Empat puluh hari lagi Ramadhan menyapa. Bulan yang seharusnya menjadi momentum persatuan umat, justru hampir setiap tahun selalu dibuka dengan perdebatan yang sama:
mulai puasa beda, Idul Fitri beda, Idul Adha beda.
Lantas muncul pertanyaan penting—dan ini jarang dibahas secara jujur:
Apakah masalahnya benar-benar pada hisab dan ru’yat?
Ataukah ada masalah yang jauh lebih mendasar, yakni pada sistem kalender umat Islam itu sendiri?
Hisab dan Ru’yat: Prediksi dan Pembuktian
Mari kita luruskan dulu dengan tenang, tanpa emosi, tanpa fanatisme.
Hisab adalah perhitungan astronomi, sebuah prediksi ilmiah.
Ru’yat adalah pengamatan langsung, yaitu hasil dan pembuktian dari prediksi tersebut.
Secara ilmiah, hisab yang benar tidak mungkin bertabrakan dengan ru’yat yang sahih.
Jika hisab menyatakan hilal mungkin terlihat, lalu ru’yat berhasil melihatnya, itu sinkron.
Jika hisab menyatakan mustahil terlihat, ru’yat pun pasti gagal (maka pasti akan otomatis diistikmalkan/digenapkan 30 hari).
Masalahnya, kenapa hasil akhirnya tetap beda?
Jawabannya bukan karena hisab atau ru’yatnya yang rusak.
Akar masalahnya adalah: kalender umat Islam telah dipisah-pisahkan berdasarkan batas wilayah nasional.
Kalender Islam dan Penyakit Nasionalisme
Inilah titik krusial yang jarang disadari umat.
Hari ini, umat Islam tidak lagi menggunakan satu kalender global.
Yang ada adalah:
• Kalender versi negara A
• Kalender versi negara B
• Kalender versi ormas A atau ormas B
• Kalender versi keputusan politik
Padahal bulan dalam Islam itu satu, tidak mengenal paspor, visa, atau garis imajiner bernama negara.
Rasulullah ﷺ bersabda:
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ
“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini tidak pernah menyebut:
“Jika terlihat di wilayah negara masing-masing”
“Jika disahkan oleh pemerintah nasional”
“Jika sesuai zona politik”
Yang ada hanyalah ru’yatul hilal umat, bukan ru’yatul hilal nasional.
Kenapa Harus Dibikin Beda?
Pertanyaan pahit tapi jujur: kenapa kalender umat Islam justru dipecah?
Jawabannya kembali pada nasionalisme sekuler—warisan Barat pasca runtuhnya Khilafah.
Umat Islam dipaksa berpikir sebagai:
Warga negara dulu
Baru kemudian umat Islam
Akibatnya:
• Kalender Islam tunduk pada batas negara yang menyebabkan saat Ru'yatul Hilal berlangsung pun pasti acuannya batas wilayah dan kadang hasilnya gak beda jauh dari data hisab/kalender di masing² negara itu.
• Keputusan ibadah tunduk pada kepentingan nasional
• Persatuan umat dikorbankan demi “kedaulatan”
Inilah yang oleh sebagian orang disebut: “kalender sudah di-setting supaya beda.”
Bukan setting astronominya, tapi setting politiknya mengacu ke batas wilayah!. Padahal langitnya yo sama! Hilalnya juga yo sama!.
Rajab, Khilafah, dan Luka Sejarah Umat
Kita sedang berada di akhir bulan Rajab 1447 H.
Rajab bukan bulan biasa.
Pada 28 Rajab 1342 H / 3 Maret 1924 M,
Daulah Khilafah Islamiyah diruntuhkan oleh Mustafa Kemal Atatürk.
Sejak itu:
• Umat Islam hidup tanpa perisai
• Tanpa pemersatu politik
• Tanpa kepemimpinan global
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
“Sesungguhnya imam (khalifah) itu adalah perisai; orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.”
(HR. Muslim)
Sekarang sudah lebih dari 100 tahun (±115 tahun) umat hidup tanpa perisai itu.
Dan hasilnya kita lihat bersama.
Dari Kalender Sampai Palestina: Semua Terhubung
Mengapa Palestina belum merdeka?
Mengapa darah kaum Muslim tumpah di berbagai negeri?
Mengapa umat Islam terpecah, lemah, dan sering jadi korban?
Karena:
• Tidak ada satu kepemimpinan umat
• Tidak ada satu keputusan global
• Tidak ada satu kalender umat
Umat yang seharusnya disebut Allah:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.”
(QS. Ali ‘Imran: 110)
Kini justru:
• Bingung menentukan awal puasa
• Ribut soal perbedaan teknis
• Lupa akar persoalan sistemik
Menjelang Ramadhan: Saatnya Kritis, Bukan Taklid
Ramadhan bukan sekadar soal kapan mulai puasa,
tapi bulan muhasabah peradaban.
Sudah saatnya umat:
Berpikir kritis, bukan ikut-ikutan
Bertanya “mengapa”, bukan sekadar “siapa”
Melihat masalah dari akarnya, bukan permukaannya
Perbedaan kalender hanyalah gejala.
Penyakitnya adalah hilangnya persatuan politik umat Islam. Jelas ini masalah besar.!
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Perbedaan hisab dan ru’yat bukan musuh, tapi alat ilmiah yang saling melengkapi.
Akar perpecahan umat ada pada sistem nasionalisme yang memecah kalender Islam.
Rajab mengingatkan kita pada runtuhnya Khilafah dan hilangnya perisai umat.
Ramadhan harus menjadi momentum kebangkitan kesadaran umat, bukan sekadar rutinitas.
Persatuan umat tidak akan sempurna tanpa satu kepemimpinan dan satu kalender global.
Semoga Ramadhan yang semakin dekat ini bukan hanya mengubah jadwal makan,
tetapi juga menghidupkan kembali kesadaran umat untuk bangkit sebagai satu tubuh.
وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.




Posting Komentar untuk "40 HARI LAGI MENUJU RAMADHAN : Benarkah Kalender Hijriah Itu Sebenarnya Sudah “Di-Setting” Supaya Beda, Sehingga Hasil Ru’yat Tak Pernah Meleset dari Data Hisab!?"