Ditulis oleh Aldy al-Jawi (mas AL) | Aktivis Dakwah Ideologis
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Sering kali di tengah-tengah masyarakat muncul anggapan bahwa seorang dai, pendakwah, ustadz, gus, kiai, buya, habib, hingga syekh diposisikan layaknya sebuah profesi komersial. Dalam pandangan sekuler-kapitalistik yang mendominasi hari ini, penceramah—terutama mereka yang sudah kondang dan tenar—dianggap sebagai komoditas yang "laku keras" untuk dipanggil mengisi berbagai momentum keagamaan. Mulai dari acara tahunan seperti Muharraman, Muludan setiap bulan Rabiul Awal, Rajaban setiap bulan Rajab, hingga pengajian rutinan pekanan baik hari Jum'at maupun hari Ahad.
Tak jarang, demi mendatangkan penceramah kondang tersebut, pihak panitia harus berhadapan dengan patokan tarif sekian juta rupiah. Realitas pragmatis ini diperparah oleh rusaknya tatanan sistem kapitalisme sekuler yang menjamin kebebasan tanpa batas, hingga melahirkan anekdot sinis sekaligus miris di kalangan masyarakat awam bahwa ustadz itu adalah singkatan dari "Usaha Tara, Duit Aya" (Usaha tidak pernah, tapi uang selalu ada) 🤦♂️. Dakwah yang sejatinya merupakan kewajiban ideologis yang agung, perlahan bergeser maknanya menjadi ladang bisnis pencarian penghasilan dan penumpukan materi keduniawian.
Sebagai penulis artikel ini, saya pribadi sempat mengalami fase di mana masyarakat menokohkan diri ini sebagai seorang yang benar-benar paham agama di tempat perantauan saat ini, di Ciamis kota. Awalnya karena keistiqamahan membagikan lembaran Buletin Kaffah setiap subuh, ditambah lagi saat masyarakat mengetahui latar belakang akademis saya yang menempuh kuliah di kampus Islam, Universitas Islam Darussalam (UID) Ciamis. Anggapan bahwa "Wah, si Mas Aldy mah seorang gus atau kiai" mulai bermunculan tatkala saya diamanahi untuk mengimami shalat di masjid jemaah.
Seiring berjalannya waktu, kepercayaan masyarakat semakin besar hingga saya diminta memimpin acara tahlilan, yasinan, dan doa bersama. Meskipun secara pribadi saya menganut manhaj yang tidak mempraktikkan tahlilan, namun bagi saya ini adalah perkara furu'iyyah (cabang hukum) yang masih diperdebatkan di kalangan ulama. Selama tujuannya adalah untuk menjalin kedekatan (tafa'ul ma'al ummah) dan melakukan kontak emosional dengan umat agar tsaqafah Islam yang murni bisa ditanamkan secara perlahan, ya tidak masalah!
Ujian Keikhlasan: Melawan Arus Pragmatisme Tarif Dakwah Senior
Kepercayaan yang besar dari masyarakat Ciamis ini menuntut saya untuk terus belajar meningkatkan kualitas diri, mulai dari artikulasi bicara hingga teknik public speaking agar dakwah ini disampaikan dengan berwibawa. Di tengah proses belajar tersebut, seorang tetangga kosan sempat memberikan masukan dengan maksud memotivasi, bahwa saya harus bisa tampil cakap agar bisa seperti ustadz-ustadz senior di wilayah ini yang biasanya sekali dipanggil mengisi acara paling kecil di amplopi Rp 100 ribu rupiah.
Mendengar penuturan tersebut, bukan saya makin tertarik atau tergiur. Justru di sinilah saya merasa sedang diuji dengan tantangan yang sangat berat, yaitu menjaga kemurnian niat dan keikhlasan hati. Jangan sampai niat utama dakwah yang suci ini bergeser menjadi ladang mencari penghasilan harian. Saya sadar betul bahwa saya bukan jebolan pondok pesantren, namun entah mengapa masyarakat begitu menokohkan dan menaruh kepercayaan tinggi kepada saya.
Image positif dan amanah ini harus dipertahankan bukan demi gengsi pribadi, melainkan demi mempermudah diterimanya ide-ide Islam secara kaffah. Jika masyarakat sudah dekat dan percaya secara personal, maka penjelasan mengenai wajibnya menerapkan syariat Islam secara kaffah dan mencopot sistem sekuler-demokrasi akan jauh lebih mudah dicerna oleh akal sehat mereka tanpa adanya penolakan.
Menjaga Konsistensi: Integritas Syabab Dakwah di Hadapan Penguasa
Tantangan dakwah di tengah masyarakat sekuler memang membutuhkan suntikan semangat dari sesama pejuang ideologis. Dalam sebuah diskusi hangat ba'da Kajian OBSESI (Obrolan Seputar Islam) malam Jum'at semalam, Ustadz Iyus Shodiqin memberikan kalimat penguat yang sangat membakar semangat untuk menjaga konsistensi gerakan ini di tengah jemaah.
Beliau menyampaikan, "Gak apa-apa meskipun kita bukan dari kalangan pesantren, bukan berlatar belakang anak kiai, gus, atau ustadz formal. Justru boleh jadi kita-kitalah yang benar-benar ikhlas menerapkan dan memperjuangkan Islam di garis depan, dibanding mereka-mereka—oknum ulama senior—yang justru dengan mudahnya dipancing oleh fasilitas penguasa untuk mengeluarkan fatwa pesanan guna membenarkan kezaliman dan sistem batil yang sedang berjalan."
Pernyataan ideologis dari Ustadz Iyus tersebut menjadi tamparan sekaligus alarm pengingat bagi setiap pengemban dakwah. Integritas seorang dai diuji ketika ia berani menyuarakan kebenaran di hadapan penguasa zalim (kifahus siyasi), bukan justru menggadaikan ayat-ayat Allah Swt demi mendapatkan bagian kue kekuasaan atau amplop tebal dari para oligarki. Dakwah adalah aktivitas menolong agama Allah Swt, dan menolong agama-Nya adalah kewajiban mutlak bagi setiap muslim yang mengaku beriman bukan hanya berlaku untuk seorang kyai, gus, ustadz atau bahkan ulama saja.
Allah Swt menegaskan esensi dakwah sebagai sebaik-baiknya perkataan manusia di muka bumi:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, "Sungguh, aku termasuk orang-orang yang muslim (berserah diri)?" (TQS Fussilat: 33)
Konsep Rezeki dalam Dakwah: Amplop Adalah Bonus, Rida Allah adalah Fokus
Ustadz Iyus Shodiqin juga menekankan sebuah prinsip fikih yang sangat jernih terkait aspek finansial dalam dakwah. Jika dalam suatu waktu setelah mengisi pengajian masyarakat memberikan amplop atau sekadar rokok sebungkus, maka posisikan pemberian tersebut murni sebatas bonus atau rezeki yang datangnya dari Allah Swt, bukan karena dari awal hati kita telah mengharap-harapkan pemberian tersebut. Ada atau tidak adanya amplop tidak boleh menjadi variabel yang memengaruhi naik turunnya semangat dakwah seorang syabab.
Apabila di suatu hari masyarakat membutuhkan kehadiran kita untuk mengisi kajian ilmu dan ternyata tidak ada amplop atau fasilitas materi sama sekali, performa dan gairah dakwah kita tidak boleh menurun sedikit pun! Sebab, yang kita kejar dan buru di dalam lingkaran halaqah dan majelis taklim ini bukanlah lembaran rupiah, melainkan murni demi meraih rida Allah Swt semata. Terkait pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, seorang pejuang tidak perlu merasa khawatir atau cemas secara berlebihan. Selama kita fokus menolong agama Allah Swt, maka urusan rezeki dan kecukupan hidup di dunia dijamin akan Allah Swt penuhi dengan jalan-jalan-Nya yang tidak disangka-sangka.
Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat keras terhadap orang-orang yang mengomersialkan agama demi kepentingan materi duniawi:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Barangsiapa yang menuntut ilmu yang seharusmya ditujukan untuk mencari rida Allah 'Azza wa Jalla, namun ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mencium wewangian surga pada hari kiamat. (HR Abu Dawud No. 3664)
Penutup
Dakwah adalah sebuah kewajiban ideologis yang agung dan tidak boleh dinilai dengan materi duniawi. Mengubah panggung pengajian menjadi ladang komersial bertarif adalah bentuk kedangkalan berpikir yang diproduksi oleh cara pandang sistem kapitalisme sekuler. Sebagai garda terdepan perubahan, para pengemban dakwah harus terus menjaga kemurnian niat, keikhlasan hati, serta konsistensi gerak di tengah-tengah umat. Mari kita bangun kedekatan dengan masyarakat, bimbing pemikiran mereka dari taraf dangkal menuju taraf berpikir yang cemerlang (mustanir), agar jemaah sadar bahwa syariat Islam wajib diterapkan secara totalitas (kaffah) dalam seluruh lini kehidupan, dan bukan diterapkan setengah-setengah seperti sekarang.
Wallahu a'lam bishowab. []
Informasi Penerbitan:
Buletin Dakwah Kaffah — Edisi Jum'at Pon, 25 Muharram 1448 H / 10 Juli 2026 M
Dirangkum oleh: Aldy al-Jawi (Aktivis ☕) — Syabab Ciamis
Diselaraskan berdasarkan Ketetapan Resmi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)




Posting Komentar untuk "DAKWAH ITU KEWAJIBAN BUKAN LADANG MENCARI PENGHASILAN‼️🤦♂️"