Sering kali kita menyaksikan pemandangan yang sangat memprihatinkan di tengah-tengah umat Islam saat ini. Mayoritas kaum muslimin mengalami disorientasi dan degradasi pemahaman yang sangat akut terhadap agamanya sendiri. Kebodohan yang melanda umat hari ini bukanlah tanpa sebab, melainkan buah langsung dari dicampakkannya syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Ketika sekulerisme dijadikan sebagai asas untuk mengatur interaksi sosial, ekonomi, dan politik, maka secara otomatis nilai-nilai kebenaran wahyu akan tersingkir dan digantikan oleh kebodohan sistemik.
Tragedi kebodohan umat hari ini nampak jelas dari bagaimana hal-hal mendasar dalam beragama tidak lagi dipahami. Urusan kewajiban menutup aurat secara syar'i saja, masih banyak yang abai dan menganggapnya sekadar pilihan gaya hidup atau tradisi kuno. Sungguh amit-amit, kerusakan ini terjadi dari hulu hingga ke hilir. Bagaimana rakyatnya tidak ikut bingung, jika sosok pemimpin atau presidennya sendiri di ruang publik menampilkan performa yang membagongkan, sekadar menghitung urusan matematika dasar saja tidak bisa dan planga-plongo. Ketika pucuk pimpinan kekuasaan saja menampilkan cerminan kualitas yang rendah, maka kondisi rakyat kecil di bawah tentu akan jauh lebih memprihatinkan karena mereka adalah korban dari sebuah sistem pendidikan dan politik yang salah.
Sistem yang salah akan selalu melahirkan masalah baru yang saling mengait. Kebodohan massal ini memicu kembalinya tatanan kehidupan purbakala yang diwarnai oleh hawa nafsu manusia, yang di dalam Al-Qur'an secara tegas diidentikkan dengan hukum jahiliyah. Selama umat ini tidak mau menyadari akar masalahnya, mereka akan terus berputar-putar dalam lingkaran setan penderitaan tanpa pernah menemukan ujung jalan keluar yang hakiki.
Allah Swt mengkritik keras mentalitas manusia yang lebih memilih hukum buatan manusia yang penuh kebodohan dibanding hukum-Nya:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (TQS Al-Ma'idah: 50)
Pendidikan Sekuler: Pabrik Pencetak Robot Industri Kapitalis
Jahiliyah secara makna dasarnya berarti kebodohan, yakni kondisi di mana manusia bertindak tanpa tuntunan ilmu yang bersumber dari Sang Pencipta. Jika kita melihat fenomena kehidupan masyarakat saat ini, dunia pendidikan kita sedang mengalami kekacauan orientasi yang sangat parah. Lembaga pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, tidak lagi difungsikan untuk membentuk manusia yang berkepribadian Islam (syakhshiyah islamiyah) dan menguasai sains untuk kemaslahatan umat.
Sebaliknya, kurikulum sekuler yang diadopsi saat ini mendesain sekolah-sekolah hanya sebagai pabrik atau tempat pelatihan untuk mencetak "robot-robot pekerja". Anak-anak muda didik secara pragmatis agar siap dipekerjakan di berbagai pabrik, korporasi swasta, atau industri milik kapitalis sekuler. Orientasi berpikir mereka dipersempit; yang penting lulus cepat, mendapatkan ijazah, dan segera terserap oleh pasar kerja demi mencari materi duniawi semata.
Akibat dari rusaknya lapangan kerja di dalam negeri yang tidak lagi menjamin kesejahteraan rakyat kecil, banyak pemuda dan intelektual kita yang terpaksa dikirim ke luar negeri, seperti ke Jepang misalnya, hanya demi menghasilkan uang puluhan juta per bulan. Pihak pemerintah bangga menyebut mereka sebagai pahlawan devisa, padahal itu adalah bukti kegagalan negara dalam mengelola sumber daya alam. Apakah dengan cara mengirim pemuda menjadi pekerja di negeri orang lantas umat ini akan bangkit? Tentu saja tidak! Umat tetap saja berada dalam kondisi terpuruk, dan yang lebih merusak adalah mentalitas mereka yang pulang justru menganggap wajar dan membenarkan sistem kapitalisme sekuler yang sedang berjalan saat ini karena merasa telah diuntungkan secara materi. Mereka secara tidak sadar telah menjelma menjadi kacung dari sistem global yang batil.
Kekeliruan Mindset "Perbaiki Akhlak Dulu Baru Umat Bangkit"
Di tengah kebuntuan melihat keterpurukan umat, sering kali muncul narasi-narasi dari sebagian kalangan dai atau ustadz yang menyatakan: "Sudah, kita tidak usah bicara politik atau sistem dulu, fokus saja perbaiki akhlak masing-masing individu, nanti kalau akhlaknya sudah baik, umat otomatis akan bangkit dengan sendirinya." Pemikiran seperti ini sepintas terdengar sangat religius dan menyejukkan hati, namun dalam timbangan pemikiran Islam yang ideologis, mindset tersebut sebenarnya adalah sebuah kekeliruan yang fatal.
Dalam kitab monumental Nizhamul Islam, Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani memberikan kritik yang sangat tajam dan mendasar mengenai konsep kebangkitan masyarakat tersebut. Beliau menjelaskan bahwa akhlak, meskipun kedudukannya sangat mulia dan wajib dimiliki oleh setiap individu muslim, sama sekali tidak menjamin bangkit atau runtuhnya sebuah peradaban masyarakat. Mengapa demikian? Karena masyarakat bukanlah sekadar kumpulan dari individu-individu yang saleh secara personal.
Masyarakat adalah sebuah kesatuan yang dibentuk oleh sekumpulan manusia yang diikat oleh kesamaan pemikiran (mafahim), kesamaan perasaan (masya'ir), serta diterapkannya undang-undang atau peraturan (nizham) yang disepakati bersama untuk mengatur interaksi mereka. Oleh karena itu, sangat keliru jika ada yang mengira bahwa kesalehan individu yang mengurung diri di dalam masjid, tanpa adanya upaya merubah pemikiran dan undang-undang masyarakat, akan mampu melahirkan kebangkitan Islam secara otomatis.
Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan hakikat pembentuk masyarakat dalam kitabnya:
إنَّ المُجْتَمَعَ يَتَكَوَّنُ مِنْ إِنْسَانٍ، وَأَفْكَارٍ، وَمَشَاعِرَ، وَأَنْظِمَةٍ، وَلا يَتَكَوَّنُ مِنْ إِنْسَانٍ فَقَطْ
Sesungguhnya masyarakat itu terbentuk dari manusia, pemikiran-pemikiran, perasaan-perasaan, dan peraturan-peraturan; dan masyarakat tidak terbentuk dari manusia saja. (Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, Kitab Nizhamul Islam)
Mengubah Pemikiran dan Perasaan: Kunci Utama Kebangkitan Peradaban
Jika kita bercita-cita mengakhiri kebodohan sistemik dan mengembalikan kemuliaan Islam, maka fokus perjuangan kita harus diarahkan pada komponen yang memiliki pengaruh paling besar dalam membentuk sebuah peradaban, yaitu mengubah pemikiran dan perasaan umat. Selama pemikiran umat masih sekuler dan menganggap agama terpisah dari politik, maka undang-undang yang lahir dari rahim demokrasi akan terus memproduksi kezaliman dan membodohi rakyat kecil.
Aktivitas dakwah yang utama adalah melakukan tatsqif (pembinaan) untuk menanamkan pemikiran Islam yang radikal (mengakar)—dalam arti mengakar hingga ke akidah—dan cemerlang (mustanir). Pemikiran umat harus dinaikkan tarafnya agar mereka mampu mengindra bahwa penderitaan ekonomi, kerusakan moral, dan kebodohan hari ini bersumber dari satu hulu: diterapkannya hukum buatan manusia.
Bersamaan dengan itu, perasaan umat juga harus disatukan. Umat harus dididik agar memiliki perasaan yang sama; merasa marah ketika hukum Allah dicampakkan, merasa sedih melihat maksiat dilegalkan di sekitar Islamic Center atau tempat publik lainnya, serta memiliki kerinduan yang membuncah terhadap kembalinya kehidupan Islam. Ketika pemikiran dan perasaan umat telah melebur dalam satu visi Islam kaffah, maka dorongan untuk mengganti peraturan yang batil dengan syariat Islam akan menjadi sebuah gerakan perubahan yang tidak terbendung.
Allah Swt. menegaskan bahwa perubahan suatu kaum dimulai dari perubahan apa yang ada dalam pemikiran dan jiwa mereka:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (TQS Ar-Ra'd: 11)
Metode Dakwah Thariqah Kenabian Tanpa Jalan Kekerasan
Membongkar kebodohan sistem sekuler wajib dilakukan dengan menggunakan metode atau sarana operasional (thariqah) yang telah diwariskan oleh Baginda Rasulullah saw. Pengemban dakwah, para syabab, tidak diperbolehkan membuat-buat cara baru yang menyimpang dari sunnatullah perjuangan nabi. Jalur dakwah politik ini telah baku dan terbagi ke dalam tiga tahapan penting yang dijalankan tanpa paksaan fisik maupun aksi kekerasan:
- Tatsqif (Tahap Pembinaan): Membentuk kader-kader dakwah yang memiliki kepribadian Islam yang kokoh dan pemikiran ideologis yang tajam di dalam lingkaran halaqah.
- Tafa'ul Ma'al Ummah (Tahap Berinteraksi dengan Umat): Terjun ke tengah-tengah jalanan, trotoar, kampus, dan pasar untuk melakukan kontak ideologis, menyebarkan selembaran buletin, serta membangun opini umum bahwa syariat Islam adalah satu-satunya solusi kehidupan.
- Thalabun Nusrah (Tahap Mencari Dukungan Politik): Pendekatan kepada pemilik kekuatan riil, tokoh masyarakat, dan militer agar mereka memberikan perlindungan dan menyerahkan kekuasaan secara damai demi diterapkannya hukum Allah secara kaffah.
Melalui thariqah yang murni berbasis pada perang pemikiran (shira'ul fikri) dan perjuangan politik (kifahus siyasi) inilah, Rasulullah saw. berhasil meruntuhkan dominasi jahiliyah Mekkah dan membangun peradaban agung di Madinah. Cara-cara anarkis atau meneror orang lain bukanlah watak dari dakwah Islam. Tugas kita hanyalah menyampaikan argumen yang mencerdaskan dengan sabar dan ikhlas, karena hidayah dan hasil akhir adalah mutlak urusan Allah Swt.
Rasulullah saw. mengingatkan kewajiban mengikuti thariqah beliau dalam melakukan segala amal perbuatan:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Barangsiapa melakukan suatu amal perbuatan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amal tersebut tertolak. (HR Muslim No. 1718)
Penutup
Kesimpulannya, kebodohan massal dan keterpurukan yang melanda umat hari ini tidak akan pernah bisa disembuhkan jika kita hanya berdiam diri dan berfokus pada kesalehan ritual individu semata. Selama sistem demokrasi sekuler kapitalistik masih dipelihara, ia akan terus memproduksi generasi robot yang bodoh secara ideologis. Sudah saatnya kita melek politik Islam, membuang jauh-jauh rasa pesimis, dan ikut terlibat aktif dalam saf perjuangan bersama para pengemban dakwah. Mari kita satukan pemikiran dan perasaan kita di bawah panji Al-Qur'an, demi menyongsong janji Allah Swt. akan tegaknya kembali Daulah Khilafah Islamiyah yang akan menerapkan syariat Islam secara kaffah dan memancarkan cahaya keadilan ke seluruh penjuru alam.
Wallahu a'lam bishowab. []
Informasi Penerbitan:
Buletin Dakwah Subuh — Jum'at Legi, 18 Muharram 1448 H / 3 Juli 2026 M
Disusun berdasarkan Ketetapan Resmi Kalender Islam Global Tunggal


Posting Komentar untuk "KETIKA SYARIAT ISLAM TIDAK DITERAPKAN DALAM SELURUH ASPEK KEHIDUPAN MAKA LAHIRLAH KEBODOHAN‼️"