Sepekan yang lalu kita sudah menyaksikan beruntun peristiwa terjadi dan seolah membentuk satu benang merah besar: tragedi KRL yang menelan banyak korban perempuan, kasus daycare di Yogyakarta yang mencederai amanah keibuan, hingga fenomena masifnya perempuan masuk ke ruang publik.
Pertanyaannya: ini kebetulan… atau ada yang salah dari cara kita memandang peran perempuan?
Dalam tragedi KRL, disebutkan bahwa korban didominasi perempuan karena berada di gerbong khusus wanita. Secara teknis, gerbong ini memang dibuat sebagai bentuk perlindungan. Namun fakta di lapangan menunjukkan sesuatu yang lebih dalam: pada jam-jam sibuk tersebut, mayoritas penumpang perempuan itu adalah pekerja. Artinya, perempuan hari ini memang didorong—bahkan dalam banyak kondisi dipaksa—untuk bekerja di luar rumah.
Lebih miris lagi, ditemukan fakta adanya ibu yang membawa ASI perah dalam tasnya. Ini bukan sekadar cerita, tapi potret nyata: seorang ibu yang baru melahirkan harus kembali bekerja, sementara bayinya ditinggalkan.
Di sisi lain, kasus daycare menunjukkan dampak lanjutan. Anak-anak yang seharusnya diasuh penuh kasih sayang justru menjadi korban kekerasan. Di Yogyakarta, puluhan anak menjadi korban, bahkan sebagian lainnya menjadi saksi trauma. Sistem pengawasan lemah, izin operasional bermasalah, dan praktiknya dilakukan secara terstruktur.
Lalu muncul pertanyaan penting:
Apakah ini murni kesalahan individu? Atau ada kesalahan sistemik yang lebih besar?
🔍 AKAR MASALAH: PERGESERAN PERAN
Dalam Islam, perempuan memiliki kedudukan yang sangat mulia. Ia bukan sekadar “tenaga kerja tambahan”, tapi pilar utama peradaban.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya."
(HR. Bukhari & Muslim)
Artinya, peran utama perempuan adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Bukan berarti Islam melarang perempuan bekerja—tidak. Hukumnya mubah (boleh). Tapi ada syarat penting: tidak boleh mengabaikan kewajiban utamanya.
Masalahnya hari ini, dalam sistem kapitalisme sekuler, ukuran keberhasilan perempuan bergeser. Bukan lagi pada peran keibuannya, tapi pada seberapa besar penghasilan dan kariernya.
Akhirnya apa yang terjadi?
Ibu meninggalkan anak demi kerja
Anak diasuh pihak lain tanpa jaminan keamanan
Laki-laki kehilangan peran kepemimpinan
Keluarga kehilangan arah
Ini bukan sekadar masalah individu. Ini kerusakan sistemik.
⚖️ ISLAM: ADIL, BUKAN SEKADAR SETARA
Dalam Islam, laki-laki dan perempuan tidak disamaratakan, tapi diberi peran sesuai fitrah.
Allah berfirman:
وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنثَىٰ
“Dan laki-laki tidaklah sama dengan perempuan.”
(QS. Ali Imran: 36)
Namun di sisi lain:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Artinya, kemuliaan bukan diukur dari karier atau materi, tapi dari ketakwaan.
Berbeda dengan sistem hari ini yang berasaskan kesetaraan absolut, tanpa mempertimbangkan fitrah. Semua disamaratakan, padahal realitasnya berbeda.
🧠 KENAPA MASALAH TERUS BERULANG?
Karena sistem yang ada bersifat reaktif, bukan preventif.
Ada kasus → baru dibuat aturan
Ada korban → baru dievaluasi
Ada viral → baru bergerak
Padahal dalam Islam, sistem dibangun sejak awal untuk mencegah kerusakan, bukan sekadar mengobati.
Contohnya:
Peran ibu ditegaskan sejak awal
Nafkah wajib ditanggung laki-laki
Negara wajib menjamin kesejahteraan rakyat
Hukum tegas untuk mencegah kejahatan
🧩 BENANG MERAH SEMUA KASUS
Kalau ditarik satu garis lurus:
👉 Tragedi KRL
👉 Kasus daycare
👉 Perempuan bekerja karena tekanan ekonomi
Semua bermuara pada satu hal:
rusaknya tatanan peran akibat sistem yang salah.
Perempuan jadi korban.
Perempuan juga kadang jadi pelaku.
Tapi akar masalahnya tetap sama: sistem kehidupan yang tidak dibangun di atas aturan Allah.
📌 PENEGASAN AKHIR
Allah telah mengingatkan:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Artinya tujuan hidup bukan sekadar bekerja, mencari materi, atau mengejar karier. Tapi beribadah secara total kepada Allah.
Maka ketika aturan hidup tidak lagi bersumber dari-Nya, jangan heran jika kehidupan menjadi ruwet, kacau, dan penuh tragedi.
🔥 PENUTUP
Hari ini kita melihat:
Perempuan dipaksa produktif di luar,
tapi tetap dituntut sempurna di dalam rumah.
Akhirnya?
Semua serba setengah.
Anak terabaikan.
Keluarga rapuh.
Masyarakat rusak.
Solusinya bukan tambal sulam.
Bukan sekadar regulasi baru.
Solusinya adalah kembali pada Islam secara kaffah.
Bukan setengah-setengah.
Bukan seperti prasmanan—ambil yang cocok saja.
Tapi total. Menyeluruh.
Karena hanya dengan itu, kehidupan akan kembali tertata.
Tentunya semua itu akan terwujud ketika Daulah Khilafah kembali tegak.
Allahu a’lam bish-shawab.





Posting Komentar untuk "ADA APA DENGAN PEREMPUAN SAAT INI⁉️"