ALON-ALON WATON KELAKON





بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Buletin Jawi Edisi Tigolas [13] (Ngahad Kliwon, 27 Muharram 1448 H / 26 Suro 1960 BE | 12 Juli 2026 M)


Ora gampang, sungguh tidak mudah ketika kita mengemban amanah untuk mengubah pemahaman (mafahim) seseorang yang semula buta terhadap syariat menjadi paham dan sadar akan kewajibannya sebagai seorang muslim. Mengubah apa yang ada di dalam isi kepala manusia membutuhkan proses didikan yang berkesinambungan dan tidak bisa dilakukan secara instan atau terburu-buru. Dalam falsafah Jawa yang adiluhung, perjuangan menyadarkan umat ini harus dijalani dengan prinsip alon-alon waton kelakon. Maknanya bukan santai tanpa target, melainkan bergerak secara sabar, telaten, bertahap, namun memiliki visi yang jelas dan konsisten hingga tujuan agung itu benar-benar terwujud.
Contoh sederhana saja, ketika kita melihat fenomena di lingkungan sekitar, ada seorang pria yang jika keluar rumah terbiasa memakai celana kolor pendek yang memperlihatkan bagian pahanya ke mana-mana. Padahal, di dalam batas ketetapan syariat Islam, batasan aurat laki-laki itu sudah sangat jelas, yaitu mulai dari bawah pusar hingga ke atas lutut. Menghadapi fakta tersebut, kita sebagai pengemban dakwah tidak boleh langsung menjustifikasi orang tersebut secara kasar sebagai "pendosa", "ahli maksiat", atau bahkan dengan ringannya menganggap dia kafir dan pasti masuk neraka. Mboten pareng, jangan sampai kita bersikap demikian!
Bisa jadi dia melakukan hal tersebut karena murni belum paham, sebab tingkat pemahaman agama yang ia terima selama hidup di bawah kurikulum sekuler memang cuma segitu-gitunya. Di sinilah kedewasaan berpikir kita diuji. Satu sisi, kita harus mampu memaklumi kondisi psikologis umat yang hidup dalam kepungan sistem kapitalistik saat ini. Sebagaimana yang sering kita bahas dalam lingkaran halaqah, sistem kehidupan yang mengatur kita saat ini dari pusat kekuasaan memang sudah salah arah, sehingga secara otomatis akan selalu memproduksi berbagai masalah sosial dan kerusakan moral secara massal. Meskipun secara fitrah, sejatinya individu-individu itu tentu menginginkan yang terbaik bagi dirinya dan tidak ingin menjadi orang salah.


Potret Kelam Jahiliah Modern: Dari Kesyirikan Hukum Hingga Wabah LGBT

Kerusakan struktural yang saat ini terjadi di tengah-tengah peradaban sekuler sudah nampak begitu telanjang di hadapan kita. Kita sedang hidup di era jahiliah modern, di mana berbagai penyimpangan dan praktik kesyirikan masih subur dipelihara. Ironisnya, masih banyak kaum muslimin yang mengaku beriman namun ramalan nasib, zodiak, dan pemberian sesajen masih dipercaya dan dinormalisasi dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih jauh dari sekadar syirik ritual, bentuk kesyirikan terbesar yang mendominasi hari ini adalah kesyirikan politik—yaitu ketika manusia menganggap ada hukum buatan manusia (seperti hukum demokrasi) yang jauh lebih baik, lebih relevan, dan lebih adil daripada hukum yang diturunkan oleh Allah ﷻ. Ini adalah bentuk kelancangan akidah yang luar biasa. Manusia mengambil hak prerogatif Allah ﷻ sebagai satu-satunya Zat Pembuat Hukum (Al-Hakim).
Dampak dari dicampakkannya wahyu ini melahirkan kerusakan moral yang sangat destruktif. Perzinaan merajalela, prostitusi dianggap ladang ekonomi, dan yang paling parah serta sedang ramai diperbincangkan hari ini adalah penyimpangan perilaku kaum LGBT. Suka sesama jenis, gay, lesbian, dan perilaku abnormal lainnya kini menuntut panggung legalitas atas nama HAM Barat.
Umat harus disadarkan bahwa wabah LGBT ini bukan sekadar urusan kebebasan orientasi seksual pribadi, melainkan sebuah gerakan sistemik yang merusak akidah, menghancurkan akal sehat, dan menabrak fitrah dasar penciptaan manusia! Ketika manusia menolak diatur oleh aturan Penciptanya, mereka akan bertingkah laku lebih rendah dan lebih sesat daripada binatang.
Gusti Allah Swt mengkritik keras manusia yang berpaling dari hukum-Nya demi memeluk aturan purbakala yang penuh hawa nafsu:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (TQS Al-Ma'idah: 50)


"Dhoharol Fasadu": Ketika Kerusakan Alam Akibat Ulah Tangan Manusia

Jika kita merenung lebih dalam, segala bentuk krisis sosial, tawuran remaja, hancurnya institusi keluarga, hingga bencana alam yang bertubi-tubi melanda negeri ini bukanlah sebuah siklus alam biasa. Ini adalah jawaban fisik dari alam atas kemaksiatan ideologis yang dipelihara oleh negara. Ketika hukum Islam dipenjara hanya sebatas di dalam ruang ibadah ritual masjid, sementara ruang publik, ekonomi, dan politik diserahkan kepada keserakahan sistem kapitalisme, maka kerusakan tatanan hidup adalah sebuah keniscayaan yang mutlak terjadi.
Ketiadaan syariat membuat para pemilik modal (oligarki) bebas mengeruk dan merusak kekayaan alam demi menumpuk keuntungan pribadi, sementara rakyat kecil dipaksa hidup sengsara di bawah impitan ekonomi yang kian menjepit.
Gusti Allah Swt telah menggambarkan hubungan sebab-akibat antara kemaksiatan sistemik manusia dengan rusaknya ekosistem bumi dalam firman-Nya:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (TQS Ar-Rum: 41)


"Ma'isyatan Dhanka": Kenyataan Pahit Hidup dalam Sempitnya Sistem Sekuler

Akibat nyata dari pembiaran sistem kufur ini kini dirasakan langsung oleh rakyat alit dalam kehidupan sehari-hari berupa Ma'isyatan Dhanka, yaitu kehidupan yang sempit, serba sulit, dan penuh dengan penderitaan. Tengoklah bagaimana kondisi hari ini; harga sembako kian melonjak naik, bensin Pertamax mahal, iuran ditarik dari berbagai lini, lapangan kerja sulit, sementara uang rakyat dikorupsi secara berjamaah lewat berbagai proyek pemerintah seperti korupsi program MBG.
Ini adalah bentuk bayaran tunai di dunia yang Allah Swt timpakan karena kita sebagai sebuah bangsa telah berpaling dari peringatan Al-Qur'an. Selama kemudi negara ini masih diserahkan kepada hukum demokrasi sekuler, maka janji kesejahteraan yang diobral setiap menjelang pemilu melalui bagi-bagi amplop serangan fajar hanyalah tipuan belaka. Umat akan terus tenggelam dalam kesempitan hidup selama mereka menolak diatur oleh syariat Islam secara kaffah.
Gusti Allah Swt memberikan kepastian hukum mengenai nasib bangsa yang menolak hukum-Nya:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit. (TQS Taha: 124)


Penutup: Kembali Kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah Secara Kaffah

Oleh karena itu, satu-satunya solusi hakiki dan jalan keluar tunggal untuk mengakhiri seluruh lingkaran setan persoalan ini adalah dengan kembali total kepada hukum dan aturan Allah Swt, kembali kepada tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Caranya tidak bisa dipotong-potong, melainkan dengan menerapkan syariat Islam secara menyeluruh (kaffah) dalam segala aspek kehidupan; baik dalam sistem ekonomi bebas riba, sistem pergaulan yang mulia, hingga sistem siyasah politik negara. Dan hal itu hanya akan mewujud nyata di bawah kepemimpinan institusi Daulah Khilafah Islamiyah.
Perjuangan merubah pemikiran umat menuju kesadaran kaffah ini memang membutuhkan ekstra kesabaran. Kita harus memegang prinsip alon-alon waton kelakon—membina umat setahap demi setahap melalui media buletin subuh ini dengan penuh keikhlasan, tanpa rasa bosan, dan tanpa jalan kekerasan. Tugas kita hanyalah mengupayakan perjuangan dakwah politik ini di tengah masyarakat, karena urusan hasil akhir dan hidayah sepenuhnya ada di tangan Allah Swt. Teruslah melangkah, rapatkan barisan, dan bimbing umat menuju cahaya kebenaran Islam yang agung.
Wallahu a'lam bishowab. []

Informasi Penerbitan:
Buletin Jawi Edisi Tigolas — Ngahad Kliwon, 27 Muharram 1448 H / 12 Juli 2026 M
Dirangkum oleh: Aldy al-Jawi (mas AL) — Syabab Ciamis
Diselaraskan dumasar kalyan Katetapan Resmi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)



Posting Komentar untuk "ALON-ALON WATON KELAKON"