🍃ANAK YATIM DIMULIAKAN, KEBERKAHAN PUN DIHADIRKAN - PENGAJIAN IPSAY (IKATAN PENGURUS SANTUNAN ANAK YATIM)☕


Dirangkum oleh: Aldy al-Jawi (mas AL) | Aktivis Islam Ideologis

Ahad Pon, 20 Muharram 1448 H / 5 Juli 2026 M

Kalender Islam Global Tunggal

------------------------------

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Segala puji serta rasa syukur yang mendalam senantiasa kita haturkan ke hadirat Allah Swt., Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang atas limpahan nikmat, iman, Islam, serta kesehatan dari-Nya, kita semua dapat dipertemukan kembali dalam majelis yang penuh berkah ini. Shalawat serta salam mugi-mugi selawasna tercurah limpahkan kepada junjungan kita, Uswah Hasanah, Nabi Muhammad saw., beserta keluarga, para sahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in, hingga kepada kita semua selaku umatnya yang senantiasa istiqamah mengikuti seluruh petunjuk dan sunnah-sunnah beliau, baik dalam ibadah mahdhah maupun dalam jalinan muamalah kehidupan sehari-hari. Semoga kelak kita semua diakui sebagai umatnya dan mendapatkan syafaatul 'uzhma di yaumil jaza. Amin ya Rabbal 'alamin.

Alhamdulillah, sebuah kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri bagi kita semua karena agenda akbar Santunan Anak Yatim se-Desa Purwajaya dapat kembali digelar dengan khidmat dan lancar. Agenda yang rutin dilaksanakan setahun sekali setiap datangnya bulan Muharram atau Sasih Suro ini menjadi bukti nyata kepedulian sosial umat yang terus terjaga. Pada kesempatan mulia kali ini, kebetulan penulis sendiri mendapatkan amanah pekerjaan (job) untuk memainkan alat musik berupa keyboard 🎹🎼 guna mengiringi beberapa untaian lagu yang dibawakan secara apik oleh ibu-ibu Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) tingkat Desa Purwajaya. Suasana begitu membahana dan bersemangat saat nada-nada musik mulai mengalun mengiringi list lagu sebagai berikut:

Go Munggah (Lagu Pembuka):


* Ilahana (Akurasi Nada +1, Tempo 120)


Lagu-Lagu Inti:


* Indonesia Raya (Akurasi Nada +2)

* Mars Muslimat (Akurasi Nada -3)

* Yalal Wathon (Akurasi Nada +2)

* Perempuan Aswaja (Akurasi Nada +1)


Mudun (Lagu Penutup):


* Lontong Tahu (Akurasi Nada +1, Tempo 120)


------------------------------

Guyub Rukun Ulama, Umara, dan Banom NU di Darul Wahdah

Acara agung yang penuh dengan nuansa kekeluargaan dan religius ini diselenggarakan di Mushola Darul Wahdah Sindangkasih, Desa Purwajaya, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Kehadiran para tokoh masyarakat dan pejabat publik dalam acara ini mencerminkan adanya sinergi yang kokoh antara ulama, umara (pemerintah), serta warga masyarakat. Terlihat hadir di lokasi acara jajaran struktural wilayah setempat, mulai dari Bapak Kepala Desa Purwajaya beserta beberapa Kepala Dusun (punduh), perwakilan dari pihak Kecamatan Purwadadi, jajaran Babinsa, Bhabinkamtibmas, hingga perwakilan dari anggota DPR.

Tak kalah meriah, jajaran keluarga besar Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama (NU) pun turut hadir memadati tempat acara; mulai dari sahabat-sahabat GP Ansor, barisan Banser yang sigap mengamankan jalannya acara, Sahabat Fatayat, hingga Ibu-Ibu Muslimat NU Ranting Purwajaya yang dipimpin oleh Ibu Nyai Sophiah. Selaku tuan rumah dan pengurus Mushola Darul Wahdah, Bapak Kiai Ali Imron yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Unit Pengumpul Zakat (UPZ), menyambut seluruh tamu undangan dengan penuh kehangatan. Hadir pula para sesepuh jajaran ulama, di antaranya Romo Kiai H. Mukti Hasan selaku pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Plus yang juga mengemban amanah sebagai Rois Syuriah MWCNU Desa Purwajaya, serta Bapak Kiai Halim Masykur, dan KH. Lihun dari Banjarsari yang merupakan rekan seperjuangan mubaligh saat sama-sama menimba ilmu di sebuah pondok pesantren di Kediri, Jawa Timur.

Acara yang dipandu oleh pengurus Ikatan Pengurus Santunan Anak Yatim (IPSAY)—sebuah lembaga sosial lokal yang luar biasa karena telah konsisten berdiri kokoh melayani umat sejak tahun 1996—ini dimulai sejak pagi hari pukul 08.30 WIB. Rangkaian acara berjalan runut mulai dari pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, persembahan lagu-lagu Islami dari Muslimat NU, hingga penyampaian sambutan-sambutan serta laporan transparansi keuangan panitia. Pengurus IPSAY dalam sambutannya tak bosan-bosan mengetuk pintu hati jemaah agar senantiasa menjauhkan diri dari sifat pelit atau kikir. Momen yang paling mengharukan adalah saat acara inti santunan dimulai, di mana anak-anak yatim se-Desa Purwajaya dipanggil naik ke atas panggung untuk menerima tali asih berupa amplop santunan yang diberikan langsung secara bergantian oleh para tokoh agama, jajaran pemerintahan, anggota dewan, hingga warga masyarakat yang hadir.


------------------------------

Amalan Sasih Suro dan Tiga Ciri Calon Ahli Surga

Tepat sekitar pukul 10.30 WIB mendekati jam 11 siang, tibalah acara inti yang dinanti-nantikan oleh jemaah, yaitu siraman rohani atau tausiyah yang disampaikan langsung oleh KH. Yazid, S.Pd.I. dari Banjarsari. Mengawali ceramahnya, beliau membuka dengan pembacaan surat Al-Ma'un dan surat Ad-Duha untuk mengingatkan kewajiban memuliakan anak yatim. Beliau juga mengajak seluruh hadirin untuk memperbanyak amalan doa dan wirid di bulan Muharram (Sasih Suro), salah satunya dengan merutinkan bacaan Hasbunallah wa ni'mal wakil ni'mal mawla wa ni'man nashir, agar senantiasa dijaga oleh Allah Swt. dari segala macam mara bahaya dan bala bencana. Suasana semakin syahdu saat beliau memandu jemaah bershalawat bersama:

Allohul kafi robbunal kahfi, qosodanal kahfi wajadnal kahfi, likulli kahfi kafanal kahfi, wa nimal kahfi alhamdulillah... Wa kafaullohul mumininal kital...

"Bapak-bapak lan Ibu-ibu ingkang kulo hormati, niki sanes pengaosan ingkang tegang, niki mah kulo bade dongengan mawi bumbu hikmah wae. Santai wae. Sing biasane udud, mangga udud mawon rumiyin, sing bade dolanan HP utawi ngobrol nggih monggo," seloroh KH. Yazid dengan gaya bahasa yang renyah khas pesantren, membuat suasana pengajian menjadi cair.

Beliau kemudian mengajak seluruh hadirin untuk membangun rasa optimisme yang tinggi (husnudzon) bahwa jemaah yang hadir di majelis mulia ini adalah para calon penghuni surga (ahli suwargo). KH. Yazid menjabarkan ada 3 ciri utama ahli surga yang bisa kita lihat indikatornya dalam kehidupan:

Pertama, senang menghadiri majelis ilmu. Berdasarkan sabda Rasulullah saw., berkumpul di majelis ilmu dan melakukan santunan anak yatim adalah bagian dari mendatangi taman-taman surga (riyadhul jannah).

Kedua, lisannya terjaga dari ucapan buruk. Hal ini sejalan dengan gambaran karakteristik penghuni surga yang diabadikan oleh Allah Swt. di dalam surat Al-Waqiah ayat 25 dan 26:

لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا إِلَّا قِيلًا سَلَامًا سَلَامًا

Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, tetapi mereka mendengar ucapan salam. (TQS Al-Waqiah: 25-26)

Menyoroti hal ini, KH. Yazid memberikan nasihat berbasis psikologi keluarga dengan sedikit candaan mengenai tabiat komunikasi ibu-ibu. Beliau menyebut bahwa ibu-ibu secara psikologis jika berbicara sering kali memiliki tiga kecenderungan: bicaranya suka zigzag (berpindah-pindah tema, awalnya bahas trasi eh ujung-ujungnya malah membicarakan kejelekan tetangga, menantu, atau kepala desa), suka mengulang-ulang dan mengingat kesalahan orang lain terutama kesalahan suaminya, serta durasi bicaranya yang panjang dan lama (suwii banget). Oleh karena itu, para bapak harus bisa mengimbangi dengan sabar. Dalam istilah Sundanya harus bisa ngigelan (menyelaraskan diri). Beliau mencontohkannya pada kepribadian Sayyidina Umar bin Khattab al-Faruq yang meskipun dikenal sangat tegas dan garang di luar rumah, namun di hadapan istrinya beliau adalah sosok suami yang lembut dan penuh kesabaran dalam mendengarkan keluh kesah sang istri.


------------------------------

Meneladani Kesabaran Para Wali dalam Mengarungi Rumah Tangga

Lebih lanjut, KH. Yazid menceritakan kisah keteladanan Waliyullah Mbah Hamid dari Pasuruan. Sebagai seorang waliyullah yang memiliki karomah besar, Mbah Hamid dikenal sangat luar biasa dalam menyabari perilaku serta watak istrinya, tanpa pernah membalas dengan kemarahan. Beliau mengutip intisari dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali yang menjelaskan bahwa sikap sabar seorang suami terhadap perangai istri merupakan salah satu jalan maknawi untuk meraih derajat kewalian (auliya).

"Bapak-bapak pengen dadi waliyullah mboten? Yen kepingin, wayahna kudu sabar dalam menghadapi ceriwite bojo," tutur beliau disambut tawa jemaah. Kesabaran dalam urusan rumah tangga yang nampaknya sepele ini akan berbuah manis, di mana para malaikat akan menyambut mereka dengan ucapan salam di pintu surga: Salamun 'alaykum bima shabartum (keselamatan atasmu berkat kesabaranmu). Bagi kaum ibu, beliau juga berpesan agar kadar cerewete sedikit dikurangi, sebab meskipun kecerewetan istri bisa menjadi hikmah dan tanda peduli bagi suami sendiri, namun jika berlebihan tentu kurang elok dipandang orang lain.

------------------------------

Jaminan Kedekatan Bersama Rasulullah Bagi Penyantun Anak Yatim

Ciri ketiga dari calon ahli surga adalah mereka yang gemar menyantuni anak yatim. Islam memberikan jaminan yang sangat pasti bagi siapa saja yang mau membuka dompetnya dan mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala serta memberikan kebahagiaan kepada anak-anak yatim. Dalam kitab Faidhul Qadir, disebutkan bahwa mengusap rambut kepala anak yatim dengan penuh kasih sayang akan mendatangkan pengampunan dosa dan pahala yang berlipat ganda pada setiap helai rambut yang disentuh.

Allah Swt. secara mutlak memberikan jaminan surga (al-jannah) bagi hamba-Nya yang peduli pada nasib anak yatim. Rasulullah saw. sendiri dalam haditsnya mencontohkan kedekatan posisi antara beliau dengan orang yang memelihara anak yatim di dalam surga kelak seperti jarak yang sangat dekat.

Rasulullah saw. bersabda mengenai visualisasi kedekatan tersebut:

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّABAHِ وَالْوُسْطَى

Aku dan orang yang mengasuh atau memelihara anak yatim di surga bagaikan ini. Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR Bukhari No. 5304)

KH. Yazid kemudian mengingatkan jemaah akan sirah nabawiyah, di mana Baginda Nabi Besar Muhammad saw. sendiri dilahirkan dalam keadaan yatim, dan pada usia 6 tahun beliau sudah harus menyandang status yatim piatu. Beliau kemudian dibesarkan dan dirawat oleh sang kakek, Abdul Muthalib. Oleh karena itu, beliau berpesan agar anak-anak yatim piatu yang ada di Desa Purwajaya jangan pernah berkecil hati atau pesimis dalam menatap masa depan. Ditinggal oleh ayah dan ibu memang sebuah kesedihan yang mendalam, tetapi jangan larut dalam kesedihan terus-menerus karena Allah Swt. dan umat Islam akan selalu bersama mereka. Beliau menerangkan bahwa esensi anak yatim yang sebenarnya di dalam kehidupan ini adalah anak yang tidak memiliki ilmu dan tidak memiliki adab (su'ul adab).


------------------------------

Terapi Hati yang Keras: Syi'ir dan Resep Pelembut Jiwa

Melanjutkan tausiyahnya, KH. Yazid menguraikan solusi syar'i atas problematika penyakit hati yang sering melanda umat saat ini, yaitu penyakit hati yang keras dan kaku (atos), serta watak yang egois atau ngengkel (merasa bersalah tetapi tetap membangkang). Beliau menegaskan bahwa berdasarkan petunjuk hadits Nabi, ada dua resep utama untuk melembutkan hati manusia:

Pertama, rajin mengusap rambut kepala anak yatim.

Kedua, gemar memberi makan kepada fakir miskin.

Melalui kedua amalan sosial yang tulus tersebut, insya Allah sekeras apa pun hati seseorang akan dilembutkan oleh Allah Swt. sehingga menjadi pribadi yang mudah menerima kebenaran dan saran-saran kebaikan.

Untuk meresapkan pesan tersebut ke dalam sanubari jemaah, KH. Yazid mengajak seluruh hadirin melantunkan bait-bait Syi'iran karya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang sarat akan makna ketenangan jiwa:

Uripe ayem, rumongso aman, dununge roso tondo yen iman...

Sabar narimo najan pas-pasan, kabeh tinakdir saking Pangeran...

Kabeh tinakdir saking Pangeran...

Syi'ir ini mengingatkan jemaah akan pentingnya memiliki rasa qana'ah (merasa cukup) dan rida terhadap segala ketentuan takdir Allah Swt. Kebahagiaan sejati tidak diukur dari kemewahan materi, melainkan dari kedamaian hati yang bersandar penuh pada iman. Beliau kemudian menyambungnya dengan lantunan shalawat Ya Rasulallah Salamun 'Alaih yang mengkritik watak serakah dan penyakit hati akibat silau oleh gemerlap duniawi:

Ya rasulalloh salamun alaihi ya roffi asa niwadarojit, afatayajid, rotal alamin, ya uhay laljudi wal karomi... Ya uhaylaljudiwal karomi...

Gampang kabujuk, nafsu angkoro, ing pepaesi, kebyaring dunyo...

Iri lan meri sugieh tonggo, mulo atine peteng lan misto...

Tembang rohani ini menjadi sentilan sekaligus muhasabah bagi jemaah agar menjauhkan diri dari sifat iri dan dengki saat melihat keberhasilan orang lain. Penyakit sosial inilah yang sering kali membuat kehidupan bermasyarakat menjadi tidak harmonis dan menjauhkan berkah.


------------------------------

Penutup

Sebagai penutup, KH. Yazid mengisahkan dialog maknawi antara Nabi Musa as. dengan Allah Swt. Suatu ketika Nabi Musa as. menggembalakan seekor anak kambing (cempe) yang lepas, beliau mengejarnya dengan sabar hingga kakinya letih. Ketika berhasil menangkapnya, Nabi Musa tidak memukulnya melainkan mengusapnya dengan lembut penuh kasih sayang seraya berkata, "Wahai cempe, mengapa kamu membuat dirimu dan aku lelah?" Atas sifat kasih sayang nabi Musa terhadap hewan kecil tersebut, Allah Swt. kemudian mengangkatnya menjadi seorang nabi dan rasul yang mulia. Nabi Musa as. merenung, jika berkasih sayang kepada seekor cempe saja bisa mendatangkan kemuliaan yang begitu besar dari Allah Swt., maka bayangkan betapa dahsyatnya keberkahan dan pahala yang akan diturunkan apabila kita berbuat baik, memikirkan pendidikan, dan memuliakan anak-anak yatim piatu.

Setelah tausiyah selesai, rangkaian acara IPSAY ditutup secara resmi dengan pembacaan kalimat Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq dan pembacaan doa penutup yang dipimpin langsung secara khidmat oleh Romo KH. H. Mukti Hasan dari Pondok Pesantren Darussalam Sindangkasih. Acara santunan dan pengajian akbar ini pun selesai dengan tertib tepat pada jam 12.00 siang, bertepatan dengan berkumandangnya adzan Dzuhur.

Wallahu a'lam bishowab. []

------------------------------

Penerbitan Dokumentasi:

Buletin Kajian IPSAY — Edisi Ahad Pon, 20 Muharram 1448 H / 5 Juli 2026 M

Diselenggarakan di Mushola Darul Wahdah, Sindangkasih, Desa Purwajaya, Kec. Purwadadi, Kab. Ciamis

Diselaraskan berdasarkan Ketetapan Resmi Kalender Islam Global Tunggal


Nantikan Buletin lainnya tetap stay terus disini !!!


 

Posting Komentar untuk "🍃ANAK YATIM DIMULIAKAN, KEBERKAHAN PUN DIHADIRKAN - PENGAJIAN IPSAY (IKATAN PENGURUS SANTUNAN ANAK YATIM)☕"