AMERIKA & KONCO-KONCONYA ADALAH PENJAJAH‼️

 




Umat Islam kembali dikejutkan oleh manuver politik global Amerika atas Palestina. Muncul sebuah gagasan bernama “Board of Peace (BoP)” atau Dewan Perdamaian, yang dipromosikan sebagai “jalan damai” bagi konflik Gaza. Dewan ini diinisiasi dan dipimpin oleh Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump.

Nama dan kemasannya terdengar indah: peace, perdamaian. Namun, sejarah panjang dunia Islam mengajarkan bahwa istilah “perdamaian” sering kali hanya menjadi bungkus baru bagi penjajahan model lama. Banyak proyek kolonialisme modern dikemas dengan istilah stabilisasi, rekonstruksi, dan bantuan kemanusiaan, padahal pada hakikatnya tetap mempertahankan dominasi politik dan ekonomi penjajah.


“Perdamaian” Versi Penjajah

Dalam banyak kasus, “perdamaian” yang ditawarkan kekuatan besar bukanlah perdamaian yang adil, melainkan perdamaian yang menguntungkan penjajah dan melemahkan pihak yang dijajah. Palestina menjadi contoh nyata: penjajahan berlangsung puluhan tahun, namun solusi yang ditawarkan seringkali tidak menyentuh akar masalah, yaitu pendudukan dan perampasan hak kaum Muslimin.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.”

(QS. An-Nisa: 141)

Ayat ini menjadi prinsip penting bahwa kaum Muslimin tidak boleh rela berada dalam posisi tunduk pada dominasi dan kendali penjajah.


Bahaya Legitimasi Proyek Penjajahan

Ketika negara-negara Muslim dilibatkan dalam proyek-proyek global semacam BoP, umat patut bersikap kritis. Sebab, keterlibatan itu berpotensi menjadi legitimasi politik bagi proyek penjajahan gaya baru. Alih-alih membela Palestina secara hakiki, justru bisa terseret dalam skema yang menguntungkan pihak penjajah.

Sejarah Afghanistan, Irak, Libya, Suriah, dan berbagai negeri Muslim lainnya menunjukkan pola yang sama: intervensi atas nama demokrasi, perdamaian, dan stabilitas, namun hasil akhirnya adalah kehancuran, perpecahan, dan ketergantungan.


Loyalitas, Kepemimpinan, dan Sikap Politik Umat

Allah Ta’ala juga mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin (pelindung/sekutu setia).”

(QS. Al-Ma’idah: 51)

Ayat ini bukan sekadar soal hubungan personal, tetapi peringatan agar kaum Muslimin tidak menjadikan kekuatan-kekuatan yang memiliki rekam jejak permusuhan dan penjajahan sebagai penentu arah kebijakan dan masa depan umat.


Penjajahan dan Perlawanan yang Bermartabat

Allah Ta’ala berfirman:

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ

“Dan perangilah mereka di mana saja kamu jumpai mereka…”

(QS. Al-Baqarah: 191)

Ayat ini turun dalam konteks perang dan penjajahan, menunjukkan bahwa Islam tidak membenarkan penindasan, dan memberikan hak kepada umat untuk mempertahankan diri dari agresi. Namun dalam konteks dakwah dan kondisi hari ini, perjuangan juga harus dilakukan melalui kesadaran umat, persatuan, dan pembebasan dari dominasi sistem zalim, bukan dengan tindakan serampangan.


Umat Butuh Perisai Politik

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ

“Sesungguhnya imam (pemimpin) itu adalah perisai.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam syarah hadits ini, para ulama menjelaskan bahwa pemimpin kaum Muslimin berfungsi sebagai pelindung, yang menghalangi musuh menyakiti kaum Muslimin dan menjaga kehormatan umat.

Imam An-Nawawi رحمه الله menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim (6/315), bahwa imam menjadi benteng yang melindungi umat dari gangguan musuh dan menjaga kepentingan kaum Muslimin.

Ini menunjukkan bahwa lemahnya perlindungan politik umat hari ini sangat berkaitan dengan tercerai-berainya kaum Muslimin dan tidak adanya satu kepemimpinan yang benar-benar menjadi perisai umat.


Amerika dan Sistem Penjajahan Global

Amerika dan sekutu-sekutunya bukan sekadar negara, tetapi representasi dari sistem global kapitalisme-imperialisme yang menjadikan negeri-negeri Muslim sebagai objek eksploitasi: sumber daya, posisi geopolitik, dan pasar ekonomi.

Maka, persoalan Palestina bukan hanya konflik lokal, tetapi bagian dari skema besar penjajahan global yang menindas umat Islam di berbagai belahan dunia.


■ HIKMAH & HARAPAN ■

Umat Islam tidak boleh terbuai oleh narasi “perdamaian” yang menutup mata dari hakikat penjajahan. Perbedaan sikap politik boleh ada, namun kesadaran bahwa Amerika dan sekutunya memiliki rekam jejak panjang sebagai penjajah harus menjadi bagian dari cara berpikir umat.

Semoga di bulan Sya’ban ini menjadi momentum untuk memperkuat iman, meningkatkan kepedulian terhadap Palestina, dan menumbuhkan kesadaran bahwa Islam bukan hanya agama ritual, tetapi juga pedoman dalam menyikapi kezaliman global.

Wallahu a’lam bish-shawab.




Posting Komentar untuk "AMERIKA & KONCO-KONCONYA ADALAH PENJAJAH‼️"