NGGAPAI RIDHO-NIPUN GUSTI ALLOH



بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Buletin Jawi Edisi Rolas (Selasa Kliwon, 22 Muharrom 1448 H / 21 Suro 1960 BE | 7 Juli 2026 M)

Ditulis oleh Aldy al-Jawi (mas AL) | Aktivis Dakwah Ideologis


Sering kali kita mendengar dalam berbagai khotbah, ceramah, dan untaian doa, sebuah kalimat mulia yang selalu diulang-ulang oleh kaum muslimin, yaitu keinginan untuk menggapai rida Allah ﷻ. Menjadi hamba yang diridai dalam setiap jengkal langkah kaki di dunia ini memang merupakan gondhelan atau pegangan hidup yang paling utama bagi setiap mukmin yang mengharapkan keselamatan di akhirat kelak. Hakikatnya, tujuan dari segala tujuan akhir dari nafas kehidupan kita di dunia ini tidak lain dan tidak bukan adalah murni untuk menggapai ridhonipun Gusti Allah ﷻ.

Namun, di tengah realitas kehidupan bermasyarakat dan bernegara hari ini, ada sebuah kontradiksi besar yang menghentak akal sehat kita. Pertanyaan ideologis yang sangat mendasar yang wajib kita renungkan bersama adalah: "Bagaimana mungkin kita ingin menggapai rida Allah ﷻ, sementara aturan dan sistem yang kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari justru sangat jauh dari tujuan tersebut!?" Ini adalah sebuah ketidakwarasan berpikir. Seseorang mengeklaim ingin menuju ke arah utara, tetapi kaki dan seluruh tubuhnya justru melangkah sekuler ke arah selatan menuruti hawa nafsu.

Kita bisa melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana bobroknya tatanan sosial dan politik di negeri-negeri kaum muslimin termasuk Indonesia saat ini. Praktik korupsi struktural sudah dianggap lumrah dan biasa, perilaku menyimpang kaum LGBT secara masif dinormalisasi di ruang publik atas nama Hak Asasi Manusia (HAM) ala Barat, penegakan hukum nampak sangat pincang karena tumpul ke atas namun tajam ke bawah, dan setiap kali menjelang pesta pemilu, masyarakat selalu ditipu dan disuap lewat bagi-bagi amplop serangan fajar. Jika seluruh kemaksiatan institusional ini terus dipelihara, lalu di mana letak menggapai rida Allah ﷻ-nya? Boleh jadi, apa yang kita lakukan secara kolektif hari ini bukan sedang menggapai rida Allah ﷻ, melainkan sebaliknya, kita sedang bergerak cepat menggapai murka-Nya (naudzubillah)!

------------------------------

Kembali ke Hukum Jahiliah: Ketika Manusia Menantang Otoritas Sang Pencipta

Kerusakan multi-dimensi yang kita saksikan hari ini merupakan buah pahit dari dicampakkannya syariat Islam secara kaffah dari roda pemerintahan. Ketika kedaulatan membuat hukum diserahkan kepada kesepakatan akal manusia yang terbatas melalui sistem demokrasi, maka saat itulah manusia secara sadar telah kembali memeluk tatanan hidup purbakala yang bodoh, atau yang di dalam istilah syarak disebut sebagai hukum jahiliah. Jahiliah bukan sekadar merujuk pada era manusia zaman dulu yang tidak bisa membaca, melainkan kondisi di mana sebuah peradaban menolak diatur oleh hukum-hukum Allah ﷻ.

Sistem sekuler kapitalisme yang mendominasi saat ini telah sukses membius umat agar rida dipimpin oleh undang-undang buatan manusia. Padahal, tidak ada hukum yang paling adil, paling presisi, dan paling mampu membawa berkah selain hukum yang diturunkan oleh Zat Yang Maha Mengetahui, Allah ﷻ. Memilih hukum sekuler di atas hukum wahyu adalah bentuk pembangkangan akidah yang sangat nyata.

Gusti Allah Swt mengkritik keras mentalitas masyarakat yang berpaling dari syariat-Nya demi mengejar aturan buatan manusia:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (TQS Al-Ma'idah: 50)

------------------------------

"Ma'isyatan Dhanka": Peringatan Nyata Atas Sempitnya Penghidupan Umat

Dampak dari berpalingnya sebuah bangsa dari peringatan dan hukum Allah ﷻ bukan hanya berakibat pada dosa di akhirat, melainkan langsung di kontan di dunia berupa lahirnya fenomena Ma'isyatan Dhanka, yaitu kehidupan yang sempit, penuh impitan, dan sengsara. Kita bisa melihat potret nyata hari ini di mana-mana rakyat kecil menjerit akibat kondisi ekonomi yang serba susah. Apa-apa serba mahal, harga kebutuhan pokok melambung tinggi, iuran ditarik secara sepihak, lapangan kerja sulit, sementara sumber daya alam yang melimpah justru dikuasai oleh segelintir oligarki.

Ini adalah bentuk teguran fisik yang nyata dari Allah Swt karena umat ini membiarkan negerinya diatur oleh sistem kapitalisme sekuler. Keadilan ekonomi tidak akan pernah bisa lahir dari rahim sistem yang mengabaikan syariat. Selama umat masih takut untuk menyuarakan kebenaran Islam politik dan memilih bersikap apatis dengan prinsip "sudah yang penting urus ibadah masing-masing", maka impitan ekonomi dan kesempitan hidup ini akan terus mengeklik generasi kita tanpa pernah ada habisnya.

Gusti Allah Swt telah memberikan peringatan yang sangat presisi mengenai konsekuensi dari dicampakkannya wahyu dalam kehidupan bernegara:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit. (TQS Taha: 124)

------------------------------

Menolak Taklid Buta: Urgensi Berpikir Cemerlang (Al-Fikr Al-Mustanir)

Untuk mengakhiri seluruh lingkaran kemunduran ini, umat Islam tidak boleh lagi merawat mentalitas berpikir dangkal (al-fikr as-safih) atau taklid buta terhadap tren opini bentukan media sekuler. Kaum muslimin, terutama para pemuda dan mahasiswa, harus segera menaikkan taraf berpikirnya menuju level tertinggi, yaitu Al-Fikr Al-Mustanir (Berpikir Cemerlang) agar menjelma menjadi seorang Mustanir.

Seorang mustanir tidak akan pernah bisa disuap oleh amplop pemilu, tidak akan silau oleh janji-janji manis kesejahteraan ala demokrasi, dan tidak akan minder di hadapan para intelektual sekuler. Seorang mustanir akan menggunakan akal sehatnya secara radikal untuk melihat hubungan kausalitas antara penderitaan umat hari ini dengan ketiadaan syariat. Ia akan paham betul bahwa rida Allah ﷻ mustahil diraih jika institusi pelindung syariat, yaitu Daulah Khilafah Islamiyah, belum ditegakkan kembali di muka bumi. Oleh karena itu, seorang mustanir akan membuang jauh-jauh pemikiran sekuler dan meletakkan aktivitas dakwah ideologis sebagai poros hidupnya.

------------------------------

Penutup

Kesimpulannya, menggapai ridhonipun Gusti Allah Swt membutuhkan pembuktian berupa ketundukan yang totalitas (sami'na wa atha'na) terhadap seluruh aturan-Nya tanpa ada tawar-menawar. Kita tidak bisa mengharapkan keberkahan turun di negeri ini jika kita masih rida hidup di bawah kepungan hukum jahiliah modern yang sekuler. Sudah saatnya kita membuka mata, mencerdaskan pemikiran umat lewat aktivitas pembinaan (tatsqif) yang konsisten, dan melangkah bersama dalam saf perjuangan dakwah politik untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah. Hanya dengan kembalinya aturan Allah Swt memimpin dunia, rida-Nya akan kita gapai dan kehidupan yang berkah akan kembali kita rasakan.

Wallahu a'lam bishowab. []

------------------------------

Informasi Penerbitan:

Buletin Jawi Edisi Rolas — Kamis Kliwon, 22 Muharrom 1448 H / 21 Suro 1960 BE | 7 Juli 2026 M

Dirangkum oleh: Aldy al-Jawi (mas AL) — Syabab Ciamis

Diselaraskan dumasar kalyan Katetapan Resmi Kalender Islam Global Tunggal

------------------------------


Posting Komentar untuk "NGGAPAI RIDHO-NIPUN GUSTI ALLOH"