Jika kita membuka mata hari ini, melihat berita demi berita, kejadian demi kejadian, satu kesimpulan besar mulai terasa jelas: dunia ini sedang tidak baik-baik saja.
Kabar tentang BBM yang naik-turun tanpa kepastian membuat rakyat gelisah. Isu ketegangan global seperti di kawasan Selat Hormuz menambah kecemasan. Kebijakan pemerintah yang sering berubah-ubah membuat masyarakat bingung harus bersikap bagaimana. Di satu sisi rakyat diminta berhemat, di sisi lain para elit tampak santai, bahkan ada yang tetap berlibur di tengah kondisi genting.
Belum lagi persoalan ekonomi yang semakin terasa menekan. Harga-harga naik perlahan tapi pasti. Nasi kuning yang dulu lima ribu, naik jadi delapan ribu, sekarang sepuluh ribu. Ini bukan sekadar angka, tapi tanda nyata inflasi yang mencekik kehidupan rakyat kecil.
Di sisi lain, kriminalitas semakin meningkat. Di Ciamis sempat viral kasus pengrusakan mobil yang hendak mudik ke Pekalongan oleh pelaku diduga dalam kondisi mabuk. Nyawa manusia hari ini seakan murah—berita pembunuhan hampir setiap hari terdengar. Kekerasan menjadi hal yang biasa. Emosi tak terkendali. Akal tak lagi menjadi penuntun.
Pertanyaannya sederhana: kenapa semua ini terjadi?
Apakah ini kebetulan? Apakah ini sekadar ujian tanpa sebab?
Ataukah ini buah dari sebuah sistem yang memang rusak sejak awal?
Allah ﷻ telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia...”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini seperti menggambarkan kondisi hari ini. Kerusakan bukan terjadi tanpa sebab, tapi karena ulah manusia sendiri—yakni ketika manusia membuat aturan hidupnya sendiri tanpa petunjuk dari Allah.
Sistem yang hari ini mengatur kehidupan manusia adalah sistem buatan manusia. Sistem yang lahir dari akal yang terbatas, dari kepentingan, dari hawa nafsu. Maka wajar jika hasilnya pun penuh cacat.
Ekonomi yang berbasis riba melahirkan ketimpangan.
Politik yang berbasis kepentingan melahirkan kebijakan plin-plan.
Sosial yang jauh dari agama melahirkan kerusakan moral.
Hukum yang lemah melahirkan kezaliman.
Semua saling berkaitan, saling menguatkan dalam kerusakan.
Allah ﷻ berfirman:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?”
(QS. Al-Ma’idah: 50)
Inilah akar masalahnya. Bukan sekadar BBM naik. Bukan sekadar kriminalitas. Bukan sekadar inflasi. Tapi lebih dalam dari itu: manusia telah meninggalkan aturan Allah dalam mengatur kehidupan.
Padahal Islam bukan hanya mengatur ibadah di masjid saja. Islam mengatur ekonomi, politik, sosial, pendidikan, hingga keamanan.
Islam punya solusi untuk:
• Menjaga nyawa manusia agar tidak murah
• Menjaga harta agar tidak dirampas
• Menjaga akal agar tidak rusak oleh alkohol
• Menjaga keturunan agar tidak hancur oleh pergaulan bebas
• Menjaga agama agar tetap tegak di tengah kehidupan
Allah ﷻ berfirman:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu...”
(QS. An-Nahl: 89)
Namun sayangnya, hari ini Islam hanya ditempatkan di masjid. Dianggap cukup sebagai ritual. Sementara kehidupan di luar itu diatur dengan sistem lain.
Akibatnya?
• Ibadah ada, tapi kehidupan tetap kacau.
• Masjid ramai, tapi keadilan hilang.
• Shalat ditegakkan, tapi riba merajalela.
Inilah paradoks umat hari ini.
Padahal Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan shalat dan puasa, tapi juga membangun sistem kehidupan. Negara Madinah menjadi bukti nyata bagaimana syariat Islam diterapkan secara kaffah dan mampu menghadirkan keadilan, keamanan, dan kesejahteraan.
Hari ini, umat justru hidup dalam sistem yang bertentangan dengan itu.
Maka wajar jika dunia terasa semakin tidak pasti. Karena fondasinya memang rapuh.
Solusinya bukan sekadar ganti pemimpin.
Bukan sekadar tambal kebijakan.
Bukan sekadar kritik sana-sini.
Tapi kembali kepada satu hal yang pasti: syariat Islam secara kaffah.
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Musibah demi musibah, kekacauan demi kekacauan, seharusnya membuka mata kita. Bahwa selama manusia hidup dengan aturan selain dari Allah, maka ketidakpastian akan terus menghantui.
Sudah saatnya umat ini berpikir. Bukan sekadar mengikuti arus, tapi memahami akar masalah. Bahwa solusi hakiki bukan pada sistem buatan manusia, tapi pada aturan Allah yang sempurna.
Mari kita mulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan. Menguatkan pemahaman Islam, menghidupkan dakwah, dan bersama-sama memperjuangkan tegaknya syariat Islam secara kaffah.
Karena perubahan tidak akan datang jika umat hanya diam.
Wallahu a’lam bish-shawab.


Posting Komentar untuk "DUNIA SEMAKIN TIDAK PASTI: BUKTI RUSAKNYA SISTEM BUATAN MANUSIA SEMAKIN TERLIHAT JELAS‼️"