MEMAKNAI HAKEKAT REZEKI - Kajian ObSeSi (Obrolan Seputar Islam) Masjid At-Thohiriyah Bojonghuni Maleber☕

 



Segala puji bagi Allah SWT yang menguasai segala sesuatu pemelihara seluruh alam yang telah memberikan berbagai kenikmatan nikmat Iman, Islam serta sehat sehingga alhamdulilah pada malam ini kembali digelar kajian ObSeSi (Obrolan Seputar Islam) di masjid At-Thohiriyah Bojonghuni Maleber Ciamis, maka memang sudah sepantasnya kita manut dan tunduk atas syariat-Nya, tak lupa sholawat dan salam semoga selalu tercurahlimpah pada junjungan kita nabi Muhammad SAW kepada keluarga, sohabat dan mudah²an sampai pada kita semua selaku umatnya yang senantiasa ittiba' mengikuti semua sunnah²nya serta syariat yang dibawanya.

Kajian obsesi pada malam ini, kamis malam Jum'at Pahing 25 Rabi'ul Akhir 1447 H atau 16 Oktober 2025 M membahas tema tentang "Memaknai Hakikat Rezeki atau BAB seputar Rezeki" dengan Ust. Dimas Prasetia sebagai pengisi kajian pada malam kali ini.


🌾 Rezeki dalam Pandangan Islam


Penting kita pahami bahwa rezeki itu sepenuhnya di tangan Allah, bukan di tangan manusia atau hasil usaha semata.


Allah ﷻ berfirman:


> وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi ini melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”

(QS. Al-‘Ankabūt [29]: 60)




Ayat ini menegaskan bahwa rezeki adalah hak mutlak Allah, dan setiap makhluk sudah dijamin bagiannya oleh-Nya.



---


📖 Makna Rezeki Secara Bahasa


Secara bahasa, kata razaqa berarti a‘thā (memberi).

Sedangkan ar-rizq berarti al-ḥaẓẓu — bagian atau porsi yang diberikan oleh Allah.

Imam Ar-Rāzī dan Al-Baiḍhāwī menjelaskan bahwa apa saja yang dijadikan bagian atau jatah oleh Allah bagi hamba-Nya, maka itu disebut rizq.


Abu Sa‘ūd juga menafsirkan, ar-rizq huwa al-ḥaẓẓu al-mu‘ṭā, yakni bagian yang diberikan oleh Allah.

Maka setiap pemberian Allah, baik halal maupun haram, tetap dinamakan rezeki.


Sebagaimana disebutkan Allah ﷻ:


> فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا لِلَّهِ

“Maka makanlah dari rezeki yang telah Allah berikan kepadamu yang halal lagi baik, dan bersyukurlah kepada Allah.”

(QS. Al-Ḥajj [22]: 34)




Ayat ini menunjukkan bahwa yang disebut rezeki bisa halal atau haram, namun yang diperintahkan untuk dinikmati hanyalah rezeki yang halal dan thayyib.



---


⚖️ Rezeki Halal dan Haram


Perlu dibedakan antara rezeki dan kepemilikan.

Kepemilikan bisa diraih melalui usaha manusia, namun tidak semua yang dimiliki adalah rezeki yang halal.


Rezeki halal datang melalui usaha yang sesuai syariat, sedangkan rezeki haram datang dari usaha yang melanggar syariat.


Rasulullah ﷺ bersabda:


> إِنَّ الرُّوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رُوعِي أَنَّهُ لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ

“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) membisikkan kepadaku: tidak akan mati seseorang sebelum ia menyempurnakan rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik.”

(HR. Ibnu Majah no. 2144)




Hadis ini menegaskan bahwa rezeki sudah ditentukan, tinggal bagaimana kita menempuhnya: dengan cara halal atau haram.



---


🌤️ Usaha dan Ketentuan Allah


Manusia memang diperintahkan untuk berusaha, namun hasilnya sepenuhnya milik Allah.

Ikhtiar bukan penentu datangnya rezeki, melainkan sebab yang Allah kehendaki.


Allah ﷻ berfirman:


> اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ

“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki.”

(QS. Ar-Ra‘d [13]: 26)




Maka tugas manusia hanyalah beramal sesuai syariat, bukan menuntut hasil.

Karena hasil adalah hak prerogatif Allah, sementara amal adalah wilayah tanggung jawab hamba.



---


💎 Empat Hal yang Berkaitan dengan Rezeki


Dalam pembahasan ini, rezeki tidak bisa dilepaskan dari empat hal penting:


1. Hisab — setiap rezeki akan dimintai pertanggungjawaban.



2. Ikhtiar — usaha harus sesuai aturan Allah dan Rasul-Nya.



3. Ajal — tidak ada yang bisa mengambil rezeki orang lain, sebab ajal dan rezeki telah ditetapkan.



4. Qadha — rezeki termasuk bagian dari takdir Allah yang pasti terjadi sesuai kehendak-Nya.





---


🌟 HIKMAH & HARAPAN


Hakikat rezeki bukan sekadar hasil dari kerja keras, tapi pemberian dari Allah yang Maha Pemurah.

Usaha hanyalah bentuk penghambaan, bukan sumber rezeki itu sendiri.

Maka mintalah rezeki kepada Allah, bukan kepada makhluk.


Sebagaimana firman Allah:


> فَابْتَغُوا عِندَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ

“Maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya.”

(QS. Al-‘Ankabūt [29]: 17)




Semoga Allah menjadikan kita hamba yang qana‘ah, bersyukur, dan selalu mencari rezeki dengan cara yang halal dan diridhai-Nya.

Dan semoga setiap tetes keringat kita menjadi ibadah yang bernilai pahala, bukan sekadar rutinitas dunia.


Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu a'lam bisshowab...,


Posting Komentar untuk "MEMAKNAI HAKEKAT REZEKI - Kajian ObSeSi (Obrolan Seputar Islam) Masjid At-Thohiriyah Bojonghuni Maleber☕"