Hari Jum’at sebagai Sayyidul Ayyam




Alhamdulillah, segala puji bagi Allah ﷻ yang telah memuliakan umat Islam dengan syariat yang sempurna. Di antara kemuliaan itu adalah hari Jum’at, yang disebut oleh Rasulullah ﷺ sebagai sayyidul ayyam (penghulu segala hari). Hari ini bukan sekadar waktu berkumpul, tapi momentum besar bagi umat Islam untuk memperbarui keimanan, memperbanyak ibadah, dan memperkokoh ukhuwah.


📖 Dalil tentang Keutamaan Jum’at


Allah ﷻ berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ


"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jum’at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkan jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

(QS. Al-Jumu’ah: 9)


Rasulullah ﷺ bersabda:


إِنَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ سَيِّدُ الأَيَّامِ، وَأَعْظَمُهَا عِنْدَ اللَّهِ، وَهُوَ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ يَوْمِ الأَضْحَى، وَيَوْمِ الْفِطْرِ


"Sesungguhnya hari Jum’at adalah sayyidul ayyam (penghulu segala hari) dan yang paling agung di sisi Allah. Ia lebih agung di sisi Allah daripada hari Idul Adha dan Idul Fitri."

(HR. Ibnu Majah, no. 1084, hasan)


Hadits lain menyebutkan, pada hari Jum’at inilah Nabi Adam diciptakan, dimasukkan ke surga, dan dikeluarkan darinya. Bahkan hari Kiamat juga akan terjadi pada hari Jum’at. (HR. Muslim no. 854)



---


🕌 Jum’at vs Ahad dalam Sistem Sekuler sekarang


Dalam Islam, hari Jum’at adalah hari raya pekanan. Sayangnya, sistem sekuler yang diterapkan secara global—termasuk di negeri kita Indonesia—justru lebih memuliakan hari Ahad (Minggu) sebagai hari libur resmi. Hal ini bukan lahir dari syariat Islam, melainkan mengikuti tradisi kaum Nasrani yang menjadikan hari Minggu sebagai hari besar ibadah mereka.


Akibatnya, umat Islam pun terbiasa menganggap Minggu lebih istimewa dari Jum’at. Libur kerja, libur sekolah, agenda keluarga, hingga perayaan besar justru dipusatkan pada hari Minggu. Sedangkan hari Jum’at, meski disebut sayyidul ayyam, tetap dihimpit kesibukan dunia: kerja, bisnis, aktivitas sekolah, bahkan kadang Jum’atan pun ditinggalkan.


Padahal, dalam pandangan Islam, seharusnya umat ini menjadikan hari Jum’at sebagai pusat aktivitas ruhiyah, sosial, dan politik umat. Khutbah Jum’at semestinya menjadi mimbar strategis untuk mengingatkan umat tentang syariat Allah, bukan sekadar formalitas ritual.



---


⚖️ Mengapa Bisa Begitu?


Jawabannya sederhana: karena kita hidup dalam sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Maka wajar kalau aturan libur, kalender kerja, hingga gaya hidup masyarakat lebih condong mengikuti standar Barat. Islam hanya dianggap urusan masjid, sementara urusan publik tunduk pada sistem buatan manusia.


Seandainya umat Islam tegak dengan syariat Islam secara kaffah, niscaya hari Jum’at benar-benar menjadi hari besar umat, bahkan bisa ditetapkan sebagai hari libur utama. Tapi selama kita masih terikat sistem sekuler, umat Islam akan terus berada dalam posisi "mengikuti", bukan "memimpin".



---


■ HIKMAH & HARAPAN ■


1. Hari Jum’at adalah momentum pembeda — umat Islam punya hari raya mingguan yang lebih agung dari hari-hari kaum lain. Jangan sampai kita malah terbalik lebih menghormati Ahad.



2. Sekulerisme telah meminggirkan identitas Islam — menjadikan libur Minggu lebih penting daripada Jum’at. Ini tanda lemahnya posisi umat Islam di hadapan sistem global.



3. Umat Islam butuh kesadaran kolektif — bahwa kemuliaan Jum’at bukan sekadar ritual, tapi simbol peradaban Islam yang harus dijaga.



4. Harapan ke depan — semoga Allah ﷻ segera mengembalikan tegaknya kehidupan Islam secara kaffah, di mana hari Jum’at benar-benar dimuliakan bukan hanya di masjid, tapi juga dalam sistem kehidupan umat.




Wallahu a’lam bish-shawab.

Posting Komentar untuk "Hari Jum’at sebagai Sayyidul Ayyam"