Alhamdulillah, kita telah memasuki pertengahan Ramadhan. Malam tadi langit menghadirkan tanda kebesaran Allah: bulan purnama dan gerhana bulan total. Kaum Muslimin bertakbir, menunaikan shalat gerhana setelah berbuka dan Maghrib.
Allah berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam dan siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya.”
(QS. Fussilat: 37)
Gerhana mengingatkan kita: alam tunduk kepada Allah.
Pertanyaannya — sudahkah umat tunduk sepenuhnya pada aturan-Nya?
Umat Terpecah, Musuh Bersatu
Hari ini kita menyaksikan dunia Islam penuh gejolak. Isu konflik kawasan, perang opini, propaganda media, hingga framing sektarian terus dimainkan.
Yang diserang seringkali bukan sekadar satu kelompok, tetapi dunia Islam secara umum. Namun narasi yang beredar kerap diarahkan agar umat saling mencurigai: Sunni vs Syiah, Arab vs non-Arab, ormas vs ormas, mazhab vs mazhab.
Padahal Allah telah memperingatkan:
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian.”
(QS. Al-Anfal: 46)
Perpecahan bukan sekadar beda pendapat.
Perpecahan yang berujung permusuhan adalah pintu kehancuran.
Mazhab: Kekayaan Ilmu, Bukan Alat Permusuhan
Mazhab dalam fikih lahir dari ijtihad ulama. Ia adalah khazanah, bukan senjata. Perbedaan pendapat dalam cabang hukum adalah keniscayaan ilmiah.
Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata:
“Pendapatku benar namun mungkin salah, dan pendapat orang lain salah namun mungkin benar.”
Artinya, tradisi ilmu Islam mengajarkan adab dalam perbedaan, bukan kebencian.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya.”
(HR. Bukhari no. 2442, Muslim no. 2580)
Kalau masih satu kalimat syahadat, satu kiblat, satu Nabi — mengapa mudah sekali retak?
Jangan Terjebak Adu Domba
Allah Ta’ala telah mengingatkan:
وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu sampai kamu mengikuti agama mereka.”
(QS. Al-Baqarah: 120)
Ayat ini bukan untuk menumbuhkan kebencian buta, tetapi sebagai peringatan bahwa dalam sejarah selalu ada tarik-menarik kepentingan dan ideologi. Maka umat dituntut cerdas membaca keadaan, bukan mudah diprovokasi.
Strategi klasik yang terus berulang sepanjang zaman:
pecah belah — lemahkan — kuasai.
Dan yang paling mudah dipecah adalah umat yang sibuk saling serang di dalam.
Nation-State & Sekat Identitas
Pasca runtuhnya kepemimpinan global umat di awal abad ke-20, dunia Islam terbagi menjadi banyak negara bangsa. Identitas nasional menguat, sementara identitas ukhuwah Islamiyah global melemah.
Padahal Allah menegaskan:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.”
(QS. Al-Hujurat: 10)
Persaudaraan iman melampaui batas bendera dan mazhab.
Tegakkan Syariat, Mulai dari Diri
Seruan menegakkan syariat bukan sekadar slogan politik. Syariat dimulai dari:
• Shalat yang benar
• Kejujuran dalam muamalah
• Menolak riba
• Menegakkan keadilan
• Amar ma’ruf nahi munkar
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.”
(QS. Al-Baqarah: 208)
Kaffah artinya menyeluruh — bukan setengah-setengah, bukan hanya ritual, dan bukan hanya simbol.
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Sudahi debat yang tak produktif.
Tinggalkan fanatisme golongan.
Perkuat ukhuwah.
Musuh akan gentar jika umat bersatu.
Musuh akan leluasa jika umat sibuk bertikai.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi seperti satu tubuh.”
(HR. Muslim no. 2586)
Kalau satu anggota sakit, seluruh tubuh merasakan.
Hari ini tubuh itu sedang demam.
Obatnya bukan saling menyalahkan — tetapi kembali pada persatuan, ilmu, dan perjuangan yang bermartabat.
Mari bersatu.
Mari rapatkan barisan.
Mari berjuang bersama dalam koridor ilmu, hikmah, dan keteguhan iman. Berjuang bebarengan sampai syariat Islam kembali tegak dimuka bumi ini.
Takbir!
Allahu Akbar!
Wallahu a’lam bish-shawab.


Posting Komentar untuk "LUPAKAN DEBAT SOAL MAZHAB‼️MARI BERSATU BERJUANG BEBARENGAN TEGAKAN SYARIAT ISLAM❗☝️"