Pada hakikatnya, setiap manusia yang lahir ke dunia ini diciptakan dalam keadaan fitrah dan memiliki kecenderungan alami untuk memilih jalan kebaikan. Setiap individu, sedalam apa pun ia terjebak dalam kelalaian, tentu tidak ada yang benar-benar ingin menjadi orang salah atau dicap sebagai pelaku kemaksiatan. Begitu pula dengan orang tua kita; sebodoh atau se-awam apa pun pemahaman agama mereka terdahulu, pasti di dalam lubuk hatinya yang paling dalam tidak pernah menginginkan anak-anaknya ikut-ikutan menjadi bodoh atau sengsara. Namun, mengapa realitas di lapangan hari ini justru berbanding terbalik? Mengapa kemerosotan moral, kebodohan beragama, dan kerusakan perilaku justru melanda generasi muda secara masif?
Jawabannya ada pada satu kesimpulan mendasar: karena sistem kehidupan sekuler (yang memisahkan agama dengan kehidupan) saat ini yang selalu memaksa kita semua untuk berbuat salah! Mau sesoleh apa pun kepribadian seorang individu secara personal, jika ia hidup dan bernapas di dalam atmosfer aturan kapitalistik yang rusak, ia akan terus-menerus terjepit dan dipaksa untuk berkompromi dengan kesalahan. Anggapan dari sebagian kalangan yang menyatakan bahwa kita cukup "fokus perbaiki diri sendiri dan keluarga saja" memang terdengar bagus di telinga, namun dalam kacamata perubahan sosial, formula tersebut kurang tepat dan tidak akan pernah menyelesaikan masalah hingga ke akarnya.
Yang tepat dan menjadi kunci utama kebangkitan adalah perbaiki dulu sistem hukum dan aturan negaranya! Ketika sistem aturannya sudah benar dan berlandaskan syariat, maka individu-individu di dalamnya secara otomatis akan ikut menjadi baik karena tabiat dari sebuah sistem adalah mengikat dan memaksa setiap orang di dalamnya untuk patuh. Mengharapkan kesolehan massal tumbuh subur di dalam pelukan sistem demokrasi sekuler yang membuang hukum agama, sama saja seperti berharap menanam padi yang subur di atas tanah yang kering gersang dan penuh racun.
Menghidupkan Pertanyaan "Why?": Pintu Gerbang Menuju Taraf Berpikir Cemerlang
Dalam menghadapi potret buram kerusakan di tengah masyarakat, seorang muslim tidak boleh menjadi pengamat yang pasif atau sekadar mengeluh tanpa arah. Kita harus membiasakan akal kita untuk selalu memunculkan pertanyaan kritis: "Why?" atau "Kenapa hal ini bisa terjadi?" Jangan hanya melihat gejala di permukaan lalu dengan mudahnya menghakimi orang lain. Ketika melihat anak-anak muda mabuk di sekitar kawasan wisata, perempuan membuka aurat di area publik, atau maraknya praktik pinjol dan riba di kalangan ibu-ibu, bertanyalah: Kenapa mereka sampai melakukan hal itu?
Melalui pembiasaan berpikir kritis seperti inilah, taraf berpikir kita akan dinaikkan menuju level tertinggi, yaitu taraf berpikir cemerlang (al-fikr al-mustanir). Ketika pemikiran kita sudah mustanir, kita tidak akan lagi sibuk menyalahkan individu per individu sebagai satu-satunya penyebab kerusakan. Kita akan mampu memaklumi bahwa mereka sebenarnya adalah korban dari sistem pendidikan dan sistem ekonomi kapitalis yang tidak menyediakan ruang bagi mereka untuk hidup sejahtera dan taat.
Ujung dari kesadaran sistemik ini akan melahirkan sifat sabar dan ikhlas yang luar biasa di dalam dada para pengemban dakwah. Kita menjadi paham bahwa keadaanlah yang memaksa mereka secara tidak langsung dituntut berbuat demikian untuk bertahan hidup. Kita tidak lagi menghadapi umat dengan kemarahan atau kesombongan diri merasa paling shaleh, melainkan menghadapinya dengan rasa kasih sayang untuk merangkul dan mendidik mereka keluar dari labirin sistem yang rusak ini.
Allah Swt mengingatkan manusia untuk selalu menggunakan akal pikirannya secara mendalam guna mengamati kerusakan:
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا
Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami? (TQS Al-Hajj: 46)
Rusaknya Sistem Kapitalis: Pabrik Kemiskinan dan Kebodohan Struktural
Kita harus sampaikan secara gamblang kepada masyarakat dengan bahasa yang santai namun menghujam, bahwa sistem kapitalis-sekuler yang hari ini mendominasi negeri-negeri kaum muslimin, termasuk di Indonesia, telah terbukti secara sah dan meyakinkan membuat umat Islam berada dalam keadaan terpuruk. Keterpurukan ini nampak jelas dari meratanya kemiskinan, kebodohan ideologis, pengangguran massal, perasaan tidak berdaya, hingga hilangnya harga diri bangsa di hadapan asing. Kapitalisme mendesain aturan agar kekayaan alam yang melimpah hanya berputar di segelintir tangan para oligarki, sementara rakyat kecil diperas melalui berbagai pungutan pajak dan iuran yang mencekik.
Kemiskinan yang diciptakan oleh kapitalisme bukan lagi sekadar kemiskinan kultural karena malas bekerja, melainkan sudah menjadi kemiskinan struktural akibat kebijakan undang-undang yang zalim. Ketika perut rakyat lapar dan kebutuhan pokok serba mahal, iman seseorang akan sangat mudah goyah. Demi menyambung hidup dan membiayai sekolah anak, seseorang akhirnya terpaksa mengambil jalan pintas yang diharamkan syariat—seperti mencuri, menipu, atau menjeratkan diri pada lingkaran riba. Inilah yang dimaksud bahwa aturan yang salah akan memaksa orang baik sekalipun untuk ikut berbuat salah. Jika pabrik pembuat kesalahannya (sistem sekuler) tidak dihancurkan, maka kemungkaraan akan terus diproduksi secara massal setiap harinya.
Penutup: Fokus Pada Proses Perjuangan, Hasil Akhir Milik Allah Swt
Kesimpulannya, kita tidak boleh menyerah pada keadaan yang rusak atau memilih mundur dari medan pertempuran pemikiran ini. Meskipun sistem hari ini memaksa kita untuk salah, tugas kita sebagai pengemban dakwah adalah mengupayakan sekuat tenaga untuk berjuang mengubah keadaan tersebut menuju tatanan yang diridai oleh Allah ﷺ. Perubahan mendasar tersebut hanya akan terwujud nyata apabila syariat Islam diterapkan secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan melalui institusi Daulah Khilafah Islamiyah.
Umat harus ditenangkan hatinya bahwa dalam urusan dakwah ini, masalah hasil akhir atau apakah kita akan menyaksikan kemenangan tersebut di masa hidup kita, itu adalah mutlak hak prerogatif dan urusan Allah Swt, bukan urusan manusia. Kewajiban kita di hadapan mahkamah-Nya kelak sudah dinyatakan gugur dan selesai seketika kita mau melangkah melibatkan diri dalam saf perjuangan ini. Selama kita konsisten mendidik umat dan membongkar kebatilan sistem sekuler ini dengan ikhlas, maka pahala yang besar dan rida Allah Swt di akhirat sudah pasti akan kita kantongi. Mari terus bergerak, cerdaskan umat, dan jangan biarkan diri kita diam tergilas oleh sistem yang salah!
Wallahu a'lam bishowab. []
Informasi Penerbitan:
Buletin Dakwah Ideologis — Edisi Sabtu Wagē, 26 Muharram 1448 H / 11 Juli 2026 M
Ditulis oleh: Aldy al-Jawi (Aktivis ☕) — Syabab Ciamis
Diselaraskan berdasarkan Ketetapan Resmi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)


Posting Komentar untuk "SETIAP ORANG TENTU TIDAK INGIN MENJADI SALAH, HANYA SAJA SISTEM KEHIDUPAN YANG SELALU MEMAKSA KITA UNTUK SALAH🥀"