Setiap jalan perjuangan pasti ada ujian.
Setiap langkah dakwah pasti ada rintangan.
Setiap orang yang menyeru kepada kebaikan, hampir pasti akan berhadapan dengan penolakan.
Ada yang mendukung.
Ada yang memuji.
Ada yang mengucap masyaAllah.
Namun tak sedikit pula yang mencibir, mengejek, menertawakan, bahkan menghalangi.
Ketika kita mengshare dakwah di sosial media seringkali:
Ada yang menghapus pesan dakwah.
Ada yang menganggapnya mengganggu.
Ada yang menuduh radikal.
Ada yang menyebut pemecah belah.
Ada pula yang sekadar memberi emot tertawa, seolah dakwah hanyalah bahan candaan.
Padahal yang dibagikan adalah ayat Allah, nasihat Islam, seruan kepada kebaikan, dan ajakan kembali kepada syariat.
Namun beginilah sunnatullah. Sejak dahulu hingga sekarang, dakwah tidak pernah steril dari penolakan.
PARA NABI SAJA DIEJEK, APALAGI KITA
Jangan merasa heran bila manusia biasa ditertawakan ketika berdakwah. Sebab para nabi yang mulia pun pernah mengalami jauh lebih berat dari itu.
Nabi Nuh ‘alaihis salam diejek kaumnya ketika membuat bahtera.
Allah Ta’ala berfirman:
وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِّن قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ ۚ قَالَ إِن تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ
"Dan dia membuat kapal itu, dan setiap kali pemuka kaumnya lewat di hadapannya, mereka mengejeknya. Nuh berkata: Jika kamu mengejek kami, maka sungguh kami pun akan mengejek kamu sebagaimana kamu mengejek kami."
(QS. Hud: 38)
Nabi Musa ditentang Fir’aun.
Nabi Ibrahim dilempar ke api.
Nabi Isa didustakan.
Dan Nabi Muhammad ﷺ—manusia terbaik sepanjang zaman—dituduh penyihir, pendusta, orang gila, bahkan dilempari batu hingga berdarah.
Kalau Rasul saja diuji, lalu mengapa kita ingin jalan dakwah selalu mulus?
DAKWAH BUKAN MENCARI PUJIAN
Sebagian orang semangat berdakwah selama dipuji.
Rajin selama di-like.
Aktif selama disanjung.
Namun saat dicibir, ia berhenti. Saat ditolak, ia mundur. Saat ditertawakan, ia down.
Ini tanda bahwa orientasinya belum lurus.
Dakwah bukan mencari tepuk tangan manusia.
Dakwah bukan mengejar popularitas.
Dakwah bukan menanti validasi publik.
Dakwah adalah ibadah.
Dakwah adalah ketaatan.
Dakwah adalah jalan menuju ridha Allah.
JIKA KAMU MENOLONG AGAMA ALLAH…
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kaki kalian."
(QS. Muhammad: 7)
Ayat ini luar biasa.
Ketika seseorang membela agama Allah, menyebarkan kebenaran, menyeru kepada syariat, mengingatkan manusia agar taat kepada Rabb-nya, maka Allah menjanjikan dua hal:
Pertolongan Allah
Keteguhan langkah
Artinya, meski manusia meremehkanmu, Allah tidak meremehkanmu.
Meski manusia menolakmu, Allah melihat usahamu.
Meski manusia tertawa, Allah menilai keikhlasanmu.
IKHLAS ITU KUNCI
Kadang orang sakit hati saat dakwah ditolak. Itu manusiawi.
Kadang kecewa saat pesan dihapus admin grup.
Kadang sedih saat diberi emot tertawa.
Kadang kesal saat dianggap spam.
Perasaan itu wajar. Kita manusia, bukan batu. Pasti perasaan itu akan selalu ada.
Namun jangan biarkan perasaan menguasai akal.
Jangan sampai dakwah berhenti hanya karena ego terluka.
Orang yang ikhlas akan berkata:
"Saya berdakwah bukan demi pujian mereka. Saya berdakwah karena Allah."
HASIL BUKAN URUSAN KITA
Tugas kita adalah menyampaikan.
Adapun hidayah milik Allah.
Allah berfirman kepada Rasulullah ﷺ:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ
"Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki."
(QS. Al-Qashash: 56)
Kalau begitu, mengapa harus putus asa?
Bisa jadi tulisan yang diremehkan hari ini, justru dibaca diam-diam oleh seseorang lalu menjadi sebab taubatnya.
Bisa jadi status yang ditertawakan hari ini, lima tahun lagi menjadi pintu hidayah orang lain.
Bisa jadi dakwah yang dianggap gagal di mata manusia, justru besar nilainya di sisi Allah.
JANGAN BAPERAN, TAPI JUGA JANGAN MATI RASA
Sabar bukan berarti tidak punya rasa sakit.
Sabar adalah tetap berjalan meski hati pernah terluka.
Ikhlas bukan berarti tak peduli.
Ikhlas adalah terus beramal meski tak dipuji.
Maka bila dicibir, doakan.
Bila ditolak, sabar.
Bila dihapus, kirim lagi ke tempat lain.
Bila ditertawakan, tersenyumlah.
Karena bisa jadi yang tertawa hari ini, esok justru ikut menyebarkan dakwahmu.
ORANG YANG MEMUSUHI KEBENARAN SELALU ADA
Allah Ta’ala berfirman:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِّنَ الْمُجْرِمِينَ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا
"Dan demikianlah, untuk setiap nabi Kami jadikan musuh dari kalangan orang-orang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai pemberi petunjuk dan penolong."
(QS. Al-Furqan: 31)
Kalau nabi saja punya musuh, maka dai, penyeru Islam, aktivis dakwah, penulis kebenaran—pasti akan punya penentang.
Ini bukan tanda salah jalan.
Kadang justru tanda sedang berada di jalan yang benar.
ISTIQAMAH LEBIH PENTING DARIPADA VIRAL
Sebagian orang viral sehari, lalu hilang.
Sebagian orang konsisten bertahun-tahun, lalu membuahkan perubahan.
Dakwah tak butuh sensasi.
Dakwah butuh kesabaran panjang.
Tetes air yang terus jatuh bisa melubangi batu.
Begitu pula nasihat yang terus disampaikan bisa menembus hati manusia.
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Jika hari ini dakwahmu ditertawakan, jangan berhenti.
Jika hari ini dianggap remeh, jangan menyerah.
Jika hari ini belum terlihat hasilnya, jangan putus asa.
Karena pahala bukan menunggu viral.
Pahala datang dari niat yang lurus dan amal yang sungguh-sungguh.
Teruslah menanam benih kebaikan.
Bisa jadi panennya bukan hari ini, bukan besok, bahkan bukan di dunia.
Namun di akhirat kelak, engkau akan melihat bahwa tidak ada satu pun usaha di jalan Allah yang sia-sia.
Dakwah memang tak selalu berjalan mulus. Tapi justru di situlah nilai perjuangannya.
Wallahu a’lam bishshawab. []


Posting Komentar untuk "DAKWAH MEMANG TAK SELALU BERJALAN MULUS, KADANG ADA SAJA PIHAK YANG MENERTAWAKAN"