بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Segala puji hanya milik Allah ﷻ, Rabb semesta alam, yang telah melimpahkan kepada kita berbagai kenikmatan—nikmat iman, Islam, dan kesempatan—hingga pada malam ini kita kembali dipertemukan dalam majelis ilmu yang mulia.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, serta kepada kita semua yang berusaha istiqamah mengikuti seluruh tuntunan dan syariat yang beliau bawa secara kaffah.
Alhamdulillah, kajian rutinan pekanan kembali digelar di Masjid Al-Islah / PC Muhammadiyah Mangunjaya, Kecamatan Mangunjaya, Kabupaten Pangandaran. Pada Sabtu malam Ahad Kliwon ini 24 Jumada al-Akhirah 1447 H atau bertepatan dengan 13 Desember 2025 M, KH. Sutarman Rasyid melanjutkan pembahasan Bābul Adzān—sebuah tema yang tampak sederhana, namun sejatinya menyentuh jantung kehidupan umat.
---
ADZAN: SEJARAH, SYARIAT, DAN MAKNA IDEOLOGIS
Kyai Sutarman mengawali dengan mengingatkan kembali sejarah disyariatkannya adzan. Adzan bukan produk budaya, bukan pula hasil kesepakatan manusia, tetapi wahyu yang Allah tetapkan melalui mimpi sahabat yang dibenarkan Rasulullah ﷺ, lalu diamalkan oleh Bilal bin Rabah sebagai muadzin pertama.
Adzan adalah syiar Islam—pemberitahuan resmi bahwa waktu shalat telah tiba—dengan lafaz-lafaz tertentu yang tidak boleh ditambah, dikurangi, apalagi dimodifikasi.
Khusus pada adzan Subuh, disunnahkan adanya at-tatswīb, yakni tambahan lafaz:
اَلصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ
“Shalat itu lebih baik daripada tidur.”
Ini bukan sekadar kalimat, tapi tamparan kesadaran: antara panggilan Allah atau kenyamanan di kasur.
---
MENDENGAR ADZAN: JANGAN CUEK!
Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi pendengar pasif. Ketika adzan dikumandangkan, kita diperintahkan untuk menirukan lafaz muadzin, kecuali pada ḥayya ‘alaṣ-ṣalāh dan ḥayya ‘alal-falāḥ, yang dijawab dengan:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ
“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
Ini berlaku bagi laki-laki dan perempuan. Bedanya, laki-laki wajib menyambut adzan dengan langkah menuju masjid, sedangkan perempuan tidak diwajibkan.
Adzan bukan sekadar suara masjid—itu panggilan Allah. Mengabaikannya sama saja dengan mengabaikan perintah-Nya. Fenomena umat hari ini: adzan berkumandang, tapi aktivitas dunia jalan terus—itulah potret kehidupan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan nyata.
---
DOA MUSTAJAB ANTARA ADZAN DAN IQAMAH
Rasulullah ﷺ bersabda:
الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ
“Doa yang dipanjatkan antara adzan dan iqamah tidak akan ditolak.”
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
Karena itu, waktu ini adalah momen emas untuk berdoa. Boleh membaca Al-Qur’an, dzikir, tahmid, tahlil—namun dengan suara pelan, tidak mengganggu orang lain yang sedang shalat sunnah. Bahkan bacaan Al-Qur’an saja dilarang dikeraskan jika mengganggu, apalagi nyanyian atau lantunan yang tak pada tempatnya.
---
DOA SETELAH ADZAN
Setelah adzan selesai, disunnahkan membaca doa berikut:
اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ
“Ya Allah, Rabb panggilan yang sempurna ini dan shalat yang didirikan, berilah Muhammad wasilah dan keutamaan, serta tempatkan beliau pada maqam terpuji yang telah Engkau janjikan.”
(HR. Bukhari)
---
BAHAYA TAQLID BUTA: KRITIK TAJAM AL-QUR’AN
Dalam kajian ini, Kyai Sutarman juga menegaskan bahaya taqlid buta—mengikuti tokoh tanpa ilmu dan dalil. Allah berfirman:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami, mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat.”
(QS. Al-A‘raf: 179)
Agama ini menuntut kesadaran, ilmu, dan tanggung jawab, bukan kepatuhan buta yang mematikan akal.
---
ADZAN, MUADZIN, DAN TATA CARANYA
Adzan disyariatkan bagi orang mukim. Muadzin dianjurkan:
• Berdiri
• Menghadap kiblat
• Menoleh ke kanan saat ḥayya ‘alaṣ-ṣalāh
• Menoleh ke kiri saat ḥayya ‘alal-falāḥ
Waktu antara adzan dan iqamah tidak ditentukan secara baku, namun diberi jeda agar umat bersiap menuju shalat berjamaah.
---
■ HIKMAH & HARAPAN ■
Adzan adalah simbol perlawanan terhadap kehidupan yang lalai. Ia memanggil manusia keluar dari dominasi dunia menuju ketaatan total kepada Allah. Jika adzan saja kita abaikan, maka wajar bila agama tersingkir dari urusan publik.
Harapannya, kajian ini menyadarkan kita bahwa menegakkan shalat dimulai dari memuliakan adzan. Sebab, siapa yang merespons panggilan Allah, dialah yang sedang menegakkan agama—dan siapa yang mengabaikannya, sedang berjalan menuju kehancuran nilai.
Semoga kita termasuk hamba yang mendengar, memahami, dan bergerak menyambut seruan langit.
وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ


Posting Komentar untuk "ADZAN: SERUAN LANGIT YANG SERING DIABAIKAN - Kajian Rutinan Malam Ahad PC Muhammadiyah Mangunjaya✨ "