HARGA BBM NON SUBSIDI NAIK: REALITA YANG TERJADI DALAM SISTEM KAPITALIS SEKULER

 




Hari ini publik kembali dikejutkan dengan kenaikan harga BBM non-subsidi yang cukup tajam. Berdasarkan informasi resmi dari PT Pertamina (Persero) per 18 April 2026, terjadi lonjakan signifikan pada beberapa jenis BBM:

Pertamax Turbo: dari Rp13.100 ➝ Rp19.400

Dexlite: dari Rp14.200 ➝ Rp23.600

Pertamina Dex: dari Rp14.500 ➝ Rp23.900

Sementara itu, BBM subsidi seperti Pertalite (Rp10.000) dan Solar (Rp6.800) masih ditahan. Namun, realitanya, kenaikan BBM non-subsidi ini tidak berdiri sendiri. Ia akan memicu efek domino (multiplier effect) terhadap berbagai sektor kehidupan.

Transportasi naik, distribusi barang mahal, harga kebutuhan pokok terdorong naik, dan pada akhirnya rakyat kecil kembali menjadi pihak yang paling terdampak.


Akar Masalah: Sistem Kapitalisme Sekuler

Pertanyaan pentingnya: kenapa ini terus berulang?

Jawabannya sederhana: karena pengelolaan energi diserahkan pada mekanisme pasar dalam sistem kapitalisme sekuler.

Dalam sistem ini, negara hanya berperan sebagai regulator, bukan pengelola utama. Harga ditentukan oleh fluktuasi global: harga minyak dunia, geopolitik, dan kepentingan korporasi besar.

Menteri ESDM pun menegaskan bahwa BBM non-subsidi mengikuti harga pasar global. Artinya, kebutuhan vital rakyat diserahkan pada mekanisme untung-rugi.

Padahal, apakah energi itu sekadar komoditas bisnis?


Pandangan Islam Tentang Energi

Dalam Islam, energi termasuk dalam kepemilikan umum (milkiyah ‘ammah), yang tidak boleh dikuasai oleh individu, swasta, apalagi asing.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الْمَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ

“Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.”

(HR. Abu Dawud)

Para ulama menjelaskan bahwa “النار” (api) mencakup seluruh sumber energi, termasuk minyak, gas, dan tambang.

Artinya?

Energi adalah milik umat. Negara wajib mengelola dan mendistribusikannya untuk kesejahteraan rakyat—bukan untuk keuntungan segelintir pihak.


Dampak Sistem yang Rusak

Sedulurku…

Ketika sumber daya alam dikelola dengan logika kapitalisme, maka yang terjadi adalah:

1.) Harga tidak stabil

2.) Rakyat tergantung pasar global

3.) Kesenjangan ekonomi melebar

4.) Kekayaan alam tidak dinikmati rakyat

Allah ﷻ telah mengingatkan:

كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ

“Agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian.”

(QS. Al-Hasyr: 7)

Namun realitanya hari ini justru sebaliknya—kekayaan hanya berputar di kalangan tertentu.


Solusi Islam: Pengelolaan yang Adil

Islam tidak menolak adanya kepemilikan pribadi. Namun Islam membagi kepemilikan menjadi tiga:

1.) Milkiyah Fardiyah (individu)

2.) Milkiyah ‘Ammah (umum)

3.) Milkiyah Daulah (negara)

Energi termasuk milik umum, sehingga haram diserahkan ke swasta atau asing.

Negara dalam Islam bertanggung jawab penuh atas pengelolaannya. Hasilnya dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk:

a. Pendidikan gratis

b. Kesehatan gratis

c. Infrastruktur layak

d. Kesejahteraan merata

e. Refleksi Keimanan

Sedulurku…

Krisis hari ini bukan sekadar ekonomi, tapi krisis sistem.

Selama aturan hidup tidak kembali kepada syariat Allah, maka masalah akan terus berulang.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

“Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh ia akan menjalani kehidupan yang sempit.”

(QS. Thaha: 124)

Hidup makin sempit… biaya hidup naik… keberkahan hilang…

Ini bukan kebetulan. Ini akibat dari meninggalkan aturan Allah.


■ HIKMAH & HARAPAN ■

Kenaikan harga BBM hari ini seharusnya membuka mata kita semua:

Bahwa problem umat bukan sekadar teknis, tapi ideologis.

Sudah saatnya umat Islam berpikir lebih dalam:

bukan hanya mengeluh, tapi mencari solusi hakiki.

Solusi itu adalah kembali kepada syariat Islam secara kaffah—bukan parsial.

Karena hanya dengan aturan Allah, keadilan benar-benar terwujud.

Dan hanya dengan sistem Islam, kekayaan alam akan kembali untuk kemaslahatan umat, bukan untuk segelintir elit.

Wallahu a’lam bishowab. []

Posting Komentar untuk "HARGA BBM NON SUBSIDI NAIK: REALITA YANG TERJADI DALAM SISTEM KAPITALIS SEKULER"