Di tengah perbedaan amalan yang sering menjadi bahan perdebatan, umat Islam sejatinya perlu kembali bertanya: apakah perbedaan fiqih itu alasan untuk berpecah, atau justru ruang untuk saling memahami?
Pengalaman belajar dan berinteraksi di Yogyakarta, khususnya di Masjid Jogokariyan, memberikan pelajaran berharga:
beda mazhab itu bukan masalah — yang jadi masalah adalah kalau kita berhenti berjuang bersama.
📌 Beda Amalan, Tapi Tetap Satu Umat
Di Masjid Jogokariyan, perbedaan seperti:
Qunut Subuh atau tidak
Bismillah jahr atau sir
Wiridan keras atau pelan
Posisi tangan, gerakan shalat, dan lainnya
bukan dijadikan alasan untuk saling menjauh. Justru yang ditanamkan adalah:
➡️ Saling menghormati dalam furu’ (cabang fiqih)
➡️ Bersatu dalam ushul (pokok umat dan perjuangan Islam)
Ini adalah pelajaran penting, karena sejak dahulu para ulama besar pun berbeda pendapat, namun tetap saling menghormati.
Imam Syafi’i رحمه الله berkata:
رَأْيِي صَوَابٌ يَحْتَمِلُ الْخَطَأَ، وَرَأْيُ غَيْرِي خَطَأٌ يَحْتَمِلُ الصَّوَابَ
“Pendapatku benar namun bisa salah, dan pendapat orang lain salah namun bisa benar.”
📌 Tarjih Muhammadiyah & Sikap Terbuka
Sebagai pribadi yang banyak belajar dalam lingkungan Muhammadiyah terutama di Yogyakarta, khususnya melalui pendekatan Tarjih, wajar jika secara amalan lebih condong pada:
• Tidak qunut Subuh
• Bismillah sir
• Wirid sederhana
• Fokus pada dalil shahih
Namun itu bukan berarti menutup diri, apalagi menganggap sesat amalan kaum Muslimin lain yang masih dalam ranah ijtihadiyyah.
Justru di Jogokariyan diajarkan:
➡️ Teguh pada prinsip
➡️ Lapang dalam perbedaan
➡️ Kuat dalam persatuan
Inilah wajah dakwah yang dewasa dan membangun.
📌 Jogokariyan: Basis Muhammadiyah, Tapi Melayani Semua
Masjid Jogokariyan dikenal sebagai basis Muhammadiyah, namun dalam praktiknya:
Terbuka untuk Nahdliyin
Terbuka untuk Salafi
Terbuka untuk Persis
Terbuka untuk siapa pun umat Islam
Tanpa saling membentur-benturkan kelompok, tanpa mengobarkan fanatisme sempit.
Yang diutamakan bukan:
❌ “Kamu dari mana?”
tapi:
✅ “Apa yang bisa kita kerjakan bersama untuk umat?”
📌 Saatnya Fokus pada Masalah Besar Umat
Ketika umat masih sibuk memperdebatkan masalah furu’:
Qunut
Baca keras atau pelan
Posisi tangan
Sementara di level global, umat Islam sedang menghadapi masalah besar:
Penjajahan Palestina
Perpecahan negeri-negeri Muslim
Kemiskinan struktural
Lemahnya posisi politik umat
105 tahun tanpa perisai kepemimpinan umum
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.”
(QS. Al-Hujurat: 10)
Persaudaraan ini bukan sekadar slogan, tapi harus terwujud dalam:
Persatuan langkah
Persatuan arah
Persatuan tujuan
📌 105 Tahun Tanpa Perisai Umat
Sejak runtuhnya Khilafah pada tahun 1342 H / 1924 M, umat kehilangan:
• Perisai politik
• Kepemimpinan umum
• Pemersatu keputusan
• Pelindung kepentingan umat global
Akibatnya, umat tercerai-berai, dan perbedaan kecil menjadi besar, sementara musuh-musuh Islam justru bersatu rapi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
“Sesungguhnya Imam (pemimpin) itu adalah perisai, yang orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Beda mazhab bukan musuh.
Beda fiqih bukan alasan berpecah.
Yang berbahaya adalah fanatisme sempit yang memecah umat.
Mari belajar dari Jogokariyan:
Teguh dalam prinsip
Lapang dalam perbedaan
Bersatu dalam perjuangan
Di tengah kondisi umat yang masih terjajah, terpecah, dan lemah, sudah saatnya energi umat tidak habis untuk saling menyalahkan dalam masalah cabang, tetapi diarahkan untuk:
➡️ Membangun persatuan umat
➡️ Menguatkan kesadaran kolektif
➡️ Berjuang bersama demi kemuliaan Islam
Beda mazhab ora dadi masalah, sing penting:
monggo kita berjuang bebarengan.
Takbir ! Allohu akbar !!!
Wallahu a’lam bish-shawab.


Posting Komentar untuk "BEDA MAZHAB ORA JADI MASALAH, SING PENTING MONGGO KITA BERJUANG BEBARENGAN"