam terhadap kemungkaran riba dan hukum sekuler adalah sebuah kontradiksi akidah yang ngeri. Sudah saatnya para pengemban dakwah melipat lengan baju, merapatkan barisan, dan maju ke tengah masyarakat dengan membawa narasi Islam kaffah yang tegas dan berwibawa. Dibutuhkan keteguhan iman dan ekstra kesabaran untuk terus mendidik umat hingga fajar kebangkitan Islam yang hakiki benar-benar menyingsing di bawah payung syariat Allah Swt yang sempurna.
Wallahu a'lam bishowab. []

Informasi Penerbitan:
Buletin Dakwah Kaffah — Edisi Senin Wagē, 21 Muharram 1448 H / 6 Juli 2026 M
Disusun oleh: Aldy al-Jawi (mas AL) — Syabab Ciamis
Diselaraskan berdasarkan Ketetapan Resmi Kalender Islam Global Tunggal


Posting Komentar untuk "PERLU KESABARAN UNTUK MERUBAH PEMIKIRAN & TIDAK BISA DADAKAN PERLU DIDIKAN"