NALIKO AQIDAH UMAT GAK ONO SING NJOGO


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ditulis oleh Aldy al-Jawi (mas AL) | Aktivis Dakwah Ideologis

Buletin Jawi Edisi SekawanLas [14] (Jumuwah Kliwon, 3 Safar 1448 H / 1 Sapar 1960 BE | 17 Juli 2026 M)

Di zaman yang sudah modern ini, sebagian besar masyarakat kita ternyata masih percaya tentang mitos bahwa bulan Shafar adalah bulan sial. Sering kita melihat, jarang sekali ada orang yang menyelenggarakan acara sakral seperti pernikahan atau khitanan pada bulan tersebut, karena diyakini sebagai bulan sial menurut mitos kepercayaan orang Jawa zaman dulu. Selain mitos mengenai bulan Shafar, malam Jum’at Kliwon seperti malam semalam pun kadang juga masih diyakini sebagai malam horor yang menakutkan. Mitos-mitos sesat tersebut masih ada, mengakar, dan diwariskan secara turun-temurun sampai sekarang di tengah-tengah masyarakat Nusantara.

Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Mengapa di zaman yang katanya sudah canggih dan modern ini, fenomena takhayul dan khurafat masih akan tetap ada? Jawabannya adalah karena faktor pemahaman (mafahim) yang tertanam di dalam benak kepala manusia! Kondisi ini diperparah ketika akidah umat saat ini sudah tidak lagi terkondisikan, dibiarkan liar, dan tidak ada lagi yang bertindak menjaga benteng keimanannya. Maka sangat wajar sekali jika kemerosotan berpikir ini terus lestari. Akidah umat sengaja didangkalkan agar mereka acuh tak acuh terhadap urusan agamanya sendiri.

Tragedi yang menimpa umat hari ini tidak berhenti pada urusan takhayul lokal saja. Penistaan terhadap Islam, bahkan termasuk gerakan pemurtadan juga saat ini marak terjadi secara vulgar. Baik itu yang dilancarkan oleh para misionaris, kalangan ateis dan agnostik, hingga kelompok Kejawen sekuler. Kebatilan itu nyata terjadi sampai saat ini di dunia digital, di mana media sosial kita sering kali FYP (For Your Page) menampilkan narasi yang menyerang Islam. Mereka menyerang dengan berbagai narasi pembodohan, seperti ejekan "Islam itu dongeng Arab," atau menghina Ka'bah sebagai "tempat menyembah batu hitam." Dll.

------------------------------

Hilangnya Peran Pemimpin: Ketika Penguasa Menjadi Pelayan Oligarki

Kenapa hal itu bisa terjadi dan dibiarkan begitu saja? Ya, karena itu tadi! Penguasa di dalam sistem demokrasi-sekuler sekarang ini sudah tidak lagi berperan untuk menjaga akidah umat. Penguasa saat ini hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri, memikirkan bagaimana cara mengamankan kekuasaan, serta sibuk mengurusi kepentingan kroco-kroco politiknya. Mereka disibukkan dengan bagaimana cara melanggengkan hubungan bisnis serta konsesi ekonomi dengan para pengusaha (oligarki/para pemilik modal). Akibatnya, penguasa bersikap cuek, abai, dan masa bodoh terhadap keselamatan iman rakyatnya.

Padahal dalam pandangan Islam yang murni, esensi utama dari seorang pemimpin kekuasaan itu adalah Hifdhuddin—yakni wajib menjaga dan membentengi agama dari segala bentuk pemikiran merusak, sebagaimana ditetapkan dalam kaidah ushul fikih. Bahkan, kewajiban ini pun selaras dengan istilah falsafah Jawa/Kejawen luhur yang pernah diterapkan oleh Sultan Agung Mataram Islam dulu dan berlanjut pada Kraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, di mana seorang pemimpin itu wajib memegang gelar PANATAGAMA—artinya wajib njogo agama!

Maka, sungguh ironis kalau sekarang banyak pemimpin justru menganut paham pluralisme atas nama toleransi kebablasan, cinta budaya sendiri secara keliru, bahkan bersikap cuek abai terhadap akidah umat yang mulai luntur. Sejatinya, para penguasa saat ini telah lupa dengan ajaran leluhur nenek moyang mereka sendiri saat tanah Jawa dulu berhasil ditaklukkan oleh dakwah Islam yang dibawa Wali Songo. Dakwah Islam itulah yang terbukti mampu menaikkan derajat masyarakat Suku Jawa bahkan seluruh Nusantara dari kegelapan zaman kuno menuju kemerdekaan tauhid! Mereka lupa, dan mereka tidak faham falsafah Kejawen mereka sendiri!

------------------------------

Gugatan Terhadap "Sultan" Sekuler: Ketika Pemimpin Kehilangan Ruh Jawa yang Islami

Perlu ditegaskan secara ideologis, sekalipun pemimpin itu sekarang bergelar "Sultan" atau pemangku adat, kalau hatinya anti terhadap syariat Islam dan rido dipimpin hukum sekuler, ya tetap aja sebenarnya tidak bisa dikatakan sebagai sosok yang Njawani. Dalam artian yang sesungguhnya, pemimpin tersebut sudah ilang Jawane—telah hilang esensi kejawaannya yang luhur! Mereka telah lupa bagaimana ajaran dan ketegasan Sultan Agung dulu, lupa bagaimana taktik perjuangan Wali Songo, dan lupa bagaimana tumpahan darah perjuangan Pangeran Diponegoro.

Para pahlawan terdahulu berjuang mati-matian, mengorbankan harta dan nyawa, supaya hukum Islam tetap ada dan tegak berdiri di tanah Jawa ini. Namun justru sekarang, penerus-penerusnya malah bersikap bodoh!, bodoh amat, masa bodoh, bahkan sebagian mungkin banyak yang diam-diam anti terhadap Islam. Mereka gemar menyerang balik para pengemban dakwah kaffah dengan narasi rasis dan stigmatisasi seperti "ke-Arab-araban", "budaya onta", "kaum gurun pasir", dan tuduhan miring lainnya. Inilah potret bobroknya keadaan kita sekarang! Sistem demokrasi alih-alih menjamin kebebasan, faktanya adalah kebohongan yang nyata! Demokrasi hanya memberikan kebebasan bagi para penista agama, serta para oligarki, namun membungkam orang-orang yang ingin menerapkan hukum Allah Swt secara kaffah.

Gusti Allah Swt mengkritik tajam para pemimpin yang enggan memutuskan perkara di tengah masyarakat dengan menggunakan hukum wahyu-Nya:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (TQS Al-Ma'idah: 45)

------------------------------

"Ma'isyatan Dhanka" di Tanah Jawa: Buah Pahit Pembiaran Hukum Sekuler

Dampak dari hilangnya peran penguasa sebagai Panatagama tidak hanya menghancurkan moral generasi, melainkan berakibat langsung pada kesengsaraan hidup harian rakyat kecil berupa fenomena Ma'isyatan Dhanka—yaitu kehidupan yang sempit dan serba sulit. Kita bisa melihat realitas hari ini di mana-mana rakyat menjerit karena harga sembako yang kian mahal, subsidi dicabut, pajak ditarik dari segala arah, sementara uang negara dikorupsi secara berjamaah.

Ini adalah bentuk teguran fisik yang Allah Swt timpakan di dunia karena kita membiarkan negeri ini diatur oleh undang-undang sekuler kapitalisme. Kesejahteraan tidak akan pernah lahir dari rahim demokrasi yang mengabaikan syariat. Selama umat masih takut bicara politik Islam dan memilih bersikap apatis dengan dalih menuruti perintah kepemimpinan yang salah arah, maka kesempitan hidup ini akan terus mencekik kita tanpa pernah ada habisnya.

Gusti Allah Swt telah memberikan kepastian hukum yang sangat presisi di dalam Al-Qur'an mengenai nasib bangsa yang berpaling dari hukum-Nya:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit. (TQS Taha: 124)

------------------------------

Penutup: Mengembalikan Institusi Pelindung Akidah Melalui Dakwah Kenabian

Oleh karena itu, di momentum hari Jum'at Kliwon di awal bulan Shafar ini, satu-satunya solusi hakiki untuk mengakhiri seluruh kerusakan akidah dan ekonomi ini adalah dengan mengembalikan fungsi pemimpin sebagai pelindung agama yang sejati. Perubahan besar tersebut mustahil diwujudkan secara individu, melainkan wajib diperjuangkan secara berjamaah (kutlah siyasi) melalui metode dakwah politik yang meniru thariqah kenabian tanpa jalan kekerasan, yaitu melalui aktivitas tatsqif (pembinaan halaqah), tafa'ul ma'al ummah (berinteraksi membangun opini), hingga tegaknya kembali institusi politik Islam global yang berwibawa (Daulah).

Hanya di bawah naungan sistem pemerintahan Islam yang kaffah, akidah umat akan terjaga secara institusional, para penista agama akan ditindak tegas dengan hukum jinayat, dan ruang publik akan dibersihkan dari racun sekulerisme Barat. Mari kita buang jauh-jauh rasa pesimis, naikkan taraf berpikir kita menjadi pemikir cemerlang (mustanir), dan ikutlah dalam saf perjuangan dakwah ini supaya dicatat oleh Allah sebagai pahala investasi sampai kemudian kembali tegaknya institusi Daulah Khilafah Islamiyah yang tentu agar keberkahan bumi dan langit kembali dicurahkan di tanah Nusantara ini.

Wallahu a'lam bishowab. []

------------------------------

Informasi Penerbitan Resmi:

Buletin Jawi Edisi SekawanLas [14] — Jumuwah Kliwon, 3 Safar 1448 H / 1 Sapar 1960 BE | 17 Juli 2026 M

Dirangkum oleh: Aldy al-Jawi (mas AL) — Syabab Ciamis

Diselaraskan dumasar kalyan Katetapan Resmi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) & Tanggalan Jawa

------------------------------


Posting Komentar untuk "NALIKO AQIDAH UMAT GAK ONO SING NJOGO"