Hampir di mana-mana, setiap kali penulis berkunjung ke suatu tempat atau daerah, penulis selalu mendapati seseorang dari berbagai latar belakang yang menceritakan kondisi hidupnya. Dari sekian banyak interaksi tersebut, yang paling sering didapati oleh penulis adalah jeritan hati dari orang-orang berlatar belakang biasa saja, pas-pasan, atau yang akrab kita sebut sebagai wong cilik alias rakyat leutik. Di tengah kepungan badai ekonomi yang semakin sulit dan mencekik saat ini, tentu saja ada berbagai keluhan yang terlontar dari lisan mereka. Apa yang penulis tuangkan di dalam lembaran buletin ini murni merupakan fakta apa adanya di lapangan, tidak mengada-ada cerita, dan tentu siapapun termasuk panjenengan yang sedang membaca tulisan ini pasti—bahkan sudah sering—bertemu dengan orang berkecukupan yang menceritakan keluh kesah serupa. Betulkan!?
Penulis adalah tipe orang yang menganut prinsip TBC—Teu Bisa Cicing alias tidak bisa diam dalam satu tempat. Hampir semua provinsi yang ada di Pulau Jawa ini pernah penulis jelajahi; mulai dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Banten, termasuk Jawa Barat tempat penulis tinggal saat ini (untuk Jawa Timur memang belum pernah penulis injak, tapi sudah dipastikan jika suatu saat ke sana dan menemui seseorang, keluh kesahnya tidak akan berbeda jauh, masih mirip-mirip). Tulisan ini sekaligus menjadi tamparan bagi mereka yang selama ini hidupnya "zona nyaman", hanya diam di rumah, mentok di dalam lembur (kampung), sehingga matanya buta dan pikirannya tidak pernah faham dengan berbagai masalah sistemik yang sedang menimpa umat saat ini! Karena penulis sering bergerak, penulis menjadi tahu sebuah konklusi makro: Oh, ternyata di mana-mana keluhannya sama! Tidak berbeda jauh!
Kejadian yang baru-baru saja terjadi pada Rabu malam Kamis kemarin di Ciamis kota menjadi potret nyata dari potret kelam tersebut. Saat penulis merasa lapar dan hendak pulang setelah membeli makanan ringan, tiba-tiba penulis ditagih oleh seorang petugas parkir padahal penulis berhenti tidak sampai 2 jam. Namun, rasa iba muncul seketika saat si tukang parkir dengan wajah memelas berkata, "Plis ya A, soalnya uangnya bukan buat saya pribadi tapi saya harus setoran, dan ini pun bukan setor resmi ke negara. Faktanya saya sendiri gak punya motor, padahal saya setiap hari jadi tukang parkir." Mendengar ucapan jujur yang menghentak tersebut, penulis langsung merasa kasihan dan memberikan uang 2 ribu rupiah kepadanya. Ya, lagi-lagi ujungnya adalah masalah impitan ekonomi! Di mana-mana, entah itu keluhan dari para pedagang yang mengeluh jualan makin sepi, harga-harga sembako yang ugal-ugalan melonjak naik, kebutuhan pokok mahal, hingga pusingnya orang tua memikirkan biaya menyekolahkan atau mengkuliahkan anak yang tidak masuk akal. Pada akhirnya, rakyat kecil tidak memiliki pilihan lain selain harus benar-benar memeras keringat bekerja keras dari fajar hingga malam hanya demi sekadar mencukupi kebutuhan dasar isi perut.
Kesadaran Kritis yang Mandul: Mengapa Kasihan Saja Tidak Cukup Tanpa Pencerahan
Melihat kegigihan rakyat kecil dalam bertahan hidup, di satu sisi penulis sangat mengapresiasi semangat mereka, meskipun di sisi lain ada rasa kasihan yang mendalam. Namun, ketahuilah secara ideologis, bahwa sekadar menaruh rasa kasihan, membagikan sembako tahunan, atau memberi uang receh di jalanan sama sekali tidak akan pernah cukup tanpa dibarengi dengan pemberian pencerahan pemikiran yang radikal (mengakar)! Fenomena keluhan massal ini mengindikasikan bahwa sesungguhnya jemaah dan masyarakat bawah—mulai dari kalangan buruh, pedagang, wiraswasta, hingga pelajar—sudah mulai memiliki benih kesadaran kritis atas kondisi buruk yang menimpa mereka. Sayangnya, mereka masih linglung dan belum menemukan di mana solusi hakiki untuk memutus rantai penderitaan tersebut.
Di sinilah tugas utama dan krusial kita selaku pengemban dakwah ideologis untuk hadir memberikan jawaban atas semua keluh kesah tersebut. Kita harus berani menelanjangi wajah asli sistem demokrasi dalam dekapan ideologi kapitalisme sekuler yang sedang berjalan saat ini! Demokrasi-kapitalisme adalah pabrik pembentuk kemiskinan struktural. Ia mendesain aturan agar kekayaan alam diperas dan dikuasai para oligarki, sementara rakyat kecil dipalak melalui berbagai jenis pungutan, pajak, dan iuran jaminan kesehatan secara paksa.
Solusi atas seluruh sengkarut ini tidak lain dan tidak bukan adalah dengan kembali mutlak kepada penerapan syariat Islam secara kaffah. Jika di dalam tayangan iklan televisi ada jargon berbunyi "Apapun makanannya, minumnya teh botol Sosro", maka di dalam kamus kebangkitan umat, jargon kita jauh lebih tinggi: "Apapun masalahnya, solusinya syariat Islam!" Mau dicari sampai ngalor-ngidul, ngetan-ngulon (ke utara-selatan, ke timur-barat) sekalipun, jika umat ini mencari solusi di luar Islam, yo pasti tidak akan pernah ketemu! Yang ada selama ini melalui jalur demokrasi hanyalah mengobati gejala di permukaan (seperti bantuan bansos temporer), bukan memperbaiki akar masalahnya.
"Ma'isyatan Dhanka" Sebagai Akibat Nyata dari Dicampakkannya Hukum Allah ﷻ !
Kondisi ekonomi yang sulit, sembako mahal, dan rakyat yang diperas iuran di kawasan Ciamis dan seluruh Nusantara saat ini adalah bukti nyata dari peringatan Allah ﷻ mengenai datangnya Ma'isyatan Dhanka—yaitu kehidupan yang sempit dan sengsara. Ketika sebuah bangsa sepakat membuang hukum-hukum Allah ﷻ dari roda pemerintahan dan lebih memilih menghamba pada hukum buatan manusia, maka Allah ﷻ kontan bayar hukumannya di dunia berupa hilangnya keberkahan dari bumi dan langit. Kapitalisme sekuler memaksa manusia bertingkah laku layaknya serigala bagi manusia lainnya demi mengejar asas manfaat materi.
Allah Swt telah memberikan kepastian hukum yang sangat presisi di dalam Al-Qur'an mengenai nasib bangsa yang berpaling dari syariat-Nya:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit. (TQS Taha: 124)
Krisis multidimensi ini tidak akan pernah bisa disembuhkan jika kita hanya pasrah ku kaayaan (pasrah pada keadaan) atau sibuk menyalahkan figur pejabat secara parsial. Selama sistem negaranya masih sekuler, maka siapa pun figur yang duduk di kursi jabatan—bahkan orang shaleh sekalipun—output kebijakannya akan tetap salah dan menindas rakyat kecil karena mereka diikat oleh undang-undang demokrasi yang cacat sejak dalam kandungan ideologinya. Maka, sistem kufur inilah yang harus diubah dan diganti sesegera mungkin! Allahu Akbar!
Allah Swt mengkritik tajam manusia yang mengabaikan hukum-Nya demi memeluk aturan jahiliah buatan makhluk yang lemah:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (TQS Al-Ma'idah: 50)
Thariqah Dakwah Rasulullah ﷺ: Mengajak Umat Masuk ke Dalam Lingkaran Halaqah
Lantas, bagaimana cara operasional untuk menerapkan syariat Islam yang mampu membawa kemaslahatan makro tersebut? Caranya adalah dengan mengikuti khitah perjuangan politik yang telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah saw ﷺ dan para sahabat. Kita tidak boleh menggunakan cara-cara instan yang menyimpang, seperti aksi kudeta berdarah, anarki jalanan, atau tindakan kekerasan fisik di dalam negeri. Dakwah ideologis bergerak secara terstruktur melalui tiga tahapan agung:
- Tatsqif (Tahap Pembinaan): Langkah awal yang paling mendasar adalah dengan mengajak masyarakat, teman, dan kerabat untuk ngaji bersama kami. Kita ajak mereka ngopi bareng secara santai, diskusi pelan-pelan dari hati ke hati, lalu kita masukkan ke dalam pembinaan intensif (tatsqif). Dari mulai Pengajian Umum (PU-an) hingga masuk ke dalam lingkaran halaqah pekanan untuk mengkaji kitab demi kitab ideologis guna membangun taraf berpikir yang cemerlang (al-fikr al-mustanir).
- Tafa'ul Ma'al Ummah (Tahap Berinteraksi dengan Umat): Menyebarkan pemikiran Islam yang murni ke tengah-tengah publik melalui media selembaran buletin pagi ini, agar opini umum yang merindukan syariat terbentuk kuat di dada umat.
- Thalabun Nusrah (Tahap Mencari Dukungan Politik): Menggalang opini dan dukungan dari para pemilik kekuatan riil agar bersedia menyerahkan kepemimpinan secara damai demi diterapkannya hukum Allah ﷻ secara totalitas.
Hanya melalui proses kaderisasi didikan yang sabar dan berjamaah (kutlah siyasi) inilah, pemikiran umat yang awalnya dangkal akan bermutasi menjadi pemikiran seorang Mustanir. Ketika umat sudah sadar secara politik Islam, mereka tidak akan bisa lagi ditipu oleh amplop serangan fajar menjelang pemilu demokrasi.
Allah Swt menggambarkan bahwa segala bentuk kerusakan moral dan ekonomi di bumi ini murni terjadi akibat ulah tangan manusi yang berpaling dari syariat:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (TQS Ar-Rum: 41)
Penutup
Keluh kesah tukang parkir dan jeritan ekonomi rakyat kecil di sekeliling kita adalah bukti konkrit dari kebiadaban sistem kapitalisme sekuler. Menjadi hamba yang acuh tak acuh dan diam di dalam rumah tanpa mau ikut berjuang merubah keadaan adalah kelalaian akidah yang mengerikan. Tugas kita sebagai pengemban dakwah adalah memberikan jawaban ideologis yang tajam setajam silet untuk membongkar kebatilan demokrasi! Mari rapatkan barisan, ajak orang-orang di sekitar antum untuk masuk ke dalam lingkaran halaqah pembinaan, dan berjuanglah sekuat tenaga dengan ekstra kesabaran demi menyongsong kembalinya kehidupan Islam yang mulia di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah.
Wallahu a'lam bishowab. []
Informasi Penerbitan Resmi:
Buletin Dakwah Pagi — Edisi Kamis Wagē, 2 Shafar 1448 H / 16 Juli 2026 M
Dirangkum oleh: Aldy al-Jawi (Aktivis ☕) — Syabab Ciamis
Diselaraskan berdasarkan Ketetapan Sesuai Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)






Posting Komentar untuk "MENJAWAB KELUH KESAH RAKYAT KECIL"