Ust. IR. Azman Latif (Takmir Mesjid Gedhe Kauman): "Kraton Jogja niku warisan Khilafah Utsmani mas, & dulu memang menerapkan syariat Islam bukan syariat lain"

 



بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Segala puji kagunganipun gusti Allah SWT yang masih memberikan nikmat iman, Islam, kesehatan serta kesempatan sehingga pada subuh hari ini penulis masih diberi kesempatan untuk menulis dan berbagi sedikit pandangan  & pengalaman yang saya pernah disukusikan bersama takmir Mesjid Gedhe Kauman yaitu Ust. IR Azman Latif terkait sejarah Islam di tanah Jawa yang perlahan mulai dilupakan oleh generasi sekarang.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada junjunan alam Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarganya, sahabatnya dan seluruh umatnya yang istiqomah mengikuti ajarannya hingga akhir zaman.

Beberapa tahun lalu saat penulis berkunjung ke Yogyakarta kurang lebih pada Syawal 1444 H atau bertepatan dengan April 2023 M, saat itu penetapan 1 Syawal memang berbeda. Sebagian warga Jogja termasuk beberapa kalangan abdi dalem telah berlebaran pada Jum’at, 21 April 2023 M, sedangkan pemerintah Indonesia menetapkan Idul Fitri pada Sabtu, 22 April 2023 M.

Hehe… cerminan naliko umat Islam ora nduwè kepemimpinan Islam global, hari raya waè iso bèdo-bèdo 😌

Penulis berangkat malam dari Sidareja, Cilacap menggunakan kereta api menuju Jogja. Sekitar pukul 03.00 dini hari tiba di kawasan Malioboro lalu berjalan kaki menuju Titik Nol Kilometer hingga Alun-Alun Lor Kraton Jogja. Suasana dini hari begitu syahdu. Lampu kraton menyala megah, hawa budaya Jawa sangat terasa, seolah ada suara gamelan samar di tengah sunyinya malam.

Menjelang Subuh penulis tiba di Masjid Gedhe Kauman. Masjid tua dengan corak Jawa yang sangat kental. Namun siapa sangka, praktik ibadah di sana justru sangat dekat dengan praktik ibadah di Masjidil Haram: basmalah tidak dikeraskan, tidak ada qunut Subuh, tidak ada wirid berjamaah dipimpin imam, dan doa dilakukan masing-masing. Walaupun ini sebenarnya perkara furu'iyah yang sebenarnya masih bisa ditoleransi karena sama-sama punya dasar dalil. Tapi bagi Jogja ini karena mayoritas warganya mengikuti kebiasaan sesuai Tarjih Muhammadiyah, yaitu memilih dalil terkuat (tarjih dari kata Ra'jih).

Hal itu juga bukan tanpa sebab. Karena Jogja adalah tempat lahirnya Muhammadiyah yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada 1912 M, sebuah gerakan tajdid yang menyerukan pemurnian ajaran Islam dari tahayul, bid’ah dan khurafat yang saat itu banyak merebak ditengah-tengah umat Islam di Yogyakarta, belum lagi kemunduran berfikir yang saat itu kian menjamur.

Bahkan dahulu Kyai Ahmad Dahlan sendiri pun pernah aktif menjadi khatib di Masjid Gedhe Kauman yang berada di lingkungan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.



JOGJA BUKAN SEKEDAR KOTA BUDAYA

Banyak orang hari ini menganggap syariat Islam itu “asing”, “Arab”, atau tidak cocok dengan budaya Nusantara. Padahal kalau mau jujur melihat sejarah, justru Islam sudah menyatu dengan Jawa sejak ratusan tahun lalu.

Kalender Jawa misalnya. Dahulu Sultan Agung Mataram menyelaraskan kalender Jawa dengan kalender Hijriah Islam. Maka muncullah nama-nama bulan seperti:

Suro, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Ruwah, Poso, Sawal, Apit dan Besar.

Hari-hari pun disesuaikan: Ngahad/Ahad, Senen, Seloso, Rebo, Kemis, Jumuwah, Setu.

Bahkan istilah “Minggu” sendiri baru populer setelah pengaruh Barat masuk.

Weton seperti Legi, Pahing, Pon, Wage dan Kliwon tetap dipertahankan sebagai budaya, tetapi sistem penanggalannya sudah diselaraskan dengan Islam.

Artinya apa?

Islam dulu bukan dimusuhi di Jawa. Islam justru menjadi ruh peradaban Jawa.


Mohon bantu klik link ini sampai valid ya: https://sfl.gl/mTazmA (Link SafelinkU)


KRATON JOGJA & JEJAK KHILAFAH UTSMANI

Saat saya sharing bersama pak Azman beliau menceritakan dan memang benar bahwa dulu pernah ada Kongres Umat Islam Indonesia tahun 2015 di Jogja, Sri Sultan Hamengkubuwono X selaku sultan Jogja sekaligus Gubernur DIY sendiri pun pernah menyampaikan adanya hubungan historis antara Kesultanan Yogyakarta dengan Khilafah Turki Utsmani.

Disebutkan pula adanya penyerahan simbol kehormatan berupa kain kiswah Ka’bah serta hubungan diplomatik Kesultanan Nusantara dengan Khilafah Islam pada masa lampau.

Ini menunjukkan bahwa dahulu kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara tidak merasa asing dengan identitas Islam global.

Bahkan gelar “Sultan”, penggunaan tulisan Arab Pegon, penggunaan istilah-istilah Arab dalam budaya Jawa, hingga perubahan pelafalan bahasa Jawa banyak dipengaruhi oleh peradaban Islam.

Maka aneh kalau hari ini ada orang berkata:

“Kalau mau syariat Islam sana pindah aja ke Arab!”

Lho… wong sejarah Jawa sendiri justru pernah sangat dekat dengan Islam 😌


Mohon bantu klik link ini sampai valid ya: https://sfl.gl/mTazmA (Link SafelinkU)


SEKULARISME MEMUTUS UMAT DARI AKAR SEJARAHNYA

Masalahnya mulai muncul ketika kolonialisme Barat datang menjajah Nusantara. Mereka tidak hanya merampas kekayaan alam, tapi juga merusak pola pikir umat Islam.

Islam dipisahkan dari politik.

Islam dipisahkan dari pemerintahan.

Islam dipersempit hanya urusan ibadah ritual.

Lalu muncullah istilah-istilah seperti: 

“Islam Kejawen”,

“Islam Nusantara”,

“Islam moderat”,

yang kadang digunakan untuk menjauhkan umat dari syariat Islam kaffah.

Akibatnya generasi hari ini mulai merasa:

hijab dianggap Arabisasi,

syariat dianggap radikal,

dakwah politik Islam dianggap berbahaya,

sementara budaya Barat dianggap modern dan biasa.

Padahal sekularisme inilah yang perlahan menggerogoti semua lini: pendidikan, budaya, ekonomi, keluarga bahkan kesultanan.

Islam akhirnya tinggal simbol.

Masjid megah, tapi syariat ditinggalkan.

Ngaji ramai, tapi aturan Allah tidak diterapkan dalam kehidupan.


Mohon bantu klik link ini sampai valid ya: https://sfl.gl/mTazmA (Link SafelinkU)


ALLAH MEMERINTAHKAN BERISLAM SECARA KAFFAH

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian.”

(QS. Al-Baqarah: 208)

Islam bukan hanya mengatur sholat dan puasa.

Islam juga mengatur ekonomi, pendidikan, politik, pergaulan, hukum hingga pemerintahan.

Karena Islam adalah sistem hidup yang sempurna.


Mohon bantu klik link ini sampai valid ya: https://sfl.gl/mTazmA (Link SafelinkU)


■ HIKMAH & HARAPAN ■

Hari ini kita hidup di zaman ketika sejarah Islam di Nusantara mulai dikaburkan. Generasi muda dibuat asing terhadap syariat agamanya sendiri. Bahkan banyak yang lebih bangga dengan budaya Barat daripada sejarah Islamnya sendiri.

Padahal dahulu tanah Jawa pernah begitu dekat dengan Islam.

Maka sudah saatnya umat Islam kembali belajar sejarah dengan jujur, memahami Islam secara kaffah dan tidak malu menunjukkan identitas Islamnya.

Jangan sampai kita hanya mewarisi budaya tanpa memahami ruh Islam yang dahulu menghidupinya.

Karena sejatinya kemuliaan Jawa dahulu bukan karena sekularisme, tetapi karena Islam.

Wallāhu a’lam bi ash-shawāb.


Mohon bantu klik link ini sampai valid ya: https://sfl.gl/mTazmA (Link SafelinkU)

Posting Komentar untuk "Ust. IR. Azman Latif (Takmir Mesjid Gedhe Kauman): "Kraton Jogja niku warisan Khilafah Utsmani mas, & dulu memang menerapkan syariat Islam bukan syariat lain""