Mengapa Memilih Islam? - Kajian Masjid Al Walidain Pamalayan Kulon

 




بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Segala puji hanya milik Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman, Islam, kesehatan serta kesempatan sehingga kembali dapat digelar kajian rutin malam Sabtu di Masjid Al Walidain Pamalayan Kulon.

Sholawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjunan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarganya, sahabatnya dan seluruh umatnya yang istiqomah mengikuti jalan Islam hingga akhir zaman.

Pada awal kajian disampaikan oleh Ust. Dadan selaku pemateri pada malam ini mengenai sejarah tahun Hijriyah yang dimulai dari peristiwa hijrahnya Rasulullah ﷺ dari Makkah menuju Madinah. Islam telah berumur lebih dari 1447 tahun Hijriyah, bahkan jika dihitung sejak kelahiran Nabi Muhammad ﷺ maka sudah sekitar 1457 tahun lamanya Islam hadir membimbing manusia.

Dalam setiap zaman pasti akan selalu ada pertarungan antara yang haq dan yang batil. Itulah fitnah kehidupan dunia. Maka seorang muslim harus memiliki keyakinan yang kokoh agar tidak mudah terbawa arus pemikiran sesat zaman sekarang.

Salah satu pemahaman berbahaya yang sempat dibahas dalam kajian malam ini adalah pluralisme agama, yakni pemahaman yang menganggap semua agama sama benarnya. Pemahaman seperti ini sangat berbahaya bagi aqidah seorang mukmin karena dapat mengarah kepada kesyirikan dan merusak keimanan.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.”

(QS. Ali ‘Imran: 19)

Tema utama kajian malam ini sangat menarik:


KENAPA MEMILIH ISLAM? 

Sebagian orang mungkin memeluk Islam karena faktor keturunan atau warisan keluarga. Dan itu bukan sesuatu yang salah. Justru kita wajib bersyukur karena dilahirkan di tengah keluarga muslim.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Namun menjadi muslim tidak cukup hanya ikut-ikutan atau sekadar taqlid tanpa berpikir. Allah SWT telah mengaruniakan akal kepada manusia agar digunakan untuk berpikir dan memahami kebenaran. Keimanan yang lahir dari hasil berpikir akan lebih kuat dibanding iman yang hanya ikut-ikutan tanpa pemahaman.


1. ISLAM SESUAI FITRAH MANUSIA 

Islam sesuai dengan fitrah manusia. Dalam diri manusia ada akal, naluri (ghorizah), kebutuhan jasmani serta berbagai keterbatasan. Manusia punya keterbatasan ilmu, kekuatan dan kehidupan.

Di antara fitrah manusia yang paling kuat adalah naluri beragama (ghorizatut tadayyun), yakni kecenderungan manusia untuk mencari dan bergantung kepada Zat Yang Maha Kuasa. Ketika manusia berada dalam kesempitan, kesedihan dan keterpurukan, secara fitrah ia ingin bersandar kepada Tuhan.

Bahkan Fir’aun yang sangat dzolim sekalipun, ketika menjelang tenggelam di Laut Merah akhirnya mengakui keberadaan Allah SWT. Kisah ini dijelaskan dalam Al-Qur’an:

حَتَّىٰ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Hingga ketika Fir’aun itu hampir tenggelam, dia berkata: ‘Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang muslim.’”

(QS. Yunus: 90)

Maka Islam hadir sesuai dengan fitrah manusia dan memberikan ketenangan bagi jiwa.


2. ISLAM SESUAI DENGAN AKAL 

Islam bukan agama doktrin buta. Islam justru mendorong manusia berpikir menggunakan akalnya. Banyak ayat Al-Qur’an yang diakhiri dengan kalimat: afala tatafakkarun, afala ta’qilun, dan li ulil albab. Semua itu menunjukkan pentingnya berpikir.

Salah satu surat yang menjelaskan aqidah Islam secara sangat jelas adalah Surat Al-Ikhlas:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

اللَّهُ الصَّمَدُ

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa.

Allah tempat meminta segala sesuatu.

Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.

Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

(QS. Al-Ikhlas: 1–4)

Ayat-ayat ini sangat masuk akal. Allah itu Esa, tidak dua atau tiga. Kalau Tuhan lebih dari satu maka akan terjadi pertentangan dalam pengaturan alam semesta. Bahkan dalam rumah tangga saja jika pemimpin dua sering terjadi konflik, apalagi dalam pengaturan alam semesta.

Islam memuaskan akal manusia dan memberikan keyakinan yang kuat. Karena itu seorang muslim tidak boleh hanya ikut-ikutan tanpa berpikir dan tanpa pembuktian terhadap kebenaran Islam.


3. ISLAM MEMILIKI KITAB SUCI YANG TERJAGA 

Al-Qur’an adalah kitab suci yang dijamin kemurniannya oleh Allah SWT sampai akhir zaman. Allah berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.”

(QS. Al-Hijr: 9)

Al-Qur’an tidak akan dipalsukan, direvisi atau diubah. Terjaga lafaz dan maknanya. Begitu pula hadits Nabi ﷺ, para ulama telah meneliti mana hadits shahih, hasan, dhaif bahkan palsu. Ini menunjukkan betapa Islam menjaga sumber ajarannya dengan sangat serius.

Karena itu ketika terjadi perselisihan, maka umat Islam diperintahkan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.


4. ISLAM ADALAH AGAMA YANG SEMPURNA 

Islam adalah agama yang sempurna dan mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak hanya mengatur ibadah ritual saja, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan Allah, dirinya sendiri dan sesama manusia.

Allah SWT berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agamamu.”

(QS. Al-Ma’idah: 3)

Islam mengatur:

Hablum minallah → aqidah, sholat, zakat, puasa, haji dan ibadah lainnya.

Hablum binafsih → pakaian, makanan halal-haram, akhlak dan penjagaan diri.

Hablum minannas → muamalah, pernikahan, pergaulan, ekonomi, politik hingga hukum pidana.

Dalam Islam ada aturan pernikahan agar tercipta keluarga sakinah mawaddah warahmah. Ada aturan pergaulan agar tidak terjadi kerusakan moral dan pelecehan seksual. Ada aturan ekonomi agar manusia tidak terjatuh pada riba dan kedzoliman.

Bahkan dalam pemerintahan ada pembahasan fiqih siyasah tentang bagaimana mengatur rakyat dengan adil. Dalam bab uqubat (sanksi hukum) juga terdapat aturan terhadap pencurian, pembunuhan, zina dan tindak kriminal lainnya.

Allah SWT berfirman:

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan dalam qishash itu ada jaminan kehidupan bagimu wahai orang-orang yang berakal agar kamu bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah: 179)

Hukum Islam memiliki fungsi sebagai jawazir (pencegah kejahatan) dan jawabir (penebus dosa).


5. ALLAH TIDAK AKAN MENGINGKARI JANJI-NYA 

Allah SWT menjanjikan kebahagiaan bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

“Barangsiapa mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.”

(QS. An-Nahl: 97)

Allah juga berfirman:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya.”

(QS. Az-Zalzalah: 7–8)

Karena itu seorang muslim diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat) demi mencari ridho Allah SWT.

Allah tidak membutuhkan manusia. Justru manusialah yang membutuhkan Allah. Maka amal sebesar apa pun tidak akan bernilai tanpa iman kepada Allah SWT.


■ PENUTUP ■

Islam adalah agama yang paling sempurna, paling sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal, memiliki kitab suci yang terjaga dan memberikan aturan hidup yang lengkap dari bangun tidur hingga mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Maka sudah sepantasnya kita bersyukur menjadi seorang muslim dan terus memperdalam pemahaman Islam agar keimanan kita bukan sekadar ikut-ikutan, tetapi lahir dari keyakinan yang kokoh berdasarkan ilmu dan pemikiran.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga iman kita hingga akhir hayat.

Wallahu a’lam bish shawab.

Posting Komentar untuk "Mengapa Memilih Islam? - Kajian Masjid Al Walidain Pamalayan Kulon"