Sering kali para pengemban dakwah dihadapkan pada realitas penolakan, sikap abai, atau bahkan cibiran dari tengah-tengah masyarakat saat menyuarakan kewajiban penerapan syariat Islam secara kaffah. Dalam menghadapi dinamika ini, seorang syabab (pemuda pejuang) harus memiliki kesadaran makro yang jernih bahwa hidayah dan hasil akhir dari perjuangan sepenuhnya adalah hak prerogatif Allah Swt. Tugas utama kaum muslimin hanyalah mengupayakan, menyampaikan, dan memperjuangkan kebenaran tersebut dengan cara yang syar’i, bukan memaksakan kehendak atau hasil akhir kepada manusia.
Di sinilah letak keadilan Allah Swt. yang maha sempurna. Di dalam mahkamah-Nya kelak, setiap manusia akan dinilai dan diganjar pahala berdasarkan proses, kesungguhan, serta konsistensi mereka dalam menapaki jalan dakwah, bukan berdasarkan apakah target dakwah tersebut berhasil mewujud di masa hidupnya atau tidak. Ketika kebenaran telah disampaikan secara gamblang, maka manusia dibebaskan untuk memilih jalannya masing-masing. Mau menyambut seruan ini, memilih menjadi penonton yang pasif, atau bahkan mengambil posisi sebagai pembenci yang aktif menghalangi tegaknya agama Allah, semuanya adalah pilihan bebas yang konsekuensinya wajib dipertanggungjawabkan secara personal di hadapan-Nya.
Allah Swt. menegaskan batasan tugas Rasul-Nya yang juga menjadi batasan bagi umatnya dalam berdakwah:
فَاِنْ اَعْرَضُوْا فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًاۗ اِنْ عَلَيْكَ اِلَّا الْبَلٰغُۗ
Jika mereka berpaling, maka Kami tidak mengutus engkau sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan. (TQS Asy-Syura: 48)
------------------------------
Bahaya Defitisme: Meragukan Janji Allah dan Ancaman Yaumul Hisab
Al-Qur'an secara visual dan tekstual telah banyak mengabarkan tentang penyesalan yang luar biasa dari orang-orang yang semasa hidupnya memilih abai terhadap urusan penegakan agama. Hari ini, jamak terdengar narasi-narasi defitisme (sikap pesimis) yang keluar dari lisan sebagian kaum muslimin sendiri, seperti ungkapan: "Syariat Islam itu tidak perlu diatur negara," atau "Khilafah itu tidak akan mungkin tegak, sangat sulit di negeri yang beragam seperti ini." Tanpa disadari, ucapan yang meragukan masa depan Islam tersebut mengindikasikan tipisnya keyakinan terhadap janji-janji Allah Swt.
Secara tidak langsung, menganggap remeh janji pertolongan Allah bisa menjerumuskan seseorang pada konsekuensi teologis yang sangat berat (bahkan mengarah pada kekufuran) karena secara mutlak menyepelekan jaminan-Nya. Di sisi lain, ada kelompok masyarakat yang memilih untuk fokus pada ibadah ritual pribadi, sementara di luar sana kezaliman sistemik dan kemungkaran merajalela, mereka memilih bersikap cuek dan menutup mata. Mereka mengira kesalehan individu sudah cukup untuk menyelamatkan mereka dari murka Allah.
Kami, sebagai pengemban dakwah, tidak pernah dan tidak akan pernah melakukan tindakan teror atau intimidasi fisik untuk memaksa orang berpikir sama. Pilihan ada di tangan masing-masing individu, namun ingatlah bahwa di Yaumul Hisab kelak, setiap manusia harus menyiapkan pertanggungjawaban yang tidak main-main. Sungguh mengerikan bagi mereka yang mendiamkan kemungkaran struktural merusak generasi umat ini.
Allah Swt. telah memberikan garansi mutlak bagi siapa saja yang mau menolong agama-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ
Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (TQS Muhammad: 7)
------------------------------
Dikotomi Sekuler: Ketika Islam Hanya Terjebak di Ruang Spiritual
Di sinilah mentalitas dan nafsiyah seorang pengemban dakwah benar-benar diuji untuk senantiasa memelihara keikhlasan dan kesabaran yang lapang. Perlu dipahami bahwa tingkah laku, sikap, dan pola hidup seseorang senantiasa mengacu pada isi pemahaman (mafahim) yang bersemayam di dalam benaknya. Jika pemahaman keislaman seseorang dibentuk oleh kurikulum sekuler yang dangkal, maka standar perbuatannya pun hanya akan mentok sampai di situ saja.
Fenomena ini melahirkan dualisme kepribadian yang menyedihkan akibat Islam tidak dipahami secara kaffah. Islam hari ini dipenjara hanya sebatas di dalam ruang spiritual dan tempat ibadah ritual semata. Di dalam masjid, seseorang bisa tampak sangat saleh; menutup aurat dengan sempurna, rajin salat berjamaah, dan menghidupkan salat-salat sunnah. Namun, begitu ia melangkah keluar dari pintu masjid dan berinteraksi di ruang publik, perilakunya berubah total—aurat diumbar, kemaksiatan dianggap lumrah, dan praktik transaksi riba yang mencekik tetap dijalankan tanpa rasa berdosa.
Tugas mengedukasi umat agar keluar dari jebakan sekulerisasi perilaku ini memang berat, namun metode yang digunakan harus tetap mengikatkan diri pada aturan syarak. Dakwah wajib mengikuti jalur operasional (thariqah) yang telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah saw., yaitu melalui tiga tahapan baku:
* Tatsqif: Tahap pembinaan untuk menanamkan akidah dan pemikiran Islam yang mendalam pada individu.
* Tafa'ul Ma'al Ummah: Tahap berinteraksi dengan umat secara luas untuk membangun opini umum yang sadar syariat.
* Thalabun Nusrah: Tahap mencari dukungan politik dan keamanan dari pemilik kekuatan riil (ahlun nusrah) guna menyerahkan kekuasaan demi diterapkannya hukum Allah.
Seluruh fase gerakan tersebut bertumpu pada adopsi pemikiran dan argumen politik yang mencerdaskan, sama sekali tidak melibatkan cara-cara pemaksaan fisik, aksi terorisme, maupun anarki bersenjata.
Rasulullah saw. mengingatkan tentang bahaya rusaknya masyarakat jika kemungkaran dibiarkan tanpa adanya upaya koreksi secara sistemik:
إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ مِنْ عِنْدِهِ
Sesungguhnya manusia, jika mereka melihat orang yang berbuat zalim lalu tidak mencegah kedua tangannya (perbuatannya), maka hampir saja Allah akan meratakan azab-Nya kepada mereka semua. (HR Abu Dawud No. 4338)
------------------------------
Penutup
Kesimpulannya, dakwah untuk mengembalikan kehidupan Islam bukanlah sebuah proyek pemaksaan massal, melainkan sebuah seruan kesadaran yang berbasis pada argumen wahyu yang kuat. Sebagai pengemban dakwah, kita dituntut untuk terus bergerak menyampaikan kebenaran dengan sabar, ikhlas, dan konsisten menapaki thariqah kenabian tanpa pernah membelokkan arah perjuangan. Masalah apakah umat hari ini mau menyambutnya atau berpaling, itu adalah urusan akhir di hadapan Allah Swt. Kewajiban kita telah gugur seketika kita menyampaikan kebenaran tersebut secara gamblang tanpa ada yang disembunyikan. Mari terus kuatkan saf perjuangan, karena fajar kemenangan itu pasti datang bagi hamba-hamba-Nya yang istiqamah.
Wallahu a'lam bishowab. []
------------------------------


Posting Komentar untuk "TUGAS KITA HANYA MENG-UPAYAKAN BUKAN MEMAKSAKAN"