BANYAK PENGAJIAN DIMANA-MANA, TAPI TIDAK MEMBUAT UMAT BANGKIT. WHY⁉️

 




Saat ini kita melihat majelis pengajian dan majelis ta’lim baik bapak-bapak maupun ibu-ibu itu ada dimana-mana. “Pating belatak” kalau kata orang Jawa mah hehe. Hampir tiap kampung ada. Ada yang pekanan tiap Ahad, ada yang rutin tiap Jum’at, ada pula yang bulanan. Masjid ramai, mushola hidup, suara pengajian terdengar dimana-mana.

Namun pertanyaannya: kenapa kok umat masih gitu-gitu aja?

Kenapa majelis pengajian yang begitu banyak itu belum mampu membuat umat bangkit? Minimal membuat umat sadar dan berpikir kritis terhadap kondisi zaman yang semakin rusak akibat sistem Kapitalisme Sekulerisme yang hari ini diterapkan hampir di seluruh dunia.

Akhirnya pengajian seringkali hanya menjadi rutinitas dan formalitas semata. Materi yang dibahas pun monoton dan berulang-ulang. Kalau tidak fiqih dasar, ya akhlak, tata cara wudhu, tata cara sholat, keutamaan sedekah, atau motivasi sabar menghadapi hidup. Semua itu memang penting. Tapi persoalannya, umat seolah tidak pernah diajak memahami akar kerusakan yang sedang menimpa mereka.

Pembahasan tentang politik Islam, kondisi umat, penjajahan pemikiran, rusaknya sistem ekonomi ribawi, liberalisme, sekularisme, perpecahan negeri-negeri muslim, hingga strategi musuh-musuh Islam justru sangat jarang disentuh.

Padahal musuh-musuh Islam itu serius berpolitik dan menyusun strategi untuk melemahkan umat. Mereka menggunakan media, ekonomi, pendidikan, budaya, bahkan hukum untuk menjauhkan umat dari syariat Islam. Mereka paham bahwa kalau umat Islam sadar secara politik dan kembali kepada Islam kaffah, maka dominasi mereka akan runtuh.

Lalu kenapa sebagian pengajian malah membuat umat terlena dan nyaman dengan keadaan?


PENGAJIAN YANG HANYA MENYENTUH PERMUKAAN 

Mohon maaf penulis menyampaikan fakta apa adanya, bukan bermaksud merendahkan majelis tertentu. Banyak pengajian hari ini hanya fokus pada ibadah individu tanpa mengaitkan dengan realita kehidupan umat. Akibatnya Islam dipahami hanya sebatas hubungan pribadi dengan Allah, sementara urusan ekonomi, politik, hukum, pendidikan, media dan pemerintahan dianggap bukan bagian dari agama.

Padahal Islam adalah agama yang sempurna dan mengatur seluruh aspek kehidupan. Rasulullah ﷺ bukan hanya mengajarkan sholat dan puasa, tapi juga membangun masyarakat, menerapkan hukum, memimpin negara dan menjaga urusan umat.

Ketika Islam dipersempit hanya menjadi ritual, maka umat akan rajin ibadah namun lemah menghadapi kerusakan sistem kehidupan. Akhirnya lahirlah generasi yang aktif pengajian tapi tetap terjerat riba, aurat diumbar, pergaulan rusak, korupsi merajalela, bahkan hukum Allah dianggap asing.


UMAT DIBUAT SIBUK PADA CABANG, LUPA AKAR MASALAH 

Hari ini umat sering dipertengkarkan pada persoalan cabang. Ada yang sibuk memperdebatkan qunut, jumlah rakaat tarawih, tahlilan, atau persoalan khilafiyah lainnya tanpa pernah diajak memahami akar kerusakan umat yang sebenarnya.

Padahal akar persoalan umat hari ini adalah diterapkannya sistem kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya boleh di masjid, sementara aturan hidup diatur oleh hawa nafsu manusia dan kepentingan para pemilik modal.

Akibat sistem inilah riba dilegalkan, zina dinormalisasi, pornografi dibiarkan, pendidikan mahal, hukum tajam ke bawah tumpul ke atas, dan kekayaan alam dikuasai oligarki. Tetapi anehnya, banyak pengajian justru diam terhadap semua ini.

Umat akhirnya menjadi baik secara pribadi, tapi lemah secara perjuangan dan kesadaran politik Islam.


TASKIF: PEMBINAAN PEMIKIRAN UMAT 

Dalam dakwah Islam, pembinaan atau taskif sangat penting. Sebagaimana yang banyak dibahas dalam metode dakwah Hizbut Tahrir menurut Taqiyuddin an-Nabhani, taskif adalah proses membina umat dengan pemikiran Islam agar memiliki kesadaran, kepribadian Islam dan pemahaman yang benar terhadap realita kehidupan.

Jadi dakwah bukan sekadar membuat orang menangis saat ceramah atau sekadar ramai jamaahnya. Tapi bagaimana umat dibina agar memahami Islam secara kaffah, berpikir kritis terhadap sistem rusak, serta sadar bahwa Islam punya solusi terhadap problem kehidupan.

Taskif juga bukan berarti mengajarkan kekerasan. Justru pembinaan dilakukan dengan ilmu, diskusi, hujjah, pemikiran dan penyadaran umat. Karena perubahan hakiki tidak lahir dari emosi sesaat, tetapi dari perubahan pola pikir umat itu sendiri.

Maka dakwah Islam harus mampu membangkitkan kesadaran, bukan sekadar menghibur jamaah dengan ceramah yang membuat nyaman tapi tidak menggerakkan.


DAKWAH BUKAN SEKADAR CERAMAH MOTIVASI 

Hari ini banyak ceramah hanya berisi motivasi hidup, hiburan, candaan dan kisah-kisah menyentuh. Jamaah memang senang, tapi seringkali pulang tanpa membawa perubahan cara pandang terhadap kehidupan.

Padahal dakwah Rasulullah ﷺ membentuk generasi sahabat yang bukan hanya ahli ibadah, tetapi juga punya keberanian menyampaikan kebenaran dan memperjuangkan Islam di tengah tekanan.

Dakwah seharusnya membangun umat agar peduli terhadap urusan kaum muslimin, memahami makar musuh Islam, sadar terhadap penjajahan pemikiran, serta memiliki cita-cita agar Islam kembali diterapkan secara kaffah dalam kehidupan.

Karena kalau pengajian hanya dijadikan rutinitas tanpa pembinaan pemikiran, maka umat akan terus tertidur pulas meskipun kajian ada dimana-mana.


■ HIKMAH & HARAPAN ■

Sudah saatnya majelis-majelis pengajian tidak hanya fokus pada ibadah ritual semata, tetapi juga mulai membina kesadaran umat terhadap problem kehidupan yang nyata. Umat perlu ditaskif, dibina pemikirannya, diajak memahami Islam secara menyeluruh, serta ditumbuhkan kepeduliannya terhadap kondisi kaum muslimin.

Dalam dakwah juga ada yang disebut tafa’ul ma’al ummah, yakni berinteraksi dengan umat, memahami problem mereka lalu memberikan opini dan solusi Islam atas berbagai persoalan kehidupan. Maka dakwah Islam bukan sekadar teori, tetapi hadir untuk membimbing umat menuju perubahan yang diridhai Allah SWT.

Perlu ditegaskan pula bahwa dakwah pemikiran Islam kaffah tidak pernah mengajarkan teror, membuat bom, kudeta atau tindakan anarkis sebagaimana sering difitnahkan oleh pihak-pihak tertentu. Dakwah dilakukan dengan hujjah, ilmu, pembinaan dan perjuangan pemikiran di tengah umat.

Karena tujuan dakwah sejatinya adalah mengajak manusia kembali tunduk kepada aturan Allah secara menyeluruh, bukan menciptakan kerusakan.

Semoga umat Islam kembali sadar bahwa Islam bukan hanya agama ritual, tetapi juga aturan hidup yang sempurna untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.

Wallahu a’lam bish shawab.

Posting Komentar untuk "BANYAK PENGAJIAN DIMANA-MANA, TAPI TIDAK MEMBUAT UMAT BANGKIT. WHY⁉️"