Tahun Baru Hijriah Jadikan Dakwah Lebih Bergairah - RoManTis Rokok Makan Gratis


BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Segala puji bagi Allah Swt., Zat Yang Maha Membolak-balikkan hati manusia, yang senantiasa melimpahkan nikmat iman, Islam, serta kesehatan walafiat kepada kita semua. Atas karunia-Nya yang tak terhingga, kita kembali dipertemukan dan dihimpunkan dalam majelis dakwah yang mulia ini.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswah hasanah kita, Nabi Muhammad saw., beserta seluruh keluarga, para sahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in, hingga kepada umatnya yang senantiasa istiqamah melakukan ittiba’ (mengikuti) seluruh sunnah-sunnah beliau. Terkhusus bagi mereka yang tanpa lelah terus memperjuangkan tegaknya syariat Islam secara kaffah di muka bumi ini. Semoga kelak di hari kiamat, kita semua diakui sebagai umat beliau, mendapatkan syafaatul 'uzhma, dan dikumpulkan bersama di dalam jannah-Nya.

Malam ini, Ahad malam Senin Pahing, 14 Muharram 1448 H yang bertepatan dengan 28 Juni 2026 M, suasana teras Masjid Pondok Pesantren Al-Istakhariyah, Pamalayan, Ciamis, terasa begitu hangat. Di tengah kepulan asap kopi, sebuah agenda dakwah yang dinamis digelar. Menghadirkan Buya Gusman dan Kang Dede yang datang jauh-jauh dari Jakarta, momen ini menjadi bukti nyata bahwa jarak geografis sama sekali bukan penghalang bagi para pejuang dinul Islam. Dengan membawa jargon penyemangat "RoManTis" (Rokok Makan Gratis), suasana ngariyung (berkumpul) malam itu menjelma menjadi ruang diskusi ideologis yang tajam namun tetap merangkul semua kalangan.

------------------------------

Qadliyah Mashiriyah: Menemukan Satu Titik Poros Perjuangan Umat

Perbincangan hangat dibuka oleh Kang Dede, seorang dai yang berasal asli dari Ciawigebang, Kuningan. Sebagai motor penggerak dari Komunitas KATRO (Kajian Trotoar), beliau mengupas akar persoalan umat hari ini dengan menggunakan kacamata sosiologis dan politik Islam. Tujuan besar dari seluruh gerak ini tidak lain adalah istina'ul hayatil Islam (melanjutkan kembali kehidupan Islam).

Dalam kitab Manhaj Kitabiyah, terdapat sebuah pembahasan krusial mengenai Qadliyah Mashiriyah (permasalahan utama atau masalah hidup dan mati) di tengah masyarakat. Selama akar masalah utama ini belum tuntas diselesaikan, maka berbagai problem turunan akan terus muncul tanpa pernah ada habisnya.

Kang Dede memberikan analogi historis yang sangat kuat pada masa penjajahan Hindia Belanda. Pada waktu itu, Qadliyah Mashiriyah bangsa ini sangat jelas: usir penjajah Belanda dari bumi pertiwi! Karena tujuannya satu dan jelas, maka seluruh elemen masyarakat—mulai dari para kiai sepuh, santri, kaum intelektual, bahkan hingga kaum ibu—bergerak serentak dalam satu komando tanpa mempermasalahkan perbedaan latar belakang.

Pada zaman sekarang, Qadliyah Mashiriyah kaum muslimin adalah bagaimana agar syariat Islam dapat kembali diterapkan secara menyeluruh dalam seluruh lini kehidupan. Melalui Komunitas KATRO di bawah naungan Yayasan Dai Nusantara, gerak dakwah sengaja diturunkan langsung ke tengah-tengah jalanan dan masyarakat bawah. Tujuannya murni untuk melakukan kontak ideologis, bukan mencari popularitas panggung. Mulai dari anak punk, mantan preman, hingga masyarakat awam dirangkul tanpa sekat. Langkah ini diambil untuk mengedukasi dan menanamkan opini Islam yang kokoh, sehingga semua kalangan memiliki kesadaran yang sama untuk memperjuangkan Islam.

------------------------------

Dakwah Sebagai Poros Hidup dan Esensi Kekuasaan Politik Islam

Melanjutkan estafet pembahasan, Buya Gusman hadir sebagai pemateri inti yang menghentak kesadaran lewat pemaparan yang sangat ideologis. Beliau menyoroti sebuah realitas kontemporer di mana hari ini para mahasiswa justru sering kali lebih vokal menyuarakan perubahan dibanding sebagian ulama. Secara historis, gerakan perubahan radikal dan revolusi sering kali didominasi oleh gerakan sayap kiri atau sosialis karena mereka memiliki basis ideologis yang kuat untuk bergerak.

Namun, bagi seorang muslim, kesadaran akan perubahan harus jauh lebih besar karena ini didasarkan pada keimanan. Tatkala seseorang mulai mengkaji Islam secara mendalam, ia akan menyadari bahwa urusan dakwah bukanlah perkara main-main atau sekadar pengajian alternatif pengisi waktu luang. Ini adalah perkara hidup dan mati. Sejarah mencatat bahwa sekitar 80% dari sahabat Nabi saw. pada masa jahiliah memiliki latar belakang yang keras, bahkan beberapa di antaranya adalah mantan preman. Namun, setelah disentuh oleh hidayah Islam, orientasi hidup mereka berbalik 180 derajat untuk satu tujuan agung: menegakkan peradaban Islam yang mulia.

Dalam menyampaikan ide Islam ke tengah masyarakat yang heterogen, diperlukan adanya ushlub (sarana atau metode praktis) yang adaptif. Komunitas KATRO merupakan salah satu contoh ushlub kontemporer yang berfungsi sebagai jembatan untuk menyatukan berbagai kelompok masyarakat, bahkan yang berbeda manhaj sekalipun seperti Wahabi, Salafi, atau Muhammadiyah. Melalui ushlub inilah ide-ide Islam yang murni (mutabanat) dapat tersampaikan dengan cair tanpa kehilangan esensinya.

Seorang pejuang ideologis wajib memiliki visi yang jelas. Tanpa visi yang jernih mengenai target dan tujuan akhir, seorang pengemban dakwah akan sangat mudah berbelok arah atau mengalami kefuturan (lemah semangat). Visi tertinggi kita tidak lain adalah meraih rida Allah Swt. Untuk meraih rida tersebut, syariat Islam harus diterapkan. Namun secara hukum tata negara dan kaidah syarak, hukum Islam tidak akan pernah bisa diterapkan secara sempurna tanpa adanya kekuasaan politik (al-fath). Satu-satunya institusi kekuasaan yang sah di dalam Islam yang mampu menerapkan seluruh hukum Allah Swt. hanyalah institusi Khilafah, bukan sistem demokrasi sekuler maupun monarki absolut. Oleh karena itu, menjadikan dakwah sebagai poros utama kehidupan adalah sebuah keniscayaan. Jika minimal 20% dari umat ini telah memiliki kesadaran yang sama, maka opini umum yang kuat akan terbentuk demi menyambut perubahan hakiki.

Allah Swt. berfirman mengenai kewajiban memutuskan perkara dengan hukum-Nya:

وَاَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ اَنْ يَّفْتِنُوْكَ عَنْ بَعْضِ مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ اِلَيْكَ

(Hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, janganlah engkau mengikuti keinginan mereka, dan waspadalah terhadap mereka agar mereka tidak memalingkan engkau dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.) (TQS Al-Ma'idah: 49)

------------------------------

Menjaga Soliditas Nafsiyah dari Penyakit Futur Pengemban Dakwah

Perjalanan mengemban dakwah ideologis dipenuhi oleh jalan yang terjal, ujian, dan fitnah yang datang silih berganti. Ketika seorang pejuang dakwah mulai merasakan tanda-tanda kefuturan, hal itu menandakan adanya pelemahan pada aspek nafsiyah (kondisi jiwa/ruhiyah) yang bersemayam di dalam qalbu. Nafsiyah yang kokoh lahir dari rasa cinta yang mendalam kepada Allah Swt. yang kemudian mewujud menjadi rasa peduli terhadap kondisi umat. Selama keyakinan bahwa Allah Swt. rida itu tertanam kuat, maka seorang pejuang akan tetap melangkah maju tanpa ragu.

Dalam aktivitas amal manusia, terdapat dua dimensi penting yang harus berjalan beriringan, yaitu amalul qalbi (aktivitas hati) dan amalul badani (aktivitas fisik). Seorang ideolog muslim sejati tercermin dari keteguhan sikapnya yang meletakkan dakwah di atas segalanya. Saking totalitasnya dalam perjuangan, ia memiliki prinsip hidup yang berani:


   1. Jika dia harus sakit, biarlah itu karena letih dalam berdakwah.

   2. Jika dia harus hidup dalam kemiskinan, biarlah itu karena konsekuensi dari pilihan dakwahnya.

   3. Jika dia harus mati, biarlah kematiannya dijemput dalam kondisi sedang memperjuangkan dakwah.


Untuk menjaga agar nafsiyah ini tidak goyah dan terhindar dari penyakit hati yang merusak jalannya perjuangan, Buya Gusman menjabarkan empat pilar utama yang wajib diikat erat oleh setiap pengemban dakwah:

Pertama, Luruskan Niat (Lillah). Kita berhalaqah, mengkaji Islam, dan bergabung ke dalam jamaah/partai (Hizb) ini semata-mata murni karena Allah Swt. (lillah), bukan karena tendensi duniawi atau figur tertentu. Cinta yang landasannya karena Allah (mahabbah lillah) tidak akan pernah lekang oleh waktu. Ia tidak akan membuat seseorang menjadi pundungan (gampang ngambek) atau baperan (bawa perasaan) ketika dihantam isu, dihujat, atau difitnah dari berbagai penjuru. Bahkan di tengah himpitan ekonomi yang sulit sekalipun, ia akan tetap bergerak maju.

Kedua, Rendah Hati (Tawadhu). Allah Swt. sangat membenci kesombongan. Di dalam lingkaran dakwah Islam, sama sekali tidak mengenal istilah senioritas yang membuat seseorang merasa lebih besar, lebih berpengaruh, atau lebih berjasa daripada yang lain. Allah Swt. menilai manusia dari bagaimana akhir (khusnul khatimah) perjuangannya, bukan sekadar awal langkahnya. Sifat tawadhu akan menjaga keikhlasan dan merubuhkan sekat-sekat ego kepemimpinan.

Ketiga, Sabar. Dakwah ini adalah proyek jangka panjang yang membutuhkan napas yang panjang pula. Mengingat negeri kita telah berdekade-dekade dicekoki oleh pemahaman-pemahaman sesat yang bersumber dari peradaban Barat kapitalistik-sekuler, wajar jika para pengemban dakwah hari ini dicap dengan berbagai stigma negatif. Kunci dari kesabaran yang agung ini adalah memahami konsep Qadha wal Qadar dengan benar. Menyadari bahwa segala bentuk penolakan dan ujian adalah bagian dari sunnatullah dan kehendak Allah Swt. untuk menguji hamba-hamba-Nya yang terpilih. Sebagaimana Nabi Musa as. bersabar menghadapi Fir'aun, dan Rasulullah saw. bersabar menghadapi Abu Jahal serta Abu Lahab.

Keempat, Perbanyak Bersyukur. Di tengah beratnya medan perjuangan, nikmat yang Allah Swt. berikan senantiasa jauh lebih besar. Salah satu nikmat terbesar yang wajib disyukuri adalah nikmat ukhuwah islamiyah. Ikatan ideologis yang mampu menyatukan hati-hati manusia dari berbagai macam suku, mazhab fiqih, maupun latar belakang manhaj organisasi. Ketika fikrah (pemikiran) sudah klir dan thariqah (metode perjuangan) sudah klir, maka ukhuwah ini akan menjadi energi penggerak yang dahsyat.

------------------------------

Penutup

Perubahan peradaban menuju tegaknya syariat Islam kaffah bukanlah sebuah angan-angan kosong, melainkan sebuah janji Allah Swt. yang pasti akan terealisasi melalui lisan Rasul-Nya. Di momentum pergantian Tahun Baru Hijriah ini, sudah saatnya kita merefleksikan kembali posisi kita dalam saf perjuangan ini. Jadikan pergantian tahun ini sebagai momentum untuk membakar kembali gairah dakwah yang sempat meredup. Mari kita luruskan niat, hancurkan kesombongan, kokohkan kesabaran, dan terus bersyukur atas nikmat perjuangan ini. Dengan memegang teguh prinsip-prinsip ideologis serta mengoptimalkan seluruh ushlub dakwah yang ada di tengah masyarakat, fajar kemenangan Islam pasti akan kembali menyingsing.

Rasulullah saw. bersabda mengenai kembalinya kejayaan Islam:

ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

(...Kemudian akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.) (HR Ahmad No. 18430)

Wallahu a'lam bishowab. []

------------------------------



Posting Komentar untuk "Tahun Baru Hijriah Jadikan Dakwah Lebih Bergairah - RoManTis Rokok Makan Gratis"