بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Buletin Kaffah Edisi 446 (19 Dzulhijjah 1447 H / 5 Juni 2026)
Menteri Agama Nasaruddin Umar baru-baru ini menyatakan bahwa di era post-truth saat ini, menjadi tokoh agama tidaklah mudah. Menurut dia, dulu ketika tokoh agama berbicara, masyarakat cenderung mengikuti, tetapi sekarang tidak selalu demikian. Pasalnya, opini publik, media dan berbagai pengaruh lain sering lebih dominan. Karena itu, menurut dia, saat ini merujuk pada kitab suci saja tidaklah cukup untuk meyakinkan masyarakat. Para intelektual keagamaan harus memiliki kemampuan plus agar tetap relevan di tengah lingkungan yang semakin rasional dan liberal (Tribunnews.com, 31/5/2026).
Pandangan seperti ini lahir dari kenyataan bahwa perkembangan teknologi informasi dan media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Sesuatu yang viral sering dianggap benar meskipun tidak memiliki dasar yang kuat. Fenomena inilah yang dikenal sebagai era post-truth. Inilah era saat emosi, persepsi dan opini lebih berpengaruh daripada fakta dan kebenaran objektif.
Apa Itu Era Post-Truth?
Istilah era “post-truth” cukup populer dalam kajian politik, media dan komunikasi. Secara sederhana, post-truth adalah kondisi ketika fakta objektif tidak lagi menjadi faktor utama dalam membentuk opini publik.
Karena itu, ketika Menteri Agama menyebut era post-truth, yang ia maksud adalah bahwa saat ini pendapat ulama atau tokoh agama tidak otomatis diterima oleh masyarakat. Banyak orang lebih mempercayai konten media sosial, influencer, atau opini yang viral.
Karena itu ada yang berpendapat bahwa para pemuka agama harus meningkatkan kemampuan komunikasi publik agar masyarakat tidak menjauh dari agama. Tentu kemampuan komunikasi adalah hal yang baik dan diperlukan. Akan tetapi, jika persoalan umat hari ini hanya dipandang sebagai masalah komunikasi, analisis semacam ini sesungguhnya belum menyentuh akar masalah yang sebenarnya.
Perspektif Islam
Sebagai fenomena sosial, istilah post-truth memang menggambarkan kenyataan bahwa banyak orang mengikuti prasangka, emosi atau opini yang populer. Akan tetapi, al-Quran sejak awal telah memperingatkan bahaya sikap semacam itu:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ
Jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Mereka tidak mengikuti kecuali hanya prasangka saja (TQS al-An'am [6]: 116).
Allah SWT juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa berita, maka telitilah terlebih dulu (TQS al-Hujurat [49]: 6).
Karena itu, dari sudut pandang Islam, solusi atas fenomena post-truth bukan hanya meningkatkan keterampilan komunikasi, tetapi juga membangun masyarakat yang menjadikan wahyu sebagai standar kebenaran. Ketika ukuran benar dan salah dikembalikan pada al-Quran dan as-Sunnah, maka kebenaran tidak ditentukan oleh banyaknya "like", "share", atau "view". Kebenaran diukur oleh al-Quran dan as-Sunnah. Bukan oleh popularitas, viralitas, atau sentimen emosional. Kebenaran juga bukan ditentukan oleh suara mayoritas di parlemen sebagaimana dalam sistem demokrasi saat ini.
Al-Quran Satu-satunya Standar Kebenaran
Kaum Muslim wajib meyakini bahwa hanya al-Quran satu-satunya standar kebenaran. Pasalnya, al-Quran bukan sekadar kitab suci yang berisi nasihat moral. Ia adalah wahyu Allah SWT yang diturunkan untuk menjadi petunjuk hidup manusia (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 2).
Al-Quran juga adalah satu-satunya kitab suci yang dijamin keasliannya oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Sesungguhnya Kamilah Yang menurunkan al-Quran dan sesungguhnya Kami pun benar-benar menjadi Penjaganya (TQS al-Hijr [15]: 9).
Al-Quran pun menjawab seluruh kebutuhan hidup manusia. Allah SWT berfirman:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ
Kami telah menurunkan al-Kitab (al-Quran) kepada kamu untuk menjelaskan segala sesuatu (TQS an-Nahl [16]: 89).
Karena itu berpaling dari petunjuk al-Quran menjadi sebab kesengsaraan hidup manusia. Allah SWT berfirman:
فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
Siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Sebaliknya, siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran) maka sungguh bagi dia kehidupan yang sempit (TQS Thaha [20]: 123-124).
Sayangnya, hari ini umat dan terutama para penguasanya justru semakin jauh dari petunjuk al-Quran.
Akar Persoalan Umat
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa masyarakat tidak sekadar kumpulan manusia. Masyarakat dibentuk oleh sekumpulan pemikiran, perasaan dan aturan-aturan. Dengan kata lain masyarakat dibangun oleh tiga unsur: pemikiran (afkar); perasaan (masya'ir); aturan kehidupan (anzhimah). Ketika ketiga unsur ini bersumber dari Islam, akan lahir masyarakat Islam. Sebaliknya, ketika ketiganya bersumber dari ideologi Kapitalisme, misalnya, akan lahir masyarakat kapitalistik meskipun mayoritas penduduknya Muslim.
Sayangnya, hari ini negara-negara Muslim, termasuk Indonesia, menerapkan sistem Kapitalisme yang berasaskan sekularisme. Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, agama hanya ditempatkan di masjid, mushala, pesantren dan ruang ibadah. Adapun politik, ekonomi, pendidikan, media, hukum dan pergaulan sosial diatur dengan pemikiran manusia.
Saat ini pemikiran masyarakat dibentuk oleh Kapitalisme. Perasaan masyarakat juga dibentuk oleh Kapitalisme. standar perbuatan masyarakat pun dibentuk oleh kapitalisme. Tidak mengherankan jika opini media sosial sering lebih dipercaya daripada nasihat ulama. Sebabnya, masyarakat setiap hari dibentuk oleh sistem kehidupan kapitalis-sekuler.
Dakwah Saja Tidak Cukup
Tentu dakwah kepada masyarakat tetap wajib dilakukan. Allah SWT berfirman:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Hendaklah ada segolongan umat yang menyerukan kebajikan (Islam) dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Merekalah kaum yang beruntung (TQS Ali Imran [3]: 104).
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ
Siapa saja di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah (kemungkaran itu) dengan tangannya. Jika tidak mampu maka (ubahlah kemungkaran itu) dengan lisannya (HR Muslim).
Akan tetapi, harus dipahami bahwa dakwah kepada individu-individu saja tidak cukup jika negara terus mempertahankan sistem Kapitalisme-sekuler. Ini ibarat seseorang yang membersihkan air di hilir sungai, sementara dari hulu terus mengalir limbah dan kotoran.
Karena itu Rasulullah ﷺ tidak hanya berdakwah membina individu-individu di Makkah. Beliau juga berjuang menegakkan Negara Islam di Madinah sehingga syariah Islam dapat diterapkan secara sempurna. Inilah, antara lain, yang menjadikan para ulama mewajibkan kaum Muslim untuk membangun kekuasaan Islam atau sistem pemerintahan Islam (Negara Islam). Hal ini semata-mata demi meneladani apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. Apalagi faktanya, tanpa kekuasaan Islam, al-Quran mustahil bisa diterapkan secara sempurna. Karena itulah Imam al-Ghazali menyatakan:
الدِّينُ أَسَاسٌ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ، وَمَا لَا أَسَاسَ لَهُ فَمَهْدُومٌ، وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعُ
Agama adalah fondasi dan kekuasaan adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki fondasi akan runtuh dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan rubuh (Al-Ghazali, Al-Iqtishad fi al-I'tiqad, 1/76).
Pernyataan ini sangat relevan dengan kondisi saat ini. Dakwah memang penting, tetapi dakwah akan selalu menghadapi hambatan besar jika sistem yang berlaku justru memproduksi pemikiran dan budaya yang bertentangan dengan Islam. Karena itu, sekali lagi perlu ditegaskan, di sinilah penting dan wajibnya kekuasaan Islam ditegakkan.
Mengapa Dakwah Sering Tidak Efektif?
Banyak orang bertanya, mengapa ceramah, kajian dan dakwah begitu banyak, tetapi kerusakan moral malah makin meningkat? Jawabannya: karena sumber pembentukan opini masyarakat bukan hanya masjid dan majelis ilmu. Masyarakat setiap hari dibentuk oleh: sistem pendidikan, media massa, media sosial, industri hiburan, sistem ekonomi, sistem hukum dan kebijakan negara.
Jika seluruh instrumen tersebut dibangun dan dibentuk oleh ideologi Kapitalisme, maka yang terus diproduksi adalah cara pandang kapitalistik. Akibatnya, umat mendengar dakwah Islam satu atau dua jam setiap pekan, tetapi menerima pengaruh ideologi Kapitalisme puluhan jam setiap hari.
Di sinilah pentingnya perubahan yang bersifat mendasar dan menyeluruh. Tentu perubahan ke arah penerapan Islam secara kaffah.
Karena itu tugas para tokoh agama tidak cukup hanya memperbanyak kajian atau memperbaiki teknik komunikasi dakwah. Yang lebih mendasar adalah bagaimana mengajak umat ini untuk mengembalikan Islam sebagai dasar pengaturan kehidupan masyarakat dan negara.
Al-Quran Harus Memimpin
Karena itu solusi hakiki atas krisis umat hari ini adalah mengembalikan al-Quran sebagai pemimpin kehidupan. Ketika al-Quran memimpin pemikiran, perasaan dan aturan hidup manusia, maka lahirlah masyarakat yang menjadikan ridha Allah SWT sebagai tujuan hidup mereka.
Sebaliknya, selama Kapitalisme-Sekuler seperti saat ini tetap menjadi dasar kehidupan maka pemikiran, perasaan dan perilaku masyarakat akan terus dibentuk oleh Kapitalisme, meskipun dakwah terus dilakukan.
Inilah sebabnya mengapa umat harus dipimpin oleh al-Qur'an. Bukan oleh hawa nafsu manusia atau ideologi buatan manusia. Sebabnya, hanya wahyu Allah SWT yang mampu membimbing manusia menuju kebahagiaan didunia dan keselamatan di akhirat.
WalLâhu a'lam bi ash-shawâb.[]
_________________________________________________
PEMBUNUHAN TERUS BERLANJUT DI BULAN DZULHIJJAH
Di saat kaum Muslimin memasuki bulan suci Dzulhijjah dengan harapan meraih ampunan dan rahmat Allah, darah umat Islam di Palestina dan Lebanon justru terus mengalir tanpa henti di tangan Zionis Yahudi. Di Gaza, jeritan para ibu tak pernah reda, anak-anak syahid bergelimpangan di bawah reruntuhan rumah yang dibombardir, sementara banyak jasad masih tertimbun puing dan belum mampu dijangkau tim medis yang serba terbatas. Dalam 48 jam terakhir saja, 13 Muslim kembali syahid dan puluhan lainnya terluka, menambah deretan panjang tragedi sejak 7 Oktober 2023 yang telah merenggut lebih dari 72 ribu nyawa dan melukai ratusan ribu lainnya. Di Lebanon, dentuman rudal dan serangan drone terus menghantam wilayah selatan, kendaraan sipil dibakar, anak-anak dibunuh, dan keluarga-keluarga tercerai-berai oleh serangan brutal yang tak mengenal belas kasihan.
Timur Tengah kembali berada di ambang eskalasi besar setelah Donald Trump mengancam Iran dan menyebut “waktu terus berdetak” untuk mencapai kesepakatan dengan AS, sementara Israel berada dalam status siaga tinggi dan siap bergabung dalam kemungkinan serangan baru terhadap Iran. Pembicaraan Trump dengan Benjamin Netanyahu semakin memperkuat sinyal perang, terlebih Israel disebut tengah menyiapkan serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Peristiwa penting lainnya adalah pertemuan menteri luar negeri BRICS di India yang membahas perang Iran dan kembali memunculkan perdebatan tentang posisi dunia Islam di tengah persaingan global. Pandangan ini menegaskan bahwa umat Islam sebenarnya memiliki kekayaan alam, posisi strategis, kekuatan militer, dan sumber daya manusia yang cukup untuk mandiri tanpa bergantung pada organisasi internasional seperti G20, G7, G8 maupun PBB. Namun, kelemahan umat saat ini justru berasal dari ketergantungan para penguasa Muslim kepada kekuatan Barat dan Timur sehingga kemandirian politik umat terus melemah.
Yang dibutuhkan umat hanyalah bersatu kembali untuk membentuk kekuatan besar yang layak memimpin dunia. Namun, para penguasa saat ini tidak akan membiarkan hal itu terjadi selama mereka tetap mempertahankan keyakinan dan kekuasaan mereka. Karena itu, umat harus bergerak untuk menyingkirkan mereka dari singgasana kekuasaan dan mengangkat seorang khalifah yang lurus, yang akan mengembalikan persatuan, kekuatan, dan kemuliaan umat Islam. Allah SWT berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A'raf: 96).
Allahu Akbar. []
Hikmah
Rasulullah saw. bersabda:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara, kalian tidak akan pernah tersesat selamanya jika kalian berpegang teguh pada keduanya: Kitabullah (al-Quran) dan Sunnah Nabi-Nya (al-Hadis). (HR Malik). []



Posting Komentar untuk "UMAT HARUS DIPIMPIN AL-QURAN"