DZULQA’DAH: BULAN HARAM, SAATNYA MENINGKATKAN KETAATAN & MENYATUKAN UMAT

 




Alhamdulillah, segala puji bagi Allah ﷻ yang masih memberikan kita nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hari ini, Sabtu Kliwon, 18 April 2026 M, kita telah memasuki 1 Dzulqa’dah 1447 H menurut Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang digunakan oleh Muhammadiyah. Menariknya, penanggalan ini juga sejalan dengan kalender Ummul Quro’ di Makkah serta kalender Jawa yang mengenal bulan ini sebagai Dulkangidah atau “Wulan Apit”—bulan yang “mengapit” antara Syawal dan Dzulhijjah.

Namun di sisi lain, pemerintah baru menetapkan awal Dzulqa’dah pada Ahad, 19 April 2026. Lagi-lagi, perbedaan ini menjadi bukti bahwa kalender Hijriah umat Islam hingga hari ini belum memiliki kesatuan global. Akibatnya, perbedaan awal Ramadhan, Idul Fitri, bahkan berpotensi kembali terjadi pada Idul Adha, terus berulang dari tahun ke tahun. Meskipun prediksi kuat bahwa Idul Adha tahun ini akan serentak.


Bulan Haram yang Dimuliakan

Dzulqa’dah termasuk salah satu dari empat bulan haram (asyhurul hurum) yang dimuliakan dalam Islam. Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا... مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ...

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ada dua belas bulan... di antaranya ada empat bulan haram...”

(QS. At-Taubah: 36)

Para ulama menjelaskan bahwa pada bulan-bulan ini, pahala ketaatan dilipatgandakan, begitu pula dosa kemaksiatan menjadi lebih berat.


Momentum Meningkatkan Kualitas Iman

Inilah saatnya kita meningkatkan kualitas hubungan dengan Allah ﷻ (idrak shilah billah). Bukan sekadar ibadah ritual, tetapi kesadaran penuh bahwa setiap aktivitas hidup terikat dengan aturan-Nya.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”

(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Maka, Dzulqa’dah bukan sekadar pergantian bulan, tetapi momentum evaluasi diri:

sudahkah kita benar-benar hidup dalam ketaatan?


Realita Umat: Satu Kiblat, Banyak Perbedaan

Di tengah kemuliaan bulan ini, umat Islam justru dihadapkan pada realita yang memprihatinkan: perpecahan dalam hal mendasar seperti penanggalan.

Awal Ramadhan berbeda…

Hari raya berbeda…

Sekarang awal Dzulqa’dah pun berbeda…

Padahal Allah ﷻ telah mengingatkan:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai.”

(QS. Ali Imran: 103)

Perbedaan ini bukan semata soal teknis hisab atau rukyat, tetapi menunjukkan tidak adanya otoritas tunggal yang menyatukan umat Islam secara global.


Problematika Rukyat & Kalender

Di berbagai negara, metode penentuan awal bulan berbeda-beda. Bahkan praktik rukyatul hilal di sebagian tempat sering menuai kontroversi—antara fakta ilmiah dan klaim penglihatan.

Akibatnya, umat bingung…

Tanggal 29 berbeda…

Awal bulan berbeda…

Hari raya pun ikut berbeda…

Ini bukan sekadar persoalan fiqih, tapi sudah menyentuh persatuan umat secara global.


Ketiadaan Otoritas Global Umat Islam

Semua ini menunjukkan satu fakta penting:

umat Islam hari ini tidak memiliki institusi pemersatu yang memiliki otoritas dalam menetapkan kalender Hijriah secara global.

Padahal, umat ini satu:

Satu aqidah…

Satu kitab…

Satu nabi…

Satu kiblat…

Namun dalam praktiknya terpecah dalam puluhan sistem dan keputusan yang berbeda.


Pentingnya Kepemimpinan yang Menyatukan

Dalam Islam, kepemimpinan bukan sekadar simbol, tetapi fungsi strategis untuk menyatukan umat dalam berbagai aspek kehidupan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

“Imam (pemimpin) adalah perisai; kaum Muslim berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Termasuk dalam hal ini adalah penyatuan penanggalan, ibadah, dan arah kebijakan umat secara global.


Refleksi di Bulan Dzulqa’dah

Memasuki bulan haram ini, seharusnya kita tidak hanya sibuk memperbanyak ibadah pribadi, tetapi juga merenungkan kondisi umat secara keseluruhan.

Mengapa umat yang besar ini terpecah?

Mengapa potensi besar tidak mampu menyatukan arah?

Mengapa perbedaan terus berulang?

Jawabannya bukan karena kekurangan dalil…

Tapi karena tidak adanya kekuatan yang menyatukan pelaksanaannya.


Menuju Idul Adha: Momentum Persatuan

Dzulqa’dah adalah gerbang menuju Dzulhijjah dan Idul Adha. Ibadah haji sendiri adalah simbol persatuan umat Islam sedunia.

Semua memakai pakaian yang sama…

Semua menuju tempat yang sama…

Semua melakukan ritual yang sama…

Namun ironisnya, di luar itu umat masih terpecah dalam banyak hal.


■ HIKMAH & HARAPAN ■

Bulan Dzulqa’dah mengajarkan kita untuk lebih berhati-hati dalam amal—karena pahala dan dosa dilipatgandakan.

Momentum ini harus digunakan untuk memperkuat hubungan dengan Allah (idrak shilah billah).

Perbedaan penanggalan adalah cermin belum bersatunya umat secara global.

Umat Islam membutuhkan kesadaran kolektif untuk kembali pada persatuan yang hakiki.

Harapannya, umat tidak hanya fokus pada ibadah individu, tetapi juga peduli terhadap kondisi umat secara menyeluruh.

Semoga Allah ﷻ menyatukan hati kaum Muslim, memperbaiki keadaan umat, dan memberikan kita kekuatan untuk tetap istiqomah di tengah zaman yang penuh ujian ini.

Wallahu a’lam bishowab. []

Posting Komentar untuk "DZULQA’DAH: BULAN HARAM, SAATNYA MENINGKATKAN KETAATAN & MENYATUKAN UMAT"