بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Dirangkum oleh: Aldy al-Jawi | Aktivis Dakwah Ideologis
Kamis malam Jum'at Kliwon, 3 Shafar 1448 H / 16 Juni 2026 M
Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)
Segala puji serta rasa syukur yang mendalam senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Swt ﷻ, Zat Yang Maha Mengatur ajal dan umur setiap makhluk. Atas limpahan taufik, hidayah, serta nikmat-Nya yang tak terhitung, kita kembali dipertemukan dan dihimpunkan dalam majelis ilmu yang insya Allah dipenuhi keberkahan pada malam Jum'at Kliwon ini.
Yang kami hormati guru kita pada malam hari ini, Al-Ustadz Dimas Prasetya hafizhahullah (Aa Dim). Yang kami hormati segenap panitia penyelenggara Kajian OBSESI (Obrolan Seputar Islam). Matur nuwun sanget atas sedaya pengorbananipun; baik waktu, tenaga, pikiran, bahkan rezeki yang telah dicurahkan. Mudah-mudahan semuanya dicatat sebagai amal saleh dan dibalas oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan balasan yang berlipat ganda. Serta poro tamu undangan, ikhwan fillāh, para jamaah sekalian ingkang sami-sami ngersakaken ridhanipun Gusti Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Gusti Allah Swt ﷻ, ingkang tansah maringaken kito sedoyo piro-piro kenikmatan. Inggih meniko nikmat iman, nikmat Islam, lan nikmat sehat wal afiat. Sehingga Alhamdulillah, pada malam hari ini yang bertepatan dengan tanggal 3 Shafar 1448 Hijriyah, kita masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk kembali berkumpul, ngariyung deui, dina raraga urang tholabul 'ilmi, mencari ilmu demi mengharap rida Allah Swt ﷻ melalui Kajian OBSESI ini. Tadi siang mungkin ada di antara kita yang luar biasa sibuk bekerja, ada yang sibuk kuliah, ada yang sibuk usaha, bahkan mungkin ada yang tadi siang masih macul di sawah. 😄 Namun Alhamdulillah, malam hari ini kita tetap menyempatkan diri melangkahkan kaki menuju majelis ilmu.
Mudah-mudahan setiap langkah kita dari rumah, dari kosan, dari tempat kerja, dari mana pun kita datang, dicatat oleh Allah sebagai amal saleh, diangkat derajatnya, serta menjadi penggugur dosa-dosa kita. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ bahwa siapa saja yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. Shalawat serta salam, mugi tansah tercurah limpah dumateng junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, dumateng keluarganipun, para sahabatipun, tabi'in, tabi'ut tabi'in, lan mugi-mugi dugi marang kito sedoyo umatipun ingkang tansah istiqamah nderekaken syariat ingkang sampun dipun bawa dening beliau. Mugi-mugi kelak kita sedoyo kalebet tiyang ingkang angsal syafaatul 'udzma wonten ing Yaumil Akhir. Āmīn Yā Rabbal 'Ālamīn.
Kajian OBSESI yang dimulai ba'da Isya malam ini diisi oleh Ustadz Dimas Prasetya, atau yang akrab disapa Aa Dim. Beliau membawakan tema yang sangat menggetarkan jiwa: "AJAL & OPTIMALISASI AMAL" (meskipun dalam pamflet tertulis Hakikat Kematian, namun esensi pembahasannya tetap selaras). Kita semua sudah paham bersama bahwa mati adalah sebuah kepastian yang mutlak, namun tiket kita menuju surga sama sekali belum pasti. Kematian adalah hak prerogatif Allah Swt ﷻ. Sering kali manusia terlena, merasa terlalu nyaman dengan nikmat sehat dan nikmat waktu luang, sampai lupa bersiap. Padahal, kita harus sadar dan paham bahwa malaikat maut mendatangi dan menatap wajah makhluk Allah sebanyak 70 kali dalam sehari, jika belum tiba waktunya memang teu jadi, namun jika sudah tiba saatnya, tidak akan bisa ditunda sedetik pun.
Empat Golongan Manusia dan Hakikat Kepastian Ajal
Dalam pemaparannya, Aa Dim menukil penjelasan Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali mengenai empat golongan manusia dalam menghadapi akhir hidupnya. Kita diperintahkan untuk berkaca dan berintrospeksi, ada di model nomor berapakah posisi kita saat ini:
- Su'ul Ibtida' wa Su'ul Khatimah: Awalnya buruk dan akhirnya pun mati dalam keadaan buruk. Ini adalah penutup hidupnya orang-orang kafir.
- Husnul Ibtida' wa Su'ul Khatimah: Awalnya baik, taat, dan berada dalam Islam, namun di akhir hayatnya justru berbalik arah menjadi ingkar atau murtad (naudzubillah).
- Su'ul Ibtida' wa Husnul Khatimah: Awal perjalanan hidupnya dipenuhi dengan keburukan dan kemaksiatan, namun di akhir umurnya ia menjemput hidayah dan wafat dalam keadaan baik.
- Husnul Ibtida' wa Husnul Khatimah: Ini adalah golongan yang paling sempurna, di mana awal kehidupannya berjalan baik dalam ketaatan dan akhir hayatnya pun ditutup dalam keadaan husnul khatimah.
Kita harus senantiasa menghitung-hitung tabungan amal kita sebelum datangnya hari jatuh tempo, yaitu ajal. Makna kematian ini harus benar-benar nyerep kana ati (meresap ke dalam hati), karena maut itu sifatnya ngadodoho (mengintai kita diam-diam). Mumpung kita masih diberikan modal hidup di dunya, optimalkanlah untuk beramal saleh. Akhirat dan surga adalah Darul Jaza (negeri tempat menerima balasan amal), sedangkan dunia adalah Darul Amal (negeri tempat menanam amal). Jadi, sangat wajar jika saat hidup di dunia ini kita merasa berat, capek, letih, atau sedih, karena di sinilah tempatnya berlelah-lelah dalam ketaatan.
Untuk meruntuhkan logika kausalitas materialistik manusia tentang kematian, Aa Dim memberikan sebuah ilustrasi kasus. Suatu ketika, ada seseorang yang meninggal dunia akibat tenggelam karena tergulung ombak di lautan. Pihak keluarganya terpukul, tidak menerima kenyataan, hingga menangis meronta-ronta meratapi nasib. Pertanyaan akidah yang mendasar: jika hari itu orang tersebut dilarang pergi ke laut dan tetap diam di dalam rumah, apakah dia akan tetap hidup atau tetap meninggal dunia? Jawabannya adalah: Ia akan tetap meninggal dunia pada hari dan jam yang sama, namun dengan wasilah atau kondisi yang berbeda! Karena kematian itu bukanlah urusan pergi ke laut atau diam di rumah, melainkan murni urusan tibanya batas umur yang telah ditentukan.
Allah Swt ﷻ menegaskan kepastian datangnya ketetapan batas umur tersebut:
وَمَا كَان... لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَّجَّلًا
Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. (TQS Ali 'Imran: 145)
Membedah Definisi Ajal: Deadlines Umur yang Tidak Bisa Dihindari
Keimanan yang kokoh mengharuskan adanya ketundukan penuh (sami'na wa atha'na) bahwa hidup dan mati kita berada mutlak di tangan Allah Swt ﷻ, Zat Yang Maha Menciptakan. Manusia hari ini sering kali dijangkiti oleh dua penyakit kronis, yaitu merasa terlalu nyaman dan merasa terlalu tenang dengan dunianya. Mereka merasa kematian masih sangat jauh, sehingga muncul bisikan meninabobokan: "Engke we tobatna mumpung masih muda, puas-puasin dulu maksiat." Ini adalah bentuk kedangkalan berpikir yang nyata.
Allah Swt ﷻ menegaskan otoritas tunggal-Nya atas kehidupan dan kematian makhluk:
وَاللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ
Dan Allah yang menghidupkan dan mematikan. (TQS Ali 'Imran: 156)
Secara terminologi syarak, arti Ajal manusia adalah akhir dari kehidupan seseorang atau habisnya batas jatah umur yang telah ditentukan untuk manusia di dunia. Bahasa sederhananya adalah habisnya "tempo". Ibarat sebatang rokok, apabila ia terus diisap dan temponya habis, maka ia akan padam dengan sendirinya. Saat batas akhir umur seseorang itu telah tiba, saat itu pulalah malaikat maut akan datang menjemputnya tanpa bisa dinegosiasikan. Hanya saja, masalahnya adalah kita sama sekali tidak pernah tahu kapan deadline atau waktu jatuh tempo ajal kita masing-masing.
Oleh karena itu, manusia tidak akan pernah bisa lari atau bersembunyi untuk menghindar dari datangnya malaikat maut.
Allah Swt ﷻ berfirman mengenai ketidakberdayaan manusia untuk lari dari maut:
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْه... فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ
Katakanlah, "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, ia pasti akan menemui kamu." (TQS Al-Jumu'ah: 8)
Kematian tidak butuh persetujuan kita untuk datang menjemput. Di mana pun kita berada, maut akan tetap datang menghampiri.
Allah Swt ﷻ mempertegas hal tersebut dalam ayat lain:
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh. (TQS An-Nisa': 78)
Tauhidul Asbab: Satu-Satunya Sebab Kematian Hanyalah Datangnya Ajal
Berdasarkan pemahaman akidah Islam yang murni, umat harus dicerdaskan mengenai konsep Tauhidul Asbab (pengesaan sebab) dalam urusan kematian. Kita harus faham bahwa peristiwa-peristiwa seperti sakit sakaratul maut, gugur di medan perang, kecelakaan lalu lintas, serangan jantung, atau musibah bencana alam, sejatinya bukanlah sebab hakiki dari kematian. Semua fenomena material tersebut hanyalah merupakan kondisi (keadaan) yang di dalamnya kadang terjadi peristiwa kematian, namun kadang pula tidak terjadi kematian (orangnya selamat).
Sebab kematian (sebab maut) itu hakikatnya hanya ada satu, yaitu: DATANGNYA AJAL! Yakni berupa habisnya jangka waktu yang telah ditetapkan bagi manusia atau tibanya batas akhir umur seseorang di dunia (Muajalah). Ketika jangka waktu tersebut habis, maka Allah Swt ﷻ memerintahkan malaikat maut untuk mencabut ruh dari jasadnya.
Allah Swt ﷻ menjelaskan tugas malaikat maut tersebut:
قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ
Katakanlah, "Malaikat maut yang diserahi tugas untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu, kemudian kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan." (TQS As-Sajdah: 11)
Karena kematian adalah urusan qadha yang waktunya sangat tepat, maka ajal tidak akan pernah bisa dimajukan atau dimundurkan walau hanya sekejap mata.
Allah Swt ﷻ menegaskan kepastian waktu tersebut:
مَا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا ۖ وَمَا يَسْتَأْخِرُونَ
Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat menundanya. (TQS Al-Hijr: 5)
Seorang muslim boleh-boleh saja berdoa memohon dipanjangkan umurnya untuk ketaatan, namun kita harus sadar dan rida terhadap apa yang telah digariskan oleh takdir-Nya. Jika jatah temponya sudah habis, maka: orang yang sedang ngaji bisa mati, yang sedang santai bisa mati; yang sedang lelah bekerja bisa mati, yang sedang menganggur pun bisa mati; orang yang memilih hijrah keluar dari lingkaran riba bisa mati, dan mereka yang tetap nekat berkubang dalam dosa riba pun tetap akan mati; orang yang taat pasti mati, dan orang yang hobi maksiat juga pasti akan mati.
Implikasi Pemikiran: Berjuang Belum Tentu Mati, Diam Belum Tentu Hidup
Pemahaman yang jernih mengenai hakikat ajal ini memiliki implikasi pemikiran (mafahim) yang sangat dahsyat bagi mentalitas seorang pejuang. Prinsip akidah ini menegaskan sebuah fakta politik: bahwa melibatkan diri dalam barisan perjuangan di jalan Allah—seperti berdakwah menyuarakan Islam kaffah, melakukan amar makruf nahi minkar, hingga mengoreksi kebijakan penguasa yang zalim—sama sekali tidak akan pernah menyegerakan datangnya ajal atau mengurangi jatah umur seseorang!
Begitu pula sebaliknya, sikap berdiam diri, berpasrah pada keadaan, enggan berdakwah karena takut risiko, dan menjauhkan diri dari perbuatan yang disangka berbahaya, sama sekali tidak akan pernah bisa memperpanjang kontrak umur atau memundurkan datangnya malaikat maut. Berjuang belum tentu mati, dan tidak berjuang pun belum tentu tetap hidup! Maka dari itu, mumpung hirup (selagi masih bernyawa), yo kita manfaatkan sisa umur ini untuk berjuang di jalan Allah Swt ﷻ.
Oleh karena itu, rasa takut terhadap kematian tidak boleh dijadikan alasan untuk menghentikan langkah dakwah. Takut mati dan berupaya lari dari kematian yang sudah pasti datang adalah cerminan dari sikap bodoh dan sebuah usaha yang sia-sia. Ini adalah wilayah keimanan yang luhur, bukan berarti meniadakan ikhtiar medis atau ikhtiar keselamatan fisik. Hal yang diperintahkan syariat kepada kita adalah fokus mempersiapkan diri menyongsong maut dengan cara memelihara diri agar kematian itu menjemput kita dalam kondisi sedang menunaikan aktivitas ketaatan, sehingga kita berhak meraih derajat husnul khatimah.
Ingatlah, kematian itu bukan berdasarkan nomor urut usia, melainkan berdasarkan nomor cabut yang berlaku acak secara rahasia. Tidak ada pola tertentu; bayi bisa mati, remaja bisa mati, dan orang tua pun bisa mati. Karena jadwal cabut nyawa ini berada di luar kendali dan kuasa manusia, maka hal yang berada di dalam kendali pilihan kita hari ini hanyalah: Apakah kita memilih mati dalam keadaan sedang taat kepada Allah, atau kita rida mati dalam keadaan sedang berkubang maksiat?
Fikih Hadits: Meluruskan Makna Silaturahmi Dapat Menambah Umur
Sebelum kajian diakhiri, Aa Dim membuka sesi tanya jawab untuk mengurai sebuah syubhat pemikiran yang sering dipertanyakan jemaah, yaitu mengenai hadits populer tentang keutamaan silaturahmi.
Rasulullah ﷺ bersabda memberikan janji kemudahan rezeki dan umur tersebut:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi. (HR Bukhari No. 5986 & Muslim No. 2557)
Merujuk pada penjelasan kitab-kitab muktabar yang otoritatif, para ulama menjelaskan bahwa hadits ini sama sekali jangan salah dipahami! Pertambahan umur di sini bukanlah penundaan jadwal ajal yang ada di Lauh Mahfuzh, melainkan memiliki makna syar'i sebagai berikut:
- Keberkahan umur dalam ketaatan: Meskipun umurnya secara biologis pendek, namun berkat amalan silaturahmi, Allah Swt ﷻ menganugerahkan berkah berupa taufik agar ia mampu memanfaatkan waktunya untuk amal-amal besar.
- Umur sosiologis (atsarnya): Yaitu peninggalan atau jejak kebaikan yang terus hidup mendatangkan manfaat dan aliran pahala meskipun ia sudah mengalami kematian biologis (misalnya, aktivitas dakwah dan silaturahminya dicontoh oleh generasi penerusnya).
Hal ini dipertegas oleh riwayat dari Ibnu Abi Hatim yang dikutip oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُؤَخِّرُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا ۚ وَإِنَّمَا زِيَادَةُ الْعُمُرِ أَنْ يَرْزُقَ اللَّهُ الْعَبْدَ ذُرِّيَّةً صَالِحَةً يَدْعُونَ لَهُ فَتَلْحَقُهُ دَعْوَتُهُمْ فِي قَبْرِهِ
Sesungguhnya Allah tidak akan mengakhirkan (kematian) seseorang jika telah datang ajalnya. Sesungguhnya bertambahnya umur itu dengan keturunan saleh yang Allah karuniakan kepada seorang hamba, lalu mereka mendoakannya sesudah kematiannya sehingga doa mereka menyusulinya di kuburnya. (Tafsir Ibnu Katsir, QS Fathir: 11)
Sikap Ahli Ibadah dan Karakter Orang yang Paling Cerdas
Ketika peluit Game Over kehidupan itu ditiup, setiap manusia akan mati dan dibangkitkan sesuai dengan kebiasaan hidupnya. Al-Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan di dalam kitab tafsirnya:
احْفَظُوا الْإِسْلَامَ فِي حَالِ صِحَّتِكُمْ وَفَرَاغِكُمْ لِتَمُوتُوا عَلَيْهِ ، فَإِنَّ الْكَرِيمَ قَدْ جَرَى عَبَدَتْهُ بِكَرَمِهِ أَنَّهُ مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْءٍ مَاتَ عَلَيْهِ ، وَمَنْ مَاتَ عَلَى شَيْءٍ بُعِثَ عَلَيْهِ ، فَعِيَاذًا بِاللَّهِ مِنَ الِانْحِرَافِ عَنِ الْحَقِّ
Peliharalah Islam ketika engkau sehat walafiat, agar engkau mati di atas Islam. Sesungguhnya Dzat yang Mahamulia dengan kemurahan-Nya akan memberlakukan seseorang sesuai kebiasaannya. Bahwa orang yang memiliki kebiasaan tertentu dalam hidup, dia akan mati sesuai kebiasaannya. Dan siapa yang mati dalam kondisi tertentu, dia akan dibangkitkan sesuai kondisi matinya. Sungguh kita berlindung kepada Allah, jangan sampai menyimpang dari kebenaran. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/87)
Jangan menyimpulkan secara dangkal, "Si eta mah orang pasar pasti matinya di pasar," bukan begitu kesimpulannya! Maknanya adalah pilihan aktivitas keseharian kita—apakah didominasi oleh amal ketaatan atau kemaksiatan—itulah yang berpeluang besar membentuk kondisi akhir hayat kita.
Lantas, siapakah mukmin yang paling cerdas? Rasulullah ﷺ pernah ditanya oleh sahabat mengenai hal ini, dan beliau menjawab:
أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لَهُ اسْتِعْدَادًا قَبْلَ أَنْ يَنْزِلَ بِهِمْ أُولَئِكَ مِنَ الْأَكْيَاسِ
Mereka yang paling banyak mengingat maut dan paling baik persiapannya untuk menghadapi maut itu sebelum turun kepada mereka. Mereka itulah yang termasuk mukmin yang paling cerdas. (HR Ibnu Majah No. 4259 & Al-Hakim)
Orang-orang saleh terdahulu senantiasa mengingat mati dengan frekuensi yang sangat tinggi. Khalifah Umar bin Abdul Aziz biasa mengumpulkan para fuqaha setiap malam hanya untuk saling mengingatkan tentang kematian, hari kiamat, dan akhirat, kemudian mereka menangis bersama seolah-olah di hadapan mereka sedang ada jenazah yang terbujur kaku.
Perbedaan mencolok antara orang awam dengan orang saleh adalah: orang awam jika mengingat mati energinya akan langsung drop (lemah/takut), sementara energi orang saleh justru akan meningkat berlipat-lipat saat mengingat maut! Sebab, kematian memberi makna sebagai pemutus kesempatan beramal dan berjuang. Orang saleh tidak mau menyia-nyiakan hidupnya karena tahu jika maut sudah datang, tidak ada lagi kesempatan berdakwah dan menegakkan kalimatullah.
Menghitung Sisa Waktu Hidup dan Urgensi Optimalisasi Amal
Mari kita kalkulasi sisa waktu hidup kita secara matematis. Andaikan Allah Swt ﷻ memberikan umur kepada kita rata-rata 60 tahun. Jika setiap hari kita gunakan waktu untuk bekerja selama 8 jam, maka kita telah menghabiskan total 20 tahun umur kita hanya untuk bekerja. Jika 8 jam berikutnya kita gunakan untuk tidur setiap hari, maka 20 tahun pula umur kita habis di atas kasur. Artinya, sudah dua pertiga umur kita (40 tahun) habis hanya untuk urusan bekerja dan tidur!
Sisa sepertiganya lagi, yaitu 20 tahun, kita gunakan untuk urusan makan, kamar mandi, santai, perjalanan, dan lain-lain. Pertanyaannya: lalu berapa sisa waktu yang benar-benar kita alokasikan bersih secara ikhlas untuk Allah Swt ﷻ? Sungguh sangat sedikit! Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa tidak ada seorang pun yang mati melainkan ia pasti akan menyesal:
مَا مِنْ أَحَدٍ يَمُوتُ إِلَّا نَدِمَ ، قَالُوا : وَمَا نَدَامَتُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : إِنْ كَانَ مُحْسِنًا نَدِمَ أَنْ لَا يَكُونَ ازْدَادَ ، وَإِنْ كَانَ مُسِيئًا نَدِمَ أَنْ لَا يَكُونَ اسْتَعْتَبَ
Tidaklah seseorang mati melainkan ia akan menyesal. Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apa penyesalannya?" Beliau menjawab, "Jika ia orang baik, ia menyesal mengapa tidak lebih banyak lagi (kebaikannya). Jika ia orang jahat, ia menyesal mengapa tidak segera meninggalkan (kejahatannya)." (HR Tirmidzi No. 2403)
Oleh karena itu, mumpung nyawa masih dikandung badan, mari kita raih pahala yang berlipat ganda melalui amalan yang tak terbatas pahalanya. Shalat berjamaah dilipatgandakan 27 kali, shalat di Masjid Nabawi 1000 kali, shalat dhuha menutup sedekah 360 persendian. Namun ada satu amalan yang pahalanya unlimited (tanpa batas) dan terus mengalir, yaitu aktivitas dakwah ideologis menyebarkan Islam kaffah!
Tengoklah bagaimana potret optimalisasi amal dari para ulama terdahulu. Al-Junaid bin Muhammad, salah seorang shalihin, sanggup membaca tasbih sebanyak 30.000 kali sehari. Bahkan ketika sakaratul maut menjemputnya, beliau masih sibuk membaca Al-Qur'an. Putranya bertanya heran, "Ayah membaca Al-Qur'an, padahal Ayah sedang sibuk menjemput kematian?" Beliau menjawab dengan tajam, "Apakah ada di dunia ini orang yang lebih membutuhkan amal shalih ketimbang ayah saat ini?" Begitu pula dalam kitab Jami' al-'Ulum wa al-Hikam, Ibnu Rajab menuturkan bahwa Khalid bin Ma'dan sanggup membaca tasbih dalam sehari hingga 100.000 kali.
Kita juga wajib meneladani kejeniusan Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Beliau hidup mendampingi Nabi ﷺ tidak lama, kurang lebih hanya 3 tahun saja. Tetapi, waktu yang singkat itu beliau optimalkan secara totalitas untuk kejayaan Islam. Beliau gunakan waktu malamnya saat orang lain lelap tertidur untuk belajar dan menghafal teks wahyu. Hasilnya, tidak kurang dari 4 karung hadits berhasil beliau kumpulkan, dengan total hafalan mencapai 5.374 hadits (terbanyak di antara para sahabat). Setiap kali umat Islam hingga detik ini mempelajari dan mengamalkan hadits riwayat beliau, maka aliran pahala investasi mengalir deras kepada beliau di alam kubur. Amal dahsyat ini hanya bisa kita lakukan saat kita masih hidup!
Penutup
Kesimpulannya, saat ajal yang pasti itu datang menjemput, jiwa orang-orang mukmin yang shalih dan shalihah akan menghadap-Nya dengan senyuman yang indah, karena mereka tahu tabungan amalnya telah optimal dikerjakan selama di dunia.
Gusti Allah Swt ﷻ memanggil jiwa-jiwa yang tenang tersebut dengan firman-Nya:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (TQS Al-Fajr: 27-30)
Mumpung hidup kita masih ada, mari kita optimalkan sisa umur kita untuk berjuang di jalan Allah Swt ﷻ. Apalagi saat ini kita sedang hidup di bawah kepungan sistem sekuler yang tidak diatur dengan hukum Islam. Menegakkan kembali kehidupan Islam adalah ladang pahala terbesar yang wajib kita ambil. Mari kita tutup pengajian malam ini dengan memanjatkan doa bersama:
اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالإِسْلَامِ وَاخْتِمْ Lَنَا بِالإِيمَانِ وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ
Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan Islam, akhirilah hidup kami dengan membawa iman, dan akhirilah hidup kami dengan husnul khatimah.
Wallahu a'lam bishowab. []
Penerbitan Dokumentasi Resmi:
Buletin Kajian OBSESI — Edisi Kamis malam Jum'at Kliwon, 3 Shafar 1448 H / 16 Juni 2026 M
Dirangkum berdasarkan Materi Kajian bersama Ustadz Dimas Prasetya (Aa Dim)
Diselaraskan berdasarkan Ketetapan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)

Posting Komentar untuk "AJAL & OPTIMALISASI AMAL - KAJIAN OBSESI (Obrolan Seputar Islam)"