Segala puji hanya milik Allah SWT yang masih memberikan nikmat iman, Islam, kesehatan serta kesempatan sehingga meskipun Buletin Subuh kali ini terbit agak kesiangan karena berbagai hambatan teknis, namun semoga tetap membawa manfaat, menjadi pengingat dan bahan renungan bersama.
Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjunan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabat dan seluruh umatnya yang istiqomah memperjuangkan Islam hingga akhir zaman.
REALITA YANG SEMAKIN MENYESAKKAN
Saat ini kegagalan sistem demokrasi sekuler semakin terlihat nyata di tengah masyarakat. Bukan hanya soal politik elit, korupsi atau utang negara, tetapi sudah masuk hingga menghancurkan kehidupan keluarga rakyat kecil.
Penulis pernah mendengar kisah nyata sebuah keluarga di daerah Rancaekek, kab. Bandung. Awalnya keluarga perantau biasa dari Jawa Tengah yang datang ke Bandung demi mencari penghidupan yang lebih baik. Namun kerasnya kehidupan dalam sistem kapitalisme membuat keluarga itu perlahan hancur.
Sang ibu menjadi tulang punggung keluarga sementara ayah kehilangan perannya sebagai pencari nafkah utama. Ketika ekonomi semakin sulit, konflik rumah tangga pun muncul. Setelah sang ibu meninggal dunia dan disusul ayahnya beberapa tahun kemudian, anak-anak mereka hidup dalam kondisi memprihatinkan, menganggur, penuh tekanan mental dan bergantung kepada kerabat yang juga hidup pas-pasan.
Ini bukan sekadar kisah satu keluarga. Bisa jadi ada ribuan bahkan jutaan keluarga lain yang mengalami kondisi serupa, bahkan lebih parah.
Pertanyaannya:
Pemerintah ke mana?
KAPITALISME TELAH MERUSAK FUNGSI KELUARGA
Dalam sistem kapitalisme sekuler hari ini, manusia dipaksa memandang hidup hanya dengan ukuran materi dan uang. Akibatnya peran laki-laki dan perempuan menjadi kacau.
Islam sebenarnya telah menetapkan bahwa laki-laki adalah penanggung jawab nafkah keluarga. Allah SWT berfirman:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan.”
(QS. An-Nisa: 34)
Perempuan boleh bekerja selama menjaga syariat, namun kewajiban utama mereka tetap sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Adapun laki-laki wajib bekerja dan menafkahi keluarganya.
Namun dalam sistem Kapitalis Sekuler hari ini, karena tekanan ekonomi yang sangat berat, banyak perempuan akhirnya dipaksa menjadi tulang punggung keluarga. Sementara lapangan pekerjaan semakin sempit, upah rendah dan biaya hidup terus naik.
Belum lagi kerusakan moral di tempat kerja: pelecehan seksual, pergaulan bebas dan eksploitasi tenaga kerja semakin marak. Semua ini lahir karena kehidupan diatur dengan sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan.
PEMERINTAH GAGAL MENGURUS RAKYAT
Islam menetapkan bahwa pemimpin adalah pengurus rakyat, bukan sekadar penguasa atau pengelola proyek politik. Rasulullah ﷺ bersabda:
الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Namun hari ini rakyat justru dipaksa bertahan sendiri.
Harga kebutuhan naik.
Lapangan pekerjaan sempit.
Pajak dinaikkan.
Sumber daya alam dikuasai asing.
Pendidikan mahal.
Kesehatan mahal.
Rumah mahal.
Sementara pejabat seringkali sibuk pencitraan, korupsi dan rebutan kekuasaan.
Padahal negeri ini kaya raya. Bahkan Mahfud MD pernah menyampaikan bahwa jika sumber daya alam Indonesia dikelola dengan benar maka rakyat bisa hidup sangat sejahtera, per orang bisa kebagian 20 juta per bulan. Bayangkan!
Masalahnya bukan negeri ini miskin.
Masalahnya adalah sistemnya rusak.
Tentu jkla imgin dikelola dengan benar yo dengan syariat Islam diterapkan secara kaffah!.
SEKULARISME ADALAH UMMUL JAROIM
Banyak ulama menyebut sekularisme sebagai ummul jaroim — induk berbagai kerusakan. Karena ketika agama dipisahkan dari kehidupan, maka manusia membuat aturan berdasarkan hawa nafsu dan kepentingan golongannya.
Akibatnya kerusakan muncul di semua lini:
keluarga rusak,
pendidikan rusak,
ekonomi rusak,
pergaulan rusak,
politik rusak,
bahkan kesehatan mental masyarakat ikut rusak.
Allah SWT telah memperingatkan:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan, maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan.”
(QS. Al-A’raf: 96)
Ayat ini menunjukkan bahwa keberkahan hidup tidak akan datang jika manusia terus menerapkan aturan yang bertentangan dengan syariat Allah SWT.
ISLAM BUKAN SEKADAR AGAMA RITUAL
Islam bukan hanya mengatur sholat dan puasa saja. Islam juga mengatur ekonomi, pendidikan, politik, pergaulan hingga pengelolaan sumber daya alam.
Dalam Islam, kekayaan alam tidak boleh dikuasai asing atau segelintir oligarki. Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الْمَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ
“Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput dan api.”
(HR. Abu Dawud)
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dasar bahwa sumber daya vital yang menyangkut hajat hidup rakyat wajib dikelola negara untuk kemaslahatan umum, bukan diserahkan kepada swasta asing demi keuntungan segelintir elite.
Ketika syariat Islam diterapkan secara kaffah, negara akan benar-benar hadir mengurus rakyat, menyediakan lapangan kerja, pendidikan gratis berkualitas, kesehatan layak serta menjamin kebutuhan pokok masyarakat.
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Kisah keluarga tadi hanyalah satu contoh kecil dari dampak buruk sistem kapitalisme sekuler yang hari ini diterapkan. Mungkin di luar sana masih banyak keluarga lain yang mengalami penderitaan serupa bahkan lebih berat.
Karena itu umat Islam tidak boleh cuek dan hanya sibuk memikirkan diri sendiri. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan kaum mukmin dalam saling mencintai, menyayangi dan peduli bagaikan satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.”
(HR. Muslim)
Sudah saatnya umat Islam kembali sadar bahwa Islam bukan sekadar identitas atau ritual ibadah semata, tetapi solusi hidup yang sempurna.
Semoga Allah SWT segera memberikan pertolongan kepada umat Islam semuanya dan membimbing kita agar istiqomah memperjuangkan Islam kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Sehingga Islam bisa kembali tegak dan berjaya memimpin peradaban dunia, tentunya semua itu bisa terwujud jika Khilafah sudah tegak kembali.
Wallāhu a’lam bish shawāb.








Posting Komentar untuk "KEGAGALAN PEMERINTAHAN DALAM SISTEM DEMOKRASI SEKULER SEMAKIN TERLIHAT JELAS NYATA"