Masih menyambung dengan pembahasan taktis pada hari kemarin mengenai pentingnya berinteraksi dengan umat (Tafa'ul ma'al Ummah), hari ini kita wajib membongkar satu potret kekeliruan fatal yang telanjur mengakar di tengah masyarakat. Istilah dalam bahasa Sunda menyebutnya sosoranganan—yang berarti sendirian, individualis, berjalan masing-masing, atau bersikap egois dalam beragama. Manifesto dari mentalitas sosoranganan ini tercermin dalam prinsip sekuler yang berbunyi: "Amalan elu amalan elu, amalan gue amalan gue. Yang penting gue rajin ibadah di masjid, urusan maksiat di luar sana itu urusan mereka."
Selama ini, standar opini umum di tengah masyarakat selalu menganggap bahwa derajat "Soleh" atau saleh itu cukup diraih secara personal. Ketika seorang Muslim sudah rajin melangkahkan kaki shalat berjamaah di masjid, rajin menegakkan shalat sunnah qabliyah dan ba'diyah, konsisten bangun malam untuk tahajud, mengejar pahala shalat syuruk, merutinkan shalat dhuha, serta menghidupkan puasa sunnah (Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, maupun puasa Asyura yang baru saja kita lewati), maka secara otomatis ia langsung dicap sebagai orang saleh.
Padahal secara timbangan ideologi Islam, predikat itu belum lagi terpenuhi! Mengapa? Karena kesalehan yang sejati di hadapan Allah SWT tidak akan pernah bisa berdiri tegak secara sempurna selama sistem kehidupan yang mengatur interaksi hukum negara kita saat ini masih berstatus batil dan tidak saleh. Bagaimana mungkin seorang hamba mengklaim dirinya telah saleh total, sementara ia hidup tenang di bawah kendali undang-undang jahiliyah sekuler-kapitalistik yang setiap detiknya memproduksi hukum-hukum kufur yang menantang otoritas Allah SWT?
Hakikat Saleh yang Hakiki: Keterikatan Syariat secara Kolektif
Seseorang baru bisa dikatakan mencapai derajat saleh yang hakiki ketika ia tunduk pada syariat Islam dan berikhtiar agar syariat tersebut dapat dilaksanakan di seluruh sendi kehidupan tanpa kecuali. Saleh itu tidak bisa sendirian; ia merupakan satu kesatuan sistem yang mewajibkan penataan masyarakat, budaya, pendidikan, hingga tata hukum pemerintahan berjalan beriringan (kudu bebarengan) di bawah naungan wahyu.
Di sinilah letak urgensi dan kedudukan vital dari aktivitas Dakwah Politik Ideologis. Kita melangkah ke tengah masyarakat untuk berdakwah bukan karena haus akan eksistensi, bukan agar dipanggil dengan sebutan Ustadz, Kiai, Gus, Syaikh, atau gelar-gelar keagamaan lainnya. Kita berdakwah karena kesadaran penuh bahwa amar makruf nahi munkar adalah kewajiban syar'i yang melekat pada setiap individu Muslim, apa pun latar belakang profesi keduniawiannya.
[ Ilusi Kesalehan Sosoranganan ] ──> Shalat/Puasa Rajin ──> Lingkungan Tetap Rusak Sekuler ──> Gagal Menyelamatkan Umat
[ Khitah Kesalehan Bebarengan ] ──> Ibadah Ritual Ok ──> Aktif Dakwah Berjamaah ──> Syariat Kaffah & Khilafah Tegak
Aktivitas dakwah ini digerakkan atas dasar rasa empati, kasih sayang, serta kepedulian yang mendalam terhadap nasib sesama umat Muslim, bahkan kepada masyarakat non-Muslim sekalipun. Kita ingin memahamkan dunia bahwa jargon Islam Rahmatan lil 'Alamin (Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam) tidak akan pernah bisa dirasakan wujudnya jika aturan Islam hanya dikerdilkan untuk mengatur urusan ritual spiritual di atas sajadah saja. Keberkahan Islam baru akan memancar secara empiris ketika aturan-aturan pencipta diterapkan secara sempurna mencakup seluruh aspek kehidupan—termasuk aturan yang mengendalikan struktur politik negara dan menghapus kezaliman hukum buatan manusia.
Peringatan Al-Qur'an: Bahaya Diam di Tengah Kemaksiatan Sistemik
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan peringatan keras di dalam Al-Qur'an bahwa malapetaka, krisis ekonomi, serta kerusakan moral kolektif tidak hanya akan menimpa para pelaku maksiat saja. Orang-orang yang merasa dirinya "saleh sendirian" namun memilih diam, pasif, dan tidak mau berjuang mengganti sistem jahiliyah di negerinya, akan ikut digulung oleh azab keduniawian akibat sikap apatis mereka.
Allah SWT berfirman:
وَٱتَّقُوا۟ فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمْ خَآصَّةً ۖ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (TQS Al-Anfal: 25).
Dalam ayat lain, Allah SWT memuji predikat "Umat Terbaik" (Khairu Ummah) bukan disematkan kepada mereka yang paling banyak berdiam diri di dalam gua untuk zikir menyendiri, melainkan disematkan kepada komunitas jemaah yang aktif melakukan perubahan politik dan sosial di tengah peradaban:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah...” (TQS Ali 'Imran: 110).
------------------------------
Metode Dakwah Berjamaah: Bergerak Menjemput Janji Allah
Karena kesalehan menuntut gerakan yang bersinergi secara massal (kudu bebarengan), maka aktivitas dakwah ini wajib diwadahi di dalam sebuah kelompok atau jemaah dakwah politik yang solid, bukan bergerak secara personal yang rapuh. Kita mendakwahkan Islam kaffah dengan metode non-kekerasan yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ: membina akal umat (Tasqif), melebur mendengar keluh kesah masyarakat akibat inflasi ekonomi kapitalisme (Tafa'ul ma'al Ummah), hingga membangun kesadaran politik agar institusi Khilafah Islamiyah kembali tegak memimpin dunia.
Ketika Khilafah tegak, maka kesalehan sistemik akan tercipta. Negara akan memaksa media untuk menyebarkan konten takwa, menutup rapat lokalisasi judi online dan perzinaan, menghapus sistem perbankan ribawi yang mencekik, serta menerapkan kurikulum pendidikan berbasis kepribadian Islam. Di dalam ekosistem negara yang saleh seperti itulah, setiap individu akan sangat mudah tumbuh menjadi hamba yang saleh seutuhnya.
Penutup
Saudaraku, para syabab dan kaum Muslimin yang merindukan keberkahan Allah...
Hari ini, di hari Jum'at yang penuh berkah pada bulan Muharram 1448 H, mari kita runtuhkan ego kesalehan sosoranganan yang semu. Jangan pernah merasa aman dari murka Allah hanya karena kita sudah rajin shalat dhuha dan tahajud, sementara kita membiarkan hukum sekuler menguasai dan merusak masa depan akidah anak-cucu kita.
Sudah saatnya kita bergerak bebarengan (bersama-sama). Ambil bagian di dalam barisan jemaah dakwah ideologis ini. Didik diri kita, dakwahi keluarga kita, dan sadarkan masyarakat di sekeliling kita agar mereka paham bahwa satu-satunya solusi dari karut-marut peradaban modern saat ini adalah kembali pada penerapan syariat Islam secara totalitas. Ketika umat sudah bersatu padu menuntut diterapkannya hukum Allah, maka rido dan pertolongan Allah pasti akan datang memenangkan perjuangan ini.
Soleh sosoranganan itu adalah jebakan kenyamanan sekuler; sedangkan soleh bebarengan melalui jalan dakwah menegakkan Khilafah adalah khitah perjuangan nabi.
Wallahu A'lam bish-Shawab.[]
------------------------------
Diterbitkan oleh: Aldy al-Jawi (mas AL)
(Buletin Kaffah terbit tiap hari Jum'at ba'da Dzuhur| Buletin Jawi terbit tiap weton Kliwon)
------------------------------





Posting Komentar untuk "SOLEH TIDAK BISA SOSORANGANAN, KUDU BEBARENGAN‼️"