TERKADANG SEORANG PENDOSA YANG BERTOBAT ITU LEBIH MULIA DARIPADA ULAMA TAPI GILA HARTA & JABATAN‼️

 



Realita hari ini sungguh memantik perenungan yang dalam. Di satu sisi, kita menyaksikan ada orang-orang yang dulunya jauh dari agama—hidup dalam kemaksiatan, bahkan mungkin dikenal sebagai “orang jalanan”—namun kemudian Allah beri hidayah. Mereka bertobat dengan sungguh-sungguh, meninggalkan dosa, menangis di sepertiga malam, dan berusaha istiqomah di jalan ketaatan.

Di sisi lain, ada pula sosok yang secara lahir dikenal sebagai ulama, dai, atau tokoh agama. Namun, ketika dihadapkan pada godaan dunia—harta, jabatan, kekuasaan—sebagian justru tergelincir. Fatwa bisa berubah, prinsip bisa goyah, bahkan kebenaran bisa dikaburkan demi kepentingan duniawi.

Fenomena ini bukan untuk menyerang individu atau kelompok tertentu. Perlu ditegaskan: tidak semua ulama demikian. Banyak ulama yang tetap lurus, istiqomah, dan berani menyuarakan kebenaran meski harus menghadapi tekanan, bahkan dikucilkan. Namun realita adanya sebagian yang tergoda tetap harus menjadi bahan muhasabah bersama.

Allah ﷻ telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا

"Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit."

(QS. Al-Baqarah: 41)

Ayat ini menjadi peringatan keras agar jangan sampai agama dijadikan alat untuk meraih dunia. Ketika ilmu agama digunakan untuk melegitimasi kepentingan kekuasaan, maka itu adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah ilmu.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Barangsiapa mempelajari ilmu yang seharusnya untuk mencari ridha Allah, namun ia pelajari hanya untuk mendapatkan dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat."

(HR. Abu Dawud)

Na’udzubillah… betapa berat ancaman ini.

Sebaliknya, Islam sangat memuliakan orang yang bertobat dengan sungguh-sungguh. Bahkan, Allah mencintai mereka:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri."

(QS. Al-Baqarah: 222)

Dalam hadits qudsi, Allah ﷻ juga berfirman:

يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ

"Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai langit, lalu engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu."

(HR. Tirmidzi)

Artinya, siapa pun dia—meskipun penuh dosa—selama ia benar-benar bertobat dengan ikhlas, Allah bukan hanya mengampuni, tapi juga mengangkat derajatnya.

Bahkan dalam Al-Qur’an disebutkan:

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ

"Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh, maka kejahatan mereka akan Allah ganti dengan kebaikan."

(QS. Al-Furqan: 70)

Subhanallah… dosa bukan hanya dihapus, tapi diubah jadi pahala!

Lalu kenapa bisa terjadi ada “ulama” yang tergelincir?

Salah satu sebabnya adalah penyakit hati: cinta dunia (hubbud dunya). Ketika dunia menjadi tujuan utama, maka ilmu agama yang seharusnya menjadi cahaya justru berubah menjadi alat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ

"Cinta dunia adalah pangkal dari segala kesalahan."

(HR. Baihaqi)

Ketika cinta dunia sudah menguasai hati:

• Kebenaran bisa ditawar

• Fatwa bisa disesuaikan

• Prinsip bisa dikompromikan

Dan yang lebih berbahaya, umat terutama yang awam menjadi bingung. Mana yang benar, mana yang salah.

Di sisi lain, orang yang bertobat biasanya memiliki satu kelebihan besar: keikhlasan. Dia sadar betul pahitnya dosa, sehingga ketika kembali kepada Allah, dia bersungguh-sungguh. Tidak sedikit dari mereka yang justru lebih takut kepada Allah dibanding orang yang sejak awal berada di lingkungan “religius”.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

"Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-Nya adalah para ulama."

(QS. Fatir: 28)

Namun ayat ini menunjukkan hakikat ulama yang sebenarnya: bukan sekadar berilmu, tapi yang benar-benar takut kepada Allah. Jika tidak ada rasa takut kepada Allah, maka ilmunya patut dipertanyakan.

Maka di sinilah pelajaran penting bagi kita semua:

Jangan pernah meremehkan orang yang sedang bertobat. Bisa jadi di hadapan Allah, dia lebih mulia daripada orang yang terlihat alim tapi hatinya terpaut pada dunia.

Dan jangan pula merasa aman dengan ilmu atau status. Karena ujian terbesar bukan pada kebodohan, tapi pada ilmu yang tidak diamalkan.


■ HIKMAH & HARAPAN ■

Semoga kita semua dijauhkan dari penyakit cinta dunia yang berlebihan. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang ikhlas dalam beragama, bukan yang menjadikan agama sebagai alat mencari dunia.

Mari kita doakan para ulama yang lurus agar tetap istiqomah dan dilindungi. Dan bagi yang tergelincir, semoga Allah beri hidayah untuk kembali ke jalan yang benar.

Serta bagi siapa pun yang sedang bertobat, jangan pernah putus asa. Karena rahmat Allah jauh lebih luas daripada dosa kita.

Wallahu a’lam bishowab. []


Dukung Dakwah Buletin Subuh ini

Apabila sahabat sekalian merasa buletin ini bermanfaat,

silakan dukung dakwah ini dengan donasi seikhlasnya.

Donasi digunakan untuk:

• biaya cetak buletin dakwah

• distribusi buletin

• kebutuhan dakwah lainnya.


Transfer melalui DANA 087831718241 atas nama Aldy Firmansyah atau bisa Klik Disini untuk donasi.


Semoga setiap rupiah yang disumbangkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.


Jazakumullahu khairan katsiran.



Posting Komentar untuk "TERKADANG SEORANG PENDOSA YANG BERTOBAT ITU LEBIH MULIA DARIPADA ULAMA TAPI GILA HARTA & JABATAN‼️"