Sering kali banyak masyarakat dan orang-orang awam, termasuk kalangan intelektual sekalipun seperti pelajar maupun mahasiswa, mudah menilai sesuatu itu buruk tanpa mencari tahu dulu arti sesuatu itu secara mendalam. Salah satu contoh nyata yang hari ini sering kita saksikan di tengah-tengah ruang publik adalah stigmatisasi kata radikal. Secara etimologi, kata radikal berasal dari bahasa Latin, yaitu radix, yang memiliki arti akar atau mengakar. Dalam dunia sains dan filsafat mendasar, berpikir radikal sejatinya adalah sebuah pujian, karena ia menggambarkan cara berpikir yang fundamental, menyeluruh, dan berusaha menemukan hulu dari sebuah permasalahan.
Namun, dalam lanskap politik kontemporer saat ini, makna kata tersebut sengaja dipelintir dan mengalami distorsi yang luar biasa lewat hegemoni media serta propaganda sistemik. Radikal sengaja diidentikkan dengan kekerasan, sikap ekstrem, menyeramkan, dan destruktif. Akibatnya, stempel ini sering kali disematkan secara sepihak dan penuh tendensi kepada kelompok dakwah yang konsisten menyuarakan tegaknya syariat Islam secara kaffah. Mereka dicap sebagai pengasong radikalisme, ancaman kedaulatan, hingga pemecah belah umat.
Bersamaan dengan masifnya narasi tersebut, dimunculkanlah istilah "moderat" sebagai proyek penanding. Konsep moderasi ini sengaja diarusutamakan untuk menjinakkan sikap kritis kaum muslimin agar mau berkompromi dan menerima ideologi sekuler yang merusak. Ketika umat digiring untuk menjadi moderat, mereka secara perlahan dipisahkan dari pemahaman Islam yang murni dan dipaksa menoleransi berbagai kemaksiatan sistemik yang sedang berjalan di bawah payung kapitalisme saat ini.
Taraf Berpikir Cemerlang: Karakter Utama Sang Mustanir
Sebenarnya, ketika ada pihak-pihak yang mencap kita sebagai seorang yang radikal dalam berislam, kita tidak perlu merasa tersinggung, minder, atau marah. Sebaliknya, kita justru harus bangga ketika dicap radikal. Mengapa? Karena jika dikembalikan pada esensi makna aslinya, orang yang radikal itu adalah mereka yang memiliki pola pikir tajam, mendalam, dan menolak untuk silau oleh polesan gejala di permukaan. Orang yang radikal tidak akan mudah mengalami taklid buta (ikut-ikutan tanpa dalil) atau sekadar mengekor pada tren opini yang sengaja diembuskan oleh para pemilik modal.
Rata-rata orang yang berpikir radikal-ideologis itu pasti memiliki akal yang cerdas dan kritis. Bahkan, level kecerdasan ini sejatinya melampaui standar akademik konvensional seorang profesor di universitas. Ketika seorang akademisi barat hanya mampu menganalisis fenomena fisik di permukaan, seorang muslim yang berpikir mendalam mampu mengaitkan realitas kehidupan dengan kesadaran akan hubungan manusia dengan Penciptanya. Dalam khazanah pemikiran Islam, level kecerdasan tertinggi yang melampaui batas kejeniusan biasa ini disebut sebagai taraf berpikir cemerlang (al-fikr al-mustanir).
Seorang mustanir (pemikir cemerlang) tidak akan terjebak pada pembahasan yang remeh-temeh. Ia akan langsung menunjuk pada akar masalah dunia hari ini, yaitu dicampakkannya hukum-hukum Allah Swt. dari ruang publik. Tatkala pemikiran umat telah mencapai level mustanir, mereka tidak akan mudah tertipu oleh janji-janji manis kesejahteraan yang ditawarkan oleh sistem demokrasi, karena mereka tahu bahwa sistem tersebut cacat sejak dalam kandungan ideologinya.
Allah Swt menyinggung orang-orang yang tidak mau menggunakan akalnya secara mendalam untuk melihat kebenaran:
اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَآ اَوْ اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَاۚ فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْاُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ
Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (TQS Al-Hajj: 46)
Batasan Akal Manusia dan Kesesatan Filsafat Liberal
Kecerdasan tertinggi yang dimiliki oleh seorang pemikir cemerlang justru membimbingnya pada satu kesimpulan mutlak: bahwa akal manusia itu memiliki keterbatasan yang nyata. Akal manusia hanya mampu mengindra perkara yang bersifat material, namun tidak akan pernah mampu merumuskan syariat atau aturan hidup yang adil dan universal tanpa bimbingan wahyu. Oleh karena itu, ujung dari ketajaman berpikir seorang radikal-ideologis adalah sikap sami'na wa atha'na—kami mendengar dan kami taat—terhadap seluruh aturan Allah Swt. tanpa perlu lagi merasa mumet atau sibuk mengakali hukum-hukum agama demi memuaskan hawa nafsu.
Kondisi ini sangat kontras jika kita bandingkan dengan orang-orang yang mendewakan filsafat liberal. Para pemuja filsafat barat sering kali merasa bahwa akal mereka tidak terbatas, sehingga berani menggugat teks-teks wahyu yang sudah bersifat mutlak (qath'i). Akibat pola pikir yang mengabaikan wahyu ini, kesimpulan-kesimpulan yang mereka hasilkan menjadi sangat ngawur, relatif, dan berubah-ubah sesuai kepentingan zaman.
Filsafat liberal melahirkan manusia-manusia yang tersesat di dalam labirin logikanya sendiri. Mereka sibuk memperdebatkan eksistensi kebenaran, sementara aturan Allah yang sudah jelas di depan mata justru mereka campakkan. Di sinilah letak pembeda utama: orang yang radikal-ideologis tunduk pada syariat karena kecerdasan akalnya mengakui kemutlakan Sang Pencipta, sedangkan orang liberal tersesat karena kesombongan akalnya yang terbatas.
Rasulullah saw. mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam logika-logika yang merusak agama:
لاَ يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يُقَالَ هَذَا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ
Manusia akan senantiasa bertanya-tanya hingga dikatakan, "Allah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah?" Maka barangsiapa yang merasakan sesuatu dari hal itu, hendaklah ia berkata, "Aku beriman kepada Allah." (HR Muslim No. 134)
Degradasi Berpikir Mahasiswa dan Urgensi Tatsqif Umat
Dalam teori dasar pemikiran Islam, terdapat satu kaidah penting bahwa taraf hidup, tingkah laku, dan peradaban sebuah masyarakat itu berbanding lurus dengan taraf berpikirnya. Perubahan perilaku seorang individu atau sebuah bangsa sangat tergantung pada pemahaman dan ideologi yang merasuk ke dalam benaknya. Jika pemikirannya tinggi dan mulia, maka tindakan yang dihasilkan pun akan mulia. Sebaliknya, jika pemikirannya rendah, maka corak kehidupannya pun akan ikut merosot.
Ironisnya, jika kita melihat realitas hari ini, mayoritas mahasiswa dan kaum intelektual mengalami degradasi berpikir yang cukup parah. Pemikiran mereka cenderung berada pada level yang rendah (al-fikr al-muntahat) atau sekadar berpikir dangkal (al-fikr as-safih). Mereka dicetak oleh kurikulum sekuler kapitalistik untuk menjadi robot-robot industri yang pragmatis. Orientasi kuliah mereka dipersempit hanya sebatas bagaimana cara mendapatkan nilai bagus, lulus cepat, dan segera terserap oleh pasar kerja demi menumpuk materi. Mereka kehilangan kepekaan sosial-politik dan tidak lagi mampu melihat bahwa penderitaan umat hari ini diakibatkan oleh penerapan sistem yang batil.
Oleh karena itu, menjadi tugas utama dan krusial bagi para pengemban dakwah saat ini untuk melakukan aktivitas tatsqif (pembinaan ideologis) secara masif. Kita harus bergerak ke tengah-tengah masyarakat (tafa'ul ma'al ummah), kampus, dan sekolah untuk meningkatkan taraf berpikir umat dari taraf yang rendah dan dangkal menuju taraf berpikir yang cemerlang (mustanir). Hanya dengan pemikiran yang mengakar (radikal) dan cemerlang inilah, umat akan memiliki kesadaran politik yang utuh untuk mencopot sistem buatan manusia dan berjuang bersama demi mengembalikan kehidupan Islam di bawah naungan syariat.
Penutup
Stigma buruk yang dilekatkan pada kata radikal sejatinya adalah bukti ketakutan musuh-musuh Islam terhadap kebangkitan pemikiran umat. Ketika umat mulai berpikir secara mendalam dan mengakar, mereka tidak akan bisa lagi dibohongi oleh jargon-jargon palsu demokrasi maupun hak asasi manusia ala Barat. Melalui penggunaan akal yang cemerlang, seorang muslim sejati akan sampai pada titik keimanan yang kokoh dan ketundukan yang totalitas kepada syariat Allah Swt. Mari kita buang jauh-jauh rasa takut terhadap stigma tersebut, dan terus fokus membina umat agar memiliki taraf berpikir yang tinggi demi menyongsong janji kemenangan Islam yang telah digariskan.
Allah Swt. menegaskan bahwa kemenangan itu hanya milik orang-orang yang beriman dan bertakwa:
وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ
Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa... (TQS An-Nur: 55)
Wallahu a'lam bishowab. []


Posting Komentar untuk "ORANG YANG RADIKAL TANDA BER AKAL"