SUGENG RAWUH ING SASIH SYA’BAN / RUWAH

 





Alhamdulillāh, segala puji hanya milik Allah ﷻ yang masih mempertemukan kita dengan pergantian waktu dan musim kehidupan. Hari ini, Selasa Pahing, 20 Januari 2026 M, kita resmi memasuki 1 Sya’ban 1447 H berdasarkan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) yang digunakan Muhammadiyah.

Sya’ban bukan bulan biasa. Ia adalah bulan pengantar, bulan pemanasan ruhani, bulan persiapan mental dan amal, sebelum kita disambut oleh tamu agung bernama Ramadhan.

Dalam tradisi Jawa-Islam Nusantara, bulan Sya’ban dikenal luas sebagai Sasi Ruwah. Bukan tanpa makna. Ia sarat nilai spiritual, refleksi diri, dan pengingat tentang hakikat hidup dan kematian.


MAKNA SYA’BAN: BULAN YANG SERING DILALAIKAN


Secara bahasa, Sya’ban berasal dari kata sya‘aba (شَعَبَ) yang bermakna bercabang, menyebar, atau terpisah. Para ulama menjelaskan, dinamakan Sya’ban karena pada bulan ini amal-amal manusia “bercabang” dan diangkat kepada Allah ﷻ.

Rasulullah ﷺ bersabda:

ذَٰلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Itu adalah bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Padahal pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam.”

(HR. an-Nasa’i)

Ironis. Saat banyak orang sibuk menunggu Ramadhan, justru Sya’ban kerap terlewat tanpa persiapan. Padahal, Ramadhan yang kuat lahir dari Sya’ban yang serius.


SYA’BAN DI TANAH JAWA: BULAN RUWAH


Di Nusantara, khususnya Jawa, bulan Sya’ban dikenal sebagai bulan Ruwah. Kata ruwah berakar dari kata arwāḥ (أرواح) yang berarti ruh-ruh.

Namun perlu ditegaskan: Islam tidak mengajarkan ritual meminta kepada arwah, tetapi mengajarkan muhasabah, doa, dan persiapan diri menghadapi kematian.

Bulan Ruwah sejatinya adalah:

Momentum merenungi akhir kehidupan

Saat yang tepat membersihkan niat

Waktu menyambung silaturahmi dan memperbaiki hubungan

Kesempatan bertaubat sebelum Ramadhan datang

Bukan sekadar tradisi, tetapi kesadaran spiritual.


MENUJU RAMADHAN: HITUNG MUNDUR DIMULAI


Jika mengacu pada KHGT Muhammadiyah, maka:

1 Ramadhan 1447 H insyaAllah jatuh pada

Rabu, 18 Februari 2026 M

Menariknya, penetapan ini sejalan dengan Kalender Jawa:

Kalender ABOGE (Alif Rebo Wage)

Digunakan pula oleh Kraton Yogyakarta

Menetapkan 1 Poso 1959 Dal pada Rebo Legi, 18 Februari 2026 M

Meski demikian, besar kemungkinan akan terjadi perbedaan dengan pemerintah, NU, atau PERSIS, yang mungkin menetapkan 1 Ramadhan pada Kamis, 19 Februari 2026 M.

Perbedaan bukan masalah baru. Yang lebih penting adalah substansi persiapan, bukan sekadar tanggal.


NISFU SYA’BAN: TITIK EVALUASI AMAL


Sekitar 15 hari lagi, kita akan bertemu dengan Nisfu Sya’ban.

Berdasarkan KHGT:

15 Sya’ban 1447 H

Selasa Legi, 3 Februari 2026 M

Dalam banyak riwayat, Nisfu Sya’ban disebut sebagai momentum di mana catatan amal diganti dan diangkat. Bukan malam penuh hura-hura ritual, tetapi malam muhasabah dan taubat.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang menyucikan diri.”

(QS. Al-Baqarah: 222)

Maka Sya’ban adalah:

Saat memperbanyak istighfar

Melatih puasa sunnah

Menata kembali hubungan dengan Allah dan manusia

Menguatkan tekad menyambut Ramadhan secara kaffah


SYA’BAN DI TENGAH ZAMAN SEKULER


Di tengah dunia yang makin sekuler:

Waktu dihabiskan untuk hiburan

Ramadhan dipersempit jadi sekadar “bulan puasa”

Spirit ibadah kalah oleh agenda dunia

Maka Sya’ban hadir sebagai peringatan keras:

Jangan masuk Ramadhan dalam keadaan lalai.

Umat yang kuat bukan umat yang kaget oleh Ramadhan, tetapi umat yang telah dipanaskan oleh Sya’ban.


■ HIKMAH & HARAPAN ■


Sya’ban mengajarkan kita bahwa:

Iman perlu dipersiapkan, bukan dadakan

Ramadhan adalah puncak, bukan awal

Amal kecil yang konsisten lebih bernilai daripada semangat sesaat

Semoga Allah ﷻ:

Mempertemukan kita dengan Ramadhan

Menguatkan iman dan amal kita sejak Sya’ban

Menjadikan kita hamba-hamba yang sadar, bukan lalai

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Posting Komentar untuk "SUGENG RAWUH ING SASIH SYA’BAN / RUWAH"